Ketaatan yang Memperkenan Tuhan: Misa Lingkungan Santa Sesilia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Meneguhkan Iman dan Semangat Pelayanan Umat

 

Foto RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pmpin Misa


Ketaatan yang Memperkenan Tuhan: Misa Lingkungan Santa Sesilia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Meneguhkan Iman dan Semangat Pelayanan Umat

Ketapang, 21 Januari 2026.Suasana penuh kekhusyukan dan kebersamaan menyelimuti kediaman keluarga Bapak Joni Simamora yang beralamat di Jalan Gajah Mada, BTN Tanjung Pura Residen BlokP3, Kalinilam, pada Selasa malam, 20 Januari 2026. Di tempat inilah umat Lingkungan Santa Sesilia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, berkumpul untuk mengikuti Misa Lingkungan yang dilaksanakan mulai pukul 18.30 WIB. Perayaan Ekaristi ini menjadi momen rohani yang mendalam, tidak hanya sebagai rutinitas iman, tetapi juga sebagai sarana pembinaan dan peneguhan hidup kristiani umat di tengah lingkungan tempat tinggal mereka.

Misa lingkungan tersebut dipimpin langsung oleh  RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, yang dikenal dekat dengan umat serta memiliki cara penyampaian homili yang sederhana namun sarat makna. Kehadiran Romo FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, menjadi sukacita tersendiri bagi umat Lingkungan Santa Sesilia, sebab melalui perayaan Ekaristi ini umat kembali diteguhkan untuk setia dalam iman, taat pada kehendak Tuhan, serta tekun dalam pelayanan Gereja.







Kebersamaan Umat dalam Lingkungan

Sejak sore hari, tuan rumah bersama pengurus lingkungan telah mempersiapkan tempat dengan penuh semangat gotong royong. Ruang tamu rumah Bapak Joni Simamora ditata rapi dan sederhana, namun memancarkan suasana sakral yang mendukung kekhusyukan perayaan Ekaristi. Salib, lilin, dan meja altar ditata dengan baik, sementara kursi-kursi disusun agar umat dapat mengikuti misa dengan nyaman.

Umat Lingkungan Santa Sesilia hadir dengan penuh antusias. Mereka datang dari berbagai latar belakang usia dan profesi, mulai dari orang tua, kaum muda, hingga anak-anak. Kebersamaan ini menjadi gambaran nyata Gereja sebagai persekutuan umat Allah yang hidup dan bertumbuh di tengah masyarakat. Misa lingkungan bukan sekadar perayaan liturgi, melainkan juga sarana mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antarumat.

Petugas Liturgi yang Melayani dengan Iman

Dalam perayaan Ekaristi ini, tugas liturgi dipercayakan kepada umat Lingkungan Santa Sesilia. Bacaan Kitab Suci dan Mazmur dibawakan oleh Bapak Yohanes Suprastha, yang dengan suara jelas dan penuh penghayatan menyampaikan sabda Tuhan kepada umat. Setiap ayat dibacakan dengan tenang, membantu umat untuk merenungkan pesan Tuhan yang terkandung dalam Kitab Suci.

Sementara itu, lagu-lagu liturgi dibawakan dengan indah oleh Ibu Emilia Sri Wahyuni. Alunan lagu yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan semakin menghidupkan suasana doa dan pujian. Nyanyian umat berpadu harmonis, menciptakan perayaan Ekaristi yang khidmat dan menyentuh hati. Lagu-lagu yang dipilih selaras dengan tema bacaan dan homili, sehingga membantu umat masuk lebih dalam dalam permenungan iman.

Bacaan Kitab Suci: Allah Melihat Hati

Bacaan Kitab Suci yang diwartakan dalam misa lingkungan ini diambil dari Kitab 1 Samuel, yang mengisahkan tentang penolakan Allah terhadap Raja Saul dan pemilihan Daud sebagai raja Israel. Kisah ini menjadi dasar utama homili yang disampaikan oleh Romo FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.

Dalam bacaan tersebut diceritakan bagaimana Allah menyesali pengangkatan Saul sebagai raja karena ketidaktaatannya. Saul tidak sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan saat menaklukkan Amalek. Ia mengambil harta jarahan berupa domba dan lembu terbaik dengan alasan akan dipersembahkan kepada Tuhan, padahal Tuhan tidak menghendaki hal itu. Melalui Nabi Samuel, Allah menegaskan bahwa ketaatan lebih berkenan kepada Tuhan daripada korban persembahan.

Selanjutnya, bacaan ini juga mengisahkan pengutusan Samuel untuk mengurapi raja baru dari antara anak-anak Isai di Betlehem. Tuhan menolak anak-anak Isai yang secara fisik tampak gagah dan layak menurut pandangan manusia. Allah menegaskan bahwa Ia tidak melihat seperti manusia melihat, sebab manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Akhirnya, Daud, si bungsu yang sederhana dan sedang menggembalakan domba, dipilih dan diurapi menjadi raja. Sejak saat itu, Roh Tuhan berkuasa atas Daud.

Homili: Ketaatan adalah Utama

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, mengajak umat Lingkungan Santa Sesilia untuk merenungkan makna ketaatan dalam hidup beriman. Romo menekankan bahwa kisah Raja Saul dan Daud bukan sekadar cerita sejarah, melainkan cermin bagi setiap orang beriman dalam menjalani panggilan hidup dan pelayanan.

Pelajaran dari Raja Saul: Ketaatan Lebih Penting dari Persembahan

Romo FX. Oscar menjelaskan bahwa Saul pada awalnya dipilih dan diurapi oleh Tuhan. Namun, seiring berjalannya waktu, Saul mulai bertindak menurut kehendaknya sendiri. Ia mengubah perintah Tuhan dengan alasan yang tampaknya baik, yaitu mempersembahkan korban kepada Tuhan. Akan tetapi, di balik itu tersimpan ketidaktaatan dan ketakutan akan manusia.

Melalui Nabi Samuel, Tuhan menegaskan bahwa ketaatan lebih utama daripada persembahan korban. Persembahan yang dilakukan tanpa ketaatan sejati tidak berkenan di hadapan Tuhan. Saul akhirnya kehilangan jabatannya sebagai raja karena ia tidak setia pada sabda Tuhan.

Pesan ini, menurut Romo FX. Oscar, sangat relevan bagi umat saat ini. Banyak orang merasa telah melakukan hal-hal baik, rajin beribadah, dan aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi sering kali lupa untuk taat sepenuhnya pada kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ketaatan menuntut kerendahan hati, keberanian untuk menyangkal diri, dan kesediaan untuk mengikuti kehendak Tuhan, meskipun terasa berat.

Pemilihan Daud: Allah Melihat Hati

Selanjutnya, Romo menyoroti pemilihan Daud sebagai raja. Secara manusiawi, Daud bukanlah pilihan yang ideal. Ia adalah anak bungsu, seorang gembala domba, dan tidak diperhitungkan oleh keluarganya sendiri. Namun, Allah melihat hati Daud yang tulus, sederhana, dan terbuka pada kehendak-Nya.

Romo FX. Oscar menegaskan bahwa Tuhan tidak menilai manusia dari penampilan luar, jabatan, atau status sosial, melainkan dari hati. Pesan ini mengajak umat untuk tidak merasa rendah diri atau minder dalam pelayanan Gereja. Setiap orang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan dengan cara-Nya sendiri. Yang terpenting adalah kesiapan hati untuk melayani dan taat pada kehendak Tuhan.

Panggilan Menjadi Prodiakon dan Umat Katolik

Dalam bagian akhir homili, Romo FX. Oscar mengaitkan bacaan Kitab Suci dengan panggilan pelayanan, khususnya pelayanan prodiakon. Menurut Romo, menjadi prodiakon bukanlah tugas yang ringan atau sekadar formalitas. Prodiakon dipercaya untuk melayani umat dengan memberikan Tubuh Kristus, sebuah tugas suci yang menuntut iman, tanggung jawab, dan kehidupan rohani yang baik.

Romo mengingatkan bahwa menjadi Katolik adalah sebuah rahmat yang patut disyukuri. Rahmat Tuhan bekerja dalam diri setiap pelayan Gereja melalui doa, kesetiaan, dan kerendahan hati. Ketika seseorang diberi kepercayaan untuk melayani, entah sebagai prodiakon, lektor, pemazmur, atau petugas lainnya, hendaknya tugas tersebut dijalankan dengan sepenuh hati.

“Ketika kita taat dan setia dalam pelayanan, di situlah Gereja bertumbuh,” tegas Romo FX. Oscar. Ia mengajak seluruh umat, bukan hanya para pelayan liturgi, untuk mengambil bagian dalam membangun Gereja melalui kehidupan iman yang nyata di tengah keluarga dan masyarakat.

Peneguhan Iman Umat Lingkungan

Homili yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh konkret ini mendapat perhatian penuh dari umat. Banyak umat mengaku tersentuh dan dikuatkan oleh pesan tentang ketaatan dan kerendahan hati. Misa lingkungan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk merefleksikan kembali sikap hidup mereka, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan Gereja.

Bagi Lingkungan Santa Sesilia, misa lingkungan bukan hanya perayaan Ekaristi, tetapi juga sarana pembinaan iman yang efektif. Melalui pertemuan rutin seperti ini, umat semakin mengenal satu sama lain, saling mendukung, dan bertumbuh bersama dalam iman.

Penutup dan Kebersamaan Setelah Misa

Setelah perayaan Ekaristi selesai, umat Lingkungan Santa Sesilia tidak langsung pulang. Mereka melanjutkan kebersamaan dengan ramah tamah sederhana yang telah dipersiapkan oleh tuan rumah. Suasana penuh keakraban terasa saat umat saling berbincang, berbagi cerita, dan mempererat persaudaraan.

Bapak Joni Simamora selaku tuan rumah menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Romo dan seluruh umat. Ia berharap kegiatan misa lingkungan seperti ini terus dilaksanakan secara rutin, karena sangat membantu umat dalam memperdalam iman dan memperkuat kebersamaan.

Harapan ke Depan

Misa Lingkungan Santa Sesilia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang pada Selasa malam, 20 Januari 2026, menjadi bukti nyata bahwa Gereja hidup dan bertumbuh di tengah umat. Melalui perayaan Ekaristi, sabda Tuhan, dan kebersamaan, umat diteguhkan untuk hidup dalam ketaatan dan pelayanan.

Semoga pesan homili tentang ketaatan, kerendahan hati, dan kesetiaan dalam pelayanan terus berbuah dalam kehidupan umat Lingkungan Santa Sesilia. Dengan meneladani Daud yang dipilih karena hatinya, umat diajak untuk senantiasa membuka diri pada kehendak Tuhan dan setia menjalani panggilan masing-masing.

Sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci:
“Samuel mengurapi Daud di tengah saudara-saudaranya dan berkuasalah Roh Tuhan atas Daud.”
Kiranya Roh Tuhan yang sama juga senantiasa menyertai umat Lingkungan Santa Sesilia dalam setiap langkah hidup dan pelayanan mereka, demi kemuliaan Tuhan dan pertumbuhan Gereja.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   21 Januari  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar