Garam Dunia dan Terang Dunia: Iman yang Hidup dan Nyata dalam Perbuatan

 

Foto RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa

“Garam Dunia dan Terang Dunia: Iman yang Hidup dan Nyata dalam Perbuatan”
Misa Sabtu Sore – Minggu Biasa V
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang  Keuskupan Ketapang
Sabtu, 7 Februari 2026 | Pukul 18.00 WIB

Ketapang, 7 Februari 2026.Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Sabtu sore berkumpul dalam perayaan Ekaristi Minggu Biasa V yang dimulai pukul 18.00 WIB. Perayaan ini dirayakan dengan warna liturgi hijau, menandakan masa biasa dalam kalender Gereja, masa pertumbuhan iman dalam keseharian hidup. Hari ini juga Gereja mengenangkan Santo Hieronimus Emilianus, Pengaku Iman, serta Santo Yohanes dari Matha, Pengaku Iman, yang menjadi teladan kesetiaan dalam karya kasih.

Misa dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Suasana gereja sejak sebelum perayaan dimulai telah dipenuhi umat yang datang dengan sikap hening dan doa. Keluarga, kaum muda, remaja, serta anak-anak hadir bersama, memperlihatkan wajah Gereja yang hidup dan beragam.










































































































Pelayanan Liturgi yang Penuh Kekompakan

Perayaan Ekaristi berjalan dengan tertib dan khidmat berkat pelayanan para petugas liturgi. Lektor pada misa sore ini adalah Saudari Brigita Dianing Pratiwi yang membawakan Sabda Tuhan dengan suara yang jelas dan penuh penghayatan. Mazmur tanggapan dilantunkan oleh Saudari Yohana Lilian, mengajak umat menanggapi Sabda Tuhan dengan doa dan pujian.

Koor dipercayakan kepada Bina Iman Remaja. Kehadiran para remaja dalam pelayanan liturgi menjadi tanda bahwa Gereja memberi ruang dan kepercayaan kepada generasi muda untuk terlibat aktif. Dirigen yang memimpin koor terdiri dari Saudari Caroline, Saudari Abigail Vallerie Relegion, serta Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini. Iringan musik oleh organis Ibu Martha Koleta Popyzesika menambah kekhidmatan suasana, menghadirkan harmoni yang menyentuh hati umat.

Lagu-lagu yang dibawakan mencerminkan semangat Minggu Biasa: sederhana namun penuh makna. Setiap bait lagu menjadi doa yang mengantar umat masuk lebih dalam dalam misteri Ekaristi.

Sabda Tuhan: Garam Dunia dan Terang Dunia

Bacaan Injil yang diwartakan pada hari ini diambil dari Injil Matius 5:13–16:

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

Sabda Tuhan ini menjadi pusat permenungan dalam homili yang disampaikan oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.

Homili: Iman Tanpa Perbuatan Adalah Hambar

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP mengajak umat untuk sejenak merenungkan sapaan Sabda Tuhan dengan tema: Menjadi Saksi Kristus, Nyata dalam Perbuatan.

Beliau menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di bibir atau rutinitas ibadah. Iman harus tampak dalam tindakan nyata. Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati, bahkan dalam sapaan Sabda hari ini ditegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah hambar — seperti garam yang kehilangan rasa.

Mengacu pada Nabi Yesaya, Pastor Oscar mengingatkan bahwa ibadat sejati adalah berbagi dalam perjalanan iman. Memberi roti bagi yang lapar, memberikan pakaian bagi yang membutuhkan, peduli kepada sesama yang menderita. Ibadah bukan hanya soal doa di dalam gereja, tetapi juga tindakan kasih di luar gereja.

Dalam Injil Matius, Yesus berkata: “Kamu adalah garam dunia.” Garam memberi rasa. Kehadiran orang beriman harus memberi kualitas pada lingkungan di mana ia berada. Antara pikiran, perkataan, dan perbuatan harus sejalan dan penuh integritas.

“Terang pun tidak boleh disembunyikan di bawah gantang,” demikian ditegaskan dalam homili. Orang beriman dipanggil untuk bersinar, bukan demi pujian diri, melainkan agar Allah dimuliakan.

Pastor Oscar juga menyinggung bagaimana Rasul Paulus mengandalkan Roh Kudus dalam pelayanannya. Paulus membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Maka agar kita menjadi garam dan terang, kita harus mengandalkan Allah, bukan kekuatan sendiri.

Beliau menutup homili dengan penegasan: “Minggu Biasa ke V mengingatkan kita: garam harus larut dan terang harus bersinar. Kehadiran kita di tengah masyarakat harus membawa perubahan.”

Relevansi Sabda dalam Kehidupan Sehari-hari

Pesan Injil hari ini terasa sangat relevan dalam kehidupan modern. Dunia yang penuh opini, pencitraan, dan pencarian pengakuan seringkali membuat orang lupa pada esensi iman. Yesus tidak berkata, “Kamu harus menjadi garam,” tetapi “Kamu adalah garam.” Ini adalah identitas, bukan sekadar tuntutan.

Sebagai garam, orang beriman tidak perlu menjadi pusat perhatian. Garam bekerja dalam diam. Ia larut, tidak terlihat, tetapi kehadirannya menentukan kualitas. Demikian pula orang beriman dipanggil untuk menghadirkan kasih, kejujuran, dan keadilan dalam keseharian: di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di ruang publik.

Sebagai terang, orang beriman dipanggil untuk menunjukkan arah, memberi harapan, dan menyingkapkan kebenaran. Terang tidak menyilaukan, tetapi menuntun. Terang tidak berteriak, tetapi bersinar.

Keterlibatan Kaum Muda

Kehadiran Bina Iman Remaja sebagai koor menjadi gambaran nyata bahwa kaum muda dipanggil menjadi terang bagi generasinya. Remaja di tengah arus budaya digital yang kuat tetap diberi ruang untuk bertumbuh dalam iman.

Melalui pelayanan mereka, terlihat bahwa Gereja tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga memberi kesempatan bagi generasi muda untuk mengalami dan menghidupinya.

Perayaan Ekaristi yang Menguatkan

Perayaan Ekaristi berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Doa-doa umat dipanjatkan untuk Gereja, bangsa, keluarga-keluarga, serta mereka yang mengalami kesulitan hidup.

Pada bagian konsekrasi, umat larut dalam keheningan yang mendalam. Saat komuni, barisan umat maju dengan tertib, menyambut Tubuh Kristus sebagai sumber kekuatan dan pengharapan.

Perayaan ditutup dengan berkat penutup yang mengutus umat kembali ke tengah dunia. Misa bukanlah akhir, melainkan awal perutusan.

Menjadi Garam dan Terang di Tengah Dunia

Minggu Biasa V mengingatkan umat bahwa panggilan sebagai garam dan terang bukanlah panggilan sesaat. Ia adalah komitmen setiap hari. Di tengah dunia yang kadang penuh kegelapan, orang beriman tidak dipanggil mengutuk kegelapan, tetapi menyalakan cahaya.

Garam harus larut. Terang harus bersinar.

Dengan semangat Sabda Tuhan hari ini, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diutus kembali ke keluarga dan masyarakat untuk menghadirkan iman yang hidup dan nyata dalam perbuatan.

Demikianlah perayaan Misa Sabtu Sore, 7 Februari 2026, di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berlangsung dengan lancar dan penuh rahmat.

Demikianlah Injil Tuhan. Amin.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   7 Februari  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar