IBADAT MASA PRAPASKAH 2026 DI LINGKUNGAN SANTA LUSIA: UMAT DIAJAK HIDUP DALAM SOLIDARITAS, “YANG MEMILIKI TIDAK MERASA BERKELEBIHAN, YANG TIDAK PUNYA TIDAK MERASA BERKEKURANGAN”
Ketapang, Selasa 10 Maret 2026.Umat Lingkungan Santa Lusia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menggelar ibadat masa prapaskah 2026 pada Selasa malam (10/3/2026) pukul 18.30 WIB di kediaman Bapak Hendri dan Ibu Mei Santi yang beralamat di Jalan Gatot Subroto. Ibadat yang merupakan Pertemuan III dalam rangkaian pertemuan lingkungan masa prapaskah tersebut dipimpin oleh Bapak Suhardi, dengan iringan lagu oleh Ibu Efriana. Kegiatan rohani ini juga dihadiri oleh Ketua Lingkungan Santa Lusia, Ibu Sutarti Rahayu, Pra Suster, serta umat lingkungan yang datang untuk bersama-sama merenungkan makna masa prapaskah melalui doa, bacaan Kitab Suci, serta refleksi iman bersama.
Pertemuan lingkungan kali ini mengangkat tema “Yang Memiliki Tidak Merasa Berkelebihan, Yang Tidak Punya Tidak Merasa Berkekurangan.” Tema tersebut diangkat sebagai bentuk refleksi umat terhadap panggilan Gereja untuk hidup dalam solidaritas, saling berbagi, serta membangun kepedulian sosial melalui gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP).
Sejak sebelum ibadat dimulai, umat sudah mulai berdatangan ke rumah keluarga Hendri dan Mei Santi. Suasana kekeluargaan tampak terasa ketika umat saling menyapa satu sama lain sebelum ibadat dimulai. Beberapa umat juga terlihat membantu mempersiapkan tempat ibadat, kursi, serta perlengkapan doa yang akan digunakan selama perayaan ibadat berlangsung.
Ketua Lingkungan Santa Lusia, Ibu Sutarti Rahayu, menyampaikan bahwa pertemuan lingkungan masa prapaskah merupakan salah satu kesempatan penting bagi umat untuk memperdalam iman sekaligus memperkuat kebersamaan di antara sesama umat.
Menurutnya, masa prapaskah bukan hanya menjadi waktu untuk menjalankan puasa dan pantang secara pribadi, tetapi juga menjadi saat bagi umat untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang mengalami kesulitan hidup.
“Ibadat lingkungan seperti ini menjadi kesempatan bagi umat untuk berkumpul, berdoa, dan merenungkan Sabda Tuhan bersama. Dari sana kita diingatkan kembali bahwa iman tidak hanya dihidupi secara pribadi, tetapi juga dalam kebersamaan sebagai umat,” ujarnya.
Ibadat dimulai dengan salam pembuka yang disampaikan oleh pemimpin ibadat, Bapak Suhardi. Dalam pengantar ibadatnya, ia mengajak seluruh umat untuk memahami kembali makna gerakan Aksi Puasa Pembangunan sebagai wujud nyata pertobatan dan solidaritas selama masa prapaskah.
Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk nyata APP adalah pengumpulan derma yang berasal dari silih-silih umat selama masa pantang dan puasa. Derma tersebut kemudian digunakan untuk membantu mereka yang termasuk dalam kelompok kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
“Dalam masa prapaskah ini kita diajak untuk belajar berbagi melalui gerakan APP. Derma yang kita kumpulkan bukan hanya sekadar uang, tetapi merupakan hasil dari pengorbanan pribadi kita selama menjalankan pantang dan puasa,” ungkapnya.
Ia mencontohkan bahwa silih dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Misalnya seseorang yang biasanya merokok memilih untuk pantang merokok selama masa prapaskah, lalu uang yang biasanya digunakan untuk membeli rokok disisihkan dan dimasukkan ke dalam amplop APP. Demikian pula seorang ibu rumah tangga dapat menyisihkan sebagian dari uang belanja rumah tangga, sementara anak-anak dapat menyisihkan sebagian uang jajannya.
Semua bentuk silih tersebut, kata dia, kemudian dikumpulkan bersama sebagai bentuk kebersamaan Gereja untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Setelah pengantar ibadat, acara dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Suci yang dibawakan oleh Suster Stela OSA. Bacaan diambil dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, khususnya 2 Korintus 8:1–15 yang berbicara tentang pelayanan kasih.
Dalam bacaan tersebut diceritakan bagaimana jemaat di Makedonia tetap menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa meskipun mereka hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Rasul Paulus menyampaikan bahwa dalam berbagai pencobaan berat, jemaat tersebut justru menunjukkan sukacita yang melimpah serta kemurahan hati yang besar dalam membantu sesama.
Paulus bahkan menyaksikan sendiri bagaimana jemaat tersebut memberikan bantuan melampaui kemampuan mereka. Mereka memberikan dengan kerelaan hati, bahkan mendesak agar diizinkan untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus yang membutuhkan bantuan.
Pesan tersebut menjadi dasar refleksi dalam pertemuan lingkungan malam itu.
Dalam refleksinya setelah pembacaan Kitab Suci, Bapak Suhardi menjelaskan bahwa sikap jemaat Makedonia merupakan contoh nyata bagaimana iman dapat mendorong seseorang untuk berbagi, bahkan dalam kondisi yang tidak mudah.
Menurutnya, kemurahan hati yang ditunjukkan jemaat tersebut bukan berasal dari kelimpahan materi, tetapi dari hati yang digerakkan oleh kasih Allah.
“Mereka memberi bukan karena berkelimpahan, tetapi karena hati mereka digerakkan oleh kasih. Inilah yang membuat Rasul Paulus sangat terkesan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sikap seperti ini menjadi pelajaran penting bagi umat masa kini. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali orang merasa sulit berbagi karena merasa belum memiliki cukup. Namun kisah jemaat Makedonia menunjukkan bahwa berbagi tidak selalu bergantung pada jumlah yang dimiliki.
“Yang terpenting bukan jumlahnya, tetapi niat yang tulus,” ujarnya.
Menurutnya, semangat berbagi seperti yang ditunjukkan jemaat Makedonia sejalan dengan semangat masa prapaskah yang mengajak umat untuk memperbarui hidup melalui doa, puasa, dan karya kasih.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan iman, kepedulian terhadap sesama tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab orang-orang yang dianggap mampu secara ekonomi.
Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Dalam hal kedermawanan tidak ada pengecualian. Semua orang diajak untuk terlibat, baik yang kaya maupun yang sederhana,” jelasnya.
Refleksi tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman iman dari umat yang hadir.
Salah satu umat, Bapak Stepanus Kauti, membagikan pengalaman pribadinya ketika bersama beberapa teman mengunjungi seorang yang sedang sakit.
Ia menceritakan bahwa setelah berbicara dengan teman-temannya di sebuah warung, mereka sepakat untuk menjenguk orang tersebut dan memberikan bantuan.
Tidak hanya bantuan berupa uang, mereka juga memberikan doa serta dukungan moral kepada orang yang sedang sakit tersebut.
Menurutnya, orang yang menerima bantuan tersebut tampak sangat terharu hingga meneteskan air mata.
“Kami melihat dia menangis karena bahagia. Saat itu kami juga merasakan kedamaian,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut memberikan kepuasan batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Perasaan setelah membantu orang lain itu sangat lega. Ada kepuasan batin yang luar biasa,” katanya.
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Bapak Antonius Suparno. Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan lingkungan, dana solidaritas umat sering kali menjadi sarana untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan.
Menurutnya, tidak semua orang memiliki kondisi kehidupan yang sama. Karena itu kepedulian dan kerja sama menjadi sangat penting untuk meringankan beban sesama.
“Siapa pun pantas untuk dibantu. Yang penting dilakukan dengan tulus,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kerja sama dan kepekaan terhadap sesama merupakan dasar penting dalam membangun kehidupan umat yang saling peduli.
Sementara itu, Bapak Suhardi kembali menegaskan bahwa sikap solidaritas harus dimulai dari kepekaan hati.
Ia mengajak umat untuk terus mengasah hati nurani agar mampu merasakan penderitaan orang lain.
“Semua bermula dari kepekaan hati. Jika hati kita peka, maka kita akan mudah tergerak untuk membantu,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan iman, penderitaan bukanlah sesuatu yang asing. Ia mencontohkan bagaimana Yesus mengalami penghinaan, penderitaan, hingga wafat di kayu salib demi keselamatan manusia.
Pengorbanan tersebut, menurutnya, menjadi inspirasi bagi umat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
“Masa prapaskah mengajak kita untuk meneladani kasih itu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa puasa tidak boleh hanya dimaknai sebagai menahan lapar atau menahan diri dari hal-hal tertentu. Puasa juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesama.
“Puasa kita bukan sekadar menjalankan aturan, tetapi memberi nilai bagi kehidupan orang lain,” ujarnya.
Dalam refleksi lebih lanjut, ia mengajak umat untuk merenungkan kembali pertanyaan penting dalam kehidupan iman, yaitu apakah seseorang memberi hanya dari kelebihan yang dimiliki atau sudah berani memberi dari kekurangan.
Menurutnya, pertanyaan tersebut menjadi tantangan bagi setiap orang untuk semakin mendalami makna berbagi dalam kehidupan sehari-hari.
“Apakah kita memberi hanya ketika berkelimpahan, ataukah kita memberi karena hati kita digerakkan oleh kasih?” katanya.
Ia berharap pertemuan lingkungan masa prapaskah ini dapat membantu umat semakin menyadari pentingnya solidaritas dalam kehidupan Gereja.
Menurutnya, Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang saling menopang, sehingga tidak ada anggota yang merasa ditinggalkan.
“Yang memiliki tidak merasa berkelebihan, dan yang tidak punya tidak merasa berkekurangan. Itulah gambaran kehidupan umat yang saling berbagi,” ujarnya.
Ibadat malam itu kemudian dilanjutkan dengan doa-doa bersama yang dipanjatkan oleh seluruh umat yang hadir.
Dalam doa tersebut, umat memohon agar Tuhan memberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menjalani masa prapaskah dengan penuh kesadaran serta semangat pertobatan.
Mereka juga berdoa agar semangat solidaritas yang direnungkan dalam pertemuan malam itu dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah rangkaian doa selesai, ibadat ditutup dengan berkat penutup yang dipimpin oleh Bapak Suhardi.
Dalam berkat penutup tersebut, ia memohon agar Tuhan senantiasa melindungi dan membimbing umat dalam perjalanan hidup mereka.
“Semoga kita sekalian dilindungi dan dibimbing oleh berkat Allah yang Mahakuasa: Bapa, Putera, dan Roh Kudus,” ucapnya.
Umat yang hadir kemudian menjawab dengan penuh khidmat, “Amin.”
Dengan demikian rangkaian ibadat pertemuan lingkungan masa prapaskah malam itu pun resmi ditutup.
Setelah ibadat selesai, umat tidak langsung pulang. Mereka masih meluangkan waktu untuk berbincang dan saling menyapa satu sama lain.
Suasana kebersamaan terlihat semakin hangat ketika umat saling bertukar cerita dan pengalaman setelah mengikuti ibadat bersama.
Beberapa umat juga menyampaikan harapan agar kegiatan pertemuan lingkungan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin.
Menurut mereka, selain memperdalam iman, kegiatan tersebut juga mempererat hubungan persaudaraan di antara umat.
Pertemuan lingkungan masa prapaskah sendiri merupakan salah satu kegiatan pastoral yang rutin dilakukan oleh lingkungan dalam paroki. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan beberapa kali selama masa prapaskah dengan tema refleksi yang berbeda pada setiap pertemuan.
Melalui kegiatan tersebut, umat diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pertemuan lingkungan juga menjadi sarana bagi umat untuk saling berbagi pengalaman iman, memperkuat solidaritas, dan membangun kebersamaan sebagai bagian dari Gereja.
Dalam konteks masa prapaskah, refleksi tentang solidaritas dan kedermawanan memiliki makna yang sangat penting.
Masa prapaskah sering kali dipahami sebagai waktu pertobatan, di mana umat diajak untuk memperbarui hubungan dengan Tuhan sekaligus dengan sesama manusia.
Melalui doa, puasa, dan karya kasih, umat diharapkan dapat semakin menyadari panggilan mereka untuk hidup dalam kasih dan kepedulian.
Gerakan Aksi Puasa Pembangunan menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut.
Melalui gerakan ini, umat diajak untuk menjadikan pengorbanan pribadi sebagai sumber berkat bagi orang lain.
Apa yang dihemat dari pantang dan puasa kemudian diubah menjadi solidaritas yang nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Dengan cara ini, puasa tidak hanya menjadi praktik spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun keadilan sosial dalam kehidupan bersama.
Semangat inilah yang kembali ditegaskan dalam pertemuan lingkungan masa prapaskah di Lingkungan Santa Lusia pada malam itu.
Melalui refleksi Sabda Tuhan dan pengalaman hidup yang dibagikan oleh umat, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa kasih kepada sesama merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan iman.
Bagi umat yang hadir, pertemuan tersebut bukan hanya sekadar kegiatan ibadat, tetapi juga menjadi momen untuk memperdalam kesadaran bahwa setiap orang dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama.
Dengan semangat kebersamaan dan solidaritas yang terus dipupuk, diharapkan kehidupan umat di lingkungan tersebut semakin mencerminkan nilai-nilai kasih yang diajarkan dalam iman.
Pertemuan malam itu pun meninggalkan pesan sederhana namun mendalam bagi seluruh umat yang hadir: bahwa berbagi tidak selalu membutuhkan kelimpahan, tetapi membutuhkan hati yang peka dan penuh kasih.
Dan ketika hati manusia digerakkan oleh kasih, maka yang memiliki tidak akan merasa berkelebihan, dan yang tidak memiliki pun tidak akan merasa berkekurangan.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 10 Maret 2026
0 comments:
Posting Komentar