Dari Keraguan Menuju Iman yang Hidup: Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Ketapang

 

Foto RD. Gabriel Bala.Pimpin Misa

 Dari Keraguan Menuju Iman yang Hidup: Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Ketapang

Ketapang, Minggu 12 April 2026 .Umat Katolik di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, merayakan Hari Minggu Paskah II yang juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi dengan penuh sukacita dan kekhusyukan. Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 07.00 WIB ini dipimpin oleh RD. Gabriel Bala dan dihadiri oleh umat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, yang datang untuk merayakan kemenangan Kristus atas maut.

Hari Minggu ini memiliki makna yang sangat mendalam dalam kehidupan Gereja Katolik. Selain sebagai Minggu Paskah II, Gereja juga memperingati Minggu Kerahiman Ilahi, sebuah perayaan yang menekankan kasih dan belas kasih Allah yang tak terbatas kepada umat manusia. Liturgi hari ini menggunakan warna putih, melambangkan sukacita, kemenangan, dan kemuliaan kebangkitan Kristus.

Perayaan ini juga bertepatan dengan peringatan beberapa santo, yaitu Santo Yulius I, Paus, dan Santo Sabas dari Goth, seorang martir yang memberikan kesaksian iman melalui pengorbanan hidupnya. Semangat para santo ini turut menjadi inspirasi bagi umat yang hadir untuk semakin menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak pagi hari, suasana di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang sudah dipenuhi umat yang datang dengan penuh semangat. Mereka mengenakan pakaian terbaik sebagai bentuk penghormatan terhadap perayaan suci ini. Lagu-lagu pujian terdengar mengalun, menciptakan suasana yang penuh damai dan sukacita.

Dalam perayaan Ekaristi ini, berbagai petugas liturgi turut mengambil bagian. Pemazmur dipercayakan kepada John Raul Sugara yang dengan penuh penghayatan membawakan mazmur tanggapan. Lektor Christivera Tanvenia membacakan Sabda Tuhan dengan jelas dan penuh penjiwaan, sehingga umat dapat merenungkan pesan yang disampaikan.

Koor dari SMP PL Santo Albertus mempersembahkan nyanyian-nyanyian liturgi yang indah dan menyentuh hati. Dengan iringan organ oleh Andreas Dixiyei serta arahan dirigen Natalia Desimita, suasana perayaan menjadi semakin hidup dan mengangkat hati umat kepada Tuhan.





Puncak dari perayaan ini adalah homili yang disampaikan oleh RD. Gabriel Bala. Dalam homilinya, beliau mengangkat tema tentang perjalanan iman manusia dari keraguan menuju kepercayaan yang hidup, dengan mengambil inspirasi dari kisah Rasul Tomas dalam Injil.

RD. Gabriel Bala memulai homilinya dengan mengajak umat untuk merenungkan realitas pemuridan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa menjadi murid Kristus bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan sebuah perjalanan yang penuh dinamika, termasuk keraguan, ketakutan, dan pergumulan.

Beliau mengisahkan tentang Rasul Tomas yang dikenal sebagai murid yang meragukan kebangkitan Yesus. Tomas adalah salah satu murid yang telah lama mengikuti Yesus, namun ketika mendengar kabar kebangkitan, ia tidak langsung percaya. Ia ingin melihat dan menyentuh sendiri luka-luka Yesus sebagai bukti.

Melalui kisah ini, RD. Gabriel Bala mengajak umat untuk melihat diri mereka sendiri dalam diri Tomas. “Seringkali kita juga seperti Tomas,” ujarnya. “Kita ingin bukti. Kita ingin kepastian. Kita sulit percaya ketika tidak melihat secara langsung.”

Namun, beliau menekankan bahwa keraguan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Keraguan justru bisa menjadi jalan menuju iman yang lebih dalam, asalkan kita tidak berhenti mencari Tuhan.

Dalam homilinya, RD. Gabriel Bala juga membedakan antara dua tipe pengikut Yesus: “fan” dan “followers”. Fan adalah mereka yang hanya mengagumi Yesus dari jauh, tetapi mudah goyah ketika menghadapi kesulitan. Mereka hadir ketika situasi nyaman, tetapi menghilang saat menghadapi tantangan.

Sebaliknya, followers adalah mereka yang setia mengikuti Yesus dalam segala situasi, baik suka maupun duka. Mereka tidak hanya mengagumi, tetapi benar-benar menghidupi ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

“Pertanyaannya bagi kita hari ini,” lanjut beliau, “apakah kita hanya sekadar pengagum, ataukah kita benar-benar pengikut Yesus yang sejati?”

RD. Gabriel Bala juga menyoroti momen ketika para murid berkumpul di sebuah ruangan dengan pintu terkunci. Mereka diliputi ketakutan akan ancaman dari luar. Namun, dalam situasi tersebut, Yesus datang dan berdiri di tengah mereka tanpa mengetuk pintu.

Kehadiran Yesus ini membawa pesan yang sangat kuat: damai sejahtera. “Damai sejahtera bagi kamu,” adalah kata pertama yang diucapkan Yesus kepada para murid-Nya.

Damai yang diberikan oleh Yesus bukanlah damai seperti yang diberikan dunia. Damai ini adalah damai yang sejati, yang tidak bergantung pada keadaan luar, tetapi berasal dari kehadiran Allah dalam hidup manusia.

Dalam refleksinya, RD. Gabriel Bala mengajak umat untuk menyadari bahwa Yesus juga hadir dalam kehidupan kita, bahkan ketika kita merasa takut, ragu, atau tidak siap. Ia tidak menunggu kita sempurna, tetapi datang dalam keadaan kita apa adanya.

Beliau juga menekankan bahwa pengalaman akan damai Tuhan tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Setelah memberikan damai, Yesus langsung mengutus para murid untuk pergi dan mewartakan kabar sukacita.

Hal ini menjadi pengingat bagi umat bahwa iman bukan hanya untuk disimpan, tetapi harus dibagikan. Kasih Tuhan yang kita terima harus menjadi berkat bagi orang lain.

Kembali pada kisah Tomas, RD. Gabriel Bala menjelaskan bahwa delapan hari setelah penampakan pertama, Yesus datang kembali dan secara khusus menjumpai Tomas. Ia tidak menegur atau menghukum Tomas, tetapi justru mengundangnya untuk menyentuh luka-luka-Nya.

Sikap Yesus ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menolak keraguan kita. Ia justru ingin membawa kita lebih dekat kepada-Nya melalui pengalaman pribadi yang mendalam.

Puncak dari kisah ini adalah pengakuan iman Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Sebuah pernyataan yang menunjukkan penyerahan total kepada Tuhan.

RD. Gabriel Bala mengajak umat untuk berani mengucapkan pengakuan yang sama dalam hidup mereka. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau juga mengutip sabda Yesus: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Sabda ini ditujukan kepada semua orang beriman, termasuk umat yang hadir pada hari itu.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, iman menjadi pegangan yang sangat penting. Iman membantu kita untuk tetap berharap, bahkan ketika situasi tidak sesuai dengan harapan.

RD. Gabriel Bala menutup homilinya dengan mengajak umat untuk tidak takut akan keraguan, tetapi menjadikannya sebagai jalan untuk semakin mengenal Tuhan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan iman adalah proses yang terus berlangsung, dan Tuhan selalu menyertai setiap langkah kita.

Perayaan Ekaristi berlangsung dengan penuh khidmat hingga akhir. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh perhatian dan penghayatan. Momen komuni menjadi saat yang sangat sakral, di mana umat menerima Tubuh Kristus sebagai sumber kekuatan iman.

Setelah misa selesai, umat tampak tetap tinggal sejenak untuk berdoa pribadi. Beberapa terlihat berbincang dengan sesama umat, berbagi sukacita dan pengalaman iman.

Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ini meninggalkan kesan mendalam bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Pesan tentang keraguan, iman, dan damai Kristus menjadi bekal berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan yang sering kali penuh tantangan, umat diingatkan bahwa Tuhan selalu hadir, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya, tetapi terus mengundang untuk percaya dan mengikuti-Nya dengan setia.

Melalui perayaan ini, umat diajak untuk memperbarui komitmen iman mereka. Dari sekadar pengagum menjadi pengikut sejati. Dari keraguan menuju iman yang hidup. Dari ketakutan menuju keberanian untuk menjadi saksi Kristus di dunia.

Semangat Minggu Kerahiman Ilahi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada perayaan liturgi, tetapi terus hidup dalam tindakan nyata umat sehari-hari. Dalam keluarga, di tempat kerja, dan dalam masyarakat, umat dipanggil untuk menjadi pembawa damai dan kasih Tuhan.

Dengan demikian, perayaan ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi titik awal pembaruan iman yang terus bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan umat beriman.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 12 April 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar