Perayaan Hari Minggu Paskah IV Tahun A dan Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-63 di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Refleksi Mendalam tentang Panggilan sebagai Anugerah Ilahi
Ketapang.Pada hari Minggu, 26 April 2026, umat Katolik di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang yang berada dalam wilayah Keuskupan Ketapang merayakan Hari Minggu Paskah IV Tahun A yang bertepatan dengan Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-63. Perayaan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita, mengingat makna penting yang terkandung di dalamnya sebagai Minggu Gembala Baik sebuah momentum refleksi tentang panggilan hidup dalam terang kasih Allah.
Misa Kudus dimulai tepat pada pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh RD. Fransiskus Suandi, yang juga menyampaikan homili penuh makna. Dalam perayaan tersebut, beliau didampingi oleh Pastor Kepala Paroki, RP. Vitalis Nggeal, CP, yang turut ambil bagian dalam pelayanan liturgi suci.
Perayaan Ekaristi berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan berkat keterlibatan berbagai petugas liturgi. Lektor pada hari itu adalah Saudari Maria Parahita Leandra yang membacakan Sabda Tuhan dengan penuh penghayatan. Pemazmur dipercayakan kepada Saudari Abigail Valerie yang membawakan mazmur dengan merdu dan khusyuk. Paduan suara atau koor diisi oleh Vox Fidei yang dipimpin oleh dirigen Saudari Gabriela Cindy, menghadirkan suasana liturgi yang semakin hidup dan menyentuh hati umat.
Alunan musik liturgi semakin memperindah perayaan berkat iringan organis Saudari Tania dan Saudara Andreas Dixiyei yang dengan harmonis mengiringi setiap bagian misa. Semua petugas liturgi menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga seluruh rangkaian ibadat berlangsung dengan lancar dan penuh kekhidmatan.
Dalam homilinya, RD. Fransiskus Suandi membuka dengan sapaan hangat kepada seluruh umat: “Selamat pagi Bapak, Ibu, Saudara-saudari, dan adik-adik terkasih.” Beliau kemudian menjelaskan bahwa Hari Minggu ini memiliki makna istimewa karena Gereja universal merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia yang ke-63, yang bertepatan dengan Minggu Paskah IV atau yang dikenal sebagai Minggu Gembala Baik.
Mengangkat tema utama “Penemuan Batiniah akan Anugerah Allah,” beliau menekankan bahwa panggilan hidup bukanlah suatu beban, melainkan sebuah anugerah yang ditemukan melalui refleksi dan pengalaman batin bersama Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali mencari makna hidup di luar dirinya, padahal panggilan sejati justru ditemukan dalam keheningan dan kedalaman relasi pribadi dengan Allah.
Beliau kemudian mengaitkan konsep panggilan ini dengan realitas kehidupan berbangsa. Negara memiliki berbagai hari peringatan seperti Hari Kartini, hari pahlawan, hari ibu, dan hari ayah. Setiap hari tersebut memiliki makna mendalam untuk mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai tertentu. Demikian pula dalam Gereja Katolik, terdapat berbagai hari liturgi seperti Rabu Abu, Kamis Putih, Sabtu Suci, dan Minggu Palma yang membantu umat untuk lebih fokus dalam menghayati iman.
Secara khusus, Minggu Paskah IV ditetapkan sebagai Minggu Panggilan. Dalam konteks ini, Gereja mengajak umat untuk mendoakan panggilan hidup, terutama panggilan khusus menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Hari ini juga menjadi hari istimewa bagi para imam yang telah menjawab panggilan tersebut.
Dalam refleksi yang sangat personal, RD. Fransiskus Suandi membagikan pengalaman panggilannya. Beliau menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang katekis yang sering mendampingi imam yang bertugas di stasi-stasi. Dari pengalaman masa kecil melihat ayahnya melayani umat, tumbuhlah rasa ingin tahu dalam dirinya.
Sebagai seorang anak kecil, ia sering mengenakan pakaian liturgi milik ayahnya dan mensimulasikan perayaan misa. Pengalaman sederhana tersebut ternyata menjadi benih panggilan yang tumbuh dalam dirinya.
Beliau juga mengenang sosok RD. Lorensius Sutadi yang pada saat itu baru ditahbiskan. Setiap selesai misa, Romo Lorensius selalu bertanya kepada dirinya tentang isi kotbah hari itu. Hal ini mendorongnya untuk lebih memperhatikan dan memahami Sabda Tuhan. Suatu hari, dengan polos ia berkata bahwa ia ingin menjadi seperti Romo tersebut. Dari pengalaman sederhana itu, panggilan Tuhan mulai semakin nyata dalam hidupnya.
Beliau menegaskan bahwa panggilan tidak selalu datang melalui pengalaman besar atau spektakuler. Justru sering kali Tuhan memanggil melalui hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga membagikan kisah panggilan RD. Yosef Kaju, yang awalnya bekerja seperti orang pada umumnya. Namun, dalam suatu perjalanan bus, ia bertemu dengan seorang teman yang mengajaknya untuk masuk seminari. Dari pertemuan yang tampak biasa tersebut, lahirlah keputusan besar yang mengubah arah hidupnya hingga akhirnya menjadi seorang imam.
Dalam bagian lain homilinya, RD. Fransiskus Suandi juga menjawab pertanyaan umat tentang apakah seorang imam pernah mengalami keraguan atau keinginan untuk mundur. Dengan jujur beliau mengakui bahwa dalam perjalanan panggilan, krisis adalah hal yang wajar.
Beliau menceritakan bahwa saat berada di seminari, ia pernah merasa ingin keluar karena kesepian. Selain itu, ketika ibunya meninggal dunia, ia tidak diizinkan pulang oleh Mgr. Blasius Pujaraharja. Keputusan tersebut sangat berat, namun di balik itu ada makna mendalam tentang kesetiaan terhadap panggilan.
Beliau menegaskan bahwa relasi panggilan memiliki dinamika yang mirip dengan kehidupan pernikahan. Dalam pernikahan, pasangan suami istri juga mengalami berbagai tantangan, namun tetap setia pada janji mereka. Demikian pula dalam panggilan imamat, kesetiaan menjadi kunci utama.
Di akhir homilinya, beliau mengajak seluruh umat, khususnya para orang tua, untuk mendoakan anak-anak mereka agar terbuka terhadap panggilan Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa di belakang gereja terdapat seminari yang menjadi tempat pembinaan calon imam. Harapannya, dari keluarga-keluarga Katolik akan lahir panggilan-panggilan baru untuk melayani Tuhan sebagai imam, suster, maupun bruder.
Perayaan Hari Minggu Paskah IV ini tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga menjadi kesempatan refleksi mendalam bagi umat tentang makna hidup dan panggilan. Dalam dunia yang penuh kesibukan dan tantangan, Gereja mengajak umat untuk berhenti sejenak, merenung, dan mendengarkan suara Tuhan dalam hati.
Suasana misa yang penuh khidmat, didukung oleh pelayanan liturgi yang baik, serta homili yang menyentuh hati, menjadikan perayaan ini sebagai pengalaman iman yang mendalam bagi seluruh umat yang hadir.
Dengan semangat Minggu Gembala Baik, umat di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak untuk semakin mengenal Yesus sebagai Gembala yang baik, yang memanggil setiap orang secara pribadi untuk mengikuti-Nya. Panggilan itu unik dan berbeda bagi setiap orang, namun semuanya bermuara pada satu tujuan: hidup dalam kasih dan pelayanan kepada sesama.
Akhirnya, perayaan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki panggilan masing-masing, baik dalam kehidupan berkeluarga, karya, maupun pelayanan Gereja. Yang terpenting adalah kesediaan untuk mendengarkan dan menjawab panggilan tersebut dengan setia.
Semoga melalui perayaan ini, semakin banyak umat yang menyadari bahwa panggilan adalah anugerah, dan dengan keberanian serta iman, mereka dapat menjawab panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Amin.
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 26 April 2026



0 comments:
Posting Komentar