Ketapang, 1 Mei 2026.Umat Katolik di Gereja Santo Agustinus Paya Kumang, wilayah Keuskupan Ketapang, merayakan Misa dan Adorasi Jumat Pertama yang dirangkaikan dengan pembukaan Bulan Maria pada Jumat, 1 Mei 2026. Perayaan iman ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan, dimulai pada pukul 17.30 WIB, dan dipimpin oleh RP.Vitalis Nggeal, CP.
Perayaan ini juga bertepatan dengan Pesta Santo Yusuf Pekerja, yang dikenal sebagai pelindung para pekerja, serta merupakan hari biasa Pekan IV Paskah Tahun A. Momentum ini memberi makna khusus bagi umat untuk mendoakan seluruh pekerja agar senantiasa diberkati dalam karya dan pengabdian mereka sehari-hari.
Perayaan Ekaristi diawali dengan doa Rosario bersama yang dilaksanakan secara khidmat di Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat. Umat berarak dalam perarakan patung Bunda Maria sebagai simbol penghormatan dan devosi kepada Maria, yang dalam tradisi Gereja Katolik dikenal sebagai Bunda Gereja dan perantara rahmat.
Kegiatan ini semakin bermakna dengan keterlibatan berbagai kelompok kategorial dalam Gereja. Petugas liturgi dipercayakan kepada anggota Legio Maria, yang dikenal sebagai kelompok kerasulan awam dengan spiritualitas Maria yang kuat.
Keterlibatan umat dari berbagai latar belakang ini mencerminkan kebersamaan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang hidup dan aktif dalam pelayanan.
Dalam homilinya, RP.Vitalis Nggeal, CP mengangkat tema reflektif yang kuat berdasarkan Injil Yohanes 14:6: “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup.” Ia menegaskan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan menuju Bapa.
“Ketika Yesus mengatakan ‘Akulah Jalan’, itu berarti keselamatan bersifat eksklusif. Tidak ada banyak jalan menuju surga. Hanya satu jalan, yaitu Yesus Kristus,” tegasnya. Ia menggambarkan bahwa seperti alamat yang spesifik, seseorang hanya membutuhkan satu rute yang benar untuk sampai pada tujuan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan makna “Akulah Kebenaran”. Menurutnya, dengan pernyataan tersebut, Yesus menegaskan diri sebagai satu-satunya sumber kebenaran sejati. Semua kebenaran lain harus ditimbang dalam terang Kristus. “Jika kita mencari kebenaran di luar Dia, kita akan kehilangan arah,” tambahnya.
Pada bagian “Akulah Hidup”, Pastor Vitalis Nggeal, CP menekankan bahwa model kehidupan yang membawa kepada keselamatan hanyalah kehidupan yang diteladankan oleh Yesus sendiri. Tidak ada model lain yang mampu mencapai standar surgawi selain hidup yang sesuai dengan ajaran Kristus.
Ia juga mengaitkan sabda Injil tersebut dengan makna Bulan Maria yang mulai dirayakan pada hari itu. Menurutnya, Bunda Maria adalah teladan sempurna dalam menanggapi sabda Yesus. “Maria menunjukkan kepada kita bagaimana berjalan di jalan itu, hidup dalam kebenaran, dan mengalami hidup sejati bersama Tuhan,” ujarnya.
Pastor Vitalis Nggeal, CP mengajak umat untuk menjadikan Bulan Maria bukan sekadar rutinitas doa Rosario, tetapi sebagai kesempatan untuk membentuk hati seperti Maria: hati yang taat, rendah hati, dan setia, bahkan dalam penderitaan.
Dalam refleksinya, ia juga menyinggung semboyan spiritualitas Maria: Per Mariam ad Jesum — melalui Maria menuju Yesus. Ia menegaskan bahwa Maria tidak pernah menjadi tujuan akhir, melainkan selalu mengarahkan umat kepada Putranya.
“Dalam peristiwa di Kana, Maria berkata: ‘Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.’ Ini adalah inti dari spiritualitas Maria. Ia menuntun kita kepada Kristus,” jelasnya.
Perayaan ini berlangsung dalam suasana yang sangat khidmat. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh penghayatan, mulai dari doa pembuka, liturgi sabda, hingga adorasi Sakramen Mahakudus yang menjadi puncak perayaan Jumat Pertama.
Adorasi menjadi momen hening yang mendalam, di mana umat diajak untuk berjumpa secara pribadi dengan Yesus dalam Ekaristi. Dalam keheningan tersebut, umat merenungkan kasih Tuhan yang nyata dalam hidup mereka.
Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat yang menjadi lokasi awal kegiatan turut menambah suasana sakral. Tempat ini menjadi simbol kehadiran Maria yang selalu menyertai umat dalam perjalanan iman mereka.
Kehadiran berbagai elemen umat imam, petugas liturgi, koor, dan umat menunjukkan bahwa Gereja adalah komunitas yang hidup dan dinamis. Setiap orang mengambil bagian sesuai dengan panggilannya masing-masing.
Perayaan ini juga menjadi momentum pembaruan iman bagi umat. Dalam dunia yang penuh tantangan, Gereja mengajak umat untuk kembali kepada sumber kehidupan sejati, yaitu Kristus.
Melalui perayaan ini, umat diingatkan bahwa iman bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi pengikut Kristus berarti hidup sesuai dengan ajaran-Nya.
Bulan Maria yang dimulai pada hari ini menjadi kesempatan bagi umat untuk memperdalam devosi kepada Bunda Maria. Melalui doa Rosario, umat diajak untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus bersama Maria.
Devosi ini bukanlah bentuk penyembahan kepada Maria, melainkan penghormatan yang mengarah kepada Kristus. Maria menjadi jembatan yang membantu umat semakin dekat dengan Tuhan.
Perayaan ini ditutup dengan berkat penutup dan harapan agar umat dapat menjalani Bulan Maria dengan penuh iman dan semangat baru. Umat pulang dengan hati yang damai dan dikuatkan.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Gereja di Ketapang terus hidup dan bertumbuh melalui perayaan iman yang sederhana namun penuh makna.
Dengan semangat “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup”, umat diajak untuk terus berjalan bersama Kristus, dengan bimbingan Bunda Maria, menuju kehidupan kekal.
Dan dalam kebersamaan yang penuh kasih itu, Gereja Santo Agustinus Paya Kumang kembali meneguhkan panggilannya sebagai komunitas iman yang setia, hidup, dan penuh harapan.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 1 Mei 2026







0 comments:
Posting Komentar