Ketapang, 13 Juli 2026.Sukacita memenuhi Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Sabtu, 11 Juli 2026, ketika umat Allah berhimpun untuk mengikuti Perayaan Ekaristi sekaligus Sakramen Perkawinan antara Filisianus Richardus Viktor, SP, putra kedua dari Bapak Yakarias Irawan dan Ibu Malonia, dengan Leoni Clara Selvita Sari, S.Si, putri pertama dari Bapak Markus Aluat dan Ibu Yushinta.Perayaan Ekaristi Sakramen Perkawinan dimulai pada pukul 09.00 WIB
Perayaan Ekaristi yang berlangsung dengan penuh khidmat tersebut dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. sebagai selebran utama. Kehadiran keluarga besar kedua mempelai, sanak saudara, sahabat, serta umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menambah suasana penuh sukacita dan syukur atas rahmat Tuhan yang mempersatukan kedua mempelai dalam ikatan Sakramen Perkawinan.
Sejak awal perayaan, suasana gereja dipenuhi nuansa doa. Alunan musik liturgi yang dimainkan oleh organis Benediktus Daryn, dipadukan dengan lantunan mazmur yang dibawakan Patriksius Milando serta nyanyian merdu dari Koor Choral Juvenile, mengantar seluruh umat memasuki perayaan Ekaristi dengan hati yang khusyuk.
Perayaan diawali dengan Ritus Pembuka, ketika kedua mempelai disambut oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. di depan pintu gereja. Penyambutan ini menjadi simbol bahwa pasangan mempelai diterima oleh Gereja untuk memasuki hidup baru dalam persekutuan kasih Kristus. Setelah itu dilaksanakan perarakan menuju altar yang diiringi lagu pembuka dan doa bersama.
Sesampainya di altar, imam memimpin doa pembuka serta melakukan taburan air suci sebagai lambang penyucian dan pengingat akan rahmat Sakramen Baptis yang telah diterima kedua mempelai. Melalui ritus ini, seluruh umat diajak memperbaharui iman serta membuka hati terhadap karya Allah yang akan dinyatakan dalam Sakramen Perkawinan.
Perayaan dilanjutkan dengan Liturgi Sabda, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk mendengarkan firman Tuhan sebagai dasar kehidupan keluarga Kristiani. Bacaan Kitab Suci, Mazmur Tanggapan, serta Injil dibacakan secara berurutan sesuai tata liturgi Gereja.
Bacaan Injil yang diwartakan pada kesempatan tersebut adalah kisah Perkawinan di Kana dari Injil Yohanes 2:1–11, yang menceritakan mukjizat pertama Yesus ketika mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan.
Perikop Injil ini mengandung makna yang sangat mendalam. Mukjizat di Kana menjadi tanda pertama yang menyatakan kemuliaan Yesus sebagai Putra Allah. Kehadiran Yesus dalam pesta perkawinan menunjukkan bahwa keluarga merupakan tempat Allah berkarya dan menghadirkan rahmat-Nya. Peristiwa perubahan air menjadi anggur juga melambangkan pembaruan hidup melalui kasih karunia Kristus, sekaligus menegaskan bahwa kehidupan keluarga akan memperoleh kekuatan apabila selalu mengandalkan Tuhan.
Selain itu, kisah ini memperlihatkan peran Bunda Maria sebagai pribadi yang peka terhadap kebutuhan sesama. Maria menyadari bahwa pesta perkawinan mengalami kekurangan anggur, lalu memohon pertolongan kepada Yesus. Pesannya yang terkenal, "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu," menjadi ajakan bagi setiap keluarga Kristiani untuk selalu taat kepada kehendak Tuhan.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. mengajak seluruh umat, terutama kedua mempelai, untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas rahmat Sakramen Perkawinan yang diterima pada hari tersebut.
"Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat rahmat perkawinan Leoni dan Viktor. Dari janji yang sederhana hingga hari ini, mereka telah membuktikan keseriusan cinta mereka di hadapan Tuhan dan Gereja," ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua pribadi, melainkan merupakan salah satu dari tujuh Sakramen Gereja Katolik yang menghadirkan rahmat Allah secara nyata dalam kehidupan pasangan suami istri.
Menurut beliau, kehidupan perkawinan selalu menghadirkan berbagai dinamika. Ada saat-saat yang dipenuhi kebahagiaan, tetapi ada pula masa-masa penuh tantangan. Semua itu merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani bersama.
"Enam bulan sampai satu tahun pertama mungkin terasa sangat indah. Ada sukacita ketika lahir seorang anak, ketika keluarga dapat berdoa bersama, ketika kesehatan baik dan rezeki cukup. Semua itu adalah pengalaman yang membahagiakan," katanya.
Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa pengalaman tidak menyenangkan juga pasti hadir.
"Ada saat ekonomi sulit, kesehatan menurun, bahkan persoalan muncul bukan dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Kadang kita sulit saling memahami dan sulit saling mengampuni," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, RP. Vitalis Nggeal, CP. menekankan bahwa prinsip utama perkawinan adalah pengampunan.
"Di sinilah kualitas cinta diuji. Cinta sejati bukan berarti tidak pernah terluka, tetapi memilih untuk berdamai. Ingatlah janji perkawinan yang akan kalian ucapkan: setia dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, sepanjang hidup."
Beliau juga mengingatkan agar pasangan tidak membiarkan kemarahan berlarut-larut dalam rumah tangga.
"Jangan biarkan matahari terbenam sampai padam kemarahanmu. Kristus harus tinggal di tengah keluarga. Keluarga mempunyai kekuatan untuk saling mengampuni."
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan keluarga Kristiani dibangun bukan di atas kesempurnaan manusia, melainkan di atas kasih Allah yang senantiasa mengampuni.
Lebih lanjut, beliau mengajak kedua mempelai agar tidak hanya membangun rumah yang indah secara fisik, tetapi juga membangun rumah doa.
"Jangan hanya membangun rumah yang indah, tetapi bangunlah rumah doa. Mama Leoni sangat aktif dalam kehidupan doa di lingkungan. Itu menjadi teladan yang baik bagi Leoni sendiri. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang selalu terhubung dengan Ekaristi dan Misa Kudus."
Beliau juga menegaskan bahwa Kristus harus menjadi pusat kehidupan keluarga.
"Yesus harus berjalan bersama keluarga. Karena itu, kita akan berdoa di hadapan Bunda Maria. Belajarlah saling mengerti dan tetap setia. Seperti Bunda Maria yang setia mendampingi Putranya hingga di kayu salib, demikian pula suami dan istri dipanggil untuk tetap setia dalam setiap keadaan."
Menutup homilinya, beliau memberikan pesan yang sangat menyentuh kepada kedua mempelai.
"Istri di kanan, suami di kiri, dan Tuhan Yesus berada di tengah-tengah keluarga. Selama Kristus tetap menjadi pusat keluarga, tidak ada persoalan yang tidak dapat dihadapi bersama."
Memasuki Liturgi Perkawinan, kedua mempelai menyatakan kehendak mereka secara bebas untuk menikah tanpa adanya paksaan. Dengan penuh keyakinan, Viktor dan Leoni mengucapkan janji perkawinan di hadapan Allah, imam, saksi, serta seluruh umat yang hadir.
Suasana haru menyelimuti gereja ketika kedua mempelai saling mengucapkan ikrar kesetiaan yang menjadi dasar hidup perkawinan Katolik. Janji tersebut menjadi komitmen suci untuk saling mencintai, menghormati, serta mendampingi dalam suka maupun duka sepanjang hidup.
Setelah janji perkawinan, RP. Vitalis Nggeal, CP. memberkati cincin perkawinan sebelum dikenakan oleh kedua mempelai. Penyematan cincin menjadi lambang kasih yang abadi, kesetiaan, dan komitmen yang tidak terputus.
Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen perkawinan oleh kedua mempelai, saksi, dan imam sebagai bukti sahnya perkawinan menurut Gereja Katolik sekaligus memenuhi ketentuan administrasi yang berlaku.
Sesudah Liturgi Perkawinan, perayaan berlanjut ke Liturgi Ekaristi. Umat bersama-sama mempersembahkan roti dan anggur sebagai lambang syukur atas seluruh rahmat Tuhan. Doa Syukur Agung dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan sebelum umat menyambut Komuni Kudus sebagai puncak Perayaan Ekaristi.
Perayaan kemudian ditutup dengan Ritus Penutup, yang diawali doa penutup dan berkat meriah bagi kedua mempelai. Imam memohon agar keluarga baru yang terbentuk senantiasa memperoleh perlindungan Tuhan, hidup dalam damai, kesetiaan, dan kasih yang tidak pernah berkesudahan.
Misa pemberkatan nikah ini menjadi momentum yang penuh makna, bukan hanya bagi Viktor dan Leoni, tetapi juga bagi seluruh umat yang hadir. Melalui perayaan tersebut, Gereja kembali menegaskan bahwa keluarga adalah Gereja kecil yang dipanggil menjadi tempat bertumbuhnya iman, harapan, dan kasih.
Perjalanan hidup berumah tangga tentu tidak selalu mudah. Namun, sebagaimana ditegaskan dalam homili, ketika Kristus menjadi pusat keluarga, setiap tantangan akan menjadi kesempatan untuk semakin bertumbuh dalam cinta dan pengampunan.
Semoga keluarga baru Filisianus Richardus Viktor, SP dan Leoni Clara Selvita Sari, S.Si senantiasa diberkati Tuhan, hidup dalam kesetiaan, saling mengasihi, tekun dalam doa, setia mengikuti Ekaristi, serta menjadi saksi kasih Kristus di tengah Gereja dan masyarakat. Semoga teladan Keluarga Kudus Nazaret serta penyertaan Bunda Maria senantiasa menguatkan langkah mereka dalam membangun keluarga yang kokoh, penuh damai, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 13 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar