Ketapang, 14 Juni 2026.Suasana penuh sukacita dan pengharapan mewarnai Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XI Tahun A di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Minggu, 14 Juni 2026. Perayaan Misa Kudus yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut dipimpin oleh RP. Advent Novianto Stephanus, SJ dan dihadiri umat dari berbagai lingkungan yang datang untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan.
Perayaan liturgi berlangsung dengan warna hijau yang menandai Masa Biasa dalam kalender Gereja Katolik. Dalam perayaan tersebut, tugas pelayanan liturgi dipercayakan kepada berbagai petugas yang telah mempersiapkan diri dengan baik. Pemazmur dipercayakan kepada Feby Cindi Alita, lektor oleh Robertus Kalvin, petugas koor dari Lingkungan Santo Simon, dirigen oleh Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, serta organis oleh Saudara Matthew Satria Sugiarto Agissucida.
Sejak awal perayaan, umat mengikuti seluruh rangkaian liturgi dengan penuh khidmat. Nyanyian pembukaan yang menggema di seluruh gereja mengantar umat memasuki misteri keselamatan yang dirayakan. Bacaan-bacaan Kitab Suci yang diperdengarkan pada Hari Minggu Biasa XI Tahun A mengajak umat untuk merenungkan kasih Allah yang senantiasa memanggil manusia untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.
Dalam homilinya, RP. Advent Novianto Stephanus, SJ mengajak umat untuk merenungkan makna panggilan Tuhan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pastor Advent membuka renungannya dengan sebuah kisah sederhana yang dekat dengan pengalaman banyak keluarga.
“Saya punya keponakan bernama Jojo. Saya memanggilnya, tetapi tidak direspons. Kemudian ibu saya mengatakan, ‘Jojo, jangan main HP terus, Pakde panggil.’ Setelah diingatkan, barulah ia memberikan tanggapan. Dalam kehidupan beriman pun sering demikian. Tuhan memanggil, tetapi kita kadang terlalu sibuk dengan hal-hal lain sehingga tidak mendengar panggilan-Nya.”
Melalui kisah tersebut, beliau menegaskan bahwa panggilan Tuhan selalu membutuhkan tanggapan. Tuhan tidak hanya memanggil sekali, tetapi berulang kali dengan berbagai cara. Namun manusia sering kali terlena oleh kesibukan, kenyamanan, dan berbagai gangguan yang membuat hati menjadi kurang peka terhadap suara Tuhan.
Mengacu pada Injil hari itu, RP. Advent Novianto Stephanus, SJ menekankan bahwa Yesus digerakkan oleh belas kasih ketika melihat banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Belas kasih itu tidak berhenti sebagai perasaan semata, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata dengan memanggil dan mengutus para murid.
Menurut beliau, kedatangan umat ke gereja setiap hari Minggu juga berakar dari pengalaman akan belas kasih Tuhan. Setiap orang memiliki pengalaman iman yang berbeda-beda, namun semuanya dipersatukan oleh kasih Allah yang terlebih dahulu menyentuh hidup mereka.
“Bapak-Ibu datang ke gereja karena memiliki pengalaman akan Tuhan. Ada yang mengalami pertolongan-Nya, ada yang mengalami penyertaan-Nya, ada yang mengalami penghiburan-Nya. Semua itu adalah pengalaman akan kasih Allah yang nyata.”
Lebih lanjut, RP. Advent Novianto Stephanus, SJ menjelaskan bahwa setiap panggilan dari Tuhan selalu mengandung unsur tanggung jawab. Orang yang dipanggil tidak hanya menerima rahmat untuk dirinya sendiri, melainkan juga diutus untuk membagikan rahmat itu kepada orang lain.
Dalam konteks Injil, dua belas rasul yang dipilih Yesus memiliki makna yang sangat penting. Dua belas rasul merupakan simbol fondasi Gereja dan lambang perutusan universal. Mereka dipanggil secara khusus oleh Yesus untuk menjadi saksi kehidupan, wafat, dan kebangkitan-Nya. Dari kelompok kecil inilah pewartaan Injil berkembang hingga menjangkau seluruh dunia.
Dalam perayaan tersebut juga dilaksanakan penerimaan Sakramen Baptis. Kehadiran anak-anak yang menerima baptisan menjadi momentum istimewa untuk merenungkan kembali makna panggilan hidup Kristiani.
RP. Advent Novianto Stephanus, SJ mengingatkan bahwa baptisan bukan sekadar upacara atau tradisi keagamaan. Baptisan merupakan tanda nyata bahwa seseorang telah diterima menjadi anggota Gereja dan memperoleh rahmat keselamatan dari Allah.
Menurut ajaran Gereja Katolik, Sakramen Baptis membebaskan manusia dari dosa dan menjadikannya anak-anak Allah. Melalui baptisan, seseorang memperoleh identitas baru sebagai murid Kristus yang dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
“Pasti ada pengalaman dicintai. Setelah dibaptis dan dikrisma, kita dipanggil dan siap diutus. Tidak ada baptisan tanpa perutusan.”
Selain baptisan, beliau juga menyinggung pentingnya Sakramen Krisma sebagai kelanjutan rahmat baptisan yang meneguhkan umat dengan karunia Roh Kudus agar semakin dewasa dalam iman. Dengan menerima Sakramen Krisma, umat memperoleh kekuatan untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia.
Pastor Advent menegaskan bahwa kasih Allah yang diterima melalui sakramen-sakramen tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Kasih itu harus menghasilkan tanggapan nyata berupa pelayanan, kesaksian hidup, dan kesetiaan dalam menjalankan tugas sebagai murid Kristus.
Dalam homilinya, RP. Advent Novianto Stephanus, SJ juga membagikan pengalaman ketika mendampingi Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, dalam kunjungan pastoral ke Botong. Beliau mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya karena dapat menyaksikan secara langsung bagaimana karya Tuhan berkembang di tengah umat.
Salah satu hal yang memberikan kesan mendalam adalah semangat umat dalam membangun kehidupan menggereja dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui program “Kantong Merah”, umat diajak untuk mengolah sampah agar memiliki nilai manfaat yang lebih besar. Program tersebut menjadi contoh bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama.
Beliau juga menceritakan perkembangan yang menggembirakan di wilayah tersebut. Dalam usia pelayanan yang masih muda, berbagai karya pastoral menunjukkan pertumbuhan yang baik. Bahkan kolekte yang terkumpul dalam satu bulan telah mencapai sekitar Rp1.000.000. Menurut beliau, hal itu bukan terutama soal jumlah, melainkan tanda keterlibatan dan partisipasi umat dalam kehidupan Gereja.
Dalam bagian lain homilinya, RP. Advent Novianto Stephanus, SJ mengajak umat untuk memahami bahwa jalan Tuhan sering kali berbeda dengan harapan manusia.
“Jalan Tuhan memiliki pola yang kadang penuh luka. Namun pola itu membawa kita sampai kepada keselamatan.”
Beliau menjelaskan bahwa perjalanan hidup para nabi, para rasul, bahkan Yesus sendiri tidak pernah lepas dari penderitaan. Namun justru melalui jalan salib itulah keselamatan diwujudkan. Karena itu umat tidak perlu takut menghadapi kesulitan, tantangan, maupun penderitaan.
Pada akhir Injil, Yesus memberikan kuasa kepada para murid untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan berbagai kelemahan. Menurut RP. Advent Novianto Stephanus, SJ, kuasa tersebut menjadi tanda bahwa Tuhan senantiasa menyertai mereka yang menjalankan tugas perutusan.
“Di akhir Injil, kita diberikan berkat dan kuasa mengusir roh jahat. Karena itu kita harus bersyukur ketika diberi tugas. Tugas adalah rahmat. Perutusan adalah rahmat.”
Menjelang akhir homili, RP. Advent Novianto Stephanus, SJ kembali mengingatkan umat bahwa panggilan Tuhan tidak hanya ditujukan kepada para imam, biarawan, dan biarawati. Setiap orang yang telah dibaptis juga menerima panggilan yang sama untuk menjadi murid dan saksi Kristus.
“Hari ini yang dipanggil adalah Bapak-Ibu semua. Ikutilah panggilan dan pola Tuhan. Siap dipanggil, siap diutus.”
Pesan tersebut menjadi inti dari seluruh homili yang disampaikan. Setiap umat diajak untuk membuka hati terhadap panggilan Tuhan, memberikan tanggapan yang nyata, dan menjalankan tugas perutusan dengan penuh sukacita.
Perayaan Ekaristi kemudian dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi hingga berakhir dengan berkat penutup. Umat menerima berkat tersebut sebagai tanda penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup mereka serta pengingat bahwa setiap orang yang meninggalkan gereja sesungguhnya diutus kembali ke tengah dunia untuk menjadi saksi kasih Kristus.
Misa Hari Minggu Biasa XI Tahun A di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi kesempatan berharga bagi umat untuk memperdalam pemahaman tentang panggilan hidup Kristiani. Melalui sabda Tuhan dan homili yang disampaikan oleh RP. Advent Novianto Stephanus, SJ, umat diajak menyadari bahwa panggilan Tuhan selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana kisah sederhana tentang Jojo yang perlu diingatkan agar mendengar panggilan, demikian pula umat diajak untuk lebih peka terhadap suara Tuhan. Dunia modern dengan berbagai kesibukan dan distraksi sering membuat manusia kurang mendengarkan kehendak Allah. Namun Tuhan tidak pernah berhenti memanggil.
Melalui baptisan dan krisma, umat telah menerima rahmat sebagai anak-anak Allah dan anggota Gereja. Rahmat tersebut bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan kepada dunia. Dengan demikian, setiap umat dipanggil untuk meneladani para rasul yang setia menjalankan tugas perutusan serta menghadirkan kasih Tuhan dalam keluarga, lingkungan, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat.
Semangat “Siap Dipanggil, Siap Diutus” yang menjadi pesan utama homili hari itu diharapkan terus hidup dalam hati umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Dengan mengandalkan rahmat Tuhan, setiap tantangan dapat dihadapi, setiap luka dapat dimaknai, dan setiap langkah kehidupan dapat diarahkan menuju keselamatan yang telah dijanjikan Allah.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 14 Juni 2026






0 comments:
Posting Komentar