dan RP. Paul Cherukoduth, C.P
Ketapang, 25 Juli 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XVII yang dirayakan pada Sabtu sore, 25 Juli 2026. Perayaan tersebut sekaligus memperingati Hari Orangtua, Kakek, dan Nenek Sedunia dengan warna liturgi hijau. Misa dimulai pukul 18.00 WIB dan berlangsung dengan khidmat hingga selesai. RP. Vitalis Nggeal, C.P. bertindak sebagai selebran utama, didampingi RP. Paul Cherukoduth, C.P. dan RP. Petrus Yuniarto, C.P. sebagai konselebran. Dalam homili yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh RP. Petrus Yuniarto, C.P., RP. Paul mengajak umat menjadikan kebijaksanaan yang berasal dari Allah sebagai harta paling berharga dalam kehidupan.
Perayaan berlangsung dalam suasana penuh syukur dan khidmat. Selain dihadiri umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, tampak hadir pula Bruder Pidi, C.P. Kehadiran para imam dan bruder Kongregasi Pasionis menjadi sukacita tersendiri bagi umat yang mengikuti perayaan Ekaristi.
Pelayanan liturgi dipercayakan kepada Ibu Dian Noviyanti sebagai lektor, Saudara Dario sebagai pemazmur, koor Lingkaran Santa Sesilia yang dipimpin Ibu Kresensia Nini sebagai dirigen, serta Saudari Maria Parahita Leandra sebagai organis. Seluruh petugas melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab sehingga perayaan berlangsung tertib dan membantu umat menghayati setiap bagian liturgi.
Dalam Liturgi Sabda, RP. Petrus Yuniarto, C.P. membacakan Injil menurut Matius 13:44–52. Perikop tersebut memuat tiga perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga, yakni harta yang terpendam di ladang, mutiara yang sangat berharga, dan pukat yang mengumpulkan berbagai jenis ikan.
Melalui perumpamaan tentang harta terpendam, Yesus menggambarkan seseorang yang rela menjual seluruh miliknya demi memperoleh ladang yang menyimpan harta tersebut. Demikian pula seorang pedagang yang menjual semua miliknya setelah menemukan mutiara yang sangat berharga. Sementara itu, perumpamaan tentang pukat mengingatkan bahwa pada akhir zaman Allah akan memisahkan orang benar dari orang jahat sesuai dengan kehidupan yang mereka jalani.
Usai pembacaan Injil, RP. Paul Cherukoduth, C.P. menyampaikan homili dalam bahasa Inggris. Agar seluruh umat dapat memahami isi pewartaan dengan baik, homili tersebut diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia oleh RP. Petrus Yuniarto, C.P. Proses penerjemahan berlangsung lancar sehingga setiap pesan yang disampaikan dapat diterima dengan jelas oleh umat.
Mengawali homilinya, RP. Paul menyampaikan salam kepada seluruh umat. Setelah diterjemahkan oleh RP. Petrus Yuniarto, sapaan tersebut disambut hangat oleh umat yang hadir.
Ia menjelaskan bahwa Injil hari itu tidak sekadar berbicara mengenai pencarian harta karun. Yesus menggunakan gambaran tersebut untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Allah merupakan harta yang paling bernilai, melebihi seluruh kekayaan yang dapat dimiliki manusia.
Menurut RP. Paul, pada zaman Yesus banyak orang menyimpan harta di dalam tanah agar aman dari pencurian maupun peperangan. Oleh karena itu, kisah mengenai harta terpendam sangat mudah dipahami oleh masyarakat pada masa itu. Namun makna yang hendak disampaikan Yesus jauh lebih dalam daripada sekadar menemukan emas atau perak.
Ia mengatakan bahwa manusia pada zaman sekarang tetap mencari "harta". Bentuknya bisa berupa pekerjaan, jabatan, usaha, pendidikan, ataupun kekayaan materi. Semua itu diperlukan untuk kehidupan, tetapi tidak selalu menghadirkan kebahagiaan yang sejati.
Mengaitkan Injil dengan kehidupan masyarakat Kalimantan, RP. Paul menyinggung bahwa banyak keluarga menggantungkan penghidupan dari perkebunan kelapa sawit. Hasil kerja keras tersebut patut disyukuri karena membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun kekayaan materi tidak boleh menjadi tujuan utama hidup manusia.
"Kita mencari kegembiraan bagi keluarga dan masyarakat. Kita bekerja untuk memperoleh penghidupan. Tetapi harta dunia bukanlah tujuan akhir kehidupan," demikian isi homili yang diterjemahkan kepada umat.
RP. Paul kemudian menghubungkan Injil dengan bacaan pertama mengenai Raja Salomo. Ketika Allah memberikan kesempatan untuk meminta apa saja, Salomo tidak memohon kekayaan, kekuasaan, ataupun umur panjang.
Sebaliknya, raja muda itu memohon hati yang bijaksana agar mampu membedakan yang baik dan yang buruk serta memimpin umat dengan adil.
Menurut RP. Paul, pilihan Salomo menjadi teladan bagi setiap orang beriman. Kebijaksanaan jauh lebih berharga daripada kekayaan karena kebijaksanaan menuntun manusia mengambil keputusan yang benar dan hidup sesuai kehendak Allah.
"Harta yang sesungguhnya adalah kebijaksanaan. Apabila kita mencari kebijaksanaan yang datang dari Yesus, kita akan menerima rahmat Allah," katanya.
Ia menegaskan bahwa kebijaksanaan sejati tidak hanya diperoleh melalui pendidikan atau pengalaman hidup. Kebijaksanaan merupakan anugerah Allah yang lahir dari doa, iman, dan kedekatan dengan Yesus Kristus.
Karena itu, umat diajak untuk terus memohon kebijaksanaan dalam setiap keputusan, baik di dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan Gereja, maupun kehidupan bermasyarakat.
RP. Paul juga mengingatkan sabda Yesus agar setiap orang mencari Kerajaan Allah lebih dahulu. Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, Tuhan akan memelihara seluruh kebutuhan manusia sesuai dengan penyelenggaraan-Nya.
"Kita datang ke gereja karena Yesus adalah kebijaksanaan sejati. Dari Dialah kita menerima rahmat untuk menjalani kehidupan setiap hari," tuturnya melalui terjemahan RP. Petrus Yuniarto.
Ia mengajak seluruh umat untuk menjadikan keluarga sebagai tempat pertama menumbuhkan iman dan kebijaksanaan. Orang tua dipanggil menjadi teladan bagi anak-anak melalui doa, kasih, kejujuran, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Pesan tersebut sangat relevan dengan peringatan Hari Orangtua, Kakek, dan Nenek Sedunia. Menurut RP. Paul, orang tua dan para lanjut usia merupakan pewaris iman yang telah membimbing generasi muda mengenal Kristus melalui teladan hidup mereka.
Ia mengajak seluruh umat untuk menghormati, mendengarkan, dan merawat para orang tua, kakek, dan nenek sebagai bentuk syukur atas kasih dan pengorbanan mereka selama ini.
Kehadiran RP. Paul Cherukoduth, C.P. menjadi sukacita tersendiri bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Imam asal India tersebut berasal dari Vice Province of St. Thomas the Apostle (THOM). Ia lahir pada 26 Juni 1965, mengikrarkan kaul religius pada 18 Mei 1986, dan ditahbiskan sebagai imam pada 24 April 1993.
Dalam Kapitel Jenderal Kongregasi Pasionis ke-48 pada Oktober 2024, ia terpilih sebagai Konsultor Jenderal (General Consultor) mewakili wilayah Asia Pasifik (PASPAC).
Saat ini RP. Paul Cherukoduth, C.P. bertugas di Italia sebagai Konsultor Jenderal (General Consultor) pada Kuria Jenderal Kongregasi Pasionis (The Congregation of the Passion of Jesus Christ) yang berkedudukan di Roma. Bersama Superior Jenderal dan para Konsultor Jenderal lainnya, ia mendampingi kepemimpinan Kongregasi Pasionis di tingkat internasional, termasuk dalam bidang pembinaan, pelayanan pastoral, misi, dan pengembangan kehidupan religius di berbagai negara.
Sementara itu, RP. Petrus Yuniarto, C.P. lahir di Cepu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro. pada 15 Juni 1990 dan ditahbiskan menjadi imam pada 30 April 2022. Saat ini ia mengemban tugas sebagai Ketua Senat Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Ngabang. Dalam perayaan Ekaristi tersebut, selain membacakan Injil, ia juga menerjemahkan homili RP. Paul sehingga umat dapat mengikuti seluruh isi pewartaan dengan baik.
Seluruh rangkaian liturgi berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan. Nyanyian yang dibawakan Lingkaran Santa Sesilia mengiringi doa-doa umat sehingga suasana ibadah terasa semakin khusyuk. Kehadiran para petugas liturgi yang melayani dengan baik turut mendukung jalannya perayaan.
Perayaan Hari Minggu Biasa XVII sekaligus Hari Orangtua, Kakek, dan Nenek Sedunia menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui komitmen mengikuti Kristus. Sabda Tuhan mengingatkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh banyaknya kekayaan yang dimiliki, melainkan oleh kesediaan mencari Kerajaan Allah dan memohon kebijaksanaan dalam setiap langkah kehidupan.
Melalui homili RP. Paul Cherukoduth, C.P. yang diterjemahkan oleh RP. Petrus Yuniarto, C.P., umat diajak menyadari bahwa kebijaksanaan merupakan harta yang tidak akan pernah habis. Kebijaksanaan yang berasal dari Kristus akan menuntun setiap orang hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran serta menjadi bekal menuju keselamatan.
Perayaan Ekaristi pun ditutup dalam suasana penuh syukur. Umat meninggalkan gereja dengan membawa semangat baru untuk mengutamakan Kerajaan Allah, menghormati orang tua, kakek, dan nenek sebagai pewaris iman, serta menjadikan kebijaksanaan sebagai harta sejati yang membimbing kehidupan sehari-hari.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 25 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar