Pewarta Komsos Hadirkan Kabar Gembira


Foto Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya.

Bersama Sapriyun

Ketapang, 25 Juli 2026.Pelayanan Komunikasi Sosial (Komsos) dalam Gereja Katolik tidak hanya menuntut kemampuan menghasilkan foto yang indah, video yang menarik, atau mengelola media digital. Lebih dari itu, seorang pelayan Komsos dipanggil menjadi pewarta Kabar Gembira yang menghadirkan Kristus melalui setiap karya jurnalistik. Pesan tersebut disampaikan oleh Sapriyun sebagai refleksi mengenai jati diri dan panggilan pelayanan Komunikasi Sosial di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

Menurut Sapriyun, perkembangan media digital memberikan peluang besar bagi Gereja untuk menjangkau lebih banyak orang melalui berbagai platform komunikasi. Namun, keberhasilan pelayanan tidak ditentukan oleh banyaknya unggahan, tingginya jumlah penonton, ataupun popularitas pembuat konten. Ukuran utama pelayanan Komsos adalah sejauh mana karya tersebut mampu membawa orang semakin dekat kepada Tuhan dan mengalami kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menegaskan bahwa seorang pewarta Gereja hendaknya tidak menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Fokus utama pelayanan adalah menghadirkan pesan Injil melalui karya yang dibuat dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan semangat melayani. Ketika sebuah berita, foto, atau video mampu menyentuh hati, membangkitkan harapan, dan menggerakkan orang untuk berbuat baik, di situlah komunikasi Gereja menjalankan fungsinya sebagai sarana evangelisasi.

"Menjadi pelayan Komunikasi Sosial tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan foto yang indah, video yang menarik, atau mengelola media digital. Tugas utamanya ialah menjadi pewarta Kabar Gembira yang menghadirkan Kristus melalui setiap karya komunikasi," ungkap Sapriyun.

Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa pelayanan media bukan sekadar pekerjaan teknis. Setiap dokumentasi yang dihasilkan memiliki tanggung jawab moral karena menjadi wajah Gereja di ruang publik. Oleh sebab itu, setiap pewarta perlu memiliki kehidupan rohani yang baik agar pesan yang disampaikan selaras dengan iman yang dihayati.

Sapriyun menjelaskan bahwa seorang pewarta Komsos dipanggil untuk mengarahkan perhatian masyarakat kepada karya keselamatan Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Semakin sebuah karya mampu berbicara tentang kasih Tuhan, semakin kecil kebutuhan pembuatnya untuk mencari pengakuan atau pujian.

Menurutnya, kerendahan hati menjadi salah satu karakter penting dalam pelayanan komunikasi. Pewarta yang baik bekerja di balik layar agar peristiwa iman menjadi pusat perhatian. Sikap tersebut mencerminkan semangat pelayanan Kristiani yang mengutamakan misi daripada kepentingan pribadi.

Ia juga menguraikan bahwa kualitas sebuah foto tidak hanya diukur dari komposisi gambar atau kecanggihan peralatan yang digunakan. Nilai terpenting terletak pada kemampuan foto tersebut menghadirkan makna, mengisahkan perjumpaan manusia dengan Tuhan, dan memperlihatkan karya kasih di tengah kehidupan umat.

Hal yang sama berlaku pada produksi video. Teknik penyuntingan yang baik memang diperlukan, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan tayangan yang menarik. Video hendaknya menjadi sarana yang membantu penonton mengalami kehadiran Tuhan, memahami nilai Injil, serta terdorong menghidupi iman dalam kehidupan nyata.

Demikian pula dengan karya tulis jurnalistik. Sebuah berita Gereja tidak cukup hanya akurat dan informatif. Tulisan yang baik harus mampu memberikan harapan, memperkuat iman, dan menginspirasi pembaca untuk semakin peduli terhadap sesama. Dengan demikian, berita tidak berhenti sebagai penyampai informasi, tetapi menjadi media evangelisasi yang membawa sukacita Injil.

"Foto yang baik bukan hanya enak dipandang, tetapi mampu mengajak orang merasakan makna sebuah peristiwa iman. Video yang bermutu membantu penontonnya mengalami kehadiran Tuhan. Tulisan yang bernilai menumbuhkan harapan, menguatkan iman, dan menggerakkan hati untuk berbuat kasih," jelas Sapriyun.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi digital seharusnya dimanfaatkan sebagai kesempatan memperluas pelayanan Gereja. Media sosial, situs web, podcast, hingga berbagai platform digital merupakan ruang baru untuk menyampaikan nilai-nilai Kristiani kepada masyarakat. Karena itu, pewarta Komsos dituntut terus meningkatkan kemampuan jurnalistik, fotografi, videografi, serta etika komunikasi agar mampu menghadirkan informasi yang benar dan membangun.

Sapriyun menilai dokumentasi bukanlah tujuan akhir pelayanan. Foto, video, dan tulisan hanyalah sarana yang menghubungkan umat dengan pengalaman iman. Apabila karya tersebut berhasil mengantar seseorang menemukan pengharapan, memperdalam relasi dengan Tuhan, atau tergerak membantu sesama, maka pelayanan Komunikasi Sosial telah mencapai tujuannya.

Ia berharap semakin banyak umat muda terlibat dalam pelayanan media Gereja. Kehadiran generasi muda dengan kreativitas dan kemampuan teknologi akan menjadi kekuatan baru dalam pewartaan Injil. Namun, kemampuan teknis harus selalu disertai integritas, spiritualitas, dan semangat melayani agar karya yang dihasilkan tidak kehilangan arah.

Di akhir refleksinya, Sapriyun kembali menegaskan bahwa Komsos bukan sekadar menjadi tukang foto, videografer, atau pengelola media digital. Pelayanan ini merupakan panggilan sebagai jurnalis Gereja yang mengubah setiap dokumentasi menjadi pewartaan Injil. Melalui foto, video, dan tulisan yang lahir dari iman, Gereja diharapkan terus menghadirkan Kristus, menyalakan harapan, serta membawa Kabar Gembira bagi semakin banyak orang.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 25 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar