Tiga Pilar Sumber Iman Katolik Menjaga Kebenaran

 

Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S

Tiga Pilar Sumber Iman Katolik Menjaga Kebenaran

Ketapang, 19 Agustus 2026.Gereja Katolik memiliki tiga pilar utama sebagai sumber dan dasar kehidupan iman, yakni Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dalam menjaga, meneruskan, menjelaskan, serta mengajarkan kebenaran iman kepada umat dari generasi ke generasi.

Ketiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Gereja memandang bahwa Allah berkarya melalui ketiganya untuk memastikan wahyu yang diberikan demi keselamatan manusia tetap terpelihara secara utuh. Kehadiran Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium juga menjadi bagian dari pemenuhan janji Kristus yang menyertai Gereja sampai kepada seluruh kebenaran melalui karya Roh Kudus.

Penjelasan mengenai tiga sumber iman tersebut disampaikan Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan, Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Menurutnya, pemahaman terhadap ketiga pilar itu penting agar umat tidak memandang iman Katolik hanya berdasarkan kebiasaan keagamaan atau pemahaman pribadi.

Tradisi Suci Meneruskan Ajaran Para Rasul

Tradisi Suci merupakan warisan iman yang berasal dari para rasul. Mereka menerima ajaran dan teladan Yesus Kristus serta memperoleh bimbingan Roh Kudus dalam menjalankan tugas perutusan.

Warisan tersebut kemudian diteruskan kepada para penerus rasul. Gereja memelihara, menjelaskan, dan menyebarluaskan ajaran yang diterima dari Kristus melalui pewartaan dari generasi ke generasi.

Tradisi Suci tidak dapat disamakan dengan adat kebiasaan manusia. Dalam kehidupan Gereja memang terdapat berbagai kebiasaan rohani yang baik. Namun, tidak setiap kebiasaan dapat disebut sebagai Tradisi Suci dalam arti ajaran iman.

Tradisi Suci berkaitan dengan ajaran yang dipercayakan Kristus kepada para rasul. Warisan tersebut terus diteruskan dalam kehidupan Gereja di bawah bimbingan para penerus rasul, terutama Paus dan para uskup.

Kitab Suci sendiri memberikan dasar bagi umat untuk menghargai ajaran yang diterima secara tertulis maupun lisan. Rasul Paulus mengingatkan umat agar berpegang teguh pada ajaran yang telah disampaikan, baik secara lisan maupun melalui tulisan sebagaimana ditegaskan dalam 2 Tesalonika 2:15 dan 1 Korintus 11:2.

Karena itu, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak dipertentangkan. Keduanya memiliki sumber yang sama, yaitu wahyu Allah, dan bersama-sama menjadi bagian penting dalam kehidupan iman Gereja.

Kitab Suci Menjadi Sabda Allah Tertulis

Pilar kedua adalah Kitab Suci. Gereja mengajarkan bahwa Allah dalam kebaikan-Nya berkenan menyatakan kehendak-Nya demi keselamatan seluruh umat manusia.

Wahyu tersebut tidak dimaksudkan untuk berhenti pada satu generasi. Para rasul dan tokoh-tokoh rasuli, dengan ilham Roh Kudus, membukukan amanat keselamatan yang telah mereka terima.

Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum (DV) 7 menegaskan peran para rasul dan tokoh rasuli dalam meneruskan amanat keselamatan. Katekismus Gereja Katolik juga menjelaskan bahwa Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia.

Melalui Kitab Suci, umat beriman mengenal karya keselamatan Allah, perjalanan umat pilihan, kehidupan dan karya Yesus Kristus, serta kesaksian Gereja perdana.

Dalam Gereja Katolik terdapat 73 kitab yang membentuk Kitab Suci. Jumlah tersebut terdiri atas 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama memuat sejarah keselamatan sebelum kedatangan Kristus. Perjanjian Baru memberikan kesaksian mengenai Yesus Kristus, pewartaan para rasul, serta perkembangan komunitas Gereja perdana.

Kitab Suci menjadi sumber penting bagi kehidupan umat. Karena itu, membaca dan memahami Kitab Suci tidak cukup dilakukan hanya ketika mengikuti perayaan liturgi. Umat juga diajak menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melalui pembacaan yang disertai bimbingan Gereja, umat dapat semakin memahami pesan keselamatan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Magisterium Menjaga Kemurnian Ajaran

Pilar ketiga ialah Magisterium. Istilah tersebut menunjuk pada wewenang mengajar resmi dalam Gereja Katolik.

Magisterium memiliki tugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis dalam Kitab Suci maupun yang diteruskan melalui Tradisi Suci. Wewenang tersebut dijalankan atas nama Yesus Kristus.

Dasar mengenai tugas tersebut antara lain terdapat dalam Dei Verbum 10 dan Katekismus Gereja Katolik 85.

Magisterium bukan pihak yang berada di atas Sabda Allah. Sebaliknya, wewenang mengajar Gereja memiliki tugas untuk melayani Sabda tersebut. Gereja hanya mengajarkan apa yang telah diterima dan diwariskan dalam perbendaharaan iman.

Dalam menjalankan tugasnya, Magisterium melaksanakan pelayanan dengan bantuan Roh Kudus. Sabda Allah didengarkan dengan penuh hormat, dipelihara secara suci, kemudian dijelaskan dengan setia.

Tugas tersebut sangat penting karena umat membutuhkan pedoman ketika menghadapi berbagai penafsiran mengenai iman dan kehidupan Kristiani. Gereja melalui Magisterium membantu umat membedakan ajaran resmi dengan pendapat pribadi.

Katekismus Gereja Katolik 890 menjelaskan bahwa wewenang mengajar memiliki tanggung jawab untuk melindungi umat dari kekeliruan serta kelemahan iman. Dengan demikian, umat memiliki kemungkinan yang objektif untuk mempertahankan iman yang benar dan bebas dari kekeliruan.

Tiga Pilar Tidak Dapat Dipisahkan

Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium memiliki fungsi yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan. Ketiganya bekerja secara terpadu dalam kehidupan Gereja.

Kitab Suci menjadi kesaksian tertulis mengenai wahyu Allah. Tradisi Suci meneruskan warisan iman yang berasal dari para rasul. Magisterium menjalankan tugas mengajar dan memberikan penafsiran otentik terhadap Sabda Allah.

Ketiga unsur itu tidak boleh ditempatkan dalam posisi yang saling bertentangan. Gereja melihatnya sebagai satu kesatuan yang mengarahkan umat kepada sumber iman yang sama.

Pemahaman tersebut membantu umat menghindari dua pandangan yang keliru. Pertama, menganggap bahwa iman Katolik hanya bersumber dari Kitab Suci tanpa memperhatikan Tradisi Suci dan ajaran Gereja. Kedua, menganggap setiap tradisi atau kebiasaan umat sebagai doktrin yang wajib diimani.

Dengan memahami ketiganya secara benar, umat dapat melihat bahwa kehidupan iman memiliki dasar yang kokoh. Ajaran tidak dibangun berdasarkan pendapat seseorang, melainkan diterima dan diteruskan dalam kehidupan Gereja.

Roh Kudus Membimbing Gereja

Ketiga pilar tersebut juga berkaitan dengan janji Kristus untuk menyertai Gereja. Dalam Injil Yohanes 16:12-13, Yesus berbicara mengenai karya Roh Kudus yang membimbing para murid kepada seluruh kebenaran.

Bimbingan Roh Kudus menjadi dasar keyakinan Gereja bahwa pewartaan iman tetap memiliki arah dan tujuan yang jelas. Gereja tidak berjalan hanya berdasarkan kemampuan manusia.

Penyertaan Allah memberikan kekuatan bagi Gereja untuk menjaga warisan iman sekaligus menghadirkannya dalam berbagai situasi kehidupan. Perubahan zaman tidak menghapus kebenaran iman. Sebaliknya, Gereja terus membantu umat memahami dan menghayati ajaran tersebut dalam konteks kehidupan yang terus berkembang.

Pemahaman terhadap tiga pilar iman juga memiliki manfaat pastoral. Umat dapat lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai informasi keagamaan yang beredar di masyarakat, termasuk informasi melalui media digital.

Tidak semua pendapat yang mengatasnamakan ajaran Katolik memiliki dasar yang benar. Karena itu, umat perlu memeriksa sumber informasi, memahami Kitab Suci dalam terang Tradisi Suci, serta memperhatikan ajaran resmi Gereja.

Membangun Iman yang Utuh

Bapak Hendrikus Hendri, S.S., menekankan pentingnya umat memahami hubungan ketiga pilar tersebut secara menyeluruh. Iman Katolik tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut penghayatan dan kehidupan sehari-hari.

Tradisi Suci menghubungkan umat dengan warisan iman para rasul. Kitab Suci menghadirkan Sabda Allah dalam bentuk tertulis. Magisterium memberikan bimbingan resmi agar umat memperoleh pemahaman yang benar terhadap ajaran iman.

Ketiganya menjadi sarana bagi Gereja untuk menjaga kesinambungan pewartaan keselamatan. Dengan demikian, umat tidak hanya mengetahui apa yang diajarkan Gereja, tetapi juga mampu menghayatinya dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan lingkungan Gereja.

Pemahaman tersebut semakin penting bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi, mereka membutuhkan dasar yang kuat untuk membedakan ajaran iman dengan pendapat pribadi.

Pendidikan iman yang baik dapat membantu anak-anak, remaja, dan orang dewasa memahami alasan di balik ajaran yang mereka terima. Dengan pengetahuan yang memadai, umat dapat menjalankan kehidupan beriman secara lebih sadar dan bertanggung jawab.

Menjaga Kesatuan Iman Gereja

Pada akhirnya, Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium merupakan tiga pilar yang saling berkaitan dalam kehidupan Gereja Katolik. Ketiganya bersumber dari Allah dan memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga serta meneruskan kebenaran iman.

Tradisi Suci meneruskan warisan ajaran para rasul. Kitab Suci menghadirkan wahyu Allah dalam bentuk tertulis. Magisterium menjalankan tugas mengajar dan menafsirkan Sabda Allah secara otentik.

Kesatuan ketiga unsur tersebut membantu Gereja menjaga kemurnian iman sekaligus meneruskannya kepada generasi berikutnya. Umat dipanggil untuk menerima, memahami, dan menghidupi warisan tersebut secara setia.

Dengan demikian, tiga pilar sumber iman bukan sekadar materi pengetahuan keagamaan. Ketiganya menjadi dasar bagi umat untuk semakin mengenal Allah, memahami karya keselamatan-Nya, serta menjalankan kehidupan sebagai pengikut Kristus.

Ketapang, 19 Agustus 2026

Hendrikus Hendri, S.S.
Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 19  Agustus 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar