Temu Komsos Regio Kalimantan Bekali Pewarta Gereja Strategi Media Digital Berkelanjutan

 

Ketapang, 24 Juli 2026.Memasuki hari terakhir Pertemuan Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan, para pegiat komunikasi sosial dari Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Ketapang memperoleh pembekalan mengenai strategi pengelolaan media Gereja yang berkelanjutan. Materi tersebut disampaikan dalam Sesi VI: Strategi Media Komsos yang berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026, pukul 08.00–09.30 WIB di Rumah Adat Dermalo Josep Murial, Paya Kumang, dengan narasumber Kornelius Budi Prasetyo dari Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI).

Sesi ini menjadi salah satu materi penutup yang menegaskan bahwa pelayanan Komunikasi Sosial Gereja harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sarana evangelisasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, Gereja dituntut mampu menghadirkan karya komunikasi yang profesional, terpercaya, sekaligus membawa harapan bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Kornelius Budi Prasetyo menekankan bahwa keberhasilan media Gereja tidak lagi diukur dari banyaknya jumlah unggahan ataupun tingginya angka tayangan sesaat. Keberhasilan justru terlihat dari kemampuan media membangun relasi yang mendalam dengan umat serta menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan mereka.

"Media Gereja tidak boleh berhenti sebagai papan pengumuman kegiatan. Media harus menjadi ruang perjumpaan, ruang evangelisasi, dan ruang yang menghadirkan belas kasih Allah kepada masyarakat," ujar Kornelius Budi Prasetyo.

Beliau menjelaskan bahwa perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat menerima informasi. Karena itu, pelayanan Komunikasi Sosial tidak cukup hanya memproduksi berita kegiatan Gereja, tetapi harus mampu menghadirkan cerita-cerita yang menginspirasi, membangun iman, dan menggerakkan orang untuk berbuat baik.

Media Sebagai Sarana Belaskasih

Menurut Kornelius Budi Prasetyo, filosofi dasar pelayanan Komunikasi Sosial Gereja adalah menghadirkan Kristus melalui media komunikasi.

Beliau mengatakan bahwa setiap foto, video, tulisan, podcast, maupun unggahan media sosial hendaknya menjadi sarana untuk memperlihatkan wajah Gereja yang penuh kasih dan dekat dengan mereka yang menderita.

"Konten Komsos harus bertransformasi dari sekadar informasi menjadi pewartaan yang menyentuh hati. Media digital harus menjadi jembatan yang menghadirkan Gereja yang nyata, solutif, penuh empati, dan berbelaskasih kepada sesama," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan berita mengenai kegiatan Gereja, tetapi juga membutuhkan kisah-kisah yang memberi harapan di tengah berbagai persoalan kehidupan.

Oleh sebab itu, seorang pewarta Gereja harus memiliki kepekaan untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap peristiwa yang diliput.

Mengelola Media Paroki Secara Profesional

Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya membangun media paroki yang dikelola secara profesional.

Menurut Kornelius, media paroki hendaknya memiliki identitas yang jelas, jadwal publikasi yang teratur, pembagian tugas yang baik, serta standar jurnalistik yang menjaga akurasi dan kredibilitas informasi.

Beliau menegaskan bahwa media Gereja tidak boleh sekadar aktif ketika ada kegiatan besar, kemudian berhenti berbulan-bulan tanpa pembaruan.

"Media paroki harus hidup. Jangan hanya aktif ketika ada perayaan besar. Bangun ritme pelayanan yang konsisten sehingga umat selalu menemukan informasi, inspirasi, dan penguatan iman melalui media Gereja," katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun tim pelayanan yang bekerja bersama sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari penulis berita, fotografer, videografer, editor, hingga pengelola media sosial.

Strategi Konten Digital Berkelanjutan

Materi berikutnya membahas Strategi Konten Digital Berkelanjutan (Sustainable Content).

Kornelius menjelaskan bahwa satu pesan pastoral dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk konten digital agar menjangkau lebih banyak orang.

Misalnya, satu tema homili dapat diolah menjadi berita di website, kutipan singkat untuk Facebook, infografis di Instagram, video pendek di YouTube Shorts, Facebook Reels atau TikTok, podcast renungan, hingga artikel refleksi yang lebih panjang.

Menurutnya, pendekatan multiplatform membuat pesan Gereja mampu menjangkau berbagai kelompok usia dengan cara yang sesuai karakter masing-masing media.

"Satu pesan bisa melahirkan banyak konten. Jangan berpikir setiap hari harus mencari ide baru. Yang penting adalah bagaimana satu pesan Injil dapat dikemas dalam berbagai format sehingga menjangkau semakin banyak orang," jelasnya.

Beliau menambahkan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada mengejar viralitas sesaat.

Media Gereja harus membangun hubungan jangka panjang dengan umat melalui konten yang berkualitas, bukan sekadar mengikuti tren media sosial.

Membangun Newsroom yang Sehat

Peserta juga diperkenalkan pada konsep newsroom, yaitu sistem kerja tim media yang terstruktur mulai dari tahap perencanaan, produksi hingga publikasi.

Menurut Kornelius, banyak tim Komsos mengalami kelelahan (burnout) karena seluruh pekerjaan dilakukan oleh satu atau dua orang.

Karena itu diperlukan pembagian tugas yang jelas, penyusunan kalender editorial, evaluasi rutin, dan budaya kerja yang saling mendukung.

Tahapan tersebut dimulai dari pencarian ide, penyusunan naskah, pengambilan gambar, penyuntingan, publikasi, hingga evaluasi hasil karya.

Dengan sistem kerja yang baik, pelayanan media akan berjalan lebih efektif sekaligus menjaga semangat para relawan Komunikasi Sosial.

Rencana Tindak Lanjut (RTL): Membangun Komitmen Pelayanan yang Berkelanjutan

Setelah Sesi VI: Strategi Media Komsos selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dipandu oleh RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro. Sesi ini menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa seluruh ilmu, pengalaman, dan semangat yang diperoleh selama tiga hari Temu Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan diwujudkan dalam karya nyata setelah para peserta kembali ke keuskupan masing-masing.

Dalam arahannya, RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro menegaskan bahwa Temu Komsos Regio Kalimantan bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi awal dari gerakan bersama untuk memperkuat pelayanan Komunikasi Sosial di setiap keuskupan.

"Ilmu yang diperoleh selama tiga hari ini jangan disimpan untuk diri sendiri. Ketika kembali ke keuskupan masing-masing, bagikan kepada rekan-rekan pelayanan sehingga semakin banyak pewarta Gereja yang bertumbuh," ujar RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro.

Beliau mengajak seluruh peserta dari Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Ketapang untuk membangun komitmen bersama dalam memperkuat jejaring Komunikasi Sosial, saling berbagi pengalaman, bertukar karya, serta terus mengembangkan media Gereja agar semakin profesional, inspiratif, dan mampu menghadirkan belas kasih Kristus melalui dunia digital.

Dalam kesempatan tersebut, RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro juga mengutip tulisan Frans Doni, seorang pegiat Komunikasi Sosial Keuskupan yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari dua puluh tahun dalam pelayanan Komsos. Beliau menyampaikan rasa hormat dan apresiasi atas dedikasi Frans Doni yang selama ini dengan murah hati membagikan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya kepada banyak pegiat Komsos tanpa mengharapkan imbalan.

"Saya sangat salut dan berterima kasih kepada Frans Doni. Selama lebih dari dua puluh tahun beliau melayani Komunikasi Sosial Keuskupan dan dengan tulus membagikan ilmunya secara cuma-cuma. Inilah bentuk pelayanan yang sesungguhnya," ungkap RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro.

Beliau kemudian mempertegas pesan yang pernah disampaikan Frans Doni kepada Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, mengenai makna sejati menjadi seorang pewarta Komunikasi Sosial.

"Menjadi pewarta Komsos ternyata bukan sekadar mengambil foto yang bagus. Bukan sekadar membuat video yang menarik. Bukan pula sekadar membangun website atau aplikasi."

Menurut Frans Doni, pelayanan Komunikasi Sosial jauh lebih dalam daripada kemampuan teknis mengoperasikan kamera atau perangkat digital. Seorang pewarta dipanggil untuk menghadirkan Kristus melalui karya yang dibuatnya.

"Menjadi pewarta berarti belajar menghilang. Belajar agar karya lebih berbicara daripada pembuatnya."

Pesan tersebut mengingatkan bahwa pusat perhatian dalam pelayanan Komunikasi Sosial bukanlah sosok pembuat konten, melainkan peristiwa, nilai, dan karya Allah yang hendak disampaikan kepada umat.

Frans Doni juga menegaskan filosofi sederhana namun sangat mendalam mengenai karya komunikasi.

"Foto terbaik adalah ketika orang melihat peristiwanya, bukan fotografernya."

"Video terbaik adalah ketika orang mengalami Tuhan, bukan mengagumi editornya."

"Tulisan terbaik adalah ketika orang menemukan harapan, bukan mencari siapa penulisnya."

Bagi RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro, pesan tersebut menjadi cerminan spiritualitas pelayanan Komunikasi Sosial Gereja. Pewarta dipanggil untuk bekerja dengan rendah hati, tidak mencari popularitas pribadi, melainkan menghadirkan Kristus melalui setiap foto, video, tulisan, dan karya digital yang dipublikasikan.

Seluruh peserta menyambut ajakan tersebut dengan penuh antusias. Mereka berkomitmen untuk tetap menjalin komunikasi setelah kembali ke daerah masing-masing, saling bertukar informasi, berbagi pengalaman pelayanan, serta mendampingi satu sama lain dalam mengembangkan media Gereja di setiap keuskupan.

Sesi Rencana Tindak Lanjut (RTL) akhirnya menjadi jembatan antara pembelajaran selama pelatihan dengan implementasi nyata di lapangan. Semangat kolaborasi, kerendahan hati, dan pelayanan yang ditanamkan dalam sesi ini diharapkan terus hidup dalam karya-karya Komunikasi Sosial Gereja, sehingga setiap pewarta mampu menjadi saksi Injil yang menghadirkan harapan, membangun persaudaraan, dan menyebarkan kasih Kristus melalui berbagai media komunikasi.

Overview Karya Peserta Tegaskan Komsos sebagai Pelayanan yang Menghadirkan Harapan

 Setelah mengikuti Sesi VI: Strategi Media Komsos dan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL), rangkaian hari terakhir Temu Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan dilanjutkan dengan Overview Karya yang berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026, pukul 10.00–11.00 WIB di Rumah Adat Dermalo Josep Murial, Paya Kumang. Sesi ini dipandu oleh Kornelius Budi Prasetyo, Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), sebagai ajang evaluasi terhadap hasil praktik jurnalistik dan produksi konten digital yang telah dikerjakan peserta selama pelatihan.

Overview karya bukan sekadar pemutaran hasil video, melainkan menjadi ruang pembelajaran bersama untuk melihat sejauh mana materi mengenai jurnalistik, reportase, fotografi, videografi, teknik wawancara, serta penyuntingan telah dipahami dan diterapkan oleh peserta. Melalui evaluasi tersebut, setiap kelompok memperoleh masukan agar kualitas karya mereka semakin meningkat ketika kembali melayani di keuskupan masing-masing.

Dalam pengantarnya, Kornelius Budi Prasetyo menyampaikan bahwa proses evaluasi merupakan bagian penting dalam pelayanan Komunikasi Sosial. Menurutnya, setiap karya perlu terus disempurnakan agar mampu menyampaikan pesan Injil secara lebih efektif.

"Karya yang baik lahir dari proses belajar yang terus-menerus. Jangan takut menerima masukan karena melalui evaluasi kita belajar menghasilkan karya yang semakin berkualitas dan semakin mampu menyentuh hati banyak orang," ujar Kornelius Budi Prasetyo.

Menampilkan Hasil Praktik Lapangan

Satu per satu kelompok mempresentasikan video hasil praktik lapangan yang telah mereka kerjakan sehari sebelumnya. Setiap karya menampilkan pendekatan yang berbeda sesuai lokasi peliputan dan tema yang dipilih.

Video pertama yang ditayangkan merupakan hasil karya Kelompok A1 yang melakukan peliputan di Rumah Sakit Fatima Ketapang. Video tersebut mengangkat pelayanan kesehatan sebagai wujud nyata kehadiran Gereja yang melayani masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial.

Melalui pengambilan gambar yang tenang dan narasi yang sederhana, kelompok ini berusaha memperlihatkan bagaimana tenaga kesehatan menjalankan pelayanan dengan penuh kasih kepada setiap pasien. Beberapa wawancara dengan petugas rumah sakit semakin memperkuat pesan bahwa pelayanan kesehatan merupakan bentuk nyata pewartaan Injil.

Selanjutnya, Kelompok A7 juga menampilkan karya hasil peliputan di Rumah Sakit Fatima. Berbeda dengan kelompok sebelumnya, mereka lebih menonjolkan kisah para tenaga kesehatan yang tetap melayani dengan penuh dedikasi di tengah berbagai tantangan. Video tersebut memperlihatkan bahwa belas kasih dapat diwujudkan melalui pelayanan sehari-hari yang dilakukan dengan tulus.

Sementara itu, Kelompok B8 mempresentasikan video hasil praktik di Rumah Umat. Kelompok ini mengangkat kehidupan sederhana umat sebagai wajah Gereja yang hidup dalam kebersamaan, gotong royong, dan semangat saling membantu. Kisah-kisah yang ditampilkan memperlihatkan bahwa peristiwa sederhana di tengah umat dapat menjadi bahan pewartaan yang sangat kuat apabila dikemas dengan baik.

Evaluasi Karya Secara Terbuka

Setelah seluruh video selesai diputar, Kornelius Budi Prasetyo memberikan evaluasi terhadap setiap karya. Secara umum, beliau mengapresiasi semangat peserta yang mampu menerapkan berbagai materi pelatihan dalam waktu yang relatif singkat.

Menurutnya, sebagian besar kelompok telah mampu membangun alur cerita yang jelas, memilih narasumber yang tepat, serta menghadirkan pesan pastoral yang kuat di dalam video.

Namun demikian, masih terdapat beberapa aspek teknis yang perlu diperbaiki agar kualitas produksi semakin meningkat.

Beliau menyoroti pentingnya menjaga kestabilan kamera ketika merekam gambar, memperhatikan pencahayaan, memilih sudut pengambilan gambar yang lebih bervariasi, serta memastikan kualitas suara narasumber tetap jernih.

Selain itu, teknik wawancara juga menjadi perhatian khusus.

Menurut Kornelius, pewawancara perlu belajar membangun suasana yang nyaman sehingga narasumber dapat berbicara secara alami tanpa merasa tertekan.

"Jangan terburu-buru mengejar jawaban. Bangunlah hubungan terlebih dahulu dengan narasumber. Ketika mereka merasa nyaman, cerita yang keluar akan lebih jujur, lebih hidup, dan lebih menyentuh," jelasnya.

Beliau juga mengingatkan agar setiap video memiliki pembukaan yang kuat, alur cerita yang runtut, dan penutup yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

Konten yang Menghadirkan Harapan

Dalam evaluasinya, Kornelius Budi Prasetyo kembali menegaskan bahwa ukuran keberhasilan karya Komunikasi Sosial bukan hanya kualitas gambar atau kecanggihan penyuntingan video.

Yang jauh lebih penting adalah apakah karya tersebut mampu menghadirkan harapan bagi orang yang menyaksikannya.

"Jangan membuat video hanya karena ingin terlihat bagus. Buatlah video yang membuat orang menemukan harapan. Buatlah tulisan yang menguatkan iman. Ambillah foto yang menghadirkan kasih Tuhan. Itulah tujuan utama pelayanan Komunikasi Sosial Gereja," katanya.

Beliau menambahkan bahwa teknologi hanyalah sarana. Kamera, komputer, telepon genggam, maupun aplikasi penyuntingan hanyalah alat yang membantu pewarta menyampaikan kabar sukacita Injil kepada masyarakat.

Karena itu, seorang pegiat Komsos harus selalu mengutamakan isi pesan dibandingkan efek visual semata.

Belajar dari Setiap Pengalaman

Suasana evaluasi berlangsung sangat interaktif. Para peserta saling memberikan tanggapan terhadap karya masing-masing serta berbagi pengalaman selama melakukan peliputan.

Ada kelompok yang menceritakan kesulitan memperoleh sudut gambar terbaik karena ruang yang terbatas. Ada pula yang berbagi pengalaman membangun komunikasi dengan narasumber yang awalnya merasa gugup ketika diwawancarai.

Melalui diskusi tersebut, seluruh peserta menyadari bahwa menjadi pewarta Gereja membutuhkan kemampuan teknis sekaligus kepekaan sosial.

Mereka belajar bahwa setiap perjumpaan dengan umat merupakan kesempatan untuk menghadirkan wajah Gereja yang penuh perhatian dan kasih.

Di akhir sesi, Kornelius Budi Prasetyo memberikan apresiasi kepada seluruh peserta atas semangat belajar yang mereka tunjukkan selama pelatihan.

"Hasil karya peserta sangat baik. Tinggal terus meningkatkan teknik pengambilan video, komposisi gambar, kualitas wawancara, dan cara bercerita. Teruslah berlatih karena kemampuan akan berkembang melalui pengalaman," pesannya.

Beliau berharap seluruh peserta tidak berhenti berkarya setelah kembali ke keuskupan masing-masing. Sebaliknya, pengalaman yang diperoleh selama Temu Komsos Regio Kalimantan hendaknya menjadi awal lahirnya karya-karya komunikasi yang semakin profesional, kreatif, dan menghadirkan sukacita Injil.

Usai sesi Overview Karya, seluruh peserta bersiap mengikuti agenda berikutnya, yakni Perayaan Ekaristi Penutup yang dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, sebagai puncak sekaligus perutusan bagi para pegiat Komunikasi Sosial untuk kembali berkarya di wilayah pelayanan masing-masing.




Ekaristi Penutup Mengutus Pewarta Komsos Menjadi SIV: Spiritual, Inspiratif, dan Viral

Rangkaian Temu Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan Tahun 2026 mencapai puncaknya dalam Perayaan Ekaristi Penutup yang dilaksanakan pada Rabu, 22 Juli 2026, pukul 11.00–12.30 WIB di Rumah Adat Dermalo Josep Murial, Paya Kumang. Perayaan syukur tersebut dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, sebagai selebran utama, didampingi oleh RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro, RD. Hiasintus Eko Pompang, dan RP. Valens Victori Bain Wokal, CP sebagai konselebran.

Ekaristi penutup menjadi momen perutusan bagi seluruh peserta yang berasal dari Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Ketapang. Setelah tiga hari mengikuti pembinaan spiritual, pelatihan jurnalistik, reportase, fotografi, videografi, dan produksi konten digital, para peserta diutus kembali ke wilayah pelayanan masing-masing untuk menjadi pewarta Gereja yang menghadirkan harapan melalui media komunikasi.

Komsos Harus Menjadi SIV

Dalam ritus pembuka sebelum homili, Mgr. Pius Riana Prapdi menyampaikan pesan yang menjadi ciri khas penutupan Temu Komsos Regio Kalimantan. Beliau mengajak seluruh peserta mengembangkan semangat SIV, yaitu Spiritual, Inspiratif, dan Viral.

Menurut beliau, pelayanan Komunikasi Sosial Gereja tidak cukup hanya menghasilkan dokumentasi kegiatan. Media Gereja harus mampu menghadirkan konten yang lahir dari kehidupan rohani, memberi inspirasi bagi banyak orang, serta tersebar luas karena membawa nilai-nilai Injil.

"Sekarang bukan lagi saatnya hanya JOSS, tetapi SIV: Spiritual, Inspiratif, dan Viral. Setiap karya yang kita hasilkan harus layak direfleksikan, menguatkan iman, dan mendorong orang semakin dekat kepada Kristus," ungkap Mgr. Pius Riana Prapdi.

Beliau menjelaskan bahwa kata viral dalam pelayanan Gereja memiliki makna yang berbeda dengan viral yang sekadar mengejar popularitas di media sosial. Viral yang dimaksud adalah ketika sebuah karya mampu menggerakkan hati orang untuk berubah menjadi lebih baik.

"Yang harus menjadi viral adalah kehidupan yang baik, kesaksian iman, kasih, pengampunan, dan pelayanan. Konten Gereja harus membuat orang berubah, bukan sekadar membuat orang berhenti menggulir layar telepon genggamnya," katanya.

Pewarta Harus Mengalami Pertobatan

Mgr. Pius juga mengingatkan bahwa pewarta Gereja tidak boleh hanya mengajak orang lain berubah, tetapi terlebih dahulu harus mengalami perubahan dalam dirinya sendiri.

Beliau mengatakan bahwa setiap karya jurnalistik, foto, maupun video akan memiliki kekuatan apabila lahir dari hati seorang pewarta yang sungguh menghidupi Injil.

"Sebelum membuat orang lain berubah, kita sendiri harus berubah. Sebelum menampilkan Kristus melalui kamera, Kristus harus lebih dahulu hidup di dalam diri kita," tegas beliau.

Menurutnya, komunikasi sosial bukan sekadar keterampilan menggunakan kamera atau menulis berita. Pelayanan tersebut merupakan bagian dari karya pewartaan Gereja yang menuntut kesaksian hidup.

Karena itu, para pegiat Komsos diajak terus membangun relasi pribadi dengan Tuhan melalui doa, Ekaristi, dan pelayanan kepada sesama.

Maria Magdalena, Pewarta Kebangkitan

Dalam pesannya, Mgr. Pius Riana Prapdi juga mengajak peserta merenungkan teladan Santa Maria Magdalena, yang menjadi pewarta pertama kebangkitan Yesus.

Beliau mengatakan bahwa keberanian Maria Magdalena menyampaikan kabar sukacita kepada para murid merupakan contoh nyata seorang komunikator Injil.

"Bayangkan jika Maria Magdalena tidak berani mewartakan kebangkitan Kristus. Pewartaan selalu dimulai dari keberanian menyampaikan kabar sukacita," tutur beliau.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anggota Komunikasi Sosial dipanggil untuk menjadi saksi yang berani menyampaikan kebenaran, meskipun menghadapi berbagai tantangan di tengah perkembangan dunia digital.

Homili: Menjadi Pembawa Sukacita

Dalam homilinya, Mgr. Pius Riana Prapdi mengembangkan kembali makna SIV (Spiritual, Inspiratif, Viral) sebagai arah pelayanan Komunikasi Sosial Gereja.

Beliau mengajak seluruh peserta menjadi pribadi yang membawa sukacita kepada siapa pun yang dijumpai.

Mengawali homili, beliau mengisahkan pengalaman ketika mengikuti kunjungan Ad Limina bersama para uskup Indonesia ke Vatikan. Dalam perjalanan tersebut, beliau mengalami keramahan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

"Saya belajar bahwa sukacita adalah bahasa yang dipahami semua orang. Orang akan lebih mudah mengenal Kristus ketika mereka terlebih dahulu mengalami keramahan dan kasih kita," ungkapnya.

Menurut beliau, seorang pewarta Gereja hendaknya dikenal karena kerendahan hati, keramahan, dan semangat melayani.

Kekuatan Sabda Tuhan

Mgr. Pius kemudian membagikan pengalaman pastoralnya sejak tahun 2008 ketika secara rutin mengirimkan satu ayat Kitab Suci beserta doa singkat kepada banyak orang melalui pesan singkat.

Beliau mengisahkan bahwa suatu ketika ada seorang perempuan yang sedang mengalami konflik rumah tangga hingga suaminya mengajukan gugatan cerai.

Perempuan tersebut tetap membalas perlakuan suaminya dengan doa dan kutipan Kitab Suci yang diterimanya setiap hari.

"Suaminya akhirnya membatalkan gugatan cerai. Saya percaya Sabda Tuhan memiliki daya ubah yang luar biasa ketika diterima dengan iman," tutur beliau.

Beliau menegaskan bahwa komunikasi yang lahir dari Sabda Allah selalu membawa harapan, bahkan mampu memulihkan relasi yang hampir hancur.

Menyentuh Luka Kehidupan

Dalam kisah lainnya, Mgr. Pius menceritakan perjumpaannya dengan seorang ibu yang mengalami penderitaan berat karena rumah tangganya.

Pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinannya bahwa Gereja harus hadir menemani mereka yang terluka.

Beliau mengatakan bahwa penderitaan manusia akan menemukan makna ketika disentuh oleh kasih Kristus.

"Saya membayangkan betapa berat luka yang dialami seseorang. Tetapi penderitaan Yesus jauh lebih besar. Karena itu Gereja dipanggil hadir membawa penghiburan dan harapan," katanya.

Beliau kemudian menghubungkan refleksi tersebut dengan tugas para pegiat Komunikasi Sosial.

Media Gereja, menurutnya, harus memberi ruang bagi kisah-kisah yang menguatkan, menghibur, dan menghadirkan belas kasih Allah kepada masyarakat.

Perutusan Menjadi Pewarta Harapan

Menjelang akhir Perayaan Ekaristi, Mgr. Pius Riana Prapdi mengajak seluruh peserta menjadikan pengalaman selama Temu Komsos Regio Kalimantan sebagai awal pelayanan yang semakin dewasa.

Beliau berharap para peserta tidak hanya pulang membawa sertifikat pelatihan, tetapi juga membawa semangat baru untuk membangun komunikasi Gereja yang semakin profesional, kreatif, dan berakar pada Injil.

"Pulanglah sebagai pewarta yang menghadirkan Kristus melalui setiap foto, video, tulisan, dan media yang Saudara gunakan. Jadikan karya-karya itu sebagai jalan agar semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan," pesan beliau.

Setelah doa penutup, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian sertifikat, foto bersama, serta ungkapan syukur seluruh peserta atas terselenggaranya Temu Komsos Regio Kalimantan Tahun 2026. Suasana penuh persaudaraan mewarnai akhir perayaan sebelum seluruh rombongan melanjutkan agenda berikutnya, yakni Cultural Visit ke sejumlah destinasi budaya dan sejarah di Kabupaten Ketapang sebagai bentuk pengenalan kekayaan budaya lokal serta semangat toleransi yang hidup di daerah tersebut.

Cultural Visit Perkenalkan Kekayaan Budaya dan Harmoni Ketapang kepada Peserta Temu Komsos Regio Kalimantan

Usai mengikuti Ekaristi Penutup, seluruh peserta Temu Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan Tahun 2026 melanjutkan agenda Cultural Visit pada Rabu, 22 Juli 2026, pukul 14.00–19.00 WIB. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian pelatihan yang memperkenalkan kekayaan budaya, sejarah, pariwisata, serta kehidupan masyarakat Kabupaten Ketapang sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan para pegiat Komunikasi Sosial dalam membangun narasi pewartaan yang menghargai keberagaman.

Rombongan berangkat dari Catholic Center Keuskupan Ketapang menggunakan dua armada, yaitu bus Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dan bus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Seluruh peserta tampak antusias mengikuti perjalanan yang telah dipersiapkan oleh panitia sebagai kesempatan mengenal lebih dekat identitas budaya Kabupaten Ketapang.

Mengenal Potensi Pariwisata Kabupaten Ketapang

Tujuan pertama adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Ketapang. Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Andreas Hardi, M.Pd., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ketapang, beserta jajaran.

Setelah menikmati hidangan ringan berupa kopi, teh, dan makanan ringan, para peserta memperoleh paparan mengenai potensi wisata, kekayaan budaya, dan arah pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Ketapang.

Dalam presentasinya, Andreas Hardi menjelaskan bahwa Ketapang memiliki kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam, mulai dari wisata bahari, hutan tropis, kawasan konservasi, situs sejarah, hingga berbagai tradisi masyarakat adat yang masih lestari.

Beliau berharap para pegiat Komunikasi Sosial dapat menjadi mitra dalam memperkenalkan potensi tersebut melalui media digital sehingga semakin dikenal oleh masyarakat luas.

"Media memiliki kekuatan untuk memperkenalkan identitas daerah. Ketika budaya dan pariwisata diberitakan dengan baik, masyarakat akan semakin mengenal sekaligus mencintai warisan yang dimiliki Kabupaten Ketapang," ujar Andreas Hardi, M.Pd.

Para peserta menyimak penjelasan tersebut dengan penuh perhatian. Bagi mereka, informasi ini menjadi bekal penting dalam menghasilkan karya jurnalistik yang tidak hanya memberitakan kegiatan Gereja, tetapi juga mampu mengangkat nilai budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Audiensi di Kantor Bupati Ketapang

Perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Bupati Ketapang. Di lokasi ini rombongan disambut oleh Repalianto, S.Sos., M.Si., Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Ketapang.

Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, memperkenalkan kegiatan Temu Komunikasi Sosial Regio Kalimantan sebagai pertemuan para pegiat komunikasi sosial Gereja dari berbagai keuskupan di Pulau Kalimantan.

Beliau menjelaskan bahwa para peserta merupakan pelayan Komunikasi Sosial yang memiliki tugas mewartakan kehidupan Gereja melalui berbagai media komunikasi.

"Temu Komsos Regio Kalimantan merupakan wadah pembinaan bagi para pewarta Gereja agar semakin profesional dalam menyampaikan kabar sukacita Injil melalui media komunikasi," ujar Mgr. Pius Riana Prapdi.

Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Ketapang atas dukungan dan sambutan yang diberikan kepada seluruh peserta selama kegiatan berlangsung.

Belajar Nilai Kehidupan di Rumah Adat Dayak

Agenda berikutnya membawa rombongan menuju Rumah Adat Hulu Sungai (Wisma Adat Dayak Hulu Aik). Kedatangan peserta disambut oleh Drs. Heronimus Tanam, M.E., Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Ketapang, beserta para tokoh adat.

Dalam penjelasannya, Heronimus Tanam menerangkan bahwa rumah adat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bangunan budaya, tetapi juga menjadi pusat berbagai kegiatan masyarakat Dayak, mulai dari musyawarah adat, pelaksanaan upacara tradisional, hingga kegiatan sosial lintas komunitas.

Menurut beliau, rumah adat merupakan simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Dayak yang diwariskan secara turun-temurun.

Sementara itu, Mgr. Pius Riana Prapdi menyampaikan rasa syukur atas kesempatan mengunjungi rumah adat tersebut.

Beliau mengatakan bahwa kehidupan masyarakat adat mengajarkan nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap sesama.

"Orang Dayak memiliki filosofi berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Semangat inilah yang mengajarkan kita hidup dalam persaudaraan, saling menghargai, dan berjalan bersama membangun kehidupan," tutur Mgr. Pius Riana Prapdi.

Beliau menambahkan bahwa Gereja dipanggil untuk terus membangun dialog dengan kebudayaan.

Menurutnya, komunikasi yang baik selalu dimulai dari sikap menghargai identitas dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

"Seluruh kehidupan manusia dapat menjadi ruang pewartaan. Melalui berbagai media komunikasi, kita menghadirkan terang Kristus tanpa menghilangkan kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat," katanya.

Mgr. Pius juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh tokoh adat yang telah menerima rombongan dengan penuh persaudaraan.

Mengenal Sandung sebagai Warisan Budaya Dayak

Di kawasan rumah adat, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai Sandung, salah satu warisan budaya masyarakat Dayak.

Penjelasan disampaikan oleh Drs. H. Jahilin, M.Pd., yang menerangkan bahwa Sandung tersebut dibangun dan diresmikan pada tahun 1980.

Beliau menjelaskan bahwa Sandung memiliki nilai sejarah yang tinggi dan menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Dayak.

Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan tulang-belulang leluhur dalam tradisi tertentu, kawasan tersebut juga menjadi tempat pelaksanaan berbagai upacara adat serta simbol penghormatan kepada para pendahulu.

Menurut Jahilin, masyarakat Dayak memandang warisan budaya bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan pelestarian identitas budaya.

Para peserta terlihat antusias mendengarkan berbagai kisah sejarah yang disampaikan. Mereka mendokumentasikan penjelasan tersebut melalui foto, video, dan catatan sebagai bagian dari praktik komunikasi sosial yang mengangkat kekayaan budaya lokal.

Perjalanan berikutnya membawa rombongan menuju destinasi sejarah dan budaya lainnya di Kabupaten Ketapang, termasuk Klenteng Tua Pek Kong, Keraton Matan Tanjungpura, serta Pendopo Joglo Paguyuban Keluarga Besar Jawa Kabupaten Ketapang, yang semakin memperlihatkan wajah Ketapang sebagai daerah yang kaya akan keberagaman budaya, sejarah, dan kerukunan antarumat.

 

Menyusuri Jejak Toleransi, Sejarah Kerajaan, dan Harmoni Budaya di Kabupaten Ketapang

Perjalanan Cultural Visit Temu Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan berlanjut menuju sejumlah situs sejarah dan budaya yang menjadi identitas Kabupaten Ketapang. Kunjungan ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta mengenai sejarah daerah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberagaman agama, suku, dan budaya dapat hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan.

Bagi para pegiat Komunikasi Sosial, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran nyata bahwa pewartaan Injil tidak dapat dipisahkan dari penghargaan terhadap budaya lokal. Setiap kebudayaan menyimpan nilai-nilai luhur yang dapat menjadi jembatan dialog, persaudaraan, dan evangelisasi.

Klenteng Tua Pek Kong, Simbol Toleransi Ketapang

Destinasi berikutnya adalah Klenteng Tua Pek Kong Ketapang, yang dikenal sebagai salah satu klenteng tertua di Kabupaten Ketapang bahkan di Kalimantan Barat. Di tempat ini para peserta memperoleh penjelasan mengenai sejarah kedatangan masyarakat Tionghoa di Ketapang sekaligus perkembangan kehidupan lintas agama yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.

Para pemandu menjelaskan bahwa usia klenteng ini diperkirakan telah mencapai lebih dari 130 tahun. Keberadaannya menjadi bukti bahwa masyarakat Ketapang sejak dahulu telah hidup dalam suasana saling menghormati dan menerima keberagaman.

Menurut penjelasan yang disampaikan kepada peserta, sejarah Klenteng Tua Pek Kong tidak terlepas dari tokoh yang dikenal dengan nama Tua Pek Kong, seorang pemimpin yang dihormati karena kebijaksanaan, keadilan, dan kepeduliannya kepada masyarakat. Semangat tersebut kemudian diwariskan kepada komunitas Tionghoa yang datang ke Ketapang hingga mendirikan klenteng sebagai pusat kehidupan rohani dan sosial.

Peserta juga memperoleh informasi mengenai enam perantau dari Tiongkok yang kemudian menetap di Ketapang dan membangun klenteng tersebut. Sejak saat itu, Klenteng Tua Pek Kong berkembang menjadi salah satu ikon sejarah masyarakat Tionghoa di Kabupaten Ketapang.

Suasana penuh persaudaraan tampak ketika peserta memasuki kawasan klenteng. Mereka mengabadikan arsitektur bangunan yang masih terawat dengan baik sekaligus berdialog mengenai pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama.

Kunjungan tersebut semakin meneguhkan bahwa keberagaman merupakan kekayaan yang harus terus dipelihara bersama.

Mengenal Produk Lokal Ketapang

Setelah meninggalkan Klenteng Tua Pek Kong, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pusat oleh-oleh Amplang Obic.

Amplang merupakan salah satu makanan khas Kabupaten Ketapang yang dibuat dari ikan tenggiri, tepung tapioka, dan telur. Teksturnya yang renyah serta cita rasa gurih menjadikan makanan ini sebagai oleh-oleh favorit para wisatawan.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan para peserta untuk membeli berbagai produk khas Ketapang sebagai buah tangan bagi keluarga maupun rekan pelayanan di keuskupan masing-masing.

Selain menjadi bagian dari agenda wisata, kunjungan ke pusat oleh-oleh juga memperlihatkan bagaimana usaha mikro dan produk lokal dapat berkembang melalui promosi yang baik di media digital.

Bagi para pegiat Komsos, pengalaman ini menjadi inspirasi bahwa media Gereja juga dapat mendukung promosi potensi ekonomi masyarakat melalui pemberitaan yang membangun.

Menelusuri Sejarah Keraton Matan Tanjungpura

Agenda berikutnya membawa rombongan menuju Keraton Matan Tanjungpura, salah satu situs bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan panjang Kabupaten Ketapang.

Di lokasi tersebut, peserta disambut oleh Gusti Zamaludin, Sekretaris Keraton Matan Tanjungpura, yang memberikan penjelasan mengenai sejarah berdirinya kerajaan, perpindahan pusat pemerintahan, hingga perkembangan Kesultanan Matan dari masa ke masa.

Beliau menjelaskan bahwa Keraton Matan Tanjungpura merupakan penerus Kesultanan Tanjungpura yang memiliki sejarah panjang sejak masa kerajaan bercorak Hindu hingga berkembang menjadi kesultanan Islam.

Pusat pemerintahan kerajaan beberapa kali berpindah mengikuti dinamika politik dan keamanan wilayah. Pada masa pemerintahan Panembahan Haji Muhammad Sabran, pusat kerajaan kembali dipindahkan ke wilayah Ketapang dan dibangunlah istana kayu yang kemudian menjadi cikal bakal Keraton Matan yang dikenal hingga saat ini.

Selain memaparkan sejarah perpindahan kerajaan, Gusti Zamaludin juga memperkenalkan berbagai benda pusaka, silsilah keluarga kerajaan, serta nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh para sultan kepada generasi penerus.

Para peserta terlihat antusias mendokumentasikan berbagai koleksi sejarah yang masih tersimpan di lingkungan keraton.

Bagi para pewarta Gereja, kunjungan tersebut menjadi pengalaman berharga dalam memahami sejarah daerah yang dapat dipadukan dengan karya jurnalistik maupun dokumentasi budaya.

Pendopo Joglo, Ruang Persaudaraan Antarbudaya

Menjelang sore hari, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pendopo Joglo Paguyuban Keluarga Besar Jawa Kabupaten Ketapang.

Kedatangan peserta disambut dengan tarian Kuda Lumping yang menampilkan kekayaan seni budaya masyarakat Jawa di Kabupaten Ketapang.

Suasana penyambutan berlangsung meriah namun tetap penuh keakraban. Para peserta tampak menikmati setiap pertunjukan sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya yang hidup di Kabupaten Ketapang.

Rombongan diterima oleh Sadiman selaku Dewan Penasihat dan Zainul Rohnan, Ketua III Bidang Adat, Seni Budaya, dan Tradisi Paguyuban Keluarga Besar Jawa Kabupaten Ketapang.

Dalam sambutannya, Zainul Rohnan menyampaikan permohonan maaf karena H. Achmad Sholeh, S.T., M.Sos., Ketua Paguyuban Keluarga Besar Jawa Kabupaten Ketapang, berhalangan hadir karena sedang menjalani perawatan kesehatan.

Beliau menjelaskan bahwa Paguyuban Keluarga Besar Jawa Kabupaten Ketapang berdiri sejak 1997 sebagai wadah mempererat persaudaraan masyarakat Jawa sekaligus membangun keharmonisan dengan seluruh suku dan budaya yang ada di Kabupaten Ketapang.

Saat ini organisasi tersebut memiliki sembilan Dewan Pimpinan Cabang di berbagai kecamatan serta rutin menyelenggarakan kegiatan budaya seperti Grebeg Suro, pertunjukan wayang kulit, pertemuan keluarga, dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai filosofi Soko Guru, yaitu empat tiang utama Pendopo Joglo yang melambangkan kekuatan, keseimbangan, persatuan, dan empat penjuru mata angin.

Makna tersebut mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat Indonesia dibangun di atas keberagaman yang saling menopang satu sama lain.

Dalam sambutannya, Mgr. Pius Riana Prapdi menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Paguyuban Keluarga Besar Jawa Kabupaten Ketapang.

"Kami merasa terhormat diterima di Pendopo Joglo ini. Empat Soko Guru mengingatkan kita bahwa kehidupan harus ditopang oleh persatuan, persaudaraan, dan saling menghormati. Ketapang mengajarkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi kekuatan untuk hidup bersama," ungkap Mgr. Pius Riana Prapdi.

Beliau juga mengajak seluruh peserta mensyukuri kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Ketapang.

"Hari ini kita belajar bahwa pewartaan tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui penghargaan terhadap budaya, persaudaraan, dan kehidupan bersama. Semoga pengalaman ini memperkaya pelayanan Komunikasi Sosial kita ketika kembali ke keuskupan masing-masing," tuturnya.

Menjelang malam, seluruh rangkaian Cultural Visit berakhir. Rombongan kemudian kembali menuju Catholic Center Keuskupan Ketapang untuk mengikuti agenda terakhir, yaitu makan malam Bersama

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 23 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar