Ketapang, 30 Agustus 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, diajak untuk semakin berani mengikuti Kristus dengan menyangkal diri, keluar dari zona nyaman, serta setia memikul salib dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam perayaan Misa Minggu Biasa XXII yang berlangsung pada pukul 07.00 WIB di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. sebagai selebran utama. Ia didampingi RP. Kornelius Kadut, CP. sebagai konselebran. Sementara itu, Diakon Andreas Pisin, CP. bertugas sebagai diakon dan mewartakan Injil.
Perayaan berlangsung dalam suasana liturgi berwarna hijau. Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang mengikuti Ekaristi dengan penuh khidmat. Sabda Tuhan mengajak umat merenungkan arti panggilan sebagai murid Kristus melalui pengalaman Nabi Yeremia dan ajaran Yesus dalam Injil Matius.
Pesan tersebut menegaskan bahwa perjalanan iman tidak selalu menghadirkan kenyamanan. Ada masa ketika umat menghadapi penolakan, kekecewaan, persoalan keluarga, tekanan pekerjaan, kegagalan, bahkan pergumulan batin.
Namun, berbagai tantangan tersebut bukan alasan untuk meninggalkan Tuhan.
Api Iman di Tengah Pergumulan
Bacaan pertama dalam perayaan Ekaristi diambil dari Kitab Yeremia 20:7-9. Bacaan tersebut memperlihatkan pergumulan seorang nabi yang mendapat tugas menyampaikan firman Allah, tetapi justru menghadapi ejekan dan cemoohan.
Yeremia merasa lelah dengan keadaan yang dialaminya. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti menyampaikan firman Tuhan.
Namun, keputusan tersebut tidak bertahan.
Firman Tuhan dalam dirinya digambarkan seperti api yang menyala-nyala. Yeremia berusaha menahannya, tetapi tidak sanggup.
Gambaran itu menjadi refleksi penting bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Dalam kehidupan sehari-hari, umat juga dapat mengalami pergumulan iman. Ada masa ketika doa terasa berat. Ada keadaan ketika persoalan datang bertubi-tubi. Ada pula saat seseorang merasa sendirian ketika menghadapi masalah.
Situasi tersebut dapat memunculkan keraguan.
Namun, iman mengajarkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia.
Dalam homilinya, Diakon Andreas Pisin, CP. mengajak umat melihat pengalaman Yeremia sebagai gambaran kehidupan orang beriman.
Menurutnya, setiap manusia dapat mengalami masa ketika semangatnya menurun. Karena itu, umat perlu saling menguatkan agar api iman tetap menyala.
Keluarga dapat menjadi salah satu sumber kekuatan.
Anak-anak dapat memberikan semangat kepada orang tua. Suami dan istri dapat saling mendukung. Orang tua dapat menjadi tempat bagi anak-anak untuk menemukan nasihat dan penghiburan.
Dengan demikian, keluarga memiliki peran besar dalam menjaga kehidupan iman.
Rumah bukan hanya tempat tinggal. Keluarga dapat menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang kasih, pengampunan, kesabaran, tanggung jawab, dan pengorbanan.
Nilai tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan sebagai pengikut Kristus.
Hidup Menjadi Persembahan
Refleksi berikutnya mengarah pada ajaran Rasul Paulus tentang mempersembahkan tubuh dan kehidupan kepada Allah.
Menjadi pengikut Kristus tidak cukup hanya dengan mengikuti kegiatan keagamaan. Iman perlu diwujudkan dalam tindakan.
Waktu, tenaga, pekerjaan, kemampuan, keluarga, serta pelayanan dapat menjadi persembahan kepada Tuhan.
Dalam kehidupan modern, umat menghadapi banyak tawaran yang menjanjikan hasil cepat.
Dunia sering menawarkan jalan pintas.
Keinginan memperoleh sesuatu secara instan dapat membuat manusia mengabaikan proses. Dalam keadaan tertentu, seseorang dapat tergoda untuk memilih keuntungan pribadi daripada kebenaran.
Karena itu, umat diajak untuk berhati-hati.
Menjadi murid Kristus berarti siap dibentuk oleh kehendak Allah.
Tidak semua keputusan yang benar terasa mudah. Ada kalanya seseorang harus berkorban demi mempertahankan kejujuran. Ada saat ketika umat harus menolak sesuatu yang bertentangan dengan nilai Injil.
Pilihan semacam itu membutuhkan keberanian.
Namun, justru melalui keputusan tersebut iman menjadi nyata.
Yesus Mengajarkan Jalan Salib
Pusat permenungan perayaan Ekaristi terdapat dalam Injil Matius 16:21-27.
Dalam bacaan tersebut, Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem untuk mengalami penderitaan. Ia akan ditolak, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Petrus tidak dapat menerima perkataan tersebut.
Ia menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya. Petrus tidak ingin gurunya mengalami penderitaan.
Reaksi Petrus memperlihatkan cara berpikir manusia yang cenderung menghindari kesulitan.
Namun, Yesus menunjukkan bahwa jalan Allah tidak selalu sama dengan keinginan manusia.
Yesus kemudian mengajarkan kepada para murid bahwa siapa pun yang ingin mengikuti-Nya harus menyangkal diri, memikul salib, dan berjalan bersama-Nya.
Pesan tersebut menjadi tantangan bagi umat pada zaman sekarang.
Mengikuti Kristus bukan hanya tentang mencari kenyamanan. Menjadi murid berarti berani menjalankan kebenaran meskipun membutuhkan pengorbanan.
Berani Keluar dari Zona Nyaman
Dalam homilinya, Diakon Andreas Pisin, CP. menegaskan pentingnya keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Zona nyaman memang memberikan rasa aman. Namun, seseorang tidak akan berkembang apabila terus menghindari tantangan.
Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan rohani.
Seseorang mungkin merasa cukup karena telah menjalankan kebiasaan keagamaan. Tetapi iman menuntut perubahan hidup.
Orang yang mudah marah dipanggil untuk belajar mengendalikan diri.
Mereka yang terbiasa mementingkan diri sendiri diajak untuk berbagi.
Orang yang sulit mengampuni dipanggil untuk membuka hati.
Mereka yang takut menyuarakan kebenaran diajak untuk memiliki keberanian.
Perubahan tersebut membutuhkan proses.
Keluar dari zona nyaman bukan berarti sengaja mencari kesulitan. Maksudnya adalah berani menjalankan kehendak Allah meskipun keputusan tersebut tidak selalu menyenangkan.
Kristus menjadi teladan utama.
Ia tidak menghindari salib. Ia menerima penderitaan sebagai bagian dari jalan keselamatan.
Karena itu, umat tidak hanya diajak memandang salib sebagai simbol. Mereka juga dipanggil menghayati maknanya dalam kehidupan.
Memikul Salib Setiap Hari
Memikul salib dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana.
Seorang ayah yang bekerja dengan jujur sedang menjalankan panggilannya.
Seorang ibu yang dengan sabar merawat keluarga sedang memberikan dirinya.
Seorang anak yang menghormati orang tua sedang menunjukkan kasih.
Seorang pekerja yang menolak kecurangan sedang mempertahankan kebenaran.
Seseorang yang memilih mengampuni ketika disakiti juga sedang belajar mengikuti Kristus.
Semua tindakan tersebut membutuhkan pengorbanan.
Karena itu, salib tidak selalu hadir dalam bentuk penderitaan besar. Salib dapat ditemukan dalam tanggung jawab sehari-hari.
Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak melihat setiap tanggung jawab sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam iman.
Ketika menghadapi masalah, umat tidak perlu langsung menyerah.
Ketika mengalami kegagalan, mereka dapat belajar.
Ketika menghadapi kekecewaan, mereka dapat membawanya dalam doa.
Ketika mengalami penderitaan, mereka dapat tetap percaya bahwa Tuhan menyertai perjalanan mereka.
Salib Membawa Harapan
Dalam iman Kristen, salib tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan.
Penderitaan bukan akhir dari kisah Yesus.
Setelah wafat, Kristus bangkit.
Karena itu, salib juga menjadi tanda harapan.
Pengalaman sulit dalam kehidupan manusia tidak selalu menjadi akhir dari segalanya.
Kegagalan bukan berarti masa depan berakhir. Kekecewaan bukan berarti seluruh harapan hilang. Persoalan keluarga bukan berarti kasih harus berhenti.
Iman mengajarkan manusia untuk terus berjalan.
Ada banyak hal yang belum dapat dipahami ketika seseorang berada di tengah persoalan. Namun, kepercayaan kepada Allah membuat manusia mampu melangkah meskipun belum mengetahui seluruh jawaban.
Nabi Yeremia memberikan teladan tentang ketekunan tersebut.
Ia pernah mengeluh dan merasa lelah. Namun, firman Allah tetap menjadi api yang menyala dalam dirinya.
Petrus juga memberikan pelajaran.
Ia pernah salah memahami jalan yang harus ditempuh Yesus. Dari pengalaman itu, umat belajar bahwa seorang murid harus terus membuka diri terhadap kehendak Tuhan.
Keluarga sebagai Tempat Penguatan
Pesan homili juga menyentuh kehidupan keluarga.
Dalam berbagai persoalan, orang-orang terdekat dapat menjadi sumber kekuatan.
Anak-anak dapat memberikan semangat kepada orang tua.
Suami dan istri dapat saling mendampingi.
Orang tua dapat memberikan nasihat kepada anak-anak.
Keluarga yang dipenuhi kasih dapat membantu anggotanya menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, kehidupan iman perlu dibangun mulai dari rumah.
Doa bersama dapat menjadi kebiasaan sederhana.
Orang tua dapat mengajarkan kejujuran kepada anak.
Suami dan istri dapat belajar saling mendengarkan.
Perselisihan dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
Saling meminta maaf dan memberikan pengampunan juga menjadi bagian dari kehidupan Kristiani.
Kebiasaan tersebut dapat membantu keluarga menjadi tempat pertumbuhan iman.
Menolak Jalan Pintas
Injil juga mengingatkan umat agar tidak kehilangan arah karena mengejar keuntungan duniawi.
Yesus bertanya tentang keuntungan memperoleh seluruh dunia apabila seseorang kehilangan nyawanya.
Pertanyaan tersebut tetap relevan.
Manusia dapat mengejar kekayaan, jabatan, popularitas, dan berbagai keberhasilan. Semua pencapaian itu memiliki nilai.
Namun, kehidupan rohani tidak boleh dikorbankan demi pencapaian tersebut.
Harta perlu digunakan dengan bijaksana.
Jabatan perlu dijalankan dengan tanggung jawab.
Kemampuan perlu dipakai untuk melayani.
Pengetahuan perlu diarahkan bagi kebaikan.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya berpusat pada kepentingan pribadi.
Iman mengajarkan umat untuk memperhatikan sesama.
Pelayanan Liturgi Berlangsung Khidmat
Perayaan Misa Minggu Biasa XXII di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berlangsung dengan suasana khidmat. Warna liturgi yang digunakan adalah hijau.
Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 07.00 WIB.
RP. Vitalis Nggeal, CP. bertugas sebagai selebran utama. Ia didampingi RP. Kornelius Kadut, CP. sebagai konselebran.
Sementara itu, Diakon Andreas Pisin, CP. bertugas sebagai diakon dan mewartakan Injil.
Pelayanan liturgi juga melibatkan sejumlah petugas.
Saudari Agustina Rosa Marhen bertugas sebagai lektor. Tugas pemazmur dilaksanakan oleh Saudari Renatha Ziovanya Prasetyo.
Ibu Beata Hariantini bertugas sebagai dirigen.
Pelayanan musik liturgi dipercayakan kepada Koor SD Santa Monica Ketapang. Sementara itu, Ibu Martha Koleta Popyzesika bertugas sebagai organis.
Keterlibatan para petugas mendukung kelancaran perayaan Ekaristi dan membantu umat mengikuti liturgi dengan penuh perhatian.
Iman Harus Dibawa Pulang
Perayaan Ekaristi bukan hanya kegiatan yang berlangsung di dalam gereja.
Sabda Tuhan harus dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Umat kembali ke rumah dengan semangat menjaga iman.
Mereka kembali bekerja dengan membawa nilai kejujuran.
Mereka kembali kepada keluarga dengan kesediaan untuk mengasihi dan mengampuni.
Mereka kembali ke tengah masyarakat dengan semangat melayani.
Di sanalah iman mendapatkan bentuk nyata.
Minggu Biasa XXII mengingatkan umat bahwa perjalanan mengikuti Kristus merupakan proses yang panjang.
Tidak setiap langkah terasa mudah.
Ada masa ketika seseorang kuat. Ada pula waktu ketika ia hampir menyerah.
Namun, Tuhan tetap memanggil manusia untuk bangkit.
Seperti api yang menyala dalam diri Nabi Yeremia, iman umat dipanggil untuk terus hidup.
Seperti Kristus yang setia menjalani jalan salib, umat diajak percaya kepada kehendak Allah.
Seperti Petrus yang terus belajar memahami rencana Tuhan, umat pun dipanggil untuk bertumbuh.
Kesetiaan di Atas Kenyamanan
Pesan utama perayaan tersebut mengarah pada satu sikap penting, yaitu kesetiaan.
Kenyamanan tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan.
Mengikuti Kristus membutuhkan keberanian untuk memilih yang benar.
Kadang pilihan tersebut menuntut pengorbanan.
Ada keputusan yang membuat seseorang harus meninggalkan kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab yang terasa berat. Ada jalan yang membutuhkan kesabaran.
Namun, kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur berdasarkan mudah atau sulitnya perjalanan.
Kesetiaan terlihat ketika seseorang tetap melakukan yang benar meskipun menghadapi tekanan.
Nabi Yeremia menjadi teladan dalam hal tersebut.
Ia pernah lelah. Ia pernah ingin berhenti. Tetapi firman Tuhan tetap menyala dalam dirinya.
Kristus juga menunjukkan teladan yang sempurna.
Ia menerima jalan salib dengan penuh ketaatan.
Karena itu, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak untuk tidak takut menghadapi salib kehidupan.
Salib memang berat.
Namun, salib yang dijalani bersama Kristus menjadi jalan pengharapan.
Dari Gereja Menuju Kehidupan
Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang akhirnya menjadi momentum untuk memperbarui komitmen iman.
Umat tidak hanya mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga diajak menghidupinya.
Pesan Injil perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Ketika kembali ke rumah, umat dapat memulai dari hal sederhana. Mereka dapat membangun komunikasi yang baik dalam keluarga. Mereka dapat saling mengampuni. Mereka dapat memberikan perhatian kepada anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan.
Di tempat kerja, nilai Injil dapat diwujudkan melalui kejujuran dan tanggung jawab.
Di lingkungan masyarakat, iman dapat ditunjukkan melalui kepedulian dan pelayanan.
Dengan cara itu, Ekaristi memiliki dampak yang lebih luas dalam kehidupan.
Pesan Minggu Biasa XXII menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki salibnya masing-masing.
Tidak semua salib memiliki bentuk yang sama.
Ada yang menghadapi persoalan keluarga. Ada yang bergumul dengan pekerjaan. Ada yang berjuang menghadapi kegagalan. Ada pula yang sedang mempertahankan iman di tengah tekanan.
Namun, umat tidak berjalan sendirian.
Kristus hadir dan menyertai.
Karena itu, umat diajak untuk tetap percaya.
Jangan menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Jangan meninggalkan iman ketika doa belum mendapatkan jawaban.
Jangan memilih jalan pintas ketika kebenaran membutuhkan pengorbanan.
Jangan takut keluar dari zona nyaman ketika Tuhan memanggil untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak kenyamanan yang dapat diperoleh. Kehidupan juga berbicara tentang kesetiaan dalam menjalankan panggilan.
Karena itu, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, diajak menjaga api iman, menolak jalan yang bertentangan dengan kebenaran, serta berani memikul salib setiap hari.
Bukan karena penderitaan harus dicari, tetapi karena ketika salib datang, umat beriman tidak perlu menghadapinya sendirian.
Kristus berjalan bersama mereka.
Pesan tersebut menjadi ajakan bagi seluruh umat untuk terus melangkah dalam iman: tetap taat seperti Nabi Yeremia, berani mengikuti Kristus, menjaga api iman tetap menyala, dan percaya kepada kehendak Tuhan.
Dengan iman, pergumulan dapat menjadi jalan pertumbuhan.
Dengan pengharapan, salib dapat dijalani.
Dengan kasih, kehidupan dapat menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah.
Dan dengan keberanian mengikuti Kristus, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak terus berjalan dalam kesetiaan, bukan mencari kehidupan yang selalu mudah, melainkan kehidupan yang semakin dekat dengan kehendak Tuhan.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 30 Agustus 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar