Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Bertumbuh Dewasa

 


Ketapang, 28 Agustus 2026.Perayaan Hari Ulang Tahun ke-16 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menjadi momentum bagi umat untuk mensyukuri perjalanan iman sekaligus melihat kembali arah kehidupan menggereja. Misa syukur berlangsung Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 18.00 WIB di Gereja Santo Agustinus Paya Kumang.

Misa dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. sebagai selebran utama. Ia didampingi RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. dan RP. Kornelius Kadut, CP. sebagai konselebran. Diakon Andreas Pisin, CP. turut mengambil bagian dalam pelayanan liturgi sekaligus membawakan Bacaan Injil.

Perayaan HUT ke-16 tersebut berlangsung dalam suasana syukur dan sukacita rohani. Selain memperingati perjalanan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang selama 16 tahun, umat juga merayakan Perayaan Wajib Santo Agustinus, pelindung paroki.

Dalam liturgi digunakan warna putih yang melambangkan kesucian, kemurnian, dan sukacita rohani. Warna tersebut memberi nuansa khusus bagi perayaan sekaligus mengingatkan umat pada panggilan untuk menjaga kehidupan iman dan terus bertumbuh dalam relasi dengan Tuhan.

Salah satu momen penting dalam perayaan tersebut ialah penerimaan Komuni Pertama oleh tiga anak, yakni Agustinus Gracio Ivander Augustin, Alponsus Agafitus Anwar, dan Valencia Siska Andriyani.

Ketiganya menerima Komuni Pertama di tengah perayaan ulang tahun paroki. Momen tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan iman mereka sekaligus menjadi sukacita bagi keluarga dan seluruh komunitas.

Di tengah perayaan usia paroki yang telah mencapai 16 tahun, kehadiran tiga anak tersebut menghadirkan gambaran tentang keberlanjutan kehidupan Gereja. Generasi baru sedang tumbuh. Mereka dipersiapkan untuk mengenal iman, mencintai Ekaristi, dan mengambil bagian dalam kehidupan komunitas.

Peristiwa tersebut juga sejalan dengan pesan homili yang disampaikan RP. Vitalis. Ia mengajak umat tidak hanya melihat angka 16 sebagai pertambahan usia. Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting ialah apakah umat mengalami pertumbuhan iman dan perubahan hati.









Homili: Enam Belas Tahun Sebagai Perjalanan Iman

Dalam homilinya, RP. Vitalis mengajak umat melihat ulang perjalanan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang selama 16 tahun.

Ia mengingatkan bahwa sebuah paroki tidak lahir begitu saja. Di balik berdirinya komunitas terdapat perjuangan, pengorbanan, kerja keras, perbedaan pandangan, serta kesediaan banyak orang untuk memberikan diri.

Hari ini kita merayakan 16 tahun paroki kita. Ada perjuangan. Waktu membangun gereja juga tidak mudah. Ada yang mendukung, ada yang menentang. Rahmat Tuhan selalu menyertai paroki ini sampai hari ini,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi pintu masuk bagi umat untuk melihat sejarah paroki dengan lebih jernih.

Setiap komunitas pasti memiliki perjalanan. Ada masa ketika segala sesuatu berjalan mudah. Ada pula periode yang penuh tantangan. Demikian pula kehidupan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Pembangunan gereja bukan hanya persoalan mendirikan bangunan fisik. Di baliknya terdapat proses membangun kebersamaan. Ada orang yang menyumbangkan tenaga. Ada yang memberikan pikiran. Ada yang menyediakan waktu. Ada yang mendukung melalui doa. Semua bentuk keterlibatan tersebut menjadi bagian dari sejarah.

Karena itu, ulang tahun paroki bukan sekadar kesempatan untuk mengingat kapan sebuah komunitas mulai berdiri. Perayaan tersebut menjadi ruang untuk mengenang karya Tuhan melalui perjalanan umat.

RP. Vitalis menekankan bahwa selama 16 tahun Tuhan tidak pernah meninggalkan umat.

Rahmat Tuhan hadir melalui orang-orang yang bekerja. Rahmat itu hadir melalui pelayanan. Rahmat juga hadir dalam kemampuan umat melewati berbagai tantangan.

Karena itu, rasa syukur menjadi sikap pertama yang harus dibangun.

Umat tidak boleh hanya melihat apa yang belum tercapai. Mereka juga perlu melihat begitu banyak hal yang telah dilalui bersama.

Ada doa yang telah dipanjatkan. Ada pelayanan yang telah dijalankan. Ada anak-anak yang telah dibina. Ada keluarga yang didampingi. Ada umat sakit yang dikunjungi. Ada mereka yang mengalami kesulitan dan mendapatkan perhatian.

Semua itu merupakan bagian dari perjalanan Gereja.

Ulang Tahun Bukan Sekadar Perayaan

Menurut RP. Vitalis, peringatan ulang tahun paroki harus membawa umat pada evaluasi diri.

Pesta pelindung paroki menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak. Umat diajak melihat perjalanan masa lalu sekaligus bertanya mengenai keadaan saat ini.

Apakah iman kita semakin dewasa?

Apakah kehidupan bersama semakin baik?

Apakah pelayanan semakin menyentuh kebutuhan umat?

Apakah kita semakin peduli kepada mereka yang kecil dan lemah?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, pertanyaan itu menjadi undangan untuk melakukan pemeriksaan batin.

Katekese bulan Agustus, sebagaimana disampaikan dalam homili, mengajak umat memahami makna menjadi paroki yang dewasa.

Kedewasaan tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan.

Paroki dapat memiliki banyak agenda. Namun, apabila kegiatan tersebut tidak membantu umat bertumbuh dalam iman, maka tujuan utama kehidupan menggereja belum sepenuhnya tercapai.

Ulang tahun paroki itu untuk bertambah dewasa. Bukan seberapa banyak kegiatan. Iman itu harus bertumbuh. Bagaimana kita siap menjaga iman dan siap melayani,” tegas RP. Vitalis.

Pesan tersebut mengajak umat melihat kembali prioritas.

Gereja bukan sekadar tempat berkumpul. Gereja merupakan komunitas umat beriman yang dipanggil untuk hidup dalam kasih dan pelayanan.

Karena itu, aktivitas harus memiliki arah. Setiap kegiatan perlu membantu umat semakin mengenal Tuhan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kepedulian kepada sesama.

Tema Paroki Yang Bertransformasi

Dalam homilinya, RP. Vitalis mengangkat tema paroki yang bertransformasi.

Transformasi menjadi kata penting dalam perjalanan paroki. Perubahan tidak hanya menyangkut bentuk pelayanan. Perubahan harus menyentuh manusia yang menjalankannya.

Ia mengajak umat melihat bahwa Gereja tidak dapat berkembang jika anggotanya hanya menjadi penonton.

Umat harus bergerak.

Umat harus berani mengambil bagian.

Umat harus siap memberikan diri.

Dari aku yang diam menjadi aktif dan bergerak,” katanya.

Kalimat tersebut menjadi salah satu inti pesan homili.

Diam tidak selalu berarti buruk. Ada saat ketika seseorang membutuhkan keheningan untuk berdoa dan berefleksi. Namun, ketika kehidupan Gereja membutuhkan pelayanan, umat tidak boleh terus berada dalam sikap pasif.

Ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Ada sesama yang membutuhkan perhatian.

Ada anak-anak yang membutuhkan pendampingan.

Ada keluarga yang membutuhkan penguatan.

Ada orang sakit yang membutuhkan kunjungan.

Ada lingkungan yang membutuhkan keterlibatan.

Karena itu, transformasi harus melahirkan tindakan.

Kebesaran Diukur Dari Pelayanan

RP. Vitalis kemudian menghubungkan tema tersebut dengan pesan Injil yang direnungkan dalam perayaan.

Barang siapa terbesar di antara kamu harus melayani.

Pesan ini menjadi dasar bagi umat untuk memahami kembali arti kebesaran.

Dalam kehidupan sosial, orang sering mengukur kebesaran melalui jabatan, kekuasaan, pengaruh, atau prestasi. Namun, Injil menawarkan ukuran berbeda.

Orang yang besar adalah mereka yang bersedia melayani.

Pelayanan membutuhkan kerendahan hati.

Orang yang melayani tidak selalu mendapat pujian. Bahkan, banyak pelayanan dilakukan tanpa diketahui banyak orang.

Seseorang yang datang lebih awal untuk menyiapkan gereja mungkin tidak mendapat perhatian. Orang yang membersihkan ruangan setelah kegiatan mungkin tidak disebut namanya. Umat yang mengunjungi orang sakit mungkin tidak diketahui oleh banyak orang.

Namun, semua itu merupakan bentuk pelayanan.

RP. Vitalis mengingatkan umat agar tidak menunggu posisi tertentu untuk mulai melayani.

Pelayanan dapat dilakukan oleh siapa saja.

Anak-anak dapat belajar melayani melalui tindakan sederhana. Orang muda dapat memberikan tenaga dan kreativitas. Orang dewasa dapat memberikan pengalaman. Para orang tua dapat memberikan teladan.

Dengan demikian, seluruh umat memiliki tempat dalam kehidupan Gereja.

Gereja Dibangun Oleh Banyak Orang

Dalam refleksinya, RP. Vitalis juga mengajak umat bersyukur atas mereka yang selama ini bekerja bagi paroki.

Ia menyebut Dewan Pastoral, para ketua lingkungan, prodiakon, dan berbagai pelayan lainnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua nama tercatat dalam sejarah secara formal.

Ada orang yang bekerja tanpa disebut.

Ada yang membersihkan gereja.

Ada yang menyiapkan berbagai kebutuhan liturgi.

Ada yang mengunjungi orang sakit.

Ada yang mendampingi anak-anak.

Ada yang mengajar.

Ada yang membantu keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Ada yang namanya tidak disebut. Ada yang membersihkan. Semua gereja selalu bersih. Ada yang mengunjungi orang sakit. Ada yang mengajar anak-anak,” ungkapnya.

Kalimat tersebut menghadirkan gambaran sederhana tentang kehidupan sebuah paroki.

Gereja hidup bukan hanya karena mereka yang berdiri di altar. Gereja juga hidup karena orang-orang yang bekerja dalam kesunyian.

Pelayanan kecil dapat menjadi bagian dari karya besar.

Membersihkan gereja mungkin terlihat sederhana. Namun, tindakan itu membantu menciptakan tempat yang layak bagi umat untuk berdoa.

Mengunjungi orang sakit mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun, kehadiran tersebut dapat memberikan kekuatan bagi seseorang yang sedang menghadapi penderitaan.

Mengajar anak-anak mungkin membutuhkan kesabaran. Namun, melalui proses tersebut, benih iman ditanamkan.

Karena itu, tidak ada pelayanan yang benar-benar kecil ketika dilakukan dengan kasih.

Syukur Menjadi Dasar Perjalanan

RP. Vitalis mengajak umat menjadikan syukur sebagai dasar perjalanan berikutnya.

Hari ulang tahun ini, Tuhan, terima kasih. Inilah sejarah kami. Engkau terus membentuk kami,” katanya.

Ungkapan tersebut menggambarkan kesadaran bahwa perjalanan paroki tidak hanya dibangun oleh kemampuan manusia.

Ada penyertaan Tuhan.

Umat bekerja. Namun, Tuhan memberikan kekuatan.

Umat merencanakan. Namun, Tuhan membuka jalan.

Umat menghadapi tantangan. Namun, Tuhan memberikan kemampuan untuk bertahan.

Karena itu, syukur tidak boleh berhenti di dalam liturgi. Syukur harus terlihat dalam kehidupan.

Orang yang bersyukur akan lebih mudah melihat kebaikan. Ia juga lebih siap memberikan diri.

Belajar Dari Santo Agustinus

Sebagai pelindung paroki, Santo Agustinus menjadi tokoh penting dalam refleksi RP. Vitalis.

Ia menjelaskan bahwa Santo Agustinus merupakan pribadi yang memiliki kecerdasan dan kemampuan. Namun, perjalanan hidupnya tidak langsung menemukan arah.

Ada pencarian.

Ada pergulatan.

Ada proses panjang.

Pada akhirnya, ia menemukan Allah dan mengalami perubahan mendalam.

Perubahan tersebut tidak berhenti pada pengetahuan. Hatinya berubah. Cara berpikirnya berubah. Orientasi hidupnya berubah.

Dari mengejar kepentingan pribadi menuju pelayanan Gereja.

Kisah tersebut menjadi cermin bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Setiap orang memiliki perjalanan hidup. Ada saat ketika manusia mengejar banyak hal. Ada masa ketika seseorang lebih memikirkan dirinya sendiri.

Namun, iman mengajak manusia untuk bergerak lebih jauh.

Tuhan memanggil manusia keluar dari dirinya sendiri.

Tuhan mengajak umat untuk melihat kebutuhan sesama.

Tuhan mengajak umat untuk melayani.

Karena itu, pertumbuhan iman harus menghasilkan perubahan.

Hati Menjadi Pusat Transformasi

RP. Vitalis kemudian membawa umat pada pertanyaan yang lebih mendalam.

Apakah hati kita sudah berubah?

Pertanyaan tersebut menjadi inti refleksi ulang tahun.

Usia paroki dapat bertambah. Gedung dapat berkembang. Kegiatan dapat semakin banyak. Struktur pelayanan dapat semakin lengkap.

Namun, semua itu belum cukup apabila hati umat tidak mengalami perubahan.

Transformasi harus dimulai dari dalam diri.

Hati yang semakin dekat kepada Tuhan akan mendorong manusia untuk mencintai sesama.

Hati yang dibentuk oleh Injil akan lebih peka terhadap penderitaan.

Hati yang mengalami pertobatan akan lebih mudah meminta maaf dan mengampuni.

Hati yang dewasa akan mampu mengutamakan kepentingan bersama.

Karena itu, RP. Vitalis mengajak umat tidak hanya bertanya tentang perkembangan organisasi. Pertanyaan utama harus menyentuh kehidupan iman.

Apakah saya menjadi orang yang lebih sabar?

Apakah saya lebih peduli?

Apakah saya lebih mudah membantu?

Apakah saya siap mengampuni?

Apakah saya bersedia melayani tanpa menunggu penghargaan?

Pertanyaan seperti itu menjadi ukuran sederhana bagi pertumbuhan iman.

Kepedulian Kepada Orang Kecil

Salah satu pertanyaan penting yang disampaikan dalam homili ialah apakah umat semakin peduli kepada orang kecil.

Pertanyaan tersebut memiliki makna besar.

Gereja tidak hanya dipanggil untuk melayani mereka yang kuat dan memiliki kemampuan. Gereja juga hadir bagi mereka yang membutuhkan perhatian.

Orang kecil dapat hadir dalam berbagai keadaan.

Mereka yang sakit.

Mereka yang kesepian.

Mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.

Mereka yang kehilangan harapan.

Mereka yang tidak memiliki banyak dukungan.

Mereka yang merasa tersisih.

Umat dipanggil untuk hadir.

Kepedulian tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk mendengarkan.

Kunjungan sederhana dapat memberikan harapan.

Sapaan dapat menghilangkan kesepian.

Bantuan kecil dapat meringankan beban.

Dengan demikian, transformasi iman dapat terlihat dalam cara umat memperlakukan sesama.

Komuni Pertama: Tanda Pertumbuhan Generasi Baru

Dalam konteks perjalanan paroki, penerimaan Komuni Pertama oleh tiga anak menjadi momen yang sangat berarti.

Agustinus Gracio Ivander Augustin, Alponsus Agafitus Anwar, dan Valencia Siska Andriyani menerima Komuni Pertama dalam perayaan tersebut.

Mereka menjadi bagian dari generasi yang sedang bertumbuh dalam kehidupan Gereja.

Kehadiran ketiganya menghadirkan harapan.

Perjalanan iman mereka masih panjang. Komuni Pertama bukan garis akhir. Peristiwa tersebut merupakan salah satu tahap penting dalam proses pembinaan iman.

Karena itu, keluarga memiliki peran besar.

Lingkungan juga memiliki tanggung jawab.

Paroki perlu memberikan ruang pertumbuhan.

Anak-anak membutuhkan contoh nyata. Mereka belajar bukan hanya dari pelajaran agama. Mereka juga belajar dari cara orang tua berdoa, cara umat melayani, cara orang dewasa memperlakukan sesama, dan cara komunitas menghadapi masalah.

Dengan demikian, generasi muda dapat melihat bahwa iman bukan hanya sesuatu yang dibicarakan. Iman adalah kehidupan.

Penerimaan Komuni Pertama pada HUT ke-16 menjadi simbol bahwa perjalanan Gereja terus berlanjut.

Generasi sebelumnya telah membangun fondasi. Generasi berikutnya akan melanjutkan.

Warna Liturgi Putih

Perayaan HUT ke-16 dan Perayaan Wajib Santo Agustinus menggunakan warna liturgi putih.

Putih melambangkan kesucian, kemurnian, dan sukacita rohani.

Warna tersebut memberikan suasana khas dalam perayaan. Umat diajak mengalami sukacita iman sambil mengingat panggilan untuk hidup dalam kekudusan.

Makna tersebut juga sejalan dengan pesan transformasi.

Kesucian bukan hanya sesuatu yang tampak dalam liturgi. Kesucian harus diusahakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemurnian hati perlu dijaga melalui sikap jujur, rendah hati, dan penuh kasih.

Sukacita rohani tidak hanya muncul ketika umat merayakan pesta. Sukacita itu harus tetap hidup ketika menghadapi tantangan.

Pelayanan Sebagai Wujud Kedewasaan

Kedewasaan paroki, menurut pesan homili, harus terlihat melalui pelayanan.

Umat yang semakin dewasa akan semakin sadar bahwa Gereja bukan milik kelompok tertentu.

Gereja adalah rumah bersama.

Karena itu, setiap orang dapat mengambil bagian.

Dewan Pastoral memiliki tanggung jawab.

Ketua lingkungan memiliki peran.

Prodiakon memiliki tugas.

Petugas liturgi memiliki pelayanan.

Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap keluarga.

Kaum muda memiliki ruang untuk berkreasi.

Anak-anak juga dapat belajar mengambil bagian sesuai usia mereka.

Semua saling melengkapi.

Kebersamaan menjadi kekuatan utama.

Dari Aku Menjadi Kita

Transformasi juga berarti perubahan cara pandang.

Dari “aku” menuju “kita”.

Ketika seseorang hanya berpikir tentang kepentingannya sendiri, kehidupan bersama mudah mengalami konflik.

Sebaliknya, ketika umat mulai melihat kebutuhan komunitas, semangat persaudaraan dapat tumbuh.

Paroki membutuhkan sikap tersebut.

Perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan. Perbedaan dapat menjadi kekayaan ketika dikelola dengan kasih.

Setiap orang memiliki kemampuan berbeda. Ada yang pandai berbicara. Ada yang kuat dalam bekerja. Ada yang memiliki kemampuan mengorganisasi. Ada yang mampu mengajar. Ada yang terampil dalam musik. Ada yang kuat dalam doa.

Semua kemampuan itu dapat dipersembahkan untuk pelayanan.

Evaluasi Untuk Masa Depan

HUT ke-16 menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan.

Apa yang sudah baik perlu dipertahankan.

Apa yang belum sempurna perlu diperbaiki.

Apa yang belum berjalan perlu dicari jalan keluarnya.

Evaluasi harus dilakukan dengan semangat membangun.

Paroki yang dewasa tidak takut mengakui kekurangan. Komunitas yang matang juga tidak berhenti pada keberhasilan masa lalu.

Ia terus belajar.

Ia terus bergerak.

Ia terus memperbarui diri.

Semangat tersebut menjadi bagian dari makna paroki yang bertransformasi.

Menatap Masa Depan Dengan Harapan

Enam belas tahun telah menjadi bagian penting dalam sejarah Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Namun, berbagai pengalaman telah membentuk komunitas.

Kini umat dipanggil untuk melanjutkan perjalanan.

Bukan dengan rasa puas terhadap masa lalu.

Bukan pula dengan ketakutan terhadap masa depan.

Melainkan dengan keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertai.

Kehadiran tiga penerima Komuni Pertama menjadi salah satu tanda harapan. Mereka mengingatkan bahwa Gereja selalu memiliki generasi yang harus dibina.

Perayaan dengan warna liturgi putih menghadirkan sukacita sekaligus simbol kesucian dan kemurnian.

Homili mengingatkan umat tentang pelayanan.

Semua unsur tersebut bertemu dalam satu pesan: iman harus bertumbuh dan hati harus berubah.

RP. Vitalis mengajak umat meninggalkan sikap diam ketika Gereja membutuhkan keterlibatan.

Dari diam menjadi aktif.

Dari pasif menjadi peduli.

Dari hanya menerima menjadi bersedia memberi.

Dari mengejar kepentingan diri menuju pelayanan.

Dari kegiatan menuju pertumbuhan iman.

Itulah transformasi yang diharapkan.

Pada akhirnya, usia 16 tahun bukan sekadar angka.

Ia adalah perjalanan.

Ia adalah sejarah.

Ia adalah kesaksian tentang rahmat Tuhan.

Ia juga menjadi pertanyaan bagi setiap umat.

Apakah kita semakin dewasa?

Apakah kita semakin dekat dengan Tuhan?

Apakah hati kita semakin terbuka?

Apakah kita semakin peduli kepada orang kecil?

Apakah kita siap melayani?

Pertanyaan tersebut tidak membutuhkan jawaban panjang. Jawabannya harus terlihat melalui kehidupan.

Jika umat semakin peduli, transformasi sedang terjadi.

Jika umat semakin siap melayani, paroki sedang bertumbuh.

Jika anak-anak semakin mencintai Ekaristi, masa depan Gereja sedang disiapkan.

Jika keluarga semakin menjadi tempat pertama pendidikan iman, komunitas sedang dibangun dari dasar.

Jika umat mampu bekerja bersama dalam perbedaan, persaudaraan semakin kuat.

Itulah buah yang diharapkan dari sebuah perayaan ulang tahun.

Sejarah Yang Terus Ditulis

Perjalanan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang belum selesai.

Enam belas tahun telah menjadi bagian pertama dari perjalanan panjang yang masih harus diteruskan.

Mereka yang telah bekerja pada masa lalu telah meninggalkan jejak.

Mereka yang melayani hari ini sedang meneruskan sejarah.

Generasi anak-anak yang sedang bertumbuh akan menjadi bagian dari masa depan.

Karena itu, seluruh umat memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan iman tersebut.

Sejarah paroki tidak hanya ditulis melalui keputusan besar. Sejarah juga ditulis melalui doa seorang ibu, keteladanan seorang ayah, pelayanan seorang prodiakon, kesetiaan seorang petugas liturgi, kerja seorang anggota lingkungan, serta keberanian seorang anak untuk belajar mengenal Tuhan.

Semua memiliki tempat.

Semua memiliki arti.

Dalam semangat tersebut, perayaan HUT ke-16 menjadi sebuah perjalanan syukur.

Umat mengenang masa lalu.

Umat merayakan kehidupan saat ini.

Umat menatap masa depan.

Semuanya dilakukan dalam keyakinan bahwa Tuhan terus membentuk komunitas.

Santo Agustinus menjadi teladan bahwa perjalanan manusia dapat mengalami perubahan besar ketika hati terbuka kepada Tuhan.

Karena itu, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak terus membuka hati.

Membiarkan Tuhan mengubah cara berpikir.

Membiarkan Tuhan memperbarui sikap.

Membiarkan Tuhan menggerakkan tangan untuk melayani.

Membiarkan kasih Tuhan mengarahkan perhatian kepada mereka yang kecil.

Perayaan HUT ke-16 akhirnya bukan hanya tentang masa lalu.

Perayaan ini adalah panggilan untuk masa depan.

Panggilan untuk menjadi lebih dewasa.

Panggilan untuk bertumbuh.

Panggilan untuk melayani.

Panggilan untuk bertransformasi.

Sebagaimana ditegaskan RP. Vitalis dalam homilinya, “Paroki yang transformatif adalah paroki yang memiliki umat yang hatinya diubah oleh Tuhan.”

Kalimat tersebut menjadi peneguhan bagi seluruh umat.

Enam belas tahun telah berlalu.

Namun, perjalanan iman masih panjang.

Semoga Paroki Santo Agustinus Paya Kumang terus bertumbuh sebagai komunitas yang dewasa dalam iman, kuat dalam persaudaraan, setia dalam pelayanan, serta semakin peduli kepada mereka yang membutuhkan.

Semoga tiga anak yang menerima Komuni Pertama, Agustinus Gracio Ivander Augustin, Alponsus Agafitus Anwar, dan Valencia Siska Andriyani, terus bertumbuh dalam iman dan menjadi bagian dari generasi yang membawa harapan bagi Gereja.

Semoga warna putih dalam perayaan mengingatkan umat untuk menjaga kesucian, kemurnian hati, dan sukacita rohani.

Dan semoga seluruh perjalanan paroki selalu berada dalam penyertaan Tuhan.

Selamat HUT ke-16 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Selamat merayakan Perayaan Wajib Santo Agustinus.

Terus bertumbuh, terus berubah, dan terus melayani.

Amin.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 28 Agustus 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar