Ketapang, 30 Agustus 2026.Sebanyak 15 remaja mengikuti kegiatan Bina Iman Remaja (BIR) di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, Minggu (30/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu mengangkat tema “Air yang Diberkati” sebagai sarana pendalaman iman, penghayatan makna Pembaptisan, serta pembentukan sikap hormat ketika memasuki rumah Tuhan.
Pembinaan tersebut dipandu oleh Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang. Dalam pertemuan itu, para peserta diajak memahami bahwa kebiasaan mengambil air suci dan membuat tanda salib sebelum memasuki gereja bukan sekadar tradisi lahiriah. Tindakan sederhana tersebut memiliki makna rohani yang mendalam.
Kegiatan mendapat dukungan dari Pastor Kepala ex officio Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, RP. Vitalis Nggeal, CP., Pastor Vikaris ex officio, RP. Kornelius Kadut, CP., serta Diakon Andreas Pisin, CP. Dukungan pastoral tersebut menjadi bagian dari perhatian Gereja terhadap pertumbuhan iman generasi muda.
Bagi 15 remaja yang hadir, pembinaan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat simbol-simbol yang digunakan dalam kehidupan Gereja. Mereka tidak hanya diajak mengetahui tata cara mengambil air suci, melainkan juga memahami alasan iman yang mendasari tindakan tersebut.
Membina Generasi Muda dalam Semangat Misioner
Bina Iman Remaja Katolik merupakan wadah pembinaan karakter dan kehidupan rohani bagi anak-anak serta remaja. Kegiatan ini pada umumnya menyasar peserta usia sekolah, mulai dari kelas akhir sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah pertama.
Pembinaan iman pada masa remaja memiliki arti penting. Usia tersebut merupakan masa pertumbuhan yang penuh perubahan. Remaja mulai membentuk cara berpikir, menentukan sikap, dan mencari nilai-nilai yang akan menjadi pegangan dalam hidup.
Karena itu, Gereja menghadirkan berbagai ruang pembinaan agar generasi muda tidak hanya bertumbuh secara intelektual, tetapi juga memiliki dasar spiritual yang kuat. Melalui pertemuan seperti BIR, mereka belajar mengenal Yesus Kristus sebagai sahabat dan sumber kehidupan.
Semangat pembinaan tersebut juga sejalan dengan karya SEKAMI, singkatan dari Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner. Wadah ini menanamkan semangat misi sejak usia dini melalui semboyan “Children Helping Children”, yang berarti anak-anak dan remaja membantu sesama anak.
Semangat itu diwujudkan melalui empat dasar kehidupan, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian, atau dikenal dengan istilah 2D2K.
Doa mengajak anak dan remaja untuk membawa sesama dalam permohonan kepada Tuhan. Mereka belajar bahwa kehidupan iman tidak hanya berpusat pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memperhatikan orang lain.
Derma mengajarkan kepedulian melalui semangat berbagi. Nilai ini menumbuhkan kesadaran bahwa apa yang dimiliki dapat menjadi berkat bagi mereka yang membutuhkan.
Kurban membentuk kemampuan untuk berdisiplin dan rela mengurangi kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar. Sementara itu, kesaksian mendorong peserta untuk menunjukkan nilai-nilai Injil melalui sikap dan tindakan sehari-hari.
Keempat semangat tersebut menjadi landasan penting dalam pembentukan pribadi muda yang peduli, bertanggung jawab, serta memiliki keberanian untuk menjadi saksi kebaikan.
Air sebagai Simbol Kehidupan
Tema “Air yang Diberkati” dipilih untuk membawa para remaja memahami salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia dan tradisi Gereja.
Air merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Manusia membutuhkan air untuk bertahan hidup. Alam juga bertumbuh dan berkembang karena keberadaan unsur tersebut.
Dalam Kitab Suci, air memiliki makna yang sangat kaya. Kitab Kejadian menggambarkan awal penciptaan dengan ungkapan bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa air hadir dalam kisah awal kehidupan.
Dalam perjalanan manusia, unsur ini juga memiliki hubungan yang erat dengan kelahiran. Seorang bayi bertumbuh dalam kandungan ibu yang dipenuhi cairan. Ketika masa kelahiran tiba, pecahnya kantung ketuban menjadi salah satu tanda dimulainya proses kelahiran.
Dari pengalaman alamiah itu, manusia dapat memahami bahwa air berkaitan dengan kehidupan, pertumbuhan, pembaruan, dan kelahiran.
Dalam kehidupan Gereja, makna tersebut mendapat penghayatan yang lebih dalam. Air digunakan dalam Sakramen Pembaptisan sebagai tanda kelahiran baru dalam Kristus.
Karena itu, ketika umat mengambil air suci dan membuat tanda salib, tindakan tersebut membawa ingatan kepada kehidupan baru yang diterima melalui Pembaptisan.
Tradisi Mengambil Air Suci
Di banyak gereja Katolik, air suci ditempatkan dalam bejana kecil di dekat pintu masuk. Keberadaannya menjadi pengingat bagi umat yang hendak memasuki tempat ibadah.
Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam gereja, umat mencelupkan jari ke dalam air suci. Setelah itu, mereka membuat tanda salib dalam nama Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Gerakan tersebut tampak sederhana. Namun, di baliknya terdapat ajakan untuk menyadari perubahan suasana yang sedang dialami seseorang.
Dari berbagai aktivitas duniawi, umat memasuki ruang yang digunakan untuk doa dan perjumpaan dengan Tuhan. Karena itu, hati dan pikiran perlu dipersiapkan.
Pengambilan air suci menjadi salah satu tanda lahiriah yang membantu umat memasuki suasana doa dengan kesadaran yang lebih mendalam.
Air yang digunakan dalam kehidupan Gereja diberkati sesuai dengan tata peribadatan yang berlaku. Dalam tradisi Katolik, pemberkatan air juga memiliki tempat penting, khususnya dalam rangkaian perayaan Malam Paskah.
Air yang telah diberkati dapat digunakan dalam berbagai keperluan rohani, termasuk dalam peribadatan dan pemberkatan sesuai ketentuan Gereja.
Bagi remaja yang mengikuti pembinaan di Paya Kumang, penjelasan tersebut membantu mereka melihat bahwa benda-benda liturgis tidak boleh dipahami hanya dari bentuk luarnya.
Setiap tanda dalam kehidupan Gereja memiliki tujuan untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Allah.
Mengingatkan Umat Akan Pertobatan
Pendalaman materi juga mengajak peserta melihat hubungan air dengan pertobatan dan pembaruan hidup.
Dalam Kitab Suci, kisah air bah pada zaman Nabi Nuh menggambarkan peristiwa yang diikuti oleh awal kehidupan baru bagi keluarga yang diselamatkan.
Air juga hadir dalam kisah bangsa Israel ketika mereka melintasi Laut Merah dan dibebaskan dari perbudakan di Mesir.
Kedua peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjalanan iman yang menggambarkan pembebasan dan pembaruan.
Dalam penghayatan Kristiani, manusia dipanggil untuk meninggalkan kehidupan lama yang dikuasai dosa dan terus berjalan menuju hidup yang semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.
Karena itu, ketika seseorang membuat tanda salib dengan air suci, ia diingatkan kembali akan panggilannya untuk bertobat.
Pertobatan bukan hanya soal penyesalan atas kesalahan. Pembaruan hidup juga menuntut keberanian untuk memperbaiki sikap, meninggalkan kebiasaan buruk, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan Tuhan dan sesama.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi kehidupan remaja. Pada usia pertumbuhan, mereka menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan, media, pergaulan, dan perkembangan teknologi.
Pembinaan iman membantu mereka memiliki kemampuan untuk membedakan hal yang baik dan yang tidak membawa manfaat.
Melalui penghayatan simbol air, peserta diajak memahami bahwa kehidupan selalu menyediakan kesempatan untuk memperbarui diri.
Pembaptisan sebagai Kehidupan Baru
Salah satu pokok utama dalam pendalaman tema adalah makna air suci sebagai pengingat akan Pembaptisan.
Dalam iman Katolik, Pembaptisan menjadi sakramen yang membawa manusia memasuki kehidupan baru dalam Kristus.
Melalui air dan Roh, manusia dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Karena itu, tindakan mengambil air suci dapat menjadi sarana untuk mengenang rahmat yang telah diterima.
Penghayatan tersebut tidak berhenti pada ingatan. Setiap orang yang telah dibaptis juga dipanggil untuk memperbarui komitmen hidupnya.
Kehidupan baru harus tampak dalam cara berbicara, bertindak, mengambil keputusan, serta memperlakukan sesama.
Remaja dapat menghayati panggilan itu melalui tindakan sederhana. Mereka dapat menghormati orang tua, menghargai guru, membantu teman, berkata jujur, dan menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.
Kesaksian iman tidak selalu harus dilakukan melalui tindakan besar. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan bentuk pewartaan.
Dalam konteks inilah semangat 2D2K memiliki hubungan yang kuat dengan kehidupan sakramental. Doa, derma, kurban, dan kesaksian menjadi cara nyata untuk menghidupi iman.
Memohon Perlindungan dan Kedamaian
Dalam tradisi Katolik, air suci juga digunakan sebagai sarana doa untuk memohon perlindungan Tuhan.
Umat tidak memandang air itu sebagai benda yang memiliki kekuatan tersendiri. Maknanya berkaitan dengan doa, pemberkatan, serta iman kepada Allah yang menjadi sumber keselamatan.
Penggunaan air suci dapat membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan dan memohon perlindungan dari segala pengaruh yang menjauhkan manusia dari kebaikan.
Santo Theresia dari Avila dalam tradisi rohani Gereja juga dikenal memiliki penghormatan yang besar terhadap penggunaan air suci.
Bagi umat beriman, tanda tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan rohani membutuhkan keteguhan hati.
Manusia menghadapi berbagai godaan, kelemahan, dan tantangan. Dalam situasi tersebut, doa menjadi sumber kekuatan.
Dengan hati yang tenang, seseorang dapat menyerahkan diri kepada Tuhan dan memohon agar dijauhkan dari segala kejahatan.
Doa sederhana yang sering dikaitkan dengan penggunaan air suci berbunyi, “Oleh air suci ini dan Darah-Mu yang berharga, basuhlah dan sucikanlah segala dosaku, ya Tuhan. Amin.”
Doa tersebut mengungkapkan kerinduan manusia untuk memperoleh penyucian dan hidup dalam kasih Allah.
Belajar Bersikap Baik di Rumah Tuhan
Selain membahas makna air yang diberkati, kegiatan BIR juga memberikan perhatian pada sikap yang perlu dibangun sebelum dan sesudah Perayaan Ekaristi.
Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Karena itu, umat dipanggil untuk mempersiapkan diri dengan baik ketika hendak mengikuti perayaan tersebut.
Salah satu hal yang dibahas adalah penggunaan pakaian yang pantas.
Berpakaian sopan, rapi, dan bersih merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan dan sesama umat. Kesederhanaan tetap dapat menunjukkan sikap hormat.
Hal berikutnya adalah datang lebih awal.
Kehadiran sebelum perayaan dimulai memberikan kesempatan untuk menenangkan diri. Umat dapat menggunakan waktu tersebut untuk berdoa dan melepaskan perhatian dari berbagai kesibukan.
Ketenangan membantu seseorang mempersiapkan hati. Dengan demikian, ia tidak memasuki perayaan dalam keadaan tergesa-gesa.
Peserta juga kembali diingatkan mengenai kebiasaan mengambil air suci ketika memasuki gereja.
Tindakan itu menjadi pengingat akan Pembaptisan dan kehidupan baru dalam Kristus.
Setelah memasuki gedung gereja, umat diajak menunjukkan sikap hormat kepada Sakramen Mahakudus.
Sesuai tata cara dan kondisi tempat, umat dapat berlutut atau memberikan penghormatan dengan sikap yang pantas sebelum menempati tempat duduk.
Sikap tersebut bukan sekadar gerakan tubuh. Penghormatan lahir dari kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan Gereja.
Keheningan Menyiapkan Hati
Dalam pembinaan itu, keheningan juga menjadi bagian penting yang diperkenalkan kepada para remaja.
Gereja bukan hanya tempat berkumpul. Rumah ibadah menjadi ruang untuk membangun perjumpaan pribadi dan bersama dengan Tuhan.
Karena itu, umat perlu menjaga suasana yang membantu orang lain berdoa.
Sebelum perayaan dimulai, seseorang dapat duduk atau berlutut dengan tenang. Saat tersebut dapat digunakan untuk mempersiapkan batin.
Keheningan membantu manusia melepaskan diri sejenak dari kesibukan, kegelisahan, dan berbagai pikiran yang memenuhi keseharian.
Bagi generasi muda yang hidup di tengah arus informasi cepat, kemampuan untuk hening menjadi semakin penting.
Telepon pintar, media sosial, permainan digital, serta berbagai bentuk hiburan dapat menyita perhatian.
Ruang doa memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dan kembali menyadari hal-hal yang paling mendasar dalam kehidupan.
Keheningan bukan kekosongan. Dalam iman, suasana tersebut dapat menjadi ruang untuk mendengarkan suara hati dan membuka diri terhadap kehendak Tuhan.
Mengikuti Perayaan dengan Sadar dan Aktif
Pendalaman berikutnya menekankan pentingnya partisipasi umat secara sadar dan aktif dalam seluruh rangkaian Perayaan Ekaristi.
Kehadiran fisik saja belum cukup. Umat diajak mengikuti doa, nyanyian, jawaban liturgis, serta seluruh bagian perayaan dengan perhatian penuh.
Kesadaran tersebut menuntut persiapan batin.
Remaja perlu belajar memahami bahwa keterlibatan aktif bukan berarti selalu melakukan banyak gerakan. Sikap mendengarkan dengan sungguh-sungguh juga merupakan bentuk partisipasi.
Mereka dapat belajar mengikuti setiap bagian liturgi dengan tertib dan penuh hormat.
Pembiasaan sejak usia muda diharapkan membentuk kedewasaan iman.
Dengan pemahaman yang baik, generasi muda tidak melihat kegiatan Gereja sebagai kewajiban semata. Mereka dapat menemukan makna yang lebih dalam melalui pengalaman persekutuan.
Bersyukur Sebelum Kembali Beraktivitas
Setelah Perayaan Ekaristi selesai, umat dianjurkan untuk tidak langsung meninggalkan gereja dengan tergesa-gesa.
Doa singkat dapat menjadi ungkapan syukur atas rahmat yang telah diterima.
Waktu tersebut juga dapat digunakan untuk memohon kekuatan agar apa yang dirayakan dapat diwujudkan dalam kehidupan.
Gereja tidak hanya mengajarkan iman untuk dijalankan di dalam gedung. Nilai-nilai Kristiani harus dibawa ke keluarga, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat.
Karena itu, setelah keluar dari rumah Tuhan, umat dipanggil menjadi pembawa kasih, kedamaian, dan harapan.
Pesan tersebut memiliki arti penting bagi para peserta BIR Paya Kumang.
Mereka diharapkan tidak hanya memahami materi yang disampaikan selama pertemuan. Nilai yang dipelajari perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Semangat “Children Helping Children” dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Membantu teman yang kesulitan, berbagi dengan sesama, menghibur yang sedih, serta berani berkata benar merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.
Dukungan Pastoral bagi Pertumbuhan Iman
Kegiatan pembinaan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menunjukkan perhatian terhadap pembentukan generasi muda.
Kehadiran para pembina dan dukungan pastoral memberikan ruang bagi remaja untuk bertumbuh dalam suasana kebersamaan.
Hendrikus Hendri, S.S., sebagai Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan DPP, mengambil bagian dalam proses pendampingan melalui penyampaian materi yang berkaitan dengan kehidupan iman dan tradisi Gereja.
Pembinaan semacam ini diharapkan terus membantu peserta mengenal kekayaan spiritualitas Katolik secara bertahap.
Pemahaman yang benar menjadi penting agar setiap tradisi tidak dilakukan hanya karena kebiasaan.
Ketika mengetahui makna di balik sebuah tindakan, seseorang dapat menghayatinya dengan kesadaran yang lebih mendalam.
Dukungan dari Pastor Kepala ex officio RP. Vitalis Nggeal, CP., Pastor Vikaris ex officio RP. Kornelius Kadut, CP., serta Diakon Andreas Pisin, CP., memperlihatkan pentingnya kerja bersama dalam membangun kehidupan umat.
Pembinaan generasi muda membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Orang tua, pembina, pelayan pastoral, dan seluruh komunitas memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang baik.
Menanamkan Iman Sejak Dini
Pertemuan BIR bertema “Air yang Diberkati” di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang akhirnya menjadi lebih dari sekadar penyampaian materi.
Kegiatan tersebut mengajak 15 remaja memahami hubungan antara simbol, Kitab Suci, sakramen, dan kehidupan sehari-hari.
Dari air, mereka belajar tentang kehidupan.
Dari Pembaptisan, mereka mengenang kelahiran baru dalam Kristus.
Dari pertobatan, mereka memahami pentingnya memperbaiki diri.
Dari keheningan, mereka belajar membuka hati kepada Tuhan.
Sementara melalui semangat 2D2K, para peserta didorong untuk mengubah iman menjadi tindakan.
Doa menghubungkan manusia dengan Tuhan. Derma mengajarkan kepedulian. Kurban membentuk ketulusan dan disiplin. Kesaksian menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.
Melalui pembinaan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB itu, para remaja memperoleh kesempatan untuk memperdalam penghayatan iman dalam suasana kebersamaan.
Harapannya, benih yang ditanam melalui BIR dan semangat SEKAMI akan terus bertumbuh.
Generasi muda Gereja diharapkan mampu menjadi pribadi yang mencintai Yesus sebagai sahabat, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta berani memberikan kesaksian melalui kehidupan yang baik.
Dari sebuah bejana kecil di pintu gereja, para peserta diajak melihat makna yang jauh lebih luas. Air suci bukan sekadar bagian dari kebiasaan memasuki rumah ibadah.
Tanda itu menjadi pengingat akan kehidupan, pertobatan, Pembaptisan, penyucian, dan panggilan untuk terus berjalan bersama Kristus.
Dengan pemahaman tersebut, langkah memasuki gereja tidak hanya menjadi perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Setiap orang diajak memasuki suasana doa dengan hati yang lebih siap, pikiran yang lebih tenang, dan kesadaran untuk memperbarui kehidupan.
Bagi 15 remaja BIR Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, pembinaan pada Minggu, 30 Agustus 2026, menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk bertumbuh dalam iman dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 30 Agustus 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar