Ketapang, 23 Agustus 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, diajak untuk semakin mengenal Yesus Kristus secara benar dan mendalam. Pengenalan tersebut tidak cukup berhenti pada pengetahuan agama, kehadiran dalam kegiatan Gereja, atau pengakuan melalui kata-kata. Iman perlu terlihat melalui kehidupan yang mau mengampuni, berbagi, melayani, dan melakukan pertobatan.
Pesan itu disampaikan RP. Vitalis Nggeal, CP. saat memimpin Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXI Tahun A di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Minggu, 23 Agustus 2026. Perayaan menggunakan warna liturgi hijau dan dimulai pukul 07.00 WIB.
Dalam perayaan tersebut, RP. Vitalis Nggeal, CP. didampingi Diakon Andreas Pisin, CP. Bacaan Injil Matius 16:13-20 dibawakan oleh Diakon Andreas. Isi bacaan tentang pengakuan Simon Petrus terhadap Yesus sebagai Mesias menjadi pokok utama permenungan umat.
“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,” jawab Simon Petrus ketika Yesus bertanya kepada para murid, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Menurut RP. Vitalis, pertanyaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Petrus. Yesus juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap orang beriman. Karena itu, umat perlu menjawabnya secara pribadi melalui kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan Yesus Menyentuh Kehidupan Umat
Dalam Injil Matius 16:13-20, Yesus bersama para murid tiba di daerah Kaisarea Filipi. Ia bertanya mengenai pandangan orang banyak terhadap diri-Nya.
Para murid menyampaikan berbagai jawaban. Ada yang menganggap Yesus sebagai Yohanes Pembaptis. Sebagian lainnya menyebut Elia, Yeremia, atau salah seorang nabi.
Setelah mendengar jawaban itu, Yesus mengarahkan pertanyaan kepada para murid.
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Simon Petrus memberikan jawaban yang berbeda. Ia tidak menyebut Yesus sebagai salah seorang nabi. Ia mengakui-Nya sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup.
Pengakuan tersebut kemudian menjadi dasar ketika Yesus berbicara tentang Gereja. Ia menyatakan bahwa di atas batu karang itu akan didirikan jemaat-Nya. Alam maut tidak akan menguasainya.
RP. Vitalis menjelaskan bahwa istilah Mesias berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki arti “yang diurapi”. Dalam iman Kristiani, Yesus adalah Mesias, Putra Allah yang datang untuk membawa keselamatan.
Karena itu, pengakuan Petrus tidak boleh dipandang sebagai pernyataan biasa. Ia menunjukkan iman terhadap siapa Yesus sebenarnya.
Bagi umat pada masa kini, pertanyaan tersebut tetap relevan. Setiap orang perlu menentukan siapa Yesus dalam kehidupannya.
Apakah Ia hanya dikenal sebagai tokoh agama? Apakah Ia hanya dicari ketika manusia membutuhkan pertolongan? Ataukah Ia sungguh menjadi pusat kehidupan?
Mengenal Yesus Tidak Cukup di Mulut
RP. Vitalis mengingatkan bahwa kehidupan beriman dapat mengalami persoalan ketika pengakuan dengan mulut tidak sejalan dengan perbuatan.
Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Tuhan. Namun, pada saat yang sama, ia mungkin masih sulit mengampuni. Ada pula yang belum bersedia berbagi dengan sesama.
Menurutnya, keadaan tersebut perlu menjadi bahan pemeriksaan diri.
Iman bukan hanya persoalan kata-kata. Kepercayaan kepada Kristus harus memengaruhi cara seseorang menjalani hidup.
Orang yang mengenal Yesus dipanggil untuk belajar mengampuni. Ia juga perlu memiliki kepedulian terhadap orang lain dan bersedia memberikan diri dalam pelayanan.
Karena itu, ukuran kedewasaan iman tidak hanya terlihat dari seberapa banyak seseorang mengetahui ajaran agama. Kedalaman iman juga terlihat dari perubahan sikap.
Ketika seseorang semakin dekat dengan Kristus, seharusnya semakin tampak kasih dalam kehidupannya.
Ia belajar menahan diri ketika menghadapi persoalan. Ia berusaha menyelesaikan konflik dengan cara yang baik. Ia tidak mudah membalas kejahatan dengan kejahatan.
Perubahan semacam itu menjadi kesaksian nyata bahwa iman memiliki pengaruh dalam kehidupan.
Tiga Cara Mengenal Yesus
Dalam homilinya, RP. Vitalis mengajak umat melihat tiga bentuk pengenalan terhadap Yesus yang dapat menjadi bahan refleksi.
Pertama, mengenal Yesus hanya sebagai tokoh agama.
Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat berhenti pada aturan dan rutinitas lahiriah. Ia mengikuti kegiatan keagamaan karena kebiasaan. Namun, kegiatan tersebut belum tentu menghasilkan perubahan hati.
Kehidupan Gereja memang membutuhkan keteraturan. Umat perlu mengikuti Ekaristi, doa bersama, pembinaan, serta berbagai pelayanan. Namun, semuanya harus membantu manusia semakin dekat kepada Kristus.
Jika aktivitas hanya menjadi rutinitas, iman dapat kehilangan makna.
Kedua, mengenal Yesus sebagai pembuat mukjizat.
Dalam pola ini, seseorang datang kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan. Ia mencari pertolongan saat sakit, mengalami persoalan keluarga, menghadapi masalah ekonomi, atau berada dalam keadaan terdesak.
Ketika persoalan selesai, hubungan dengan Tuhan dapat kembali melemah.
RP. Vitalis mengingatkan bahwa iman tidak boleh hanya muncul ketika manusia membutuhkan mukjizat.
Hubungan dengan Kristus harus tetap hidup dalam keadaan apa pun. Ketika mendapatkan keberhasilan, umat tetap bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, ia tetap percaya.
Ketiga, mengenal Yesus sebagai guru moral.
Pemahaman tersebut membuat seseorang melihat Kristus terutama sebagai pengajar tentang kebaikan dan etika. Ajaran-Nya kemudian dipatuhi sebatas aturan perilaku.
Menurut RP. Vitalis, pengenalan seperti itu juga belum cukup.
Yesus bukan hanya mengajarkan manusia tentang tindakan yang baik. Ia mengundang manusia untuk mengalami perubahan hati dan membangun hubungan yang hidup dengan Allah.
Kristus Menjadi Dasar Gereja
Pengakuan Petrus membawa para murid kepada pemahaman mengenai Gereja.
Yesus menyatakan, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”
RP. Vitalis menegaskan bahwa Gereja bukan hanya bangunan, struktur kepengurusan, program pastoral, atau kegiatan rutin.
Gereja merupakan kumpulan orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Struktur organisasi tetap diperlukan. Program juga dibutuhkan. Pelayanan harus direncanakan dengan baik agar dapat berjalan. Namun, seluruhnya tidak boleh kehilangan pusat.
Pusat Gereja adalah Kristus.
Ia mengingatkan bahwa ketika Kristus tidak lagi menjadi pusat, Gereja berisiko hanya menjadi organisasi.
Pernyataan tersebut menjadi ajakan agar seluruh kegiatan paroki selalu diarahkan pada tujuan utama, yakni membantu umat semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus.
Kegiatan tidak boleh sekadar mengejar jumlah. Pelayanan tidak boleh hanya menjadi rutinitas. Kepengurusan tidak boleh berhenti pada tugas administratif.
Semua harus menjadi sarana untuk membangun iman.
Pertobatan Dimulai dari Diri Sendiri
Salah satu bagian penting dalam homili ialah ajakan melakukan pertobatan.
RP. Vitalis mengajak umat bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang ingin diubah oleh Yesus dalam hidup saya?”
Pertanyaan itu membutuhkan keberanian untuk melihat diri secara jujur.
Setiap orang mempunyai kelemahan. Ada yang mudah marah. Ada yang sulit memaafkan. Ada yang masih memikirkan kepentingan pribadi. Ada pula yang kurang peduli terhadap keadaan orang lain.
Pertobatan dimulai ketika seseorang berani mengakui kelemahan tersebut.
Perubahan tidak harus langsung besar. Seseorang dapat memulainya dengan meminta maaf. Ia dapat belajar mendengarkan orang lain. Ia bisa mulai berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Langkah kecil tersebut menjadi bagian dari perjalanan iman.
Pertobatan juga membutuhkan komitmen. Niat yang baik harus diteruskan dengan tindakan.
RP. Vitalis menghubungkan pertumbuhan iman dengan dialog dan komitmen. Ketika seseorang mau berdialog dengan Tuhan dan melihat kembali kehidupannya, ia dapat menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki.
Paroki juga memiliki doa khusus. Doa tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat kehidupan rohani dan membangun kebersamaan umat.
Iman Harus Menentukan Arah Hidup
RP. Vitalis mengatakan bahwa iman yang benar akan memengaruhi arah kehidupan.
Ketika seseorang sungguh mengenal Kristus, keputusan yang diambil tidak lagi hanya berdasarkan kepentingan pribadi.
Ia mulai belajar memikirkan orang lain. Ia memahami bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi.
Iman membuat seseorang memiliki keberanian untuk melayani.
Kesaksian itu dapat dimulai dari keluarga. Orang tua memberikan teladan kepada anak. Anak belajar menghormati orang tua. Sesama anggota keluarga saling mendukung.
Kesaksian juga terlihat dalam lingkungan masyarakat. Kejujuran, kepedulian, kesabaran, dan kesediaan menolong merupakan bentuk sederhana dari kehidupan yang berakar pada iman.
Karena itu, RP. Vitalis mengajak umat menilai kembali kehidupan masing-masing.
Apakah hidup saya sudah menjadi kesaksian tentang Kristus?
Pertanyaan itu menjadi penting karena orang lain sering kali mengenal iman seseorang melalui perilakunya.
Kesaksian tidak selalu membutuhkan kata-kata panjang. Perbuatan sederhana justru dapat berbicara lebih kuat.
Dialog Membantu Iman Bertumbuh
Dalam kehidupan paroki, dialog menjadi salah satu sarana penting untuk membangun iman.
RP. Vitalis menegaskan bahwa ketika umat berani berdialog dan membuat komitmen, iman dapat bertumbuh.
Dialog memungkinkan seseorang menyampaikan pengalaman, mendengarkan sesama, dan menemukan jalan keluar dari persoalan bersama.
Kehidupan menggereja tidak dapat dibangun oleh satu orang. Gereja merupakan persekutuan.
Karena itu, setiap umat memiliki kesempatan untuk mengambil bagian.
Pelayanan liturgi, kegiatan lingkungan, pembinaan, doa bersama, kegiatan sosial, serta karya pastoral menjadi ruang bagi umat untuk bertumbuh.
Namun, seluruh kegiatan itu harus tetap diarahkan kepada Kristus.
Tahun 2033 Menjadi Momentum Refleksi
Dalam homili tersebut, RP. Vitalis juga menyebut tahun 2033 sebagai momentum penting untuk melihat perjalanan panjang Gereja.
Tahun tersebut dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk merefleksikan perjalanan iman Kristiani yang telah berlangsung sekitar dua ribu tahun dalam kaitannya dengan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.
Momentum tersebut tidak hanya berkaitan dengan sejarah.
Umat dapat menggunakannya untuk bertanya mengenai kondisi kehidupan Gereja saat ini.
Apakah umat semakin mengenal Kristus? Apakah keluarga semakin kuat dalam iman? Apakah anak-anak dan kaum muda mendapatkan pendampingan yang memadai? Apakah kehidupan Gereja sungguh menjadi kesaksian kasih?
Pertanyaan-pertanyaan itu dapat menjadi bahan pembaruan.
Perjalanan panjang Gereja juga menunjukkan bahwa iman terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tantangan zaman berubah, tetapi pusat iman tetap sama.
Kristus tetap menjadi dasar kehidupan Gereja.
Pelayanan Liturgi Melibatkan Banyak Umat
Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXI Tahun A di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berjalan dengan dukungan berbagai petugas liturgi.
Ibu Yohana Dani Oneng Wahyuni bertugas sebagai lektor. dr. Maria Fransisca Antonelly Schoggers, M.A.R.S. melayani sebagai pemazmur.
Pelayanan musik liturgi dilakukan oleh Cintia sebagai organis. Koor Lingkungan Santo Rafael turut mengambil bagian dalam perayaan.
Tugas dirigen pertama dijalankan oleh Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini, sedangkan Saudari Seva bertugas sebagai dirigen kedua.
Bacaan Injil Matius 16:13-20 dibawakan oleh Diakon Andreas Pisin, CP.
Keterlibatan para petugas memperlihatkan bahwa perayaan Ekaristi merupakan tanggung jawab bersama. Setiap orang memberikan sumbangan sesuai dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Pelayanan tersebut sekaligus menjadi bentuk partisipasi umat dalam kehidupan Gereja.
Ekaristi Menjadi Ruang Pembaruan
Perayaan Ekaristi bukan hanya tempat umat mendengarkan Sabda Tuhan. Perayaan tersebut juga menjadi ruang untuk memperbarui komitmen.
Sabda yang didengarkan perlu dibawa ke dalam kehidupan.
Pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias menjadi cermin bagi setiap umat. Pengakuan itu menuntut konsekuensi.
Jika seseorang sungguh percaya kepada Kristus, ia perlu menunjukkan kepercayaannya melalui tindakan.
Mengampuni menjadi bagian dari iman. Berbagi menjadi bagian dari iman. Melayani menjadi bagian dari iman. Bertobat juga menjadi bagian dari iman.
Dengan demikian, kehidupan umat tidak terpisah antara kegiatan Gereja dan kehidupan sehari-hari.
Apa yang dirayakan di dalam gereja perlu diteruskan di rumah dan masyarakat.
Menjawab Pertanyaan Yesus melalui Kehidupan
Perayaan Minggu Biasa XXI Tahun A di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang memberikan pesan kuat bagi seluruh umat.
Yesus bertanya kepada para murid, “Siapakah Aku ini menurut kamu?”
Pertanyaan tersebut kini menjadi pertanyaan bagi setiap orang.
Jawaban tidak cukup diberikan melalui kata-kata. Jawaban harus terlihat dalam kehidupan.
Mengenal Yesus sebagai tokoh agama tidak cukup. Mencari-Nya hanya ketika membutuhkan mukjizat juga tidak cukup. Memahami-Nya hanya sebagai guru moral belum membawa manusia pada pengenalan yang utuh.
Umat dipanggil untuk mengenal Kristus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup.
Pengenalan itu harus membawa perubahan.
Iman perlu menjadi kesaksian. Pertobatan perlu menjadi tindakan. Komitmen perlu menjadi pelayanan.
Gereja pun harus terus menjaga Kristus sebagai pusat. Struktur, program, dan kegiatan memiliki tempat penting, tetapi semuanya merupakan sarana.
Tujuan akhirnya adalah membawa umat semakin dekat kepada Tuhan dan menghadirkan kasih-Nya dalam kehidupan.
Dari Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, umat diajak membawa satu pertanyaan untuk direnungkan dalam kehidupan masing-masing: siapakah Yesus bagi saya?
Jawaban paling jujur bukan hanya apa yang diucapkan di dalam gereja. Jawaban itu terlihat setelah umat kembali ke rumah, bertemu keluarga, bekerja, bergaul dengan masyarakat, dan menghadapi persoalan hidup.
Di situlah iman diuji.
Di situlah pengakuan Petrus menemukan maknanya.
Dan di situlah umat dipanggil untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus sungguh menjadi pusat kehidupannya.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 23 Agustus 2026
.png)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar