Ketapang, 10 Oktober 2026.Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi Kongregasi Pasionis di Indonesia. Delapan puluh tahun telah berlalu sejak tiga misionaris Pasionis tiba di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 26 Juli 1946. Kedatangan mereka menandai babak baru perjalanan misi Katolik, terutama di wilayah Ketapang dan daerah sekitarnya. Sejak saat itu, karya pewartaan Injil berkembang melalui pelayanan pastoral, pendidikan, pendampingan umat, serta keterlibatan dalam kehidupan masyarakat.
Perjalanan delapan dekade tersebut bukan sekadar kisah tentang kedatangan para imam dari Eropa. Di dalamnya terdapat pengalaman manusia yang berani meninggalkan kenyamanan, menghadapi keterbatasan, membangun hubungan dengan masyarakat setempat, dan menanam benih iman di wilayah yang luas. Karya itu tumbuh melalui perjalanan panjang, kerja sama dengan umat, serta pengabdian banyak pribadi yang meneruskan pelayanan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Peringatan 80 tahun karya misi Pasionis di Indonesia menjadi kesempatan untuk mengenang sejarah sekaligus melihat kembali makna perutusan Gereja pada masa kini. Kenangan tersebut tidak berhenti pada penghormatan terhadap para pendahulu. Sejarah juga mengajak umat untuk memahami tanggung jawab dalam meneruskan iman, menjaga persaudaraan, memperhatikan pendidikan, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Belanda Menuju Tanah Kayong
Kisah kehadiran Pasionis di Ketapang berawal sebelum 1946. Pada 1939, Kongregasi Pasionis Provinsi Mater Sanctae Spei di Belanda mendapat penugasan untuk mengambil bagian dalam karya misi di Kalimantan Barat. Wilayah Ketapang menjadi daerah penting dalam rencana pelayanan tersebut.
Rencana perutusan itu tidak dapat langsung dilaksanakan. Situasi dunia, terutama Perang Dunia II, membuat keberangkatan para misionaris tertunda selama beberapa tahun. Meski demikian, rencana misi tetap menjadi bagian dari perhatian Kongregasi Pasionis.
Pada tahap awal, tiga imam yang dipilih untuk menjalankan perutusan itu ialah Pater Canisius Pijnappels, CP; Pater Theophile Seesing, CP; dan Pater Bernardinus Knippenberg, CP. Namun, karena alasan kesehatan, Pater Theophile tidak dapat berangkat bersama rombongan pertama. Posisinya kemudian digantikan oleh Pater Plechelmus Dullaert, CP.
Dengan demikian, tiga misionaris Pasionis yang akhirnya berangkat ke Indonesia adalah Pater Canisius Pijnappels, CP, Pater Bernardinus Knippenberg, CP, dan Pater Plechelmus Dullaert, CP. Mereka berasal dari Provinsi Mater Sanctae Spei di Belanda dan menerima tanggung jawab untuk memulai karya misi di wilayah yang memiliki tantangan geografis serta sosial yang tidak ringan.
Pada 18 Juni 1946, ketiganya meninggalkan Belanda dengan kapal Volendam. Setelah menempuh perjalanan panjang dan singgah di sejumlah tempat, mereka melanjutkan perjalanan menuju Indonesia. Pada 26 Juli 1946, mereka tiba di Pontianak menggunakan pesawat Dakota setelah sebelumnya berada di Jakarta.
Tanggal kedatangan tersebut menjadi penanda penting dalam sejarah karya Pasionis di Indonesia. Dari Pontianak, mereka mulai menjalankan tugas sesuai kebutuhan pelayanan. Pater Plechelmus menuju Ketapang, Pater Canisius ditempatkan di Nyarumkop sebelum kemudian berkarya di wilayah Ketapang, sedangkan Pater Bernardinus mempersiapkan diri untuk melayani umat Tionghoa dengan mempelajari bahasa yang diperlukan.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa misi tidak lahir dari satu keputusan sesaat. Ada persiapan, penantian, perubahan rencana, dan kesediaan menerima tugas. Delapan puluh tahun kemudian, pengalaman itu tetap mengingatkan bahwa karya Gereja membutuhkan ketekunan dan keterbukaan terhadap keadaan nyata.
Ketapang dan Tantangan Misi Sesudah Perang
Ketika para misionaris Pasionis mulai berkarya di Kalimantan Barat, masyarakat masih menghadapi dampak masa perang. Sarana transportasi terbatas, perjalanan antarkampung sulit, dan fasilitas pelayanan belum memadai. Wilayah yang harus dijangkau sangat luas, meliputi pusat kota, kawasan pesisir, jalur sungai, serta permukiman di pedalaman.
Dalam keadaan seperti itu, pelayanan pastoral tidak dapat hanya mengandalkan keberadaan gedung gereja. Para misionaris harus mendatangi umat, mengenal kehidupan masyarakat, serta menyesuaikan pelayanan dengan kondisi setempat. Perjalanan yang sekarang dapat ditempuh dengan kendaraan dalam waktu relatif singkat pada masa itu bisa memerlukan waktu panjang, bahkan harus dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan sarana transportasi sederhana.
Keterbatasan tersebut menuntut daya tahan fisik dan kesabaran. Para misionaris juga perlu belajar memahami bahasa, adat, kebiasaan, serta cara hidup masyarakat yang mereka layani. Hubungan dengan umat tidak dibangun hanya melalui pengajaran, tetapi juga melalui perjumpaan sehari-hari.
Pada masa awal, jumlah umat Katolik yang tercatat di wilayah Ketapang masih relatif kecil dibandingkan dengan luas daerah pelayanan. Catatan sejarah menyebutkan sekitar 146 umat pada akhir 1946. Angka itu memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi para perintis. Mereka harus melayani komunitas yang tersebar dan membangun kehidupan menggereja di tengah keterbatasan fasilitas.
Namun, kecilnya jumlah umat tidak membuat karya misi kehilangan makna. Setiap keluarga, anak, dan komunitas menjadi bagian penting dari pelayanan. Pembinaan iman, perayaan sakramen, pendidikan, serta kunjungan pastoral menjadi jalan untuk memperkuat kehidupan umat.
Sejarah awal ini memperlihatkan bahwa perkembangan Gereja tidak selalu dimulai dengan bangunan besar atau jumlah anggota yang banyak. Pertumbuhan dapat berawal dari kelompok kecil yang berkumpul untuk berdoa, menerima pendampingan, dan membangun persaudaraan. Dari kehidupan sederhana itulah, harapan untuk masa depan mulai tumbuh.
Tiga Misionaris, Satu Semangat Perutusan
Ketiga misionaris perintis memiliki tugas dan pengalaman pelayanan yang berbeda. Namun, mereka disatukan oleh semangat perutusan Kongregasi Pasionis, yang menempatkan kenangan akan sengsara dan wafat Yesus Kristus sebagai pusat spiritualitasnya.
Pater Bernardinus Knippenberg, CP: Mendampingi Umat di Pesisir
Pater Bernardinus Knippenberg, CP, dikenal di kalangan umat Tionghoa dengan nama Nai Seng Hu. Sebagai pemimpin misi, ia memiliki perhatian khusus terhadap umat Tionghoa yang tinggal di Ketapang dan wilayah pesisir.
Untuk mendukung tugas tersebut, ia mempelajari bahasa Tionghoa, khususnya bahasa Hakka atau Hak Lo. Kemampuan berbahasa menjadi jembatan penting dalam membangun komunikasi dan kedekatan dengan umat. Ia tidak hanya menyampaikan ajaran iman, tetapi juga berusaha memahami kebutuhan komunitas yang dipercayakan kepadanya.
Setelah tiba di Pontianak, Pater Bernardinus menyusul ke Ketapang pada 1 Oktober 1946. Pelayanannya mencakup perayaan Ekaristi, doa bersama, pendampingan keluarga, dan kunjungan ke komunitas yang tersebar di sepanjang pesisir. Bersama rekan-rekan misionaris, ia berupaya menjangkau umat yang selama masa perang mengalami keterbatasan pelayanan rohani.
Kehadirannya memperlihatkan pentingnya pewartaan yang menghargai bahasa dan latar belakang budaya masyarakat. Injil diwartakan dalam perjumpaan dengan manusia konkret. Karena itu, kemampuan mendengarkan, memahami, dan menghormati kebudayaan menjadi bagian penting dari pelayanan pastoral.
Catatan perjalanan dan pengalaman Pater Bernardinus kemudian menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah awal Gereja di Ketapang. Buku Catatan Harian Pater Bernardinus Knippenberg, CP: Jejak-Jejak Penyelamatan di Tanah Kayong (Ketapang) yang diterbitkan Keuskupan Ketapang pada 2018 membantu menjaga ingatan mengenai pengalaman para misionaris dan umat pada masa itu.
Pater Canisius Pijnappels, CP: Pewartaan dan Pendidikan
Pater Canisius Pijnappels, CP, memiliki hubungan khusus dengan Indonesia karena ia lahir di Yogyakarta pada 5 November 1911. Nama baptisnya ialah John Freddy Pijnappels. Setelah menjalani pendidikan di Indonesia, ia melanjutkan perjalanan panggilan religius ke Belanda dan menjadi anggota Kongregasi Pasionis.
Ia ditahbiskan menjadi imam pada 7 Mei 1939. Rencana keberangkatannya sebagai misionaris ke Kalimantan Barat tertunda akibat Perang Dunia II. Setelah penantian panjang, ia akhirnya berangkat bersama Pater Bernardinus dan Pater Plechelmus pada 1946.
Pelayanannya di Kalimantan Barat mencakup Tumbang Titi, Serengkah, dan Randau. Ia kemudian menjalankan berbagai tugas lain, termasuk menjadi pemimpin religius Pasionis dan memimpin Yayasan Usaba yang bergerak dalam bidang pendidikan. Pada 1966, ia menjadi pendiri sekaligus pastor paroki pertama Paroki Santo Martinus Balai Berkuak dan melayani di sana hingga 1973.
Karya Pater Canisius tidak terbatas pada pelayanan sakramental. Ia juga memberi perhatian terhadap pendidikan, terutama bagi anak-anak di wilayah pedalaman. Pendidikan menjadi jalan untuk membuka kesempatan, memperluas wawasan, dan membantu generasi muda mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Perhatian terhadap pendidikan anak perempuan juga menjadi bagian dari upayanya memperluas kesempatan belajar.
Pengabdian tersebut memperlihatkan bahwa pewartaan Injil memiliki hubungan erat dengan penghormatan terhadap martabat manusia. Pelayanan Gereja tidak berhenti pada kegiatan ibadat. Gereja juga dipanggil untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat dan membantu membuka kesempatan agar setiap orang dapat bertumbuh.
Pater Plechelmus Dullaert, CP: Menjangkau Wilayah Pedalaman
Pater Plechelmus Dullaert, CP, merupakan misionaris yang pertama menetap di Ketapang pada akhir Juli 1946. Setelah kedatangannya, ia mulai melayani umat serta berusaha memahami bahasa dan keadaan masyarakat setempat.
Tugasnya juga berkaitan dengan wilayah pedalaman, termasuk Tumbang Titi dan kawasan Randau. Perjalanan menuju komunitas-komunitas tersebut memerlukan kesabaran karena kondisi jalan, sarana transportasi, dan fasilitas pelayanan masih sangat terbatas.
Di wilayah seperti Tanjung dan Randau, gereja serta sekolah sederhana menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Para katekis dan guru agama turut membantu menjaga kehidupan iman umat. Kerja sama ini menjadi bukti bahwa karya misi tidak dapat dijalankan oleh para imam seorang diri.
Para katekis, guru, keluarga, dan umat setempat memiliki peran nyata dalam perkembangan komunitas Katolik. Mereka mengenal lingkungan, bahasa, dan kebutuhan masyarakat. Melalui kerja bersama, pelayanan dapat menjangkau lebih banyak keluarga dan bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Kisah Pater Plechelmus juga memperlihatkan bahwa karya misi merupakan perjalanan bersama. Para misionaris membawa tugas dan pengalaman mereka, sedangkan masyarakat setempat bukan sekadar penerima pelayanan. Mereka menjadi rekan yang ikut membentuk kehidupan Gereja di wilayahnya.
Dari Perintisan Menuju Pertumbuhan Gereja
Karya misi Pasionis di Ketapang berkembang melalui pelayanan yang berkelanjutan. Wilayah yang pada mulanya dilayani oleh sedikit misionaris kemudian memperoleh dukungan dari para anggota Kongregasi Pasionis yang datang pada masa berikutnya. Pelayanan juga melibatkan para religius, katekis, guru, serta umat awam.
Salah satu wilayah penting dalam perjalanan awal tersebut adalah Randau. Basis misi mulai dibuka di daerah ini pada 1948. Dari sana, pelayanan menjangkau komunitas-komunitas di sekitarnya. Tugas para misionaris tidak hanya berkaitan dengan perayaan Ekaristi, tetapi juga pembinaan iman, kunjungan pastoral, dan pendampingan kehidupan masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, karya misi berkembang ke berbagai tempat. Pelayanan yang semula berhadapan dengan jarak dan keterbatasan fasilitas mulai menghasilkan komunitas-komunitas yang lebih terorganisasi. Gereja, sekolah, dan pusat kegiatan umat menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan tersebut.
Perkembangan itu tidak terjadi dalam satu malam. Setiap tahap membutuhkan orang-orang yang bersedia melanjutkan pelayanan. Para misionaris generasi berikutnya meneruskan pekerjaan yang telah dimulai oleh para pendahulu, sementara umat setempat semakin terlibat dalam kehidupan paroki dan lingkungan.
Pada 26 Juni 1954, wilayah misi Ketapang ditetapkan menjadi Prefektur Apostolik. Selanjutnya, pada 3 Januari 1961, Ketapang resmi menjadi keuskupan. Peristiwa tersebut merupakan tonggak penting dalam sejarah Gereja Katolik di wilayah ini. Perkembangan kelembagaan berjalan bersama pertumbuhan komunitas umat dan perluasan pelayanan pastoral.
Sejarah ini menunjukkan bahwa Gereja dibangun melalui keterlibatan banyak orang. Para misionaris perintis memainkan peran penting, tetapi pertumbuhan Gereja juga ditopang oleh keluarga-keluarga Katolik, guru, katekis, tokoh masyarakat, para religius, serta umat awam yang menjaga kehidupan iman dari hari ke hari.
Karena itu, peringatan 80 tahun karya misi Pasionis tidak semestinya hanya berpusat pada nama-nama besar dalam sejarah. Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk mengingat banyak pribadi yang bekerja dalam kesederhanaan. Ada orang-orang yang mengajar anak-anak, mendampingi keluarga, menyiapkan perayaan liturgi, menjaga lingkungan, dan mewariskan iman kepada generasi berikutnya.
Spiritualitas Pasionis: Mengenang Sengsara Kristus, Melayani Sesama
Kongregasi Pasionis memiliki spiritualitas yang berpusat pada sengsara dan wafat Yesus Kristus. Kenangan akan kasih Kristus yang menyerahkan diri demi keselamatan manusia menjadi sumber semangat bagi kehidupan dan pelayanan para anggotanya.
Spiritualitas tersebut tidak berhenti pada devosi atau ungkapan rohani. Kenangan akan Kristus yang menderita mengajak setiap anggota untuk memperhatikan penderitaan manusia, terutama mereka yang menghadapi kemiskinan, keterbatasan, kesepian, dan ketidakadilan.
Dalam konteks karya misi, spiritualitas Pasionis menemukan bentuk nyata melalui kesediaan hadir di tengah masyarakat. Perjalanan panjang, fasilitas sederhana, keterbatasan komunikasi, dan kebutuhan umat menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi. Pelayanan menuntut ketekunan serta kesediaan untuk terus belajar dari kehidupan masyarakat.
Semangat ini tetap relevan bagi Gereja pada 2026. Tantangan zaman memang berbeda dari keadaan 1946. Teknologi komunikasi berkembang, transportasi lebih mudah di sejumlah wilayah, dan struktur pelayanan Gereja semakin tertata. Namun, kebutuhan manusia akan pendampingan, persaudaraan, pendidikan, dan harapan tetap ada.
Mengenang sengsara Kristus berarti belajar melihat sesama dengan penuh belas kasih. Gereja dipanggil untuk tidak mengabaikan mereka yang suaranya jarang didengar. Pelayanan harus memberi ruang bagi orang kecil, mendampingi keluarga yang menghadapi kesulitan, serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah perbedaan.
Dalam semangat tersebut, sejarah Pasionis dapat menjadi sumber inspirasi bagi kaum muda, keluarga, pelayan pastoral, dan seluruh umat. Setiap orang memiliki kesempatan mengambil bagian dalam misi melalui kemampuan serta tanggung jawabnya masing-masing.
Misi Bukan Hanya Kenangan Masa Lalu
Delapan puluh tahun karya misi Pasionis mengundang umat untuk bertanya: apa makna sejarah ini bagi kehidupan Gereja sekarang?
Pertanyaan tersebut penting karena peringatan sejarah dapat kehilangan daya hidup apabila hanya menjadi kegiatan seremonial. Mengenang masa lalu seharusnya membantu umat memahami keadaan masa kini dan menentukan langkah ke depan.
Pertama, sejarah misi mengajarkan ketekunan. Para perintis tidak langsung melihat seluruh hasil pekerjaan mereka. Mereka menanam benih dalam keadaan yang serba terbatas. Hasilnya bertumbuh melalui waktu dan dilanjutkan oleh banyak orang. Semangat ini dapat diterapkan dalam pelayanan lingkungan, pembinaan iman anak dan remaja, serta pendampingan keluarga.
Kedua, sejarah misi mengingatkan pentingnya pendidikan. Perhatian terhadap sekolah dan pembinaan generasi muda menunjukkan bahwa pelayanan Gereja perlu membantu manusia mengembangkan kemampuan dan martabatnya. Pada masa sekarang, tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan iman, pembentukan karakter, pendampingan kaum muda, serta kepedulian terhadap mereka yang kesulitan memperoleh kesempatan belajar.
Ketiga, karya para misionaris memperlihatkan arti kerja sama. Pelayanan yang menjangkau wilayah luas tidak mungkin ditopang satu orang atau satu kelompok saja. Imam, biarawan, biarawati, katekis, guru, keluarga, dan umat awam perlu saling mendukung. Gereja menjadi kuat ketika setiap anggota mengambil bagian sesuai panggilan dan kemampuannya.
Keempat, sejarah ini mengajak Gereja untuk menghormati kebudayaan masyarakat. Pengalaman para misionaris yang belajar bahasa dan membangun hubungan dengan komunitas setempat menunjukkan bahwa pewartaan membutuhkan sikap mendengarkan. Injil diwartakan dengan menghargai manusia, bukan dengan mengabaikan identitas dan pengalaman hidup mereka.
Kelima, peringatan 80 tahun menjadi kesempatan untuk menumbuhkan semangat misioner pada generasi muda. Anak-anak dan remaja perlu mengenal sejarah Gereja agar mereka memahami bahwa iman yang diterima sekarang memiliki perjalanan panjang. Pengetahuan tersebut dapat menumbuhkan rasa syukur sekaligus tanggung jawab untuk meneruskan karya pelayanan.
Misi bukan hanya tugas mereka yang diutus ke tempat jauh. Misi juga berlangsung di rumah, sekolah, tempat kerja, lingkungan, dan paroki. Ketika seseorang menghibur mereka yang berduka, membantu orang yang membutuhkan, mengajarkan kebaikan kepada anak-anak, atau membangun perdamaian di tengah perselisihan, ia ikut menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan nyata.
Meneruskan Warisan dengan Tanggung Jawab
Perjalanan 1946–2026 memperlihatkan bahwa karya misi Pasionis merupakan bagian dari sejarah panjang Gereja Katolik di Indonesia. Dari kedatangan tiga misionaris di Pontianak, pelayanan berkembang melalui berbagai wilayah dan generasi. Pengalaman mereka meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa catatan sejarah atau bangunan, tetapi juga semangat pengabdian.
Warisan itu perlu dirawat dengan cara yang bertanggung jawab. Kisah para pendahulu perlu dipelajari berdasarkan sumber sejarah, disampaikan dengan cermat, dan diwariskan kepada generasi muda tanpa menambahkan cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Penghormatan kepada para misionaris juga perlu disertai pengakuan terhadap peran masyarakat setempat yang ikut membangun kehidupan Gereja.
Pada saat yang sama, Gereja perlu terus memperbarui cara melayani. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, tantangan pendidikan, dan kebutuhan keluarga menuntut pendekatan yang sesuai dengan keadaan zaman. Semangat perutusan tetap sama, tetapi bentuk pelayanannya perlu menjawab kebutuhan manusia saat ini.
Peringatan 80 tahun karya misi Pasionis dapat menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan iman, mengembangkan kepedulian sosial, meningkatkan keterlibatan kaum muda, serta membangun kerja sama antara pelayan Gereja dan umat. Dengan demikian, perayaan sejarah tidak hanya melihat ke belakang, tetapi juga mengarahkan langkah menuju masa depan.
Delapan Puluh Tahun Kehadiran yang Terus Mengalir
Kehadiran memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar berada di suatu tempat. Kehadiran menjadi berarti ketika seseorang membawa kepedulian, membangun hubungan, dan membantu kehidupan orang lain bertumbuh. Dalam perjalanan karya Pasionis, makna itu tampak melalui pelayanan yang berlangsung di tengah umat dan masyarakat.
Para misionaris perintis telah menyelesaikan perjalanan hidup mereka. Namun, karya yang mereka mulai tidak berakhir bersama mereka. Benih yang ditanam terus dirawat oleh generasi berikutnya. Umat yang dahulu menerima pendampingan kini menjadi bagian dari sejarah yang diteruskan kepada anak-anak dan kaum muda.
Delapan puluh tahun perjalanan ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan misi tidak hanya diukur dari bertambahnya bangunan atau luasnya wilayah pelayanan. Ukuran yang lebih mendalam terletak pada tumbuhnya iman, kuatnya persaudaraan, meningkatnya kepedulian, serta kesediaan umat untuk menghadirkan kasih Kristus kepada sesama.
Dari Belanda menuju Kalimantan Barat, dari perjalanan laut menuju sungai dan jalan pedalaman, karya misi Pasionis tumbuh melalui langkah-langkah sederhana. Para perintis membawa iman dan harapan, sedangkan umat setempat memberikan kehidupan pada karya itu melalui keterlibatan mereka. Sejarah tersebut menjadi milik bersama, bukan hanya milik satu kongregasi atau satu generasi.
Pada usia ke-80, karya misi Pasionis di Indonesia mengajak Gereja untuk kembali kepada inti perutusan: menghadirkan kasih Allah melalui kehidupan yang nyata. Mengenang masa lalu berarti bersyukur atas pengorbanan para pendahulu. Melihat masa kini berarti menyadari tanggung jawab yang sedang diemban. Menatap masa depan berarti berani menanam benih kebaikan yang mungkin baru akan dinikmati generasi berikutnya.
Dengan semangat itu, peringatan 80 tahun bukanlah garis akhir. Perayaan ini menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen agar karya pelayanan terus berlanjut. Seperti benih yang tumbuh perlahan, misi membutuhkan kesetiaan, kesabaran, dan kerja bersama.
Delapan puluh tahun karya misi Pasionis di Indonesia adalah kisah tentang iman yang diwariskan, harapan yang dirawat, dan kasih yang terus dihidupi. Perjalanan itu mengundang setiap umat untuk tidak hanya mengenang apa yang telah dilakukan para pendahulu, tetapi juga mengambil bagian dalam karya pelayanan hari ini. Dengan demikian, semangat misi tetap hidup dan terus mengalir bagi Gereja, masyarakat, dan generasi yang akan datang.
Sumber rujukan:
Situs resmi Keuskupan Ketapang: https://keuskupanketapang.org
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 10 Oktober 2026


0 comments:
Posting Komentar