Ketapang, 9 Oktober 2026.Delapan puluh tahun kehadiran dan karya misi Pasionis di Indonesia pada 1946–2026 menjadi momentum untuk mengenang pengabdian Pater Canisius Pijnappels, CP, salah satu misionaris perintis yang berperan dalam perkembangan Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat. Imam yang lahir dengan nama John Freddy Pijnappels di Yogyakarta pada 5 November 1911 itu mengabdikan hidupnya untuk mewartakan Injil, membangun komunitas umat, mengembangkan pendidikan, serta mendampingi masyarakat Dayak di pedalaman. Pengabdiannya, terutama di Tumbang Titi, Serengkah, Randau, Sepotong, dan Balai Berkuak, menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Gereja Katolik di wilayah Ketapang.
Perjalanan hidup Pater Canisius memperlihatkan bahwa karya misi tidak hanya berlangsung melalui pewartaan di gereja. Pelayanan itu juga diwujudkan melalui pendidikan, pembinaan iman, pembangunan sarana masyarakat, dan pendampingan generasi muda. Dalam wilayah yang memiliki keterbatasan transportasi serta hubungan antarkampung, kehadiran misionaris menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan menggereja sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan.
Dari Yogyakarta Menuju Panggilan Hidup Religius
Pater Canisius Pijnappels lahir di Yogyakarta pada 5 November 1911. Nama baptisnya adalah John Freddy Pijnappels. Ayahnya merupakan perwira Belanda yang bertugas dalam Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), sedangkan ibunya adalah perempuan Indonesia. Ia tumbuh bersama dua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan dalam lingkungan keluarga yang membentuk masa awal kehidupannya.
Sebelum melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah di Yogyakarta, John Freddy pernah tinggal di asrama di Candi, Semarang. Masa pendidikan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebelum memilih jalan hidup sebagai imam.
Di seminari, ia membaca kisah Santo Gabriel Possenti, seorang santo muda dari Kongregasi Pasionis. Kisah kehidupan santo tersebut meninggalkan kesan mendalam dan menumbuhkan ketertarikannya pada spiritualitas Pasionis. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi panggilan untuk menjalani kehidupan religius.
Dengan persetujuan pimpinan seminari, ia diterima sebagai calon anggota Kongregasi Pasionis di Provinsi Belanda. Pada 5 Juli 1932, ia meninggalkan Indonesia menuju Belanda menggunakan kapal laut. Keberangkatan tersebut menjadi awal perjalanan panjang yang membawanya dari tanah kelahiran menuju kehidupan membiara dan persiapan menjadi misionaris.
Di Belanda, John Freddy mulai menjalani pembinaan religius dan menggunakan nama Canisius. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, bahasa, budaya, serta pola pendidikan yang berbeda dari pengalaman hidupnya di Indonesia. Proses tersebut menuntut ketekunan dan kesediaan untuk belajar.
Pada 6 September 1933, ia mengikrarkan kaul religius sebagai anggota Kongregasi Pasionis. Setelah menyelesaikan pendidikan teologi, ia ditahbiskan menjadi imam pada 7 Mei 1939.
Tahbisan tersebut membuka tahap baru dalam hidupnya. Sebagai imam Pasionis, ia dipersiapkan untuk menjalankan tugas pastoral dan mewartakan Injil melalui spiritualitas Sengsara Yesus Kristus. Spiritualitas ini menekankan kasih, pengorbanan, kesetiaan, dan perhatian terhadap penderitaan manusia.
Bagi Canisius, panggilan tersebut akhirnya membawanya kembali ke Indonesia. Negeri yang ditinggalkannya pada usia muda menjadi tempat ia mengabdikan sebagian besar hidupnya sebagai imam misionaris.
Perjalanan Misi yang Tertunda Perang Dunia II
Rencana pengiriman misionaris Pasionis ke Kalimantan Barat telah dipersiapkan sebelum Perang Dunia II. Pada 1939, Pater Dominikus selaku pemimpin provinsi menunjuk Pater Canisius Pijnappels, CP, Pater Theophile Seesing, CP, dan Pater Bernardinus Knippenberg, CP, untuk menjalankan karya misi di wilayah tersebut.
Pada masa itu, wilayah Ketapang masih berada di bawah pelayanan Vikariat Apostolik Pontianak. Luas wilayah dan terbatasnya jumlah tenaga pastoral membuat pelayanan kepada umat di pesisir maupun pedalaman belum dapat menjangkau semua komunitas secara teratur.
Perang Dunia II menunda keberangkatan Canisius selama beberapa tahun. Dalam masa penantian tersebut, ia mengajar di Seminari Menengah Pasionis di Haastrecht, Belanda. Tugas itu memberinya kesempatan untuk mendampingi para calon imam dan mempersiapkan diri bagi pekerjaan misi yang menantinya.
Pada 18 Juni 1946, rombongan misionaris Pasionis berangkat menggunakan kapal Belanda bernama Volendam. Pater Theophile Seesing tidak dapat mengikuti perjalanan karena kondisi kesehatannya belum memungkinkan. Pater Plechelmus Dullaert kemudian menggantikannya.
Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Pasionis di Indonesia. Setelah tiba, para misionaris menerima pembagian tugas sesuai kebutuhan pelayanan. Pada 26 Juli 1946, mereka melanjutkan perjalanan ke Pontianak menggunakan pesawat Dakota.
Pater Canisius kemudian menuju Nyarumkop sesuai pembagian tugas awal, sedangkan Pater Plechelmus melanjutkan perjalanan ke Ketapang. Pater Bernardinus tinggal sementara di Pontianak untuk mempelajari administrasi, kebijakan misi, serta bahasa Tionghoa sebelum menjalankan pelayanan bagi umat di Ketapang.
Dalam perkembangan selanjutnya, Pater Canisius dan Pater Plechelmus berkarya di kawasan Tumbang Titi, sedangkan Pater Bernardinus menetap di Ketapang kota. Ketiganya menjadi bagian dari kelompok awal misionaris Pasionis yang membantu memperkuat pelayanan Gereja setelah perang.
Kedatangan mereka berlangsung ketika umat Katolik tersebar di berbagai daerah. Komunitas Tionghoa banyak ditemukan di kawasan pesisir, sementara masyarakat Dayak tinggal di wilayah pedalaman. Kondisi geografis dan keragaman masyarakat menuntut pendekatan pastoral yang sesuai dengan kebutuhan setiap komunitas.
Pada masa awal tersebut, pelayanan masih menghadapi keterbatasan tenaga, sarana transportasi, dan fasilitas pendidikan. Para misionaris harus membangun hubungan dengan umat secara bertahap, mengenal keadaan setempat, serta mengembangkan pusat pelayanan yang dapat menjangkau kampung-kampung di sekitarnya.
Tumbang Titi, Serengkah, dan Randau Menjadi Medan Pelayanan
Karya misi Pater Canisius di Kalimantan Barat dimulai di wilayah Tumbang Titi dan Serengkah pada 1946–1949. Setelah itu, ia dipindahkan ke Randau dan menjalankan tugas pastoral di sana selama sekitar lima tahun, yakni 1949–1954.
Pelayanan di kawasan tersebut merupakan bagian dari perkembangan misi yang telah dirintis para misionaris Kapusin sebelum perang. Sejumlah tokoh awam juga telah mengambil peran dalam pengajaran agama dan pendidikan.
Sejarah Gereja di Ketapang mencatat bahwa Mgr. Pacificus Bos, OFM Cap, mengunjungi Serengkah pada Januari 1918 setelah memperoleh informasi tentang keberadaan masyarakat Dayak di wilayah tersebut. Ia memberikan pengajaran agama kepada Gumalo Moerial, yang kemudian dibaptis dengan nama Yosef.
Pada 1919, sekolah misi didirikan di Serengkah. Sekolah itu pada awalnya menggunakan bangunan sederhana dengan atap daun lalang dan kursi bambu. Perkembangan berikutnya ditopang oleh para guru dan tokoh masyarakat yang berperan dalam pendidikan serta pengajaran agama. Gereja di Serengkah kemudian dibangun pada 1931.
Di wilayah Matan Hulu, pelayanan misi berkembang di Randau sejak 1929. Sementara itu, Tumbang Titi dipilih sebagai pusat pelayanan pada 1937 karena letaknya dianggap strategis untuk menjangkau wilayah sekitarnya. Dua imam Kapusin, Pater Leo De Jong dan Pater Gerardus, menetap di sana pada 1938.
Kedatangan Pasionis setelah perang meneruskan proses yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Pater Canisius bekerja dalam lingkungan masyarakat yang telah mengenal pendidikan misi, tetapi masih membutuhkan penguatan kehidupan iman dan perluasan pelayanan.
Perpindahan tugas dari satu wilayah ke wilayah lain membuatnya berhadapan dengan kebutuhan pastoral yang beragam. Di setiap tempat, ia perlu mendampingi umat, melaksanakan pelayanan sakramental, memberikan pengajaran agama, dan membantu membangun komunitas yang dapat meneruskan kehidupan Gereja.
Tahun 1954 menjadi tahap penting dalam perjalanan pelayanannya. Pater Canisius ditunjuk sebagai superior religius Pasionis dan turut memimpin Yayasan Usaba yang bergerak dalam bidang pendidikan di wilayah Ketapang. Tugas tersebut membawanya kembali menetap di Ketapang dan memperluas tanggung jawabnya dalam pengembangan pendidikan.
Peran itu menunjukkan bahwa karya misi tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah umat. Pendidikan menjadi perhatian penting karena masyarakat membutuhkan kesempatan belajar untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kualitas hidup.
Mendirikan Paroki Santo Martinus Balai Berkuak
Nama Pater Canisius sangat erat dengan perkembangan Gereja Katolik di Balai Berkuak, wilayah Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Setelah bertugas di Sepotong pada 1964–1966, ia mendirikan dan melayani Paroki Santo Martinus Balai Berkuak pada 1966–1973.
Pendirian paroki tersebut merupakan bagian dari perluasan pelayanan Gereja di kawasan utara Ketapang. Masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman membutuhkan pusat pelayanan yang lebih dekat agar dapat memperoleh pendampingan rohani secara teratur.
Kehadiran paroki membantu membangun kehidupan menggereja yang lebih terorganisasi. Umat memiliki pusat untuk merayakan Ekaristi, menerima sakramen, mengikuti pengajaran iman, dan menyelenggarakan kegiatan bersama. Paroki juga menjadi ruang bagi pembinaan keluarga serta keterlibatan umat awam dalam pelayanan.
Pater Canisius menjalankan tugas pastoral di tengah kondisi geografis yang menantang. Jarak antarkampung dan keterbatasan sarana transportasi menjadi hambatan dalam menjangkau umat. Karena itu, pelayanan memerlukan kesabaran, perencanaan, dan kerja sama dengan masyarakat setempat.
Peran misionaris juga tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan umat. Tokoh awam, keluarga Katolik, guru, dan katekis membantu mempertahankan kehidupan iman di lingkungan masing-masing. Melalui kerja bersama, pelayanan dapat berlangsung meskipun seorang imam tidak selalu berada di setiap kampung.
Pendirian Paroki Santo Martinus Balai Berkuak menjadi salah satu bagian penting dari warisan Pater Canisius. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana pelayanan yang berawal dari kunjungan pastoral dan pengajaran iman dapat berkembang menjadi komunitas Gereja yang lebih terstruktur.
Pada 1973, ia dipindahkan ke Paroki Santa Gemma Ketapang dan menjalankan pelayanan di sana hingga 1978. Setelah itu, ia kembali bertugas di Sepotong pada 1978–1982.
Perpindahan tersebut menunjukkan keluasan tanggung jawab pastoral yang dipercayakan kepadanya. Ia tidak hanya melayani satu komunitas dalam seluruh perjalanan hidupnya, tetapi juga membantu kebutuhan Gereja di beberapa wilayah sesuai penugasan.
Pendidikan bagi Anak-Anak Dayak dan Masa Depan Masyarakat
Selain pelayanan sakramental, Pater Canisius memberikan perhatian besar terhadap pendidikan. Ia terlibat dalam pembukaan sekolah, pembangunan fasilitas dasar, dan upaya mendorong anak-anak Dayak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Perhatian tersebut juga mencakup anak-anak perempuan yang pada masa itu menghadapi berbagai keterbatasan dalam memperoleh kesempatan belajar. Dorongannya agar mereka bersekolah memperlihatkan kepedulian terhadap kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat.
Pendidikan memiliki arti penting bagi perkembangan komunitas pedalaman. Melalui sekolah, anak-anak dapat memperoleh kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan pengetahuan yang membantu mereka menghadapi perubahan sosial. Pendidikan juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan serta mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks karya Gereja, sekolah merupakan salah satu sarana pendampingan manusia secara utuh. Pewartaan iman berjalan bersama perhatian terhadap perkembangan intelektual, pembentukan karakter, dan penghargaan terhadap martabat setiap orang.
Pater Canisius tidak menjalankan upaya tersebut seorang diri. Pengembangan pendidikan membutuhkan dukungan masyarakat, tenaga pengajar, lembaga Gereja, dan pihak-pihak yang bersedia membantu penyediaan sarana. Keterlibatan mereka memungkinkan kegiatan pendidikan terus berjalan dan menjangkau lebih banyak anak.
Pengalaman Canisius dalam bidang pendidikan juga berkaitan dengan tugasnya di Yayasan Usaba. Lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya Gereja mengembangkan pelayanan pendidikan di wilayah Ketapang. Melalui tanggung jawab itu, perhatian terhadap sekolah dan pembinaan generasi muda semakin menonjol dalam perjalanan pengabdiannya.
Pendidikan tidak selalu memberikan hasil yang langsung terlihat. Perubahan berlangsung melalui proses panjang, mulai dari kesempatan bersekolah, pembentukan kebiasaan belajar, hingga berkembangnya kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan bagi masa depannya.
Karena itu, warisan pendidikan Pater Canisius tidak hanya dapat dilihat dari keberadaan bangunan sekolah. Nilai pentingnya terletak pada perhatian terhadap anak-anak yang membutuhkan kesempatan belajar dan pada dorongan agar masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan.
Pembina Calon Pasionis di Batu, Malang
Setelah lebih dari tiga dekade menjalankan pelayanan di Kalimantan Barat, usia dan kondisi kesehatan mulai membatasi aktivitas Pater Canisius. Pada Juli 1982, ia pindah ke Novisiat Pasionis di Batu, Malang.
Di tempat tersebut, ia menerima tugas sebagai pemimpin rumah atau superior sekaligus pembina para postulan. Peran itu menjadi babak baru dalam perjalanan panggilannya. Setelah lama melayani umat di pedalaman dan mengembangkan pendidikan, ia kini mendampingi generasi muda yang sedang mempertimbangkan kehidupan religius.
Sebagai Pasionis yang lahir di Indonesia, pengalaman hidupnya memiliki nilai tersendiri bagi para calon anggota tarekat. Ia telah menjalani pendidikan religius di Belanda, menghadapi penantian panjang akibat perang, kemudian mengabdikan diri di berbagai wilayah Ketapang.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kesaksian hidup yang dapat dibagikan kepada generasi berikutnya. Pembinaan panggilan tidak hanya berlangsung melalui pengajaran, tetapi juga melalui teladan kesetiaan, kesederhanaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan religius.
Perannya di Batu juga menunjukkan bahwa karya misi tidak berakhir ketika seorang imam meninggalkan wilayah pelayanan sebelumnya. Pengalaman pastoral dapat diteruskan melalui pembinaan calon anggota tarekat yang kelak menjalankan pelayanan di tempat lain.
Dengan demikian, pengabdiannya memiliki dua dimensi yang saling berkaitan. Di Ketapang, ia mendampingi umat dan mengembangkan pendidikan. Di Batu, ia membantu mempersiapkan generasi yang akan meneruskan spiritualitas serta pelayanan Kongregasi Pasionis.
Akhir Hidup dan Kerinduan Kembali ke Indonesia
Pada Februari 1986, Pater Canisius kembali ke Belanda untuk menjalani cuti sekaligus mengunjungi keluarganya. Setelah puluhan tahun berkarya di Indonesia, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk bertemu kembali dengan kerabat dan lingkungan yang berkaitan dengan masa mudanya.
Namun, kesehatannya menurun tidak lama setelah kedatangannya. Pada 16 Maret 1986, ia mulai merasa tidak enak badan dan didiagnosis mengalami flu ringan. Keesokan harinya, 17 Maret 1986, Bruder Martinus menemukannya dalam keadaan koma di kamarnya di Biara Santo Gabriel, Haastrecht.
Pater Canisius kemudian wafat pada 17 Maret 1986. Kepergiannya mengakhiri perjalanan seorang imam yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan misi dan pembinaan umat.
Menurut kisah hidupnya yang dipublikasikan Keuskupan Ketapang, ia masih menyimpan kerinduan untuk kembali ke Indonesia. Kerinduan itu mencerminkan ikatan yang terbentuk selama puluhan tahun antara dirinya dan masyarakat yang dilayaninya.
Bagi umat di wilayah Ketapang, ia dikenang sebagai Pastor Canis, seorang misionaris yang terlibat dalam pelayanan pastoral dan pendidikan. Pengabdiannya mencakup pembangunan komunitas Gereja, pendampingan umat di pedalaman, serta upaya membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak.
Delapan Puluh Tahun Karya Pasionis dan Warisan Pelayanan
Peringatan 80 tahun karya Pasionis di Indonesia pada 2026 menjadi kesempatan untuk menempatkan kembali pengabdian Pater Canisius dalam sejarah Gereja Katolik di Ketapang. Delapan dekade sejak kedatangan para misionaris pada 1946 memperlihatkan perjalanan panjang yang melibatkan banyak imam, bruder, suster, guru, katekis, dan umat awam.
Perkembangan kelembagaan Gereja menjadi salah satu penanda perjalanan tersebut. Pada 26 Juni 1954, wilayah misi Ketapang ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik. Selanjutnya, pada 3 Januari 1961, statusnya berubah menjadi keuskupan. Perubahan itu berjalan bersama pertumbuhan komunitas umat dan perluasan pelayanan pastoral.
Dalam proses tersebut, Pater Canisius mengambil bagian melalui tugas-tugas konkret. Ia melayani di berbagai wilayah, membantu mendirikan Paroki Santo Martinus Balai Berkuak, mengembangkan pendidikan, dan mendampingi generasi muda. Karya-karya itu merupakan bagian dari usaha bersama yang membentuk kehidupan Gereja di wilayah Ketapang.
Warisan pengabdiannya dapat dilihat melalui tiga bidang utama. Pertama, pewartaan iman yang diwujudkan melalui pelayanan pastoral dan pembentukan komunitas paroki. Kedua, pendidikan yang memberikan perhatian kepada masa depan anak-anak dan masyarakat pedalaman. Ketiga, pembinaan generasi penerus, baik melalui pendidikan umum maupun pendampingan calon anggota Pasionis.
Mengenang Pater Canisius bukan berarti menempatkan seluruh perkembangan Gereja sebagai hasil karya seorang tokoh. Sejarah Ketapang juga dibangun oleh masyarakat setempat yang mempertahankan kehidupan iman, para guru yang mengajar, katekis yang mendampingi umat, serta keluarga yang menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada anak-anak mereka.
Perjalanan delapan puluh tahun ini mengingatkan bahwa karya misi hanya dapat berkelanjutan ketika pewartaan berjalan bersama pelayanan nyata. Pendidikan, pendampingan umat, pembinaan kaum muda, dan kerja sama dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan Gereja.
Pater Canisius Pijnappels, CP, telah wafat pada 1986, tetapi pengabdiannya tetap menjadi bagian dari sejarah Pasionis di Indonesia. Jejaknya di Tumbang Titi, Serengkah, Randau, Sepotong, Balai Berkuak, dan Ketapang menunjukkan bagaimana panggilan religius diwujudkan melalui kesetiaan menjalankan tugas dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam momentum 80 tahun karya misi Pasionis, kisah hidupnya mengajak generasi sekarang untuk meneruskan semangat pelayanan dengan memperhatikan kebutuhan umat, memperluas kesempatan pendidikan, serta membangun komunitas yang saling mendukung.
Perjalanan Pater Canisius menjadi pengingat bahwa karya misi bukan hanya tentang kedatangan para misionaris dari negeri jauh. Karya itu menjadi nyata ketika mereka bekerja bersama masyarakat, menumbuhkan harapan, dan menyiapkan generasi yang mampu meneruskan kehidupan iman.
Dari Yogyakarta menuju Belanda, kemudian kembali mengabdi di Indonesia, perjalanan hidup Pater Canisius Pijnappels, CP, menjadi bagian dari kisah panjang Gereja Katolik di Ketapang. Delapan puluh tahun karya Pasionis pada 1946–2026 memberikan kesempatan untuk mengenang warisan tersebut sekaligus meneguhkan tanggung jawab melanjutkan pelayanan bagi generasi mendatang.
Sumber: https://keuskupanketapang.org
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 9 Oktober 2026

0 comments:
Posting Komentar