RP. Bernardinus Knippenberg, CP: Jejak Misi Pasionis dari Ketapang untuk Indonesia

 

Ketapang, 9 Oktober 2026.Delapan puluh tahun kehadiran Kongregasi Pasionis di Indonesia menjadi momentum untuk mengenang perjalanan misi Katolik di Kalimantan Barat, khususnya melalui pelayanan RP. Bernardinus Knippenberg, CP. Misionaris asal Belanda yang dikenal oleh umat Katolik Tionghoa dengan nama Nai Seng Hu itu merupakan salah satu perintis karya Pasionis di wilayah Ketapang. Sejak tiba di Indonesia pada 1946, ia mengambil tanggung jawab pelayanan di pusat kota Ketapang dengan perhatian khusus kepada umat Katolik keturunan Tionghoa. Kemampuan berbahasa Tionghoa, pengalaman pastoral, serta keterlibatannya dalam perkembangan awal misi menjadikan sosoknya bagian penting dari sejarah Gereja Katolik di wilayah tersebut.

Peringatan 80 tahun karya misi Pasionis pada 2026 mengajak umat melihat kembali perjalanan panjang pewartaan Injil yang berlangsung di tengah keberagaman masyarakat, keterbatasan tenaga pastoral, dan tantangan sejarah. Perjalanan itu tidak dapat dilepaskan dari pengabdian para misionaris perintis, termasuk RP. Bernardinus Knippenberg, CP, yang datang bersama Kongregasi Pasionis untuk membantu pelayanan Gereja di Kalimantan Barat.

Kehadirannya bukan sekadar bagian dari perpindahan para misionaris dari Eropa ke Indonesia. Bernardinus datang dengan tanggung jawab khusus untuk mempersiapkan diri melayani masyarakat Tionghoa. Tugas tersebut menuntut penguasaan bahasa, pemahaman terhadap lingkungan masyarakat, serta kesediaan tinggal dan berkarya di wilayah yang memiliki kondisi sosial dan budaya berbeda dari tempat asalnya.

Jejak pelayanan Bernardinus memperlihatkan bahwa sejarah misi tidak hanya dibangun melalui pendirian gereja dan pembukaan stasi. Sejarah itu juga terbentuk melalui perjumpaan sehari-hari, pelayanan sakramental, pendampingan umat, dan usaha menjaga kehidupan iman dalam komunitas yang tersebar di berbagai wilayah.

Persiapan panjang sebelum berangkat ke Indonesia

Kisah misi Pasionis di Ketapang berawal dari kebutuhan pelayanan Gereja yang semakin besar di Kalimantan Barat. Wilayah pelayanan yang luas membuat tenaga pastoral yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh umat secara maksimal. Sebelum kedatangan Pasionis, para misionaris Kapusin telah bekerja di sejumlah daerah, termasuk Tumbang Titi, Serengkah, dan wilayah sekitarnya.

Perkembangan komunitas Katolik di daerah pesisir dan pedalaman menuntut perhatian lebih besar. Umat tinggal dalam lingkungan masyarakat yang beragam, meliputi orang Melayu, Tionghoa, dan masyarakat Dayak. Kondisi geografis serta jarak antarkampung menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan pastoral.

Dalam situasi tersebut, permintaan bantuan kepada Kongregasi Pasionis memperoleh tanggapan positif. Pada 1939, Pater Dominikus selaku pimpinan provinsi menunjuk tiga misionaris untuk mempersiapkan karya di Kalimantan Barat. Mereka adalah Pater Canisius Pijnappels, CP, Pater Theophile Seesing, CP, dan Pater Bernardinus Knippenberg, CP.

Persiapan itu tidak hanya menyangkut perjalanan menuju wilayah misi. Para calon misionaris juga perlu mempelajari bahasa yang akan digunakan dalam pelayanan. Atas usul Mgr. van Valenberg, dua misionaris dipersiapkan untuk mempelajari bahasa Melayu, sedangkan Bernardinus mendapat tugas mempelajari bahasa Tionghoa selama empat tahun.

Pembagian tugas tersebut menunjukkan bahwa pelayanan misi dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat setempat. Penguasaan bahasa menjadi bagian penting dari persiapan karena pewartaan iman membutuhkan komunikasi yang dapat dipahami umat.

Bagi Bernardinus, pembelajaran bahasa Tionghoa menjadi bekal utama untuk menjalankan tanggung jawabnya di Ketapang. Ia perlu mempersiapkan diri agar dapat berkomunikasi dengan umat yang akan dilayaninya. Kemampuan tersebut kemudian menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam perjalanan pastoralnya.

Keputusan mempersiapkan para misionaris sejak 1939 juga memperlihatkan bahwa kedatangan mereka pada 1946 merupakan bagian dari rencana misi yang telah disusun beberapa tahun sebelumnya. Namun, pecahnya Perang Dunia II mengubah keadaan dan membuat perjalanan tersebut tertunda.

Perjalanan menuju Indonesia pada 1946

Pada 18 Juni 1946, tiga misionaris Pasionis berangkat dari Belanda menggunakan kapal laut Bolendam. Perjalanan itu menjadi bagian penting dalam sejarah awal Kongregasi Pasionis di Indonesia.

Namun, susunan rombongan yang berangkat berbeda dari rencana awal. Pater Theophile Seesing, CP, belum dapat ikut karena kondisi kesehatannya. Ia digantikan oleh Pater Plechelmus Dullaert, CP. Dengan demikian, tiga misionaris yang memulai perjalanan menuju Indonesia ialah Canisius Pijnappels, Bernardinus Knippenberg, dan Plechelmus Dullaert.

Pada 26 Juli 1946, para misionaris melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat Dakota menuju Pontianak. Setibanya di Kalimantan Barat, mereka menerima penugasan sesuai kebutuhan pelayanan yang telah direncanakan.

Plechelmus Dullaert langsung menuju Ketapang, sedangkan Canisius Pijnappels menuju Nyarumkop. Bernardinus tetap tinggal di Pontianak selama beberapa waktu untuk mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan misi.

Persiapannya mencakup pengetahuan tentang karya pastoral, administrasi, kearsipan, kebijakan misi, pemerintahan, serta agama-agama lain. Ia juga memperdalam bahasa Tionghoa, khususnya bahasa yang dalam catatan sejarah disebut sebagai Hok Lo.

Masa persiapan tersebut menjadi bekal sebelum Bernardinus menjalankan tugas di Ketapang. Pelayanan di daerah baru tidak hanya memerlukan pengetahuan keagamaan, tetapi juga pemahaman mengenai keadaan masyarakat, tata kelola misi, dan lingkungan sosial tempat Gereja hadir.

Pada 1 Oktober 1946, Bernardinus tiba di Ketapang. Kedatangannya menandai dimulainya tugas pelayanan secara langsung di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Pada November tahun yang sama, ketiga misionaris Pasionis telah berada di wilayah Ketapang. Canisius dan Plechelmus berkarya di pedalaman, sementara Bernardinus menetap di pusat kota.

Pembagian wilayah itu menempatkan Bernardinus pada pelayanan umat Katolik Tionghoa di kawasan pesisir. Penugasan tersebut sesuai dengan persiapan bahasa yang telah dijalaninya sebelum berangkat dari Belanda.

Nai Seng Hu dan kedekatannya dengan umat Tionghoa

Di kalangan umat Katolik Tionghoa, Bernardinus dikenal dengan nama Nai Seng Hu. Nama tersebut menjadi penanda kedekatannya dengan komunitas yang dilayani.

Penguasaan bahasa Tionghoa merupakan salah satu bekal penting dalam pelayanannya. Melalui bahasa yang dipahami umat, komunikasi pastoral dapat berlangsung lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Bahasa juga menjadi sarana untuk menyampaikan ajaran iman, mendampingi umat, serta membangun hubungan dalam komunitas.

Bernardinus menjalankan pelayanan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa beragam. Umat Katolik Tionghoa di Ketapang mempunyai pengalaman sosial yang berbeda dari komunitas di pedalaman. Karena itu, penugasan khusus kepadanya memperlihatkan perhatian misi terhadap kebutuhan pastoral yang tidak seragam.

Kedekatan dengan umat tidak dapat dipisahkan dari kesediaan seorang misionaris untuk memahami lingkungan tempat ia berkarya. Persiapan bahasa yang berlangsung selama bertahun-tahun menjadi salah satu bentuk kesediaan tersebut.

Catatan sejarah menyebut bahwa Bernardinus menetap di pusat kota Ketapang untuk melayani umat Katolik keturunan Tionghoa yang telah berada di kawasan itu sejak awal abad ke-20. Sementara itu, rekan-rekannya mengembangkan pelayanan di wilayah pedalaman.

Pembagian tanggung jawab ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan Gereja. Setiap wilayah memiliki kebutuhan dan tantangan tersendiri. Kehadiran misionaris yang memiliki penugasan berbeda memungkinkan pelayanan dilakukan dengan perhatian lebih terarah.

Nama Nai Seng Hu kemudian menjadi bagian dari ingatan sejarah mengenai hubungan antara Bernardinus dan umat Tionghoa di Ketapang. Nama tersebut tidak hanya menunjuk kepada seorang misionaris, tetapi juga mengingatkan pada perjumpaan antara pewartaan Injil dan kehidupan masyarakat setempat.

Melayani Gereja yang masih berkembang

Ketika para misionaris Pasionis tiba di Ketapang pada 1946, jumlah umat Katolik masih terbatas dan tersebar di beberapa tempat. Catatan sejarah menyebut bahwa pada masa awal pelayanan tersebut, umat Katolik di Ketapang berjumlah sekitar 140 orang. Dari jumlah itu, 106 orang merupakan umat Tionghoa, 19 orang Dayak, dan 10 orang Belanda. Selebihnya berada di stasi-stasi.

Umat tinggal di sejumlah kawasan, antara lain Sungai Awan, Teluk Batang, Sukadana, dan Pulau Kumbang. Persebaran tersebut menunjukkan bahwa pelayanan tidak hanya berpusat di kota, tetapi juga mencakup komunitas yang berada jauh dari pusat misi.

Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah umat Katolik di seluruh wilayah pelayanan yang berkaitan dengan misi Ketapang masih kurang dari 600 orang hingga masa awal kehadiran para Pasionis. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa Gereja sedang berada dalam tahap pengembangan. Pelayanan membutuhkan ketekunan, tenaga pastoral, serta hubungan yang berkelanjutan dengan komunitas-komunitas yang tersebar.

Sampai Juni 1947, ketiga misionaris Pasionis masih didampingi oleh dua pastor Kapusin, yakni Pater Martinus dan Pater Leo De Jong. Kehadiran para misionaris Kapusin menunjukkan kesinambungan pelayanan yang telah berjalan sebelum Pasionis datang.

Bagi Bernardinus, tugas di Ketapang berlangsung dalam konteks Gereja yang sedang menata pelayanan dan memperkuat kehidupan umat. Ia tidak bekerja sendirian dalam keseluruhan wilayah misi. Rekan-rekannya menangani daerah lain, sementara kerja sama antarmisionaris membantu menjaga keberlangsungan pelayanan.

Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa perkembangan Gereja merupakan proses bertahap. Pertumbuhan komunitas membutuhkan pendampingan, pembinaan iman, dan pelayanan yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat. Tidak semua perubahan berlangsung cepat, terlebih ketika jarak geografis dan keterbatasan tenaga menjadi hambatan.

Perjalanan Bernardinus menjadi salah satu bagian dari proses itu. Ia hadir pada masa ketika pelayanan pastoral di Ketapang mulai memperoleh perhatian lebih besar setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Dari misi Ketapang menuju perkembangan Gereja

Kehadiran Pasionis membawa perhatian baru terhadap wilayah selatan Kalimantan Barat. Sebelum perang, wilayah tersebut belum dapat dilayani secara maksimal oleh Prefektur Apostolik Pontianak karena luasnya daerah dan terbatasnya tenaga misionaris.

Setelah Perang Dunia II berakhir, kedatangan para Pasionis membantu memperkuat pelayanan. Wilayah karya mereka pada tahap awal mencakup Ketapang, Sukadana, dan Telok Melano. Masyarakat di kawasan itu memiliki latar belakang yang beragam, baik di daerah pesisir maupun pedalaman.

Perluasan karya berlangsung secara bertahap. Pada 1948, misi membuka wilayah baru di Randau. Pada awal 1949, pelayanan berkembang ke Tanjung. Dengan demikian, wilayah misi mencakup empat daerah utama, yaitu Tumbang Titi, Ketapang, Randau, dan Tanjung. Pada 1953, misi membuka basis di Sepotong, wilayah Sungai Laur.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada satu pusat kegiatan. Wilayah baru memerlukan perhatian dan pendampingan agar umat dapat memperoleh pelayanan yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

Bernardinus menjalankan tugasnya di tengah proses perluasan tersebut. Meskipun tidak semua wilayah berada di bawah pelayanan langsungnya, keberadaannya di Ketapang menjadi bagian dari pembagian tanggung jawab yang memungkinkan karya misi berkembang secara lebih luas.

Pada 1 Juli 1950, Mgr. van Valenberg mengangkat Pater Raphael Kleyne, CP, sebagai vicarius delegatus untuk daerah misi Ketapang. Perubahan tanggung jawab kepemimpinan kemudian terus berlangsung seiring perkembangan organisasi Gereja.

Pada 27 Februari 1952, Pater Raphael Kleyne dan Bruder Caspard Ridder de van de Schueren meninggal dunia akibat kecelakaan motor air di Sungai Pesaguan. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah misi yang juga diwarnai risiko dalam pelayanan di wilayah dengan kondisi geografis menantang.

Pada 1953, Pater Gabriel W. Sillekens, CP, diangkat menjadi superior religius Pasionis untuk misi Ketapang sekaligus vicarius delegatus. Perkembangan organisasi ini menjadi salah satu tahap menuju pembentukan struktur Gereja yang lebih mandiri.

Pada 26 Juni 1954, Paus Pius XII menetapkan perubahan status misi Ketapang menjadi Prefektur Apostolik. Pater Gabriel W. Sillekens, CP, menjadi prefek pertama. Wilayah Sekadau dan Meliau kemudian digabungkan ke dalam prefektur tersebut sehingga luas wilayahnya mencapai sekitar 42.800 kilometer persegi.

Perubahan status ini merupakan tonggak penting dalam perkembangan Gereja Katolik di Kalimantan Barat. Pelayanan yang sebelumnya berada dalam struktur misi berkembang menuju tata organisasi gerejawi yang lebih mantap.

Selanjutnya, pada 3 Januari 1961, Prefektur Apostolik Ketapang ditingkatkan menjadi keuskupan. Gabriel W. Sillekens, CP, diangkat menjadi administrator apostolik dan kemudian menjadi Uskup Ketapang pada 28 April 1962.

Perkembangan kelembagaan itu merupakan hasil perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak. Para misionaris, imam, bruder, guru agama, tokoh awam, dan umat setempat mempunyai peranan dalam membangun kehidupan Gereja. Karena itu, sejarah Bernardinus perlu dibaca sebagai bagian dari karya bersama yang melampaui satu orang atau satu generasi.

Catatan sejarah sebagai warisan misi

Salah satu warisan penting yang berkaitan dengan Bernardinus ialah catatan pengalaman pelayanannya. Pengalaman tersebut dibukukan dalam karya berjudul Catatan Harian Pater Bernardinus Knippenberg, CP: Jejak-Jejak Penyelamatan di Tanah Kayong (Ketapang), yang disunting oleh Amon Stefanus dan diterbitkan oleh Keuskupan Ketapang pada 2018.

Buku tersebut menjadi salah satu sumber sejarah untuk memahami perjalanan misi Pasionis di Ketapang. Catatan harian memiliki nilai penting karena membantu merekam pengalaman, peristiwa, dan keadaan yang dihadapi seorang misionaris selama berkarya.

Sejarah Gereja tidak hanya disusun berdasarkan tanggal pendirian lembaga atau perubahan status wilayah. Pengalaman para pelaku juga memberikan gambaran mengenai kehidupan umat, kondisi pelayanan, dan tantangan yang menyertai perjalanan misi.

Dalam konteks ini, catatan Bernardinus membantu generasi berikutnya mengenal salah satu sosok yang hadir pada tahap awal perkembangan misi Pasionis di Ketapang. Dokumen sejarah seperti itu juga menjadi pengingat bahwa karya Gereja tumbuh melalui proses panjang yang membutuhkan pencatatan, pemeliharaan arsip, dan penelitian.

Peringatan 80 tahun pada 2026 memberi kesempatan untuk kembali memperhatikan sumber-sumber sejarah tersebut. Generasi muda dapat mempelajari perjalanan para misionaris sekaligus memahami kontribusi umat lokal yang ikut membangun komunitas Katolik.

Pembacaan sejarah secara cermat juga penting agar penghormatan kepada para pendahulu tetap berpijak pada fakta. Setiap tokoh mempunyai peran dan konteks pelayanan yang berbeda. Dengan menempatkan pengalaman mereka secara tepat, sejarah misi dapat dipahami sebagai perjalanan bersama yang kaya akan pengalaman manusiawi.

Makna pelayanan Bernardinus bagi generasi sekarang

Delapan puluh tahun setelah kedatangan para misionaris Pasionis pada 1946, sosok Bernardinus Knippenberg tetap relevan untuk dikenang dalam sejarah Gereja Katolik di Ketapang. Relevansi itu terutama terlihat melalui persiapan bahasa, kesediaan menerima penugasan, dan keterlibatannya dalam pelayanan umat Tionghoa.

Kisahnya memperlihatkan bahwa pewartaan iman memerlukan kesiapan untuk memahami orang lain. Sebelum tiba di Ketapang, Bernardinus mempelajari bahasa yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya. Persiapan tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan tidak dapat dilepaskan dari komunikasi dan pemahaman terhadap masyarakat.

Bagi Gereja masa kini, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan refleksi dalam membangun pelayanan pastoral yang menghargai keragaman. Umat datang dari latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman hidup yang berbeda. Perbedaan itu membutuhkan pendekatan yang terbuka dan kesediaan untuk mendengarkan.

Selain itu, sejarah Bernardinus mengingatkan bahwa karya Gereja berkembang melalui kerja sama. Ia melayani umat di kota Ketapang, sementara rekan-rekannya berkarya di wilayah pedalaman. Pembagian tugas tersebut memperlihatkan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjangkau umat yang tersebar di wilayah luas.

Perkembangan dari misi menjadi Prefektur Apostolik pada 1954 dan kemudian menjadi Keuskupan Ketapang pada 1961 juga mengingatkan bahwa pertumbuhan Gereja berlangsung melalui proses yang panjang. Perubahan kelembagaan tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan kebutuhan pelayanan dan perkembangan komunitas umat.

Karena itu, peringatan 80 tahun tidak semestinya berhenti pada penghormatan terhadap masa lalu. Momentum ini juga dapat mendorong umat untuk mempelajari sejarah Gereja secara lebih mendalam, merawat dokumentasi, serta meneruskan semangat pelayanan sesuai kebutuhan zaman.

Bagi generasi muda, kisah para misionaris perintis dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal asal-usul komunitas mereka. Sejarah membantu umat memahami bahwa gereja, komunitas basis, dan kehidupan iman yang mereka jalani sekarang mempunyai perjalanan panjang. Pengetahuan tersebut dapat menumbuhkan penghargaan terhadap pengorbanan para pendahulu dan tanggung jawab untuk menjaga warisan iman.

Mengenang seorang perintis, merawat sejarah bersama

RP. Bernardinus Knippenberg, CP, merupakan salah satu tokoh yang menempati tempat penting dalam sejarah awal misi Pasionis di Ketapang. Ia datang ke Indonesia pada 1946 setelah menjalani persiapan panjang, termasuk mempelajari bahasa Tionghoa. Setibanya di Ketapang pada 1 Oktober tahun itu, ia menetap di pusat kota dan melayani umat Katolik keturunan Tionghoa.

Nama Nai Seng Hu menjadi bagian dari ingatan mengenai dirinya di kalangan umat yang dilayani. Penugasan dan persiapan bahasanya memperlihatkan bagaimana misi berusaha menyesuaikan pelayanan dengan keadaan masyarakat setempat.

Perjalanan Bernardinus berlangsung ketika Gereja Katolik di Ketapang sedang berkembang. Jumlah umat masih terbatas, wilayah pelayanan tersebar, dan tenaga pastoral menghadapi tantangan geografis serta sosial. Dalam keadaan tersebut, para misionaris Pasionis bersama para pendahulu dan umat setempat ikut membangun dasar bagi perkembangan Gereja di kemudian hari.

Peningkatan status misi menjadi Prefektur Apostolik pada 1954 dan pembentukan Keuskupan Ketapang pada 1961 menandai perubahan besar dalam perjalanan kelembagaan Gereja. Perkembangan itu menjadi bagian dari sejarah yang lebih luas, yang tidak dapat dilepaskan dari kontribusi banyak pelayan Gereja dan umat di berbagai wilayah.

Melalui Catatan Harian Pater Bernardinus Knippenberg, CP: Jejak-Jejak Penyelamatan di Tanah Kayong (Ketapang), pengalaman seorang misionaris perintis memperoleh tempat dalam dokumentasi sejarah. Catatan tersebut membantu menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan generasi sekarang untuk memahami perjalanan Gereja secara bertanggung jawab.

Peringatan 80 tahun karya misi Pasionis di Indonesia pada 2026 akhirnya menjadi kesempatan untuk mengenang Bernardinus sekaligus menghargai karya bersama yang membentuk sejarah Gereja Katolik di Ketapang. Perjalanannya menunjukkan pentingnya persiapan, pemahaman budaya, dan kesediaan melayani umat sesuai kebutuhan mereka.

Dari Ketapang, jejak misi itu menjadi bagian dari sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Mengenang Bernardinus bukan hanya mengingat kedatangan seorang misionaris pada 1946, melainkan juga merawat pengetahuan tentang perjalanan iman, hubungan antarmasyarakat, dan pertumbuhan komunitas Gereja yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Sumber: https://keuskupanketapang.org

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  9  Oktober 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar