Pater Plechelmus Dullaert, CP: Jejak Pengabdian Misionaris Pasionis di Ketapang



Ketapang, 9 Oktober 2026.Pater Plechelmus Dullaert, CP, yang dikenal umat dengan sebutan Pastor Dolar atau Pastor Sengkong, merupakan salah satu misionaris Pasionis perintis yang berperan dalam perkembangan Gereja Katolik di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat. Sejak tiba di Indonesia pada 26 Juli 1946, ia mengabdikan hidupnya bagi pewartaan Injil, pelayanan umat di pedalaman, pembinaan generasi muda, serta pengembangan pendidikan. Dalam perjalanan misinya, ia menghadapi keterbatasan sarana, medan yang sulit, dan kondisi kesehatan yang terus menurun. Pengabdiannya menjadi bagian penting dari perjalanan 80 tahun kehadiran dan karya Kongregasi Pasionis di Indonesia pada 1946–2026.

Kisah Pater Plechelmus tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang setelah Perang Dunia II. Bersama Pater Canisius Pijnappels, CP, dan Pater Bernardinus Knippenberg, CP, ia menjadi bagian dari kelompok misionaris Pasionis Belanda yang melanjutkan pelayanan Gereja di wilayah Kalimantan Barat bagian selatan. Ketiganya datang ketika umat Katolik tersebar di kawasan pesisir dan pedalaman, sementara jumlah tenaga pastoral masih terbatas.

Bagi Plechelmus, tugas misioner bukan sekadar menjalankan pelayanan liturgi atau mengunjungi umat pada kesempatan tertentu. Ia hadir di tengah masyarakat, menempuh perjalanan panjang menuju kampung-kampung, membina kehidupan iman, dan mendukung pendidikan sebagai bagian dari perkembangan masyarakat. Pengalaman pelayanannya di Sepotong, Simpang Dua, dan Ketapang memperlihatkan hubungan erat antara pewartaan Injil, pendampingan umat, serta perhatian terhadap masa depan generasi muda.

Kedatangan Pasionis dan Awal Misi di Ketapang

Kehadiran Pasionis di Ketapang berawal dari kebutuhan pelayanan Gereja yang semakin luas setelah berakhirnya Perang Dunia II. Sebelum kedatangan mereka, wilayah Ketapang telah menerima pelayanan para misionaris Kapusin. Namun, perang menyebabkan perubahan besar dalam kehidupan misi. Pada 25 Mei 1942, para misionaris dipanggil oleh tentara Jepang, kemudian diangkut dan diinternir di Kuching, Sarawak, hingga perang berakhir.

Menurut catatan sejarah misi, pada masa itu umat Katolik di wilayah Ketapang berjumlah sekitar 300 orang. Mereka tinggal tersebar di berbagai tempat dengan keadaan geografis yang menyulitkan hubungan antarkampung. Pelayanan iman membutuhkan tenaga misionaris yang mampu menjangkau masyarakat pesisir, komunitas Tionghoa, serta penduduk Dayak di pedalaman.

Sebelum perang, rencana penugasan misionaris Pasionis ke Kalimantan Barat telah dipersiapkan. Pada 1939, Pater Dominikus selaku pemimpin provinsi menunjuk Pater Canisius Pijnappels, CP, Pater Theophile Seesing, CP, dan Pater Bernardinus Knippenberg, CP, untuk menjalankan karya misi di wilayah tersebut.

Rencana itu mengalami perubahan menjelang keberangkatan. Pater Theophile Seesing tidak dapat berangkat karena kondisi kesehatannya belum memungkinkan. Pater Plechelmus Dullaert kemudian menggantikannya dalam rombongan misionaris yang diberangkatkan ke Indonesia.

Pada 18 Juni 1946, para misionaris berangkat menggunakan kapal Belanda bernama Volendam. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Kongregasi Pasionis di Indonesia. Setelah tiba di Indonesia, mereka menerima pembagian tugas sesuai kebutuhan pelayanan.

Pada 26 Juli 1946, Pater Plechelmus Dullaert, CP, tiba di Indonesia dan melanjutkan perjalanan menuju Ketapang. Pater Canisius Pijnappels ditugaskan ke Nyarumkop, sedangkan Pater Bernardinus Knippenberg tinggal sementara di Pontianak untuk mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan karya pastoral dan administrasi misi. Ia juga memperdalam bahasa Tionghoa, khususnya bahasa Hok Lo, sebelum tiba di Ketapang pada 1 Oktober 1946.

Pada November 1946, ketiga misionaris Pasionis tersebut telah berada di wilayah Ketapang. Pater Plechelmus dan Pater Canisius menetap di pedalaman, tepatnya di kawasan Tumbang Titi. Sementara itu, Pater Bernardinus tinggal di Ketapang kota untuk melayani umat Katolik Tionghoa.

Pada masa awal itu, mereka masih didampingi dua imam Kapusin, yakni Pater Martinus dan Pater Leo De Jong, hingga Juni 1947. Kerja sama tersebut membantu keberlanjutan pelayanan pastoral ketika jumlah misionaris masih terbatas.

Wilayah pelayanan Pasionis meliputi Ketapang, Sukadana, dan Teluk Melano. Penduduknya terdiri atas masyarakat Melayu, komunitas Tionghoa di kawasan pesisir, serta masyarakat Dayak yang tinggal di pedalaman. Keadaan ini menuntut para misionaris untuk memahami keragaman budaya, bahasa, kebiasaan, dan kondisi kehidupan masyarakat setempat.

Pater Plechelmus memasuki medan pelayanan yang tidak mudah. Jalan penghubung antarkampung masih terbatas. Perjalanan sering kali mengandalkan jalur sungai dan jalan setapak. Sarana transportasi, komunikasi, serta fasilitas pendukung pelayanan juga belum memadai.

Dalam keadaan tersebut, kehadiran seorang imam memiliki arti penting bagi umat. Pelayanan tidak hanya berkaitan dengan perayaan Ekaristi, tetapi juga mencakup pengajaran iman, pendampingan keluarga, pembinaan umat, dan penguatan kehidupan menggereja.

Pastor Dolar dan Pastor Sengkong

Pater Plechelmus Dullaert lahir di Rotterdam, Belanda, pada 31 Desember 1914. Ia dibaptis dengan nama Hendrikus Theodorus Maria Dullaert. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya masuk ke dalam Kongregasi Pasionis, sebuah tarekat religius yang menghidupi spiritualitas Sengsara Yesus Kristus.

Ia memasuki masa novisiat pada 1933 dan ditahbiskan menjadi imam pada 5 Mei 1940. Nama religiusnya adalah Plechelmus dari Santa Gemma. Pentahbisannya berlangsung pada masa yang penuh gejolak. Pada tahun yang sama, Perang Dunia II mulai membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Eropa.

Catatan mengenai kehidupannya menyebutkan bahwa suasana di sekitar perayaan pentahbisannya sempat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat Oldenzaal, sebuah kota dekat perbatasan Belanda dan Jerman. Perayaan tersebut disalahartikan sebagai sambutan bagi tentara Jerman. Peristiwa itu menggambarkan situasi sosial yang tidak menentu pada masa perang.

Antara 1940 dan 1946, Plechelmus menjalankan tugas di Seminari Menengah Haastrecht dan kemudian di Den Bosch untuk mempersiapkan diri bagi pelayanan misi. Pada usia 32 tahun, ia berangkat ke Indonesia untuk memulai tugas pastoral di wilayah yang memiliki keadaan geografis dan budaya berbeda dari tanah kelahirannya.

Dalam perjalanan menuju tempat misi, ia mengalami kecelakaan di kapal yang menyebabkan tangan kirinya bengkok secara permanen. Kondisi fisik tersebut kemudian menjadi bagian dari kisah hidupnya di tengah umat Ketapang.

Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Pastor Sengkong. Ia juga dikenal sebagai Pastor Dolar. Kedua panggilan itu melekat dalam ingatan umat yang mengenal sosoknya selama bertahun-tahun menjalankan pelayanan.

Keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk melaksanakan tugas. Ia tetap menjalani kehidupan sebagai imam misionaris, mendatangi umat, merayakan sakramen, dan mendampingi komunitas Katolik di daerah yang sulit dijangkau.

Pengalaman hidupnya memperlihatkan bahwa karya misi membutuhkan ketekunan yang berlangsung dari hari ke hari. Kehadiran seorang misionaris tidak selalu ditandai oleh peristiwa besar. Sering kali, pelayanan tumbuh melalui kunjungan sederhana, percakapan dengan umat, pengajaran iman, serta kesediaan untuk tetap tinggal bersama masyarakat ketika menghadapi kesulitan.

Menembus Pedalaman untuk Melayani Umat

Salah satu bagian penting dalam perjalanan pastoral Pater Plechelmus berlangsung di kawasan pedalaman Ketapang. Pada 1963, ia mulai bertugas di wilayah Sepotong. Dua tahun kemudian, pada 1965, ia mendirikan Paroki Santo Mikael di Simpang Dua.

Pada tahap awal, pusat paroki berada di Singi Rubang, di antara Kampung Banjur dan Karab. Lokasi tersebut menjadi pusat pelayanan bagi umat yang tinggal di wilayah sekitarnya. Pada 1970, pusat paroki dipindahkan ke Kampung Simpang Dua.

Perubahan pusat pelayanan tersebut menunjukkan perkembangan kehidupan Gereja di pedalaman. Bertambahnya kebutuhan pastoral menuntut pengaturan tempat pelayanan yang dapat mendukung hubungan dengan umat dan mempermudah kegiatan menggereja.

Pater Plechelmus melayani wilayah itu hingga 1973. Selama bertugas, ia dikenal karena kegigihannya mengunjungi umat yang tinggal berjauhan. Perjalanan pastoral sering mengharuskannya berjalan kaki melewati jalan setapak, melintasi kawasan berlumpur, serta menyeberangi sungai melalui batang pohon yang digunakan sebagai jembatan sederhana.

Medan seperti itu membutuhkan kehati-hatian dan ketahanan fisik. Perjalanan yang bagi masyarakat perkotaan mungkin dianggap biasa dapat menjadi tantangan besar di pedalaman. Jarak antarkampung, keadaan cuaca, serta keterbatasan sarana membuat kunjungan pastoral memerlukan waktu dan tenaga.

Tantangan tersebut semakin berat karena Pater Plechelmus mengalami cedera pinggul dan kesulitan berjalan. Meski demikian, ia tetap berusaha menjangkau umat yang membutuhkan pelayanan. Catatan mengenai dirinya menggambarkan bahwa ia tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan tubuh.

Pengabdian itu memiliki arti bagi kehidupan umat. Kunjungan imam memungkinkan umat di kampung-kampung terpencil tetap memperoleh pendampingan rohani. Mereka dapat mengikuti perayaan sakramen ketika pelayanan tersedia, menerima pengajaran iman, dan mempertahankan hubungan dengan komunitas Gereja yang lebih luas.

Pelayanan di pedalaman juga menuntut kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat. Seorang misionaris tidak cukup hanya memahami ajaran Gereja. Ia perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, mengenal keadaan umat, dan menyesuaikan pelayanan dengan kondisi setempat.

Pengalaman Plechelmus di Simpang Dua menjadi bagian dari sejarah perkembangan paroki-paroki di wilayah Ketapang. Pembentukan pusat pelayanan baru membantu memperkuat struktur Gereja dan memberikan dasar bagi pendampingan umat di kawasan pedalaman.

Karya itu berlangsung dalam rangkaian sejarah yang telah dimulai jauh sebelumnya. Sejak awal abad ke-20, sejumlah tokoh awam dan misionaris telah merintis pendidikan serta pengajaran agama di berbagai wilayah Ketapang. Di Serengkah, misalnya, Mgr. Pacificus Bos, OFM Cap, mengunjungi masyarakat pada Januari 1918 dan memberikan pelajaran agama kepada Gumalo Moerial, yang kemudian dibaptis dengan nama Yosef.

Pada 1919, sekolah misi dibuka di Serengkah. Sejumlah guru melanjutkan pelayanan pendidikan di tempat tersebut. Gereja di Serengkah kemudian didirikan pada 1931. Di Tanjung, pelayanan berkembang melalui peran guru-guru Katolik dan pendirian gereja pada 1934. Sementara itu, di wilayah Matan Hulu, karya misi mulai berkembang di Randau pada 1929.

Pada 1937, Mgr. Van Valenberg memutuskan pembukaan stasi tetap di wilayah Matan Hulu dengan memilih Tumbang Titi sebagai lokasi yang strategis. Dua imam Kapusin, Pater Leo De Jong dan Pater Gerardus, menetap di sana pada 1938.

Kehadiran Pasionis setelah perang menjadi kelanjutan dari proses panjang tersebut. Pater Plechelmus melanjutkan pelayanan di tengah masyarakat yang telah mengenal pendidikan misi dan pengajaran Katolik, tetapi masih membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan kehidupan Gereja.

Dengan demikian, pengabdiannya di pedalaman tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari kerja bersama para misionaris dan tokoh awam yang selama puluhan tahun membangun komunitas Katolik di Ketapang.

Membangun Pendidikan melalui STM Usaba Ketapang

Pada 1973, Pater Plechelmus dipindahkan ke Ketapang. Ia menerima tugas sebagai Direktur STM Usaba Ketapang sekaligus Direktur Karya Kepausan. Ia juga pernah menjalankan pelayanan sebagai pastor paroki di Paroki Santa Gemma Ketapang.

Perpindahan itu menandai perubahan medan pengabdiannya. Setelah bertahun-tahun melayani umat di pedalaman, ia kini memusatkan perhatian pada pendidikan dan pembinaan kaum muda. Pengalaman pastoral yang diperolehnya di kampung-kampung menjadi bekal untuk mendampingi generasi muda yang sedang mempersiapkan masa depan.

Salah satu warisan pentingnya ialah keterlibatan dalam pendirian dan pengembangan Sekolah Teknik yang kemudian berkembang menjadi STM Usaba Ketapang. Pendidikan teknik membuka kesempatan bagi kaum muda untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis.

Dalam proses pengembangan sekolah tersebut, ia mendapat dukungan dari Ign. Sudarmaji, RC. Eryono, dan Frans Ampur. Mereka terlibat dalam perjuangan membangun serta mengembangkan lembaga pendidikan itu. Pada perkembangan berikutnya, Ign. Sudarmaji menggantikan Plechelmus sebagai kepala STM Usaba.

Keterlibatan sejumlah tokoh memperlihatkan bahwa pendirian sekolah bukanlah pekerjaan seorang diri. Pengembangan lembaga pendidikan membutuhkan kerja sama, pembagian tanggung jawab, dan komitmen untuk mempertahankan pelayanan bagi para siswa.

Dalam kedudukannya sebagai pembina asrama, Pater Plechelmus dekat dengan para pelajar. Kehidupan asrama memberi ruang bagi pembinaan yang melampaui kegiatan belajar di kelas. Para siswa menjalani rutinitas bersama, membangun kedisiplinan, belajar bertanggung jawab, dan mengembangkan kebiasaan hidup dalam komunitas.

Pendidikan yang diperjuangkannya juga memiliki dimensi pastoral. Bagi seorang imam, mendampingi kaum muda berarti membantu mereka mengenali kemampuan, mengembangkan karakter, dan menentukan arah hidup. Sekolah menjadi tempat untuk membangun keterampilan sekaligus menanamkan nilai-nilai yang mendukung kehidupan bermasyarakat.

Catatan tentang Pater Plechelmus menyebutkan sejumlah mantan siswa yang kemudian memilih jalan hidup sebagai imam, antara lain Pastor Zacharias Lintas, Pastor Harimurti, Pastor Bonifasius Ubin, dan Pater Yulius Jumaeri, CP.

Nama-nama tersebut menjadi bagian dari kisah pembinaan panggilan yang berlangsung di lingkungan pendidikan dan pelayanan Gereja. Namun, pembinaan panggilan tidak hanya bergantung pada satu orang. Lingkungan keluarga, komunitas, pengalaman iman, dan pendampingan Gereja turut membentuk keputusan seseorang untuk menjalani hidup sebagai imam.

Selain mendampingi siswa, Pater Plechelmus juga membina para katekis awam. Peran mereka penting karena pelayanan Gereja membutuhkan keterlibatan umat yang memiliki kemampuan mengajar agama, mendampingi kelompok basis, dan membantu pelaksanaan kegiatan pastoral.

Katekis menjadi penghubung antara kehidupan sehari-hari umat dan pembinaan iman. Mereka dapat membantu meneruskan pengajaran agama ketika seorang imam tidak dapat hadir secara rutin. Dalam wilayah pelayanan yang luas, keterlibatan mereka membantu menjaga kesinambungan pewartaan.

Pengalaman Pater Plechelmus di STM Usaba memperlihatkan bahwa pelayanan Gereja dapat mengambil bentuk yang beragam. Pewartaan Injil berlangsung melalui altar dan sakramen, tetapi juga melalui pendidikan, pembinaan karakter, serta pendampingan generasi muda.

Dalam konteks perkembangan Ketapang, sekolah teknik tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya menyediakan pendidikan bagi masyarakat. Kehadiran lembaga pendidikan memperluas kesempatan kaum muda untuk memperoleh bekal keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan kerja maupun pengabdian kepada masyarakat.

Kehidupan Doa dan Spiritualitas Pasionis

Di balik aktivitas pastoral dan pendidikan, Pater Plechelmus dikenal sebagai pribadi yang tekun dalam kehidupan rohani. Ia menjalani doa brevir, perayaan Ekaristi, dan doa rosario sebagai bagian dari rutinitas hidupnya.

Kehidupan doa menjadi dasar bagi seorang religius untuk mempertahankan kesetiaan dalam tugas. Pelayanan yang panjang, perjalanan melelahkan, dan tanggung jawab terhadap umat membutuhkan sumber kekuatan yang tidak hanya bersifat fisik.

Spiritualitas Kongregasi Pasionis berpusat pada Sengsara Yesus Kristus. Para anggotanya diajak mengenang kasih Kristus yang dinyatakan melalui penderitaan dan penyerahan diri demi keselamatan manusia. Spiritualitas tersebut mendorong para Pasionis untuk memberi perhatian kepada penderitaan manusia dan menghadirkan pengharapan melalui pelayanan.

Dalam perjalanan Plechelmus, nilai itu tampak melalui kesediaannya mendatangi umat di daerah terpencil dan tetap menjalankan tugas meskipun mengalami keterbatasan fisik. Pengabdiannya memperlihatkan hubungan antara doa dan tindakan. Kehidupan rohani tidak berhenti pada kegiatan pribadi, tetapi diwujudkan dalam perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

Ia juga dikenal memiliki perhatian khusus kepada Bunda Maria. Menurut catatan mengenai dirinya, nama Maria selalu disertakan dalam nama baptis yang diberikannya. Keterangan tersebut menjadi bagian dari gambaran tentang devosi Marian yang mewarnai kehidupannya.

Bagi umat Katolik, doa rosario merupakan salah satu bentuk permenungan atas perjalanan hidup Yesus bersama Bunda Maria. Doa ini membantu umat mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam karya keselamatan dan menghubungkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari.

Ketekunan berdoa dan perhatian terhadap kaum muda berjalan berdampingan dalam pelayanan Plechelmus. Ia bukan hanya dikenal sebagai imam yang melaksanakan tugas-tugas Gereja, tetapi juga sebagai pembina yang berusaha mendukung pertumbuhan iman dan kedewasaan mereka yang dipercayakan kepadanya.

Warisan semacam ini tidak selalu dapat diukur melalui bangunan atau lembaga. Pembentukan karakter, kebiasaan berdoa, semangat melayani, dan tumbuhnya panggilan hidup merupakan bagian dari buah pelayanan yang berkembang melalui waktu.

Perkembangan Gereja Ketapang dalam Masa Pelayanan Pasionis

Untuk memahami arti pengabdian Pater Plechelmus, perjalanan hidupnya perlu ditempatkan dalam perkembangan kelembagaan Gereja Katolik di Ketapang.

Pada masa awal kedatangan Pasionis, pelayanan di wilayah ini masih berada di bawah Vikariat Apostolik Pontianak. Pada 1 Juli 1950, Mgr. Van Valenberg mengangkat Pater Raphael Kleyne, CP, sebagai vikaris delegatus untuk wilayah misi Ketapang.

Pada 27 Februari 1952, Pater Raphael Kleyne bersama Bruder Caspard Ridder de Can de Schueren meninggal dunia akibat kecelakaan perahu motor yang tenggelam di Sungai Pesaguan. Peristiwa tersebut menjadi kehilangan besar bagi karya misi. Pada 1953, Pater Gabriel W. Sillekens, CP, diangkat menjadi superior religius Pasionis untuk misi Ketapang sekaligus vikaris delegatus.

Pada 26 Juni 1954, Paus Pius XII meningkatkan status wilayah misi Ketapang menjadi Prefektur Apostolik. Pater Gabriel W. Sillekens, CP, menjadi prefek pertama. Wilayahnya kemudian mencakup pula Sekadau dan Meliau yang sebelumnya termasuk Kabupaten Sanggau, sehingga luas wilayah prefektur mencapai sekitar 42.800 kilometer persegi.

Perkembangan berlanjut pada awal 1960-an. Para Pasionis Italia datang untuk membantu pelayanan di wilayah Sekadau dan Meliau. Pada 3 Januari 1961, Prefektur Apostolik Ketapang ditingkatkan menjadi keuskupan. Mgr. Gabriel W. Sillekens, CP, kemudian diangkat sebagai uskup pada 28 April 1962. Pemberkatan gedung Gereja Katedral Santa Gemma berlangsung pada 10 Juni 1962.

Perubahan status tersebut menandai perkembangan organisasi Gereja, tetapi pertumbuhan komunitas Katolik juga membutuhkan pelayanan langsung di tingkat paroki dan stasi. Imam, bruder, katekis, guru, serta tokoh awam memiliki peran dalam memperluas jangkauan pendampingan umat.

Dalam proses itu, pelayanan Pater Plechelmus di Simpang Dua dan Ketapang memperlihatkan dua sisi penting perkembangan Gereja. Di pedalaman, ia membantu memperkuat pelayanan pastoral melalui pendirian paroki dan kunjungan kepada umat. Di Ketapang kota, ia berperan dalam pendidikan dan pembinaan generasi muda.

Kedua bidang tersebut saling melengkapi. Kehidupan menggereja membutuhkan komunitas iman yang memperoleh pendampingan rohani, sementara pendidikan membantu menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab sosial.

Sejarah Gereja Ketapang juga memperlihatkan besarnya kontribusi tokoh awam. Sebelum dan sesudah kedatangan Pasionis, guru, katekis, serta pemimpin masyarakat telah mengambil bagian dalam pengajaran agama dan pengembangan komunitas. Karena itu, perkembangan Gereja tidak dapat dipandang semata-mata sebagai hasil karya para imam. Pertumbuhan tersebut merupakan buah kerja bersama antara misionaris dan umat setempat.

Kembali ke Belanda, Hati Tetap di Ketapang

Pada 1980, kondisi kesehatan Pater Plechelmus semakin menurun. Ia kemudian kembali ke Belanda dan melanjutkan pelayanan sebagai pastor bagi kaum lanjut usia di biara Pasionis, Grave.

Kepindahan itu mengakhiri masa tugasnya di Indonesia, tetapi tidak serta-merta memutus hubungan batinnya dengan umat yang pernah dilayani. Ketapang telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebagai imam dan misionaris.

Pada 1986, ketika peringatan 40 tahun karya Pasionis di Indonesia berlangsung, Pater Plechelmus kembali mengunjungi Ketapang. Tubuhnya ketika itu tampak kurus dan lemah karena kanker yang dideritanya. Meski demikian, ia tetap berusaha menemui umat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pelayanannya.

Kunjungan tersebut memperlihatkan kuatnya ikatan yang terbentuk selama puluhan tahun. Hubungan antara gembala dan umat tidak hanya tumbuh melalui kegiatan resmi, tetapi juga melalui perjumpaan, pengalaman bersama, serta kesetiaan dalam menghadapi berbagai keadaan.

Dalam pertemuan dengan seorang rekannya, ia sempat mengatakan, “Mungkin ini terakhir, lho.”

Ucapan tersebut tercatat dalam kisah mengenai kunjungannya dan menggambarkan kesadarannya akan kondisi kesehatan yang semakin memburuk. Kalimat itu menjadi salah satu bagian yang dikenang dari perjalanan terakhirnya ke Ketapang.

Pada September 1987, seorang sahabat yang mengunjunginya di biara Grave masih melihat Plechelmus berjalan menuju ruang rekreasi dan memberikan semangat. Walaupun kondisi tubuhnya lemah, ia tetap berusaha berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Pater Plechelmus Dullaert, CP, wafat pada 2 Desember 1987 di Biara Pasionis Grave, Belanda. Ia dimakamkan di Haastrecht, tempat yang memiliki kaitan dengan perjalanan awalnya sebagai misionaris.

Kepergiannya menutup perjalanan hidup seorang imam yang mengabdikan sebagian besar masa pelayanannya bagi umat di Kalimantan Barat. Namun, karya yang ditinggalkannya tidak berhenti pada saat ia kembali ke tanah kelahirannya.

Warisan yang Berlanjut dalam Kehidupan Umat

Peringatan 80 tahun kehadiran dan karya Pasionis di Indonesia pada 2026 menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan para misionaris perintis, termasuk Pater Plechelmus Dullaert, CP. Peringatan ini bukan hanya mengingat tanggal kedatangan mereka pada 1946, tetapi juga mengajak Gereja melihat kembali nilai-nilai yang membentuk perjalanan misi selama delapan dekade.

Warisan Plechelmus dapat dikenali melalui beberapa bidang pengabdian. Pertama, ketekunannya menjalankan pelayanan pastoral di daerah yang sulit dijangkau. Ia memperlihatkan bahwa jarak dan keterbatasan sarana tidak menghilangkan kebutuhan umat akan pendampingan rohani.

Kedua, perhatiannya terhadap pendidikan. Keterlibatannya dalam pengembangan STM Usaba Ketapang memperlihatkan bahwa pembinaan manusia merupakan bagian dari pelayanan Gereja. Pendidikan membantu kaum muda memperoleh keterampilan dan mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Ketiga, kedekatannya dengan generasi muda. Peran sebagai pembina asrama dan pendamping siswa memberinya kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan kaum muda. Dari lingkungan pendidikan dan komunitas Gereja, tumbuh pula orang-orang yang kemudian memilih jalan pelayanan sebagai imam.

Keempat, kesetiaannya terhadap kehidupan doa. Disiplin rohani memberikan dasar bagi pelayanan yang panjang. Dalam spiritualitas Pasionis, doa dan karya tidak dipisahkan, melainkan saling menguatkan.

Kelima, kesediaannya bekerja bersama orang lain. Pembangunan sekolah, pembinaan katekis, dan pengembangan pelayanan paroki melibatkan berbagai pihak. Karya Gereja tumbuh ketika imam, tenaga pendidikan, katekis, dan umat bekerja sama sesuai tanggung jawab masing-masing.

Dalam konteks Gereja masa kini, pengalaman tersebut tetap relevan. Wilayah pelayanan yang luas, perbedaan latar belakang masyarakat, kebutuhan pendidikan, dan pembinaan kaum muda masih menjadi bagian dari kehidupan Gereja. Sejarah Plechelmus mengingatkan bahwa pelayanan yang berkelanjutan membutuhkan ketekunan, kerja sama, dan kesediaan untuk memahami kebutuhan nyata umat.

Mengenang para misionaris juga berarti memberi tempat kepada masyarakat setempat yang ikut membangun Gereja. Para guru, katekis, keluarga Katolik, serta tokoh awam telah berperan dalam mempertahankan kehidupan iman di tengah keterbatasan. Tanpa keterlibatan mereka, pelayanan para misionaris tidak akan berkembang menjadi komunitas yang mampu meneruskan pewartaan dari generasi ke generasi.

Delapan puluh tahun perjalanan Pasionis di Indonesia menjadi kesempatan untuk menghargai sejarah sekaligus meneguhkan tanggung jawab masa kini. Semangat misi tidak hanya diwariskan melalui cerita tentang masa lalu, tetapi melalui tindakan nyata yang menjawab kebutuhan umat pada zaman sekarang.

Pater Plechelmus Dullaert, CP, telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Ia meninggalkan Ketapang secara fisik pada 1980 dan wafat di Belanda pada 1987. Namun, pengabdiannya tetap tercatat dalam sejarah Gereja setempat melalui pelayanan di pedalaman, pembentukan komunitas paroki, pengembangan pendidikan, dan pendampingan kaum muda.

Sosok Pastor Dolar atau Pastor Sengkong mengingatkan bahwa karya misi bukan semata-mata tentang siapa yang datang dari jauh, melainkan tentang bagaimana seseorang bersedia tinggal, melayani, dan membangun kehidupan bersama masyarakat yang dipercayakan kepadanya.

Dari Ketapang, jejak pengabdian itu menjadi bagian dari sejarah Pasionis di Indonesia. Delapan puluh tahun setelah kedatangan para misionaris pertama pada 1946, kisah Plechelmus mengajak generasi berikutnya untuk meneruskan semangat pelayanan dengan setia, rendah hati, dan terbuka terhadap kebutuhan sesama.

Sumber: https://keuskupanketapang.org

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  9  Oktober 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar