Kehidupan Awal Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J.: Dari Surakarta ke Muntilan, Perjalanan Seorang Anak Bangsa

 

                                      Foto.Mgr.Albertus Soegijapranata,SJ.di Masa Muda

*Ketapang, 31 Agustus 2024* — Albertus Soegijapranata, S.J., adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia. Dilahirkan pada 25 November 1896 di Surakarta, ia dikenal sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia dan seorang pahlawan nasional yang meninggalkan warisan besar bagi bangsa. Namun, sebelum menjadi pemimpin yang dihormati, kehidupannya dimulai dari latar belakang yang sederhana.

 Foto.Mgr.Albertus Soegijapranata,SJ.Berdiri Paling Kiri


**Kehidupan Awal di Surakarta**

Soegija dilahirkan di Surakarta sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karijosoedarmo, adalah seorang abdi dalem di Keraton Kasunanan Surakarta, sementara ibunya, Soepiah, merupakan seorang pedagang ikan. Keluarga ini berasal dari golongan Muslim abangan, di mana kakek Soegija, Kyai Soepa, adalah seorang ulama lokal. Nama "Soegija" diambil dari kata "sugih" dalam bahasa Jawa, yang berarti "kaya". Meski demikian, kehidupan keluarga ini tidaklah mudah; mereka sering menghadapi kesulitan ekonomi dan kekurangan makanan.

Pada usia muda, Soegija menunjukkan sifat yang berani dan penuh semangat. Ia dikenal suka berkelahi, pintar bermain sepak bola, dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Di tengah keterbatasan, ia tetap aktif berpuasa bersama ayahnya, mengikuti ajaran Islam dengan disiplin yang tinggi. Ketangguhan dan kecerdasan Soegija sudah tampak sejak masa kecilnya, menjadi ciri khas yang akan membentuk jalan hidupnya di masa depan.

**Pindah ke Yogyakarta dan Pendidikan Dasar**

Keluarga Soegija kemudian pindah ke Ngabean, Yogyakarta, di mana ayahnya bertugas sebagai abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk Sultan Hamengkubuwono VII. Kehidupan di Yogyakarta tidak jauh berbeda; mereka tetap hidup dalam kesederhanaan, dengan sang ibu tetap berdagang ikan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, di sinilah perjalanan pendidikan Soegija dimulai.

Soegija memulai pendidikan formalnya di sebuah Sekolah Angka Loro di wilayah Kraton, Yogyakarta. Di sekolah ini, ia belajar membaca dan menulis, menunjukkan bakatnya yang luar biasa dalam memahami pelajaran. Setelah beberapa waktu, ia dipindahkan ke sekolah di Wirogunan, Yogyakarta, dekat Pakualaman, di mana ia melanjutkan pendidikannya dengan lebih serius.

Pada tahun ketiga, Soegija diterima di Hollands Inlands School (HIS) di Lempuyangan, sebuah sekolah yang dirancang untuk anak-anak pribumi dengan pengajaran ala Barat. Meski dengan keterbatasan ekonomi, keluarga Soegija tetap mendukung pendidikannya, yakin bahwa ia memiliki potensi besar. Selain di sekolah, Soegija juga belajar gamelan dan menembang bersama orang tuanya, menunjukkan minat yang kuat pada seni dan budaya Jawa.

**Panggilan untuk Pendidikan Katolik dan Pergi ke Muntilan**

Pada sekitar tahun 1909, kehidupan Soegija mengalami perubahan besar. Pater Frans van Lith, seorang imam Yesuit yang berpengaruh di Jawa, mengundang Soegija untuk bergabung dengan sebuah sekolah Yesuit di Muntilan, yang terletak sekitar 30 kilometer barat laut Yogyakarta. Sekolah ini merupakan pusat pendidikan Katolik terkemuka pada masa itu, didirikan untuk memperkenalkan ajaran Katolik dan membentuk calon pemimpin dari kalangan pribumi.

Kedua orang tua Soegija awalnya merasa khawatir dengan tawaran ini. Mereka khawatir anak mereka akan menjadi seperti anak Eropa, kehilangan akar budayanya dan nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga. Namun, melihat semangat dan minat besar Soegija dalam pendidikan, mereka akhirnya merestui keputusannya untuk pergi ke Muntilan. Ini menjadi titik balik penting dalam kehidupan Soegija, membuka jalan menuju panggilan imamat yang akan datang.

**Masa Pendidikan di Muntilan**

Di Muntilan, Soegija mendapatkan pendidikan yang lebih intensif. Ia mempelajari banyak hal baru, dari teologi, filsafat, hingga ilmu pengetahuan modern. Lingkungan sekolah yang inklusif dan penuh semangat mendukungnya untuk lebih mendalami iman Katolik dan budaya Jawa. Di sinilah ia pertama kali merasakan panggilan untuk mengabdikan diri sebagai seorang imam, sesuatu yang akan mengubah arah hidupnya secara drastis.

Soegija menunjukkan kemampuan akademik dan spiritual yang menonjol selama masa pendidikannya. Ia sangat terinspirasi oleh para Yesuit yang mengajar di sana dan mulai mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari Serikat Yesus (S.J.), suatu keputusan yang akan membawanya pada jalur kehidupan yang penuh dedikasi, pengabdian, dan akhirnya kepemimpinan di Gereja Katolik Indonesia.

**Meniti Jalan Menuju Kepemimpinan Gereja**

Pendidikan di Muntilan tidak hanya membentuk Soegija sebagai pribadi yang religius, tetapi juga memperkuat kecintaannya pada tanah air. Ia belajar bagaimana mengintegrasikan iman Katolik dengan identitas keindonesiaan, menjadi seorang figur yang mampu menjembatani kedua dunia tersebut. Dedikasinya dalam pendidikan, baik formal maupun spiritual, membuatnya semakin mantap untuk melanjutkan panggilan hidupnya sebagai seorang imam.

Tahun-tahun pendidikan di Muntilan akhirnya membawa Soegija menuju ke Belanda untuk studi lebih lanjut, sebuah langkah yang menjadi persiapan penting bagi peran kepemimpinannya di masa depan. Dari titik awal yang sederhana di Surakarta dan Yogyakarta, ia akhirnya mencapai puncak pelayanan sebagai Uskup Agung pertama pribumi di Indonesia, seorang pemimpin spiritual dan pahlawan nasional yang dihormati hingga saat ini.

**Kesimpulan**

Kehidupan awal Albertus Soegijapranata, S.J. adalah cerminan dari perjuangan seorang anak bangsa yang berawal dari kesederhanaan, namun dengan semangat belajar yang kuat, keberanian, dan keyakinan, ia mampu mencapai puncak tertinggi dalam pelayanannya. Melalui latar belakangnya yang kaya akan nilai-nilai lokal dan agama, Soegija mengajarkan kepada kita semua bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menjadi besar, asalkan mereka mau berjuang dan setia pada panggilan hidupnya. Hingga saat ini, teladan hidupnya terus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam menjembatani iman dan nasionalisme, serta mengabdikan diri bagi kemajuan bangsa dan negara.


Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Ketapang


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar