Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ: Perjalanan Menuju Imamat di Tengah Tantangan dan Dedikasi Mendalam

 Foto.Mgr.Albertus Soegijapranata

*Ketapang, 31 Agustus 2024* – Nama Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, tidak asing bagi kalangan umat Katolik di Indonesia. Sebagai Uskup pribumi pertama di Indonesia, beliau adalah figur yang mencerminkan perjuangan dan dedikasi luar biasa dalam mengabdikan diri pada imamat dan keagamaan. Namun, jalan menuju imamat bukanlah hal yang mudah bagi Soegija. Ia harus melalui berbagai tantangan, mulai dari pendidikan ketat di Kolese Xaverius hingga penyesuaian diri dengan budaya baru di Belanda.

**Awal Pendidikan dan Ketertarikan pada Katolik**

Pada tahun 1909, Soegija memulai pendidikannya di Kolese Xaverius, Muntilan, sebuah sekolah asrama yang didirikan untuk melatih calon guru. Dalam lingkungan ini, para siswa menjalani jadwal yang sangat disiplin, dengan rutinitas mulai dari belajar di pagi hari hingga berbagai kegiatan di siang hari, seperti berkebun, berdebat, dan bermain catur. Meskipun tidak diwajibkan untuk menjadi Katolik, tekanan dari teman-teman sekelasnya membuat Soegija merasa terpinggirkan. Namun, melalui bimbingan dan nasihat dari para pastor, termasuk Pater L. van Rijckevorsel dan Pater Mertens, Soegija mulai mengembangkan pemahaman dan apresiasi yang lebih dalam terhadap agama Katolik.

Pada tahun 1910, setelah melewati proses pembelajaran yang intensif dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teologis, Soegija memutuskan untuk dibaptis dengan nama baptis Albertus, yang diambil dari nama Albertus Magnus, seorang santo abad ke-13. Keputusan ini menandai awal perjalanan spiritual Soegija yang berani, meskipun ia harus menghadapi penolakan dari keluarganya sendiri. Keteguhan hatinya dalam menghadapi tantangan ini menunjukkan komitmen Soegija yang mendalam terhadap iman barunya.

**Perjalanan Pendidikan dan Pembentukan Karakter di Belanda**

Pada tahun 1919, Soegija melanjutkan pendidikan ke Belanda bersama rekan-rekannya. Di Belanda, ia memulai pelajaran intensif dalam bahasa Latin dan Yunani di Uden sebagai persiapan untuk memasuki Serikat Yesus. Kehidupan di Uden juga menuntut adaptasi dengan budaya baru, yang pada akhirnya memperkaya perspektifnya. Pada 27 September 1920, Soegija memulai periode novisiat di Mariëndaal, Grave, di mana ia menjalani kehidupan meditasi dan pengasingan dari dunia luar. Selama periode ini, ia mengembangkan disiplin diri yang tinggi dan komitmen spiritual melalui meditasi yang mendalam, dan akhirnya menjadi anggota resmi Serikat Yesus pada 22 September 1922.

Setelah novisiat, Soegija melanjutkan pendidikannya di Kolese Berchmann, Oudenbosch, di mana ia mendalami ajaran Thomas Aquinas dan mulai menulis tentang agama Katolik. Tulisan-tulisannya mencerminkan pandangan yang mendalam tentang perbedaan antara Katolik dan Protestan serta pentingnya tindakan nyata dalam menyebarkan ajaran agama. Pada tahun 1926, ia kembali ke Hindia Belanda dan menjadi guru di Kolese Xaverius, Muntilan, tempat ia memperkenalkan pendekatan pendidikan yang unik dan inovatif, memadukan ajaran Katolik dengan nilai-nilai budaya Jawa.

**Menuju Tahbisan Imamat dan Karya-Karya di Eropa**

Setelah dua tahun mengajar di Muntilan, Soegija kembali ke Belanda pada tahun 1928 untuk mendalami studi teologi di Maastricht. Dalam masa ini, ia terus mengembangkan dirinya, bahkan bertemu dengan Paus Pius XI di Vatikan pada tahun 1929, di mana Paus menyebut para Yesuit Asia sebagai "tulang punggung" Gereja Katolik di tanah air mereka masing-masing. Pada Mei 1931, Soegija ditahbiskan sebagai diaken, dan pada tanggal 15 Agustus 1931, ia resmi ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Roermond, Mgr. Laurentius Schrijnen. Setelah penahbisan ini, ia menambahkan "pranata" pada namanya, yang berarti doa atau harapan, menunjukkan kedalaman iman dan harapannya terhadap masa depan Gereja di Indonesia.

**Karya Tulis dan Refleksi Spiritual**

Setelah ditahbiskan, Soegija tidak berhenti berkontribusi pada komunitas Katolik. Pada tahun 1933, ia menjalani masa tersiat di Drongen, Belgia, di mana ia menulis autobiografi berjudul *La Conversione di un Giavanese* (Pertobatan Seorang Jawa). Buku ini diterbitkan dalam berbagai bahasa dan mencerminkan refleksi mendalam Soegija tentang perjalanannya menuju iman Katolik, pergulatannya dengan identitas Jawa, dan panggilan spiritualnya.

**Warisan yang Menginspirasi**

Soegija meninggalkan warisan yang kaya bagi Gereja Katolik di Indonesia. Semangatnya yang tak kenal lelah, kemampuannya untuk menjembatani nilai-nilai budaya lokal dengan ajaran Katolik, serta komitmennya untuk melayani Tuhan dan sesama menjadi teladan bagi umat Katolik di seluruh Indonesia. Kisah hidupnya adalah cerminan dari keberanian, pengabdian, dan iman yang teguh, menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah gereja dan bangsa. 

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, melalui perjalanan hidupnya yang penuh liku dan tantangan, telah menunjukkan bahwa dedikasi kepada Tuhan dan manusia adalah panggilan mulia yang memerlukan pengorbanan dan ketekunan. Warisannya akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk mengabdikan diri dengan sepenuh hati kepada iman dan sesama.

 

Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Ketapang

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar