Romo Militer. Yos Bintoro,Pr. Bertemu Paus Fransiskus
*Ketapang, 31 Agustus 2024* — Pastor militer, sebuah istilah yang mungkin belum begitu dikenal luas di Indonesia, merujuk pada seorang imam Katolik yang bertugas melayani kebutuhan rohani umat Katolik di lingkungan militer, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Dalam konteks ini, Keuskupan Militer Indonesia, yang juga dikenal dengan nama Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), adalah yurisdiksi khusus yang menyediakan pelayanan pastoral kepada anggota TNI dan Polri serta keluarga mereka. Keuskupan ini bukan bagian dari provinsi gerejawi mana pun dan tunduk langsung pada Takhta Suci di Vatikan.
Keuskupan Militer Indonesia didirikan pada tanggal 25 Desember 1949, sebagai tanggapan atas prakarsa Menteri Pertahanan Republik Indonesia saat itu, Sultan Hamengkubuwono IX. Tujuan utamanya adalah untuk menyediakan pelayanan sakramen kepada para anggota angkatan perang yang beragama Katolik, serta memenuhi kebutuhan rohani mereka dalam berbagai kondisi, termasuk saat bertugas di medan perang.
**Pastor Militer: Pelayan Sakramen di Tengah Konflik**
Di Indonesia, kehadiran pastor militer tidak sepopuler di negara-negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, atau Filipina, yang juga memiliki keuskupan militer. Namun, Keuskupan Militer Indonesia telah memainkan peran penting dalam memastikan bahwa para anggota TNI dan Polri yang beragama Katolik tetap mendapatkan pelayanan sakramen, seperti Ekaristi, pengakuan dosa, dan minyak suci, bahkan dalam situasi paling berbahaya sekalipun.
Seorang pastor militer tidak hanya menjalankan tugas sebagai imam, tetapi juga sebagai prajurit. Mereka harus menyelesaikan pendidikan militer, seperti halnya prajurit lainnya. Contohnya adalah RD Kolonel Yoseph Maria Marcelinus, seorang perwira menengah TNI Angkatan Udara yang saat ini menjabat sebagai wakil Keuskupan Militer Indonesia. Ditahbiskan sebagai imam pada 15 Agustus 1996 oleh Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ, Romo Yoseph masuk ke dunia militer melalui pendidikan prajurit karier di Akademi Militer Magelang, dan dilantik sebagai letnan dua pada tahun 1997.
**Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Pastor Militer**
Sebagai seorang pastor militer, Romo Yoseph memiliki tugas ganda: selain sebagai pembimbing rohani dan pelayan sakramen, ia juga bertindak sebagai prajurit aktif. Ia bertugas di berbagai medan konflik, termasuk terbang dengan pesawat tempur untuk menemani pasukan dalam misi. Semua tugas militer ini ia jalankan tanpa mengabaikan tanggung jawabnya untuk memberikan sakramen kepada para tentara Katolik, baik di dalam maupun di luar medan perang.
Pastor militer juga melayani di berbagai tempat, termasuk di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta, di mana Romo Yoseph pernah menjadi dosen dan pembimbing rohani bagi TNI/Polri Katolik. Pelayanan sakramen, seperti Ekaristi, pengakuan dosa, dan pemberian minyak suci kepada tentara yang terluka atau dalam bahaya maut, adalah bagian dari misi penting seorang pastor militer.
**Persyaratan Menjadi Pastor Militer**
Untuk menjadi seorang pastor militer, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama-tama, seorang pastor militer haruslah seorang pria Katolik yang sudah menerima sakramen imamat. Setelah itu, ia harus mengikuti pelatihan militer dan memenuhi semua persyaratan yang berlaku di dunia militer. Selain itu, mereka juga harus siap menjalani kehidupan layaknya seorang prajurit, termasuk ikut serta dalam misi berbahaya.
Namun, meskipun mereka mengenakan seragam militer dan diperlakukan seperti prajurit lainnya, tugas utama mereka tetap sebagai pelayan rohani. Mereka merayakan Misa, memberikan sakramen pengakuan dosa, dan memberikan minyak suci kepada tentara yang terluka di medan perang.
**Batas Usia dan Pensiun**
Pastor militer menjalani pengabdian di dunia militer hingga usia maksimal 58 tahun, sama seperti prajurit lainnya. Setelah pensiun dari dinas militer, mereka tetap melanjutkan tugas imamat mereka di tempat lain, melayani umat Katolik di luar lingkungan militer. Dengan demikian, dedikasi dan pengabdian mereka tidak berhenti hanya karena pensiun dari militer, tetapi terus berlanjut di tempat di mana mereka dibutuhkan.
**Kesimpulan: Pelayanan Rohani yang Unik di Tengah Militer**
Keuskupan Militer Indonesia, yang dipimpin oleh Kardinal Suharyo, memainkan peran penting dalam menjaga iman dan semangat para tentara Katolik di Indonesia. Pastor militer seperti RD Kolonel Yoseph Maria Marcelinus menjadi contoh nyata bagaimana pelayanan iman dan tugas militer dapat berjalan beriringan. Melalui tugas ini, mereka tidak hanya menjadi gembala bagi umat Katolik di lingkungan militer, tetapi juga menjadi simbol keberanian dan dedikasi dalam melayani Tuhan dan negara.
Di tengah hiruk-pikuk dunia militer, kehadiran seorang pastor militer memberikan harapan dan kedamaian rohani bagi mereka yang bertugas di medan perang. Mereka adalah gembala di tengah medan pertempuran, yang siap memberikan pelayanan sakramen kapan saja dan di mana saja, demi menjaga iman para prajurit Katolik di Tanah Air.
Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Ketapang

0 comments:
Posting Komentar