**Ketapang, 11 September 2024 - Rabu Biasa Pekan XXIII: Berkat dalam Penganiayaan dan Panggilan untuk Menjadi Pembawa Damai**
Dalam suasana tenang pada Rabu Biasa Pekan XXIII ini, umat Katolik di seluruh Keuskupan Ketapang diundang untuk merenungkan sabda Tuhan yang disampaikan melalui Injil Lukas 6:22, “**Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.**” Pesan ini disampaikan oleh **Mgr. Pius Riana Prapdi**, Uskup Keuskupan Ketapang, melalui tangkapan layar yang diunggah di akun Instagram pribadinya.
Dalam postingan tersebut, Uskup Pius mengajak seluruh umat untuk meneladani Yesus, yang tidak gentar menghadapi penganiayaan demi kebenaran. Uskup menekankan bahwa meskipun kita mungkin dianiaya, dicela, atau dikucilkan karena iman kita, di balik penderitaan tersebut tersembunyi berkat ilahi yang tak ternilai. Pesan ini seakan mengingatkan umat bahwa sebagai pengikut Kristus, kita seringkali dihadapkan pada cobaan berat. Namun, di tengah semua itu, Tuhan menawarkan kebahagiaan sejati yang berasal dari kesetiaan pada-Nya.
Di akhir pesannya, Mgr. Pius menutup dengan doa yang sarat akan harapan: "**Yesus, jadikanlah kami pembawa damai. Amin.**" Doa ini mencerminkan harapan bahwa meskipun dunia mungkin membenci, kita tetap dipanggil untuk menjadi utusan damai, menyebarkan kasih dan pengampunan di tengah masyarakat yang terpecah.
Foto Mgr. Pius Riana Prapdi,Uskup Keuskupan KetapangPaus Fransiskus Disambut dengan Sukacita di GBK, 5 September 2024
Beberapa hari sebelum pesan reflektif ini, Indonesia menyambut momen bersejarah lainnya: **kunjungan Paus Fransiskus** ke Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta pada 5 September 2024. Ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan luar negeri, berkumpul dengan penuh antusiasme dan kegembiraan untuk menyambut kedatangan Paus yang dikenal dengan pesan kasih, persaudaraan, dan perdamaian dunia.
Kunjungan Paus Fransiskus ini adalah yang pertama kali dalam lebih dari dua dekade terakhir, menjadikannya salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Dalam homilinya di hadapan ribuan umat yang berkumpul di GBK, Paus menekankan pentingnya persatuan dan rekonsiliasi di tengah keragaman bangsa. "Kita semua dipanggil untuk menjadi pembawa damai, tak peduli siapa kita atau dari mana kita berasal. Damai adalah tugas universal," ujar Paus dengan penuh semangat.
Paus Fransiskus juga mengingatkan bahwa dunia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari konflik antarbangsa hingga perpecahan dalam komunitas kecil. Namun, sebagai umat beriman, kita harus menjadi teladan perdamaian yang nyata, menjadikan setiap tempat yang kita tempati sebagai **"kamp pembawa damai"**. Pernyataan tersebut menjadi tema sentral dalam setiap acara selama kunjungannya di Indonesia, menggarisbawahi pentingnya kerukunan dalam keberagaman.
Refleksi atas Peran Umat sebagai Pembawa Damai
Mengikuti jejak Paus Fransiskus, **Mgr. Pius Riana Prapdi** juga menekankan bahwa tugas utama umat beriman, terutama di Keuskupan Ketapang, adalah menjadi pembawa damai di lingkungan masing-masing. Uskup Pius mengingatkan bahwa perdamaian bukan hanya berarti tidak adanya konflik, tetapi sebuah upaya aktif untuk menciptakan harmoni melalui kasih, toleransi, dan pengertian.
“Di tengah dunia yang penuh dengan kekerasan, kita dipanggil untuk membawa damai. Perdamaian tidak hanya dimulai dari negara-negara besar atau pemimpin dunia, tetapi juga dari hati setiap individu,” tegas Uskup Pius dalam salah satu kesempatan pastoralnya.
Selain itu, Uskup juga menekankan pentingnya pendidikan damai di kalangan generasi muda. Di sekolah-sekolah Katolik dan komunitas-komunitas paroki, nilai-nilai kasih dan pengampunan harus ditanamkan sejak dini. Umat, terutama kaum muda, didorong untuk menjadi agen perubahan yang mengutamakan perdamaian dalam setiap tindakan mereka.
Menghadapi Tantangan dalam Menjadi Pembawa Damai
Tentu, menjadi pembawa damai tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, baik dalam skala besar seperti ketegangan antarumat beragama, maupun dalam lingkup kecil seperti konflik dalam keluarga atau komunitas. Namun, Paus Fransiskus dan Mgr. Pius sama-sama menekankan bahwa meskipun jalan menuju perdamaian dipenuhi dengan rintangan, kesetiaan kita pada ajaran Yesus adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan sejati.
Dalam sambutannya, Paus Fransiskus menyatakan, "Tidak ada damai yang lahir dari kebencian atau balas dendam. Damai hanya bisa dicapai dengan pengampunan dan pengertian." Pesan ini menggemakan ajaran Injil, yang menegaskan bahwa kebahagiaan sejati datang dari penyerahan diri kita kepada Tuhan, bahkan ketika dunia mengucilkan kita.
Kesimpulan: Menyebarkan Perdamaian di Tengah Dunia yang Terpecah
Pada akhirnya, baik Paus Fransiskus maupun Mgr. Pius Riana Prapdi sama-sama mengajak umat untuk tidak gentar dalam menjalankan misi sebagai pembawa damai. Mereka mendorong umat untuk tetap teguh dan setia pada ajaran kasih dan pengampunan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan.
Tanggal 11 September 2024 menjadi momen refleksi bagi seluruh umat di Keuskupan Ketapang, mengingatkan bahwa meskipun dunia mungkin membenci atau mengucilkan kita karena iman, kita dipanggil untuk tetap bersukacita. Pesan Injil yang dibagikan melalui tangkapan layar oleh Uskup Pius, serta semangat yang dibawa oleh kunjungan Paus Fransiskus, memberikan inspirasi bagi semua umat untuk melangkah dalam damai, menjadi terang bagi dunia.
**"Yesus, jadikanlah kami pembawa damai."**
*Sumber: Akun Instagram Pribadi Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang.*
*Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang*
*Tanggal: 10 September 2024*


0 comments:
Posting Komentar