**Pesan Perdamaian Mgr. Pius Riana Prapdi Mengajak Umat untuk Tetap Berbahagia dalam Iman**


                                         Foto Mgr. Pius Riana Prapdi,Uskup Keuskupan Ketapang

*Ketapang, 11 September 2024* – Sebuah pesan penuh harapan dan kekuatan dibagikan melalui akun Instagram pribadi Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang. Pada hari itu, Uskup Pius mengajak umat Katolik untuk merenungkan kutipan Injil Lukas 6:22 yang berbunyi, “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” Pesan yang tampaknya sederhana ini justru memiliki makna yang sangat mendalam, mengajak kita untuk memahami nilai sejati dari penderitaan yang kita alami karena iman.

Di era modern yang penuh dengan tantangan ini, kita sering kali dihadapkan pada situasi di mana iman kita diuji oleh pengucilan, cibiran, dan cemoohan. Namun, Uskup Pius menekankan bahwa dalam setiap penganiayaan, ada berkat tersembunyi yang datang dari Tuhan. Penganiayaan karena iman bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah kemenangan rohani yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. “Berbahagialah kamu,” demikian Uskup Pius mengingatkan, seraya mengajak umat untuk melihat setiap tantangan sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati yang dijanjikan oleh Tuhan.

Pesan ini disampaikan di saat yang tepat, mengingat berbagai pergolakan sosial dan konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sebagai seorang pemimpin spiritual, Mgr. Pius Riana Prapdi selalu berusaha memberikan bimbingan dan kekuatan kepada umatnya, terutama di masa-masa sulit. Dalam pesan ini, beliau mengingatkan bahwa kita, sebagai pengikut Kristus, tidak boleh menyerah pada tekanan dunia. Justru, kita harus berani menghadapi cemoohan dengan penuh kasih dan pengampunan, sembari menjaga hati kita tetap bersyukur dan berbahagia karena kita menjalani hidup sesuai dengan ajaran Kristus.

Uskup Pius menutup pesannya dengan sebuah doa yang singkat namun penuh makna: “Yesus, jadikanlah kami pembawa damai. Amin.” Doa ini bukan sekadar permohonan biasa, melainkan sebuah panggilan untuk setiap umat agar senantiasa menjadi agen perdamaian, bahkan di tengah situasi yang penuh dengan kekerasan dan ketidakadilan. Mengingat bahwa perdamaian tidak datang dari ketenangan semata, tetapi dari kesediaan kita untuk mengampuni, memahami, dan mencintai sesama dengan tulus, doa ini menjadi ajakan yang mendalam bagi semua orang untuk menciptakan harmoni di lingkungan mereka masing-masing.


                         Foto Tangkapan Layar Akun Instagram Pribadi Mgr. Pius Riana Prapdi,                                                                                            Uskup Keuskupan Ketapang 

Kunjungan Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno: Momen Bersejarah untuk Perdamaian Dunia

Tidak hanya pesan dari Uskup Pius yang menginspirasi umat untuk menciptakan damai. Beberapa hari sebelumnya, pada 5 September 2024, Indonesia merayakan momen bersejarah dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru negeri, termasuk dari Keuskupan Ketapang, berkumpul dengan penuh antusias untuk menyambut pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut. Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen kebahagiaan dan persatuan umat, tetapi juga membawa pesan kuat tentang perdamaian, kasih, dan rekonsiliasi di tengah keberagaman.

Dalam homilinya di hadapan ribuan umat, Paus Fransiskus menegaskan bahwa perdamaian adalah tugas universal yang harus diperjuangkan oleh setiap orang. Beliau menekankan bahwa setiap individu, komunitas, dan negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana damai dan harmoni. Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk menjadikan setiap tempat yang mereka tempati sebagai “kamp pembawa damai.” Kami damai bukan hanya berarti lingkungan tanpa konflik, tetapi juga sebuah komunitas yang hidup dalam kasih, saling mendukung, dan mengutamakan pengertian antar sesama.

Panggilan untuk Menjadi Pembawa Damai: Tugas Seorang Umat Beriman

Pesan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus sejalan dengan ajakan Mgr. Pius Riana Prapdi untuk menjadi pembawa damai. Di tengah dunia yang penuh dengan konflik dan ketidakpastian, kita sebagai umat beriman memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan kasih dan pengampunan. Uskup Pius mengingatkan bahwa kita tidak bisa hanya berdiam diri dan berharap dunia menjadi damai tanpa usaha nyata. Perdamaian harus dimulai dari diri sendiri, dari cara kita bersikap terhadap sesama, keluarga, dan masyarakat.

Dalam beberapa kesempatan pastoralnya, Uskup Pius sering kali menyampaikan pentingnya pendidikan damai di kalangan generasi muda. Beliau berpendapat bahwa nilai-nilai perdamaian harus diajarkan sejak dini, sehingga anak-anak tumbuh menjadi individu yang mengutamakan kasih dan pengertian. Sekolah-sekolah Katolik dan komunitas paroki di Keuskupan Ketapang telah berusaha mengimplementasikan ajaran ini, dengan menyelenggarakan program-program yang mengajarkan pentingnya dialog, toleransi, dan kerja sama di tengah perbedaan.

Menyebarkan Pesan Damai di Tengah Penganiayaan

Meski demikian, menjadi pembawa damai tidaklah mudah. Sebagaimana disampaikan oleh Uskup Pius melalui refleksi Injil Lukas 6:22, penganiayaan karena iman akan selalu ada. Dunia mungkin menolak kita karena kita memilih untuk berjalan dalam kebenaran, tetapi kita tidak boleh menyerah. Penganiayaan adalah tanda bahwa kita berada di jalan yang benar, jalan yang dipimpin oleh Kristus.

skup Pius berpesan kepada umat agar tidak gentar menghadapi cemoohan atau pengucilan. “Dalam setiap penderitaan karena iman, ada kebahagiaan yang lebih besar yang menanti,” ujarnya. Beliau mengajak umat untuk tetap teguh, karena setiap tindakan kecil dalam membawa damai memiliki dampak yang besar, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Kesimpulan: Menjadi Utusan Damai di Dunia yang Terpecah

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan oleh Mgr. Pius Riana Prapdi, melalui akun Instagramnya dan kunjungan Paus Fransiskus, ke Indonesia adalah seruan bagi seluruh umat untuk bersatu dalam perdamaian. Meskipun dunia mungkin penuh dengan kebencian dan ketidakadilan, kita dipanggil untuk membawa terang kasih Tuhan ke dalamnya. Dengan doa yang sederhana, “Yesus, jadikanlah kami pembawa damai,” kita diingatkan akan tanggung jawab besar kita sebagai umat Katolik untuk selalu menyebarkan damai, kapan pun dan di mana pun.

Mari kita jadikan hidup kita sebagai refleksi dari ajaran Kristus. Di tengah dunia yang terpecah, mari kita bersatu sebagai pembawa damai, menciptakan harmoni yang sejati bagi kemanusiaan.


*Sumber: Akun Instagram Pribadi Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang*  

*Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang*  

*Tanggal: 11 September 2024*

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar