“Misa Suci Bersama Paus Fransiskus di GBK: Sebuah Momen Penuh Kasih, Harapan, dan Air Mata”

 

                                  Foto Bapa Suci   Paus Fransiskus .Pimpin Misa Suci  di GBK

*Ketapang, 7 September 2024* — Matahari sore di Jakarta terasa hangat dan lembut saat puluhan ribu umat Katolik berkumpul di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada Kamis, 5 September 2024. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri, dengan hati yang penuh harap dan cinta, untuk mengikuti Misa Suci yang dipimpin langsung oleh Paus Fransiskus, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia. Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian perjalanan apostolik sekaligus kunjungan kenegaraan Paus Fransiskus di Indonesia, yang telah menciptakan momen-momen luar biasa, menggetarkan hati siapa saja yang hadir.

                               Foto Bapa Suci   Paus Fransiskus .Pimpin Misa Suci  di GBK


Ketika jam menunjukkan pukul 16.13 WIB, suasana di stadion yang sudah penuh sesak seolah-olah terhenti sejenak. Semua mata tertuju pada iring-iringan kendaraan yang membawa sosok yang begitu dinanti-nanti, Paus Fransiskus. Mobil Innova Zenix dengan pelat SCV-1 berhenti perlahan di Stadion Madya. Paus Fransiskus, dengan senyum hangatnya, turun dari mobil dan beralih ke kursi roda, disambut oleh Presiden Joko Widodo yang dengan hangat menyalami sang pemimpin umat Katolik. Di tengah kerumunan, terdengar bisikan penuh haru dari umat, "Ini adalah berkat yang luar biasa, melihat Paus di tanah air kita."


**Sebuah Sambutan Penuh Kasih dari Seluruh Indonesia**

Paus Fransiskus kemudian menaiki kendaraan taktis Maung, sebuah kendaraan yang diproduksi PT Pindad, sebagai simbol kebanggaan Indonesia. Sekitar pukul 16.27 WIB, Maung berwarna putih itu mulai berkeliling stadion, mengelilingi ribuan umat yang bersorak gembira. "Viva Il Papa! Viva Il Papa!" seruan penuh semangat dan harapan bergema memenuhi GBK. Paus Fransiskus, dengan mata yang penuh cinta, melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Di antara umat yang hadir, banyak yang tidak dapat menahan air mata haru. Seorang ibu yang membawa anaknya berkata, "Ini pertama kalinya saya melihat Paus Fransiskus begitu dekat. Hati saya bergetar. Anak saya pun sangat senang."

Senyuman Paus Fransiskus yang tulus dan gerakan tangannya yang lemah lembut membuat banyak orang merasa seolah-olah mereka bukan hanya bertemu seorang pemimpin, tetapi juga seorang ayah yang penuh kasih. 


**Air Mata Berjatuhan Saat Anak-Anak Diberkati**

Saat mobil Maung yang membawa Paus Fransiskus berhenti beberapa kali, ada momen yang tak terlupakan. Sejumlah anak kecil yang duduk di depan barisan bergegas menuju Paus Fransiskus. Paus mengangkat tangannya dengan lembut, memberkati mereka satu per satu. Seorang anak perempuan kecil, dengan mata berbinar, berlari menuju Paus, sementara pengawal membantu mengangkatnya. Paus tersenyum dan memeluknya erat, memberkati anak tersebut. Air mata kegembiraan mengalir di wajah anak-anak dan orang tua mereka yang menyaksikan.

“Saya tidak pernah menyangka anak saya bisa sedekat ini dengan Paus,” ujar seorang ayah dengan suara bergetar. “Ini adalah berkat yang tak terhingga, kami merasa diberkati dan dikuatkan dalam iman.”


**Kesederhanaan dan Inklusivitas yang Menggetarkan Hati**

Di tengah prosesi Misa, sebuah momen menggugah muncul saat seorang lektor tunanetra naik ke mimbar, membawa Alkitab Braille. Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, ia mulai membacakan Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus. Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara lembut sang lektor. Banyak di antara jemaat yang menitikkan air mata, terharu oleh inklusivitas yang ditunjukkan dalam misa ini. “Kami semua di sini sama di hadapan Tuhan,” ucap salah satu jemaat. “Tidak ada perbedaan, tidak ada diskriminasi. Kami merasa sangat diterima dan dihargai.”


**Doa dalam Bahasa Daerah: Suara Keberagaman Indonesia**

Misa di GBK juga diwarnai dengan pembacaan doa umat dalam berbagai bahasa daerah. Pembaca doa yang mengenakan pakaian adat dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa, Toraja, Manggarai, Batak, Dayak Kanayatn, dan Malind Merauke, bergantian memanjatkan doa. Suara mereka menggema di seluruh stadion, mengalun dalam bahasa yang berbeda tetapi dengan satu tujuan — memohon damai, keadilan, dan kebaikan untuk bangsa Indonesia.

Seorang umat dari Papua yang hadir dalam Misa ini mengaku terharu. “Saya merasa seluruh Indonesia hadir di sini. Paus Fransiskus telah memperlihatkan kepada kami bahwa keragaman adalah kekuatan, dan saya merasa sangat bangga sebagai bagian dari Indonesia,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.


**Pesan Cinta dan Persatuan dari Seorang Pemimpin yang Rendah Hati**

Misa di GBK bukan hanya sekadar perayaan iman, tetapi juga simbol dari kasih, persatuan, dan harapan. Paus Fransiskus telah mengajarkan, melalui kata dan tindakan, bahwa keberagaman adalah anugerah, dialog adalah jalan untuk mengatasi perbedaan, dan menjaga bumi adalah tugas kita semua. “Beliau bukan hanya seorang tokoh agama, tetapi juga seorang pemimpin yang merangkul semua, memberikan contoh bagaimana hidup dengan kasih dan keimanan,” kata Gus Yaqut, Menteri Agama Indonesia, yang turut hadir dalam acara tersebut.

Besok, Paus Fransiskus akan meninggalkan Indonesia menuju Papua Nugini, tetapi kenangan indah dari kunjungan apostolik ini akan tetap terpatri di hati jutaan umat di Indonesia. Ini adalah momen yang mengajarkan bahwa cinta dan kebersamaan dapat melampaui segala batas, bahasa, dan budaya. 


**Penulis:** Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang  

**Tanggal:** 7 September 2024  


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar