**Ketapang, 21 September 2024 - Pastor Yerun dan PBS: Menebas Jalan Kemajuan Dayak**
Nama lengkapnya Jacobus Cornelius Stoop, lahir di Schoorl, Negeri Belanda pada 2 Maret 1925. Di usia 28 tahun, tepatnya pada tahun 1953, setahun setelah ia ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis, Pastor Jacobus memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke tanah misi di Kalimantan Barat, tepatnya Ketapang. Tanah yang saat itu dikenal dengan nama Matan.
Keberangkatan Pastor Jacobus ke Indonesia bukanlah perjalanan yang mudah. Dengan menumpang kapal Oranye dari pelabuhan Amsterdam menuju Singapura, ia memulai perjalanan misionarisnya. Setibanya di Singapura, ia melanjutkan perjalanan ke Pontianak dengan kapal Lamonggang, dan akhirnya menjejakkan kaki di tanah Ketapang pada 20 Oktober 1953. Di Ketapang, Pastor Jacobus dikenal sebagai Pastor Yerun, sebuah nama yang kelak sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
**Perjalanan Misi Pastor Yerun di Tumbang Titi**
Setibanya di Ketapang, Pastor Yerun segera ditugaskan ke wilayah Tumbang Titi, sebuah area yang mencakup juga Tayap atau Matan Hulu. Sebagai seorang imam muda, ia dihadapkan pada tantangan besar—pelayanan misionaris di daerah terpencil, dengan infrastruktur dan akses yang sangat terbatas. Perjalanan ke pelosok dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda, di tengah kondisi alam yang sulit.
Pada pertemuannya dengan PJ Denggol, seorang tokoh gereja dan Wedana di Tayap yang juga seorang Penyebar Injil di Sekadau, mereka membahas banyak hal terkait tantangan misi di wilayah Dayak. Dari perbincangan tersebut, muncul ide besar yang kelak diwujudkan dua puluh tahun kemudian dalam bentuk Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang (PBS). PBS ini menjadi salah satu terobosan penting dalam upaya memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Dayak.
**Kehidupan Misionaris di Tengah Masyarakat Dayak**
Natal pertamanya di tanah misi dilalui di Serengkah. Di sana, ia berkenalan dengan budaya lokal Dayak, salah satunya musik Begendang yang mengiringi pesta, di mana banyak orang makan, minum tuak, bahkan mabuk. Meski sempat terkejut, pengetahuan misiologi dan antropologi yang telah ia pelajari di Belanda membantu Pastor Yerun untuk lebih memahami dan tidak langsung menilai budaya setempat. Sebaliknya, ia menanamkan rasa hormat terhadap masyarakat yang ia layani, sembari perlahan-lahan mengenalkan ajaran Injil.
Namun, satu hal yang sangat mengusik pikirannya selama melakukan turne di wilayah Tumbang Titi, Tayap, dan Sandai adalah rendahnya tingkat pendidikan di kalangan muda-mudi Dayak. Sebagian besar hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, tanpa kesempatan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pastor Yerun sangat menyadari pentingnya pendidikan untuk memajukan sebuah komunitas, dan dari situ mulai terbersit gagasan untuk menyediakan beasiswa pendidikan bagi anak-anak Dayak.
Pastor Yerun Stoop CP, bersiap menari adat. Saat perpisahan dengan Alumni PBS sebelum ia pindah tugas ke Malang, Jawa Timur, 1999. Foto dok : Alkap Pasti**Kembali ke Belanda dan Pengaruh Konsili Vatikan II**
Setelah 10 tahun berkarya di Matan Hulu, pada tahun 1963 Pastor Yerun kembali ke Belanda untuk mengambil cuti. Setahun penuh ia habiskan di tanah kelahirannya, yang kini terasa asing dengan iklim dingin yang menusuk setelah bertahun-tahun di bawah terik matahari tropis. Saat itu, Gereja Katolik sedang mengalami perubahan besar dengan diadakannya Konsili Vatikan II. Pastor Yerun memanfaatkan cuti panjangnya untuk memperdalam pengetahuan teologi dan misiologi, mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru dalam pelayanannya di tanah misi.
Pada tahun 1965, setelah menyelesaikan cutinya, Pastor Yerun kembali ke Indonesia. Kali ini, ia ditugaskan di Lintang Kapuas, Kabupaten Sanggau. Di sana, ia melanjutkan pelayanannya, berkunjung ke kampung-kampung Dayak di Sungai Biang, Meliau, Tayan, hingga Teraju, menyebarkan ajaran Injil dan terus membina hubungan dengan masyarakat Dayak yang ia cintai.
**Memimpin dan Mengabdi sebagai Vikjen Keuskupan Ketapang**
Pada 8 Agustus 1970, Pastor Yerun diangkat menjadi Superior Pasionis di wilayah tersebut. Namun, tanggung jawab yang lebih besar menantinya. Pada tahun 1974, ia diangkat menjadi Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ketapang oleh Uskup pertama Ketapang, Mgr. Sillekens. Dalam perannya sebagai Vikjen, Pastor Yerun bekerja keras membantu membangun gereja lokal, baik dari segi spiritual maupun sosial, terutama dalam hal pendidikan bagi generasi muda Dayak.
Kepemimpinan Pastor Yerun terus berlanjut ketika Mgr. Blasius Pujaraharja diangkat menjadi Uskup Ketapang pada tahun 1979. Pastor Yerun kembali diangkat sebagai Vikjen dan terus melayani hingga April 1999, sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Malang, Jawa Timur.
Salah satu warisan terbesar Pastor Yerun adalah terbentuknya Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang (PBS). Bersama PJ Denggol, Pastor Yerun menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk membawa masyarakat Dayak menuju kemajuan. PBS yang mereka dirikan menjadi pintu bagi anak-anak Dayak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik di Ketapang maupun daerah lainnya di Indonesia.
PBS tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi simbol upaya Gereja dalam memberdayakan masyarakat Dayak melalui pendidikan. Hingga kini, ribuan anak Dayak telah merasakan manfaat dari program beasiswa ini, menjadikannya sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Pastor Yerun adalah figur yang berhasil menggabungkan misi religius dengan misi sosial. Ia tidak hanya berfokus pada penyebaran ajaran Katolik, tetapi juga pada bagaimana masyarakat setempat bisa maju melalui pendidikan dan pemberdayaan. Karyanya selama hampir lima dekade di Ketapang akan terus dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang membuka jalan kemajuan bagi masyarakat Dayak.
*Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang*
Tanggal: 21 September 2024


0 comments:
Posting Komentar