**Paus Fransiskus Sentil Pejabat Papua Nugini soal Perlakuan Terhadap Pekerja dan Kekerasan Etnis**

                            Foto.Paus Fransiskus di Sambut Masyarakat  Papua Nugini


*Ketapang, 8 September 2024* – Paus Fransiskus pada Sabtu (7/9/2024) menyampaikan seruan tegas untuk perlakuan yang lebih baik terhadap para pekerja di Papua Nugini. Dalam pidatonya kepada para pejabat politik negara itu, Paus berusia 87 tahun ini juga mengutarakan permohonan tulus untuk mengakhiri kekerasan etnis yang telah menelan banyak korban jiwa dalam beberapa bulan terakhir.

Papua Nugini, negara kepulauan di Pasifik Barat Daya yang dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, telah menjadi sasaran utama perusahaan internasional dalam eksplorasi gas, emas, dan cadangan alam lainnya. Menyadari hal ini, Paus Fransiskus menekankan bahwa sumber daya alam Papua Nugini "ditakdirkan oleh Tuhan" untuk kesejahteraan seluruh masyarakat. 

"Bahkan jika para ahli dari luar dan perusahaan internasional harus dilibatkan, kebutuhan masyarakat setempat harus dipertimbangkan dengan saksama saat mendistribusikan hasil dan mempekerjakan pekerja, untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka," ujar Paus Fransiskus. Ia menyerukan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, yang "meningkatkan kesejahteraan semua orang tanpa mengecualikan siapa pun, melalui kerja sama internasional, saling menghormati, dan perjanjian yang menguntungkan semua pihak."

Setibanya di APEC Haus, sebuah pusat konferensi di Port Moresby yang dibangun untuk forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik 2018, Paus Fransiskus disambut dengan tarian tradisional dari sekelompok warga Papua Nugini yang mengenakan pakaian khas dengan hiasan kepala berbulu dan rok bermanik-manik. Paus, yang menggunakan kursi roda karena nyeri lutut dan punggung, didorong melewati serambi pintu masuk dengan layar kayu melengkung yang terinspirasi oleh desain tato lakatoi yang unik.

Dalam pidato sambutannya, Gubernur Jenderal Papua Nugini, Bob Dadae, mengapresiasi advokasi kemanusiaan Paus Fransiskus dan menyebut Gereja Katolik sebagai salah satu "mitra pembangunan utama" di negara tersebut. Papua Nugini, yang memiliki beberapa endapan emas terbesar di dunia serta menjadi pengekspor utama gas alam dan minyak, sedang berupaya meningkatkan manfaat lokal dari proyek-proyek yang dilakukan oleh perusahaan internasional seperti Exxon Mobil Corp dan Newcrest Mining.

Namun, tantangan ekonomi masih besar. Laporan terbaru Bank Dunia pada Mei menunjukkan pertumbuhan ekonomi Papua Nugini hanya mencapai 2,7% pada tahun lalu, dengan negara tersebut mengalami "krisis modal manusia" di mana hampir setengah dari anak-anak mengalami pertumbuhan yang terhambat.

Sebagai negara dengan keragaman suku yang luar biasa, Papua Nugini memiliki sejarah panjang konflik etnis. Pada bulan Juli lalu, serangan kekerasan di tiga desa terpencil menewaskan sedikitnya 26 orang, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Paus Fransiskus menyampaikan harapan khusus untuk mengakhiri kekerasan suku, menyerukan "rasa tanggung jawab semua orang untuk menghentikan spiral kekerasan dan memulai jalan kerja sama yang bermanfaat."

Paus juga menyoroti isu status Pulau Bougainville, yang memilih kemerdekaan pada 2019 namun masih menghadapi kebuntuan politik di parlemen Papua Nugini. Ia menyerukan "solusi definitif" untuk masalah tersebut, guna mencapai perdamaian dan stabilitas yang lebih besar.

Papua Nugini, dengan populasi yang diperkirakan antara 9 juta hingga 17 juta jiwa, memiliki sekitar 2,5 juta umat Katolik. Kunjungan Paus Fransiskus ke negara ini adalah bagian dari perjalanan 12 hari yang mencakup Indonesia, Timor Leste, dan Singapura. Perjalanan ini merupakan kunjungan luar negeri terlamanya sejauh ini.

Dalam pidatonya, Paus juga menunjukkan selera humornya yang khas. Ia menyebut keragaman bahasa di Papua Nugini sebagai tantangan unik bagi Roh Kudus. "Saya membayangkan bahwa keragaman yang sangat besar ini merupakan tantangan bagi Roh Kudus, yang menciptakan keharmonisan di tengah perbedaan!" katanya.

Paus Fransiskus akan berada di Papua Nugini hingga Senin sebelum melanjutkan kunjungan ke Timor Leste dan Singapura, dan akhirnya kembali ke Roma pada 13 September.


**Penulis:** Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang  

**Tanggal:** 8 September 2024.

 

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar