**Sejarah Gereja Keuskupan Ketapang: Dirintis oleh Awam yang Teguh dalam Iman**


                              Foto Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph,Serengkah

**Ketapang, 12 September 2024 - Sejarah Gereja Keuskupan Ketapang: Dirintis oleh Awam yang Teguh dalam Iman**Gereja Katolik di Ketapang, Kalimantan Barat, memiliki sejarah yang kaya dan mendalam, yang dimulai oleh peranan para pedagang Tionghoa Katolik. Pada awal abad ke-20, mereka berperan penting dalam pekabaran Injil di Kalimantan Barat, khususnya di daerah yang dikenal sebagai Matan—nama lama dari Ketapang. Sambil berdagang, mereka mewartakan Kabar Gembira tentang Yesus Kristus, memulai misi yang masih berlangsung hingga saat ini.

**Awal Mula Kehadiran Katolik di Ketapang**

Pada tahun 1910, lima keluarga Tionghoa Katolik meninggalkan Tiongkok dan melalui Singapura, Penang, serta Pontianak, akhirnya menetap di Ketapang. Di antara mereka, terdapat tiga bersaudara: Tan A Hak, Tan A Ni, dan Tan Kau Pue, yang menjadi pelopor penyebaran Injil di wilayah ini. Tan A Hak bahkan merambah ke perhuluan Ketapang, di mana ia bertemu dengan komunitas Dayak yang terbuka terhadap ajaran Kristen. Informasi ini sampai ke telinga Mgr. Pacifikus Bos, OFM Cap., Prefek Apostolik Borneo, yang kemudian berkunjung ke Matan pada tahun 1911.



                                     Foto Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph,Serengkah

 **Kedatangan Misionaris Kapusin**

Setelah kunjungan pertamanya, Mgr. Pacifikus Bos mengirim para misionaris Kapusin ke Ketapang setiap dua tahun sekali. Pada tahun 1917, ia kembali atas undangan Tan A Hak, kali ini mengunjungi kampung Serengkah. Di sana, ia bertemu dengan Demong Gomalo Murial, yang kemudian menjadi orang pertama dari Serengkah yang dibaptis dengan nama Yosep. Nama ini kemudian menjadi nama pelindung Paroki Serengkah.

**Pendirian Sekolah Rakyat dan Peran Para Tokoh Awam**

Seiring dengan penyebaran iman, dibangunlah sekolah rakyat pada tahun 1918 di Serengkah. Tan A Hak, Gomalo Murial, dan Mgr. Bos bekerja sama untuk merealisasikan proyek ini, dengan Yohanes A Mok dari Singapura sebagai guru pertama. Selanjutnya, muncul tokoh-tokoh seperti Petrus Josef Denggol yang memainkan peran penting dalam penyebaran Injil di Sekadau.

Pendidikan Kristen juga berkembang di tempat lain, seperti di laman Tanjung, Semapau, Laur, dan Randau, di mana didirikan sekolah-sekolah dan gereja sederhana sebagai pusat ibadah. Kehadiran para guru dan katekis ini sangat penting dalam membangun fondasi iman Katolik di Kalimantan Barat.

**Tumbang Titi sebagai Pusat Penyebaran Injil**

Pada tahun 1937, Mgr. Van Valenberg, Prefek Apostolik yang baru, memutuskan Tumbang Titi sebagai pusat kegiatan pastoral. Gereja dan pastoran dibangun, dengan Pastor Leo de Jong dan Pastor Gerardus sebagai penghuninya. Dari Tumbang Titi, para misionaris mengadakan perjalanan jauh ke berbagai pelosok, membawa Injil ke Simpang, Balai, Sekukun, Kudangan, Delang, dan tempat-tempat lain di Kalimantan Tengah.

**Misionaris Pasionis dan Suster OSA**

Menghadapi wilayah yang begitu luas, pada tahun 1939, Mgr. Van Valenberg mengundang Kongregasi Passionis untuk membantu karya misi di Ketapang. Para misionaris ini, termasuk Pastor Canisius Pijnapples, Pastor Bernardinus Knippenberg, dan Pastor Plechelmus Dullaert, tiba di Indonesia pada tahun 1946. Misi ini diperkuat oleh kedatangan suster-suster Agustines dari Belanda yang bekerja di Ketapang sejak tahun 1949, mendirikan berbagai institusi, termasuk sekolah teknik.

 **Ketapang Ditetapkan Menjadi Keuskupan**

Pada tahun 1954, status daerah misi Ketapang ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik oleh Paus Pius XII, dan mencakup Ketapang, Sekadau, dan Meliau. Pada tahun 1961, Prefektur Apostolik ini kemudian dinaikkan statusnya menjadi Keuskupan, dengan Pastor Gabriel W. Sillekens, CP, sebagai Administrator Apostolik. Setelah ditahbiskan menjadi uskup pada tahun 1962, ia memimpin keuskupan dengan penuh semangat, termasuk membangun Gereja Katedral dengan nama pelindung St. Gemma Galgani.

 **Perkembangan Lanjutan dan Tantangan Keuangan**

Seiring waktu, Gereja Ketapang terus berkembang, dengan dukungan para bruder FIC yang mulai berkarya dalam bidang pendidikan sejak tahun 1962. Meskipun demikian, keterbatasan dana mengakibatkan Gereja mengalami kesulitan dalam membiayai katekis baru. Namun, peran para awam, seperti ketua umat dan guru-guru Katolik, tetap kuat dan terus berlanjut, memperkuat iman umat di stasi-stasi yang tersebar di seluruh Keuskupan.

 **Kedatangan Imam Filipina dan Perubahan Kepemimpinan**

Pada akhir tahun 1980-an, para imam dari Filipina mulai tiba di Ketapang, memperluas jaringan pelayanan pastoral ke daerah-daerah pedalaman. Sementara itu, Mgr. Blasius Pujaraharja menjadi uskup Ketapang pada tahun 1979, menggantikan Mgr. Sillekens. Kepemimpinannya ditandai dengan pembentukan komisi-komisi dan peningkatan pendidikan calon imam.

Pada tahun 2012, Mgr. Pius Riana Prapdi ditahbiskan menjadi uskup baru, menandai babak baru dalam perjalanan Gereja Keuskupan Ketapang. Melalui berbagai upaya dan dedikasi para misionaris, imam, suster, bruder, dan umat awam, Gereja ini terus tumbuh dan melayani masyarakat di Kalimantan Barat.


 **Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang**  

**Tanggal: 12 September 2024**

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar