Ketapang, 25 Mei 2025.Suasana pagi yang sejuk dan damai di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Ketapang, menjadi semakin hangat dan akrab ketika sekelompok umat berkumpul dalam sebuah kegiatan coffee morning usai perayaan Ekaristi harian. Bertempat di Ruang Santai depan Sekretariat Pastoran, kegiatan ini menghadirkan nuansa diskusi santai namun penuh makna. Kopi hangat, penganan ringan, dan senyum hangat menjadi latar suasana, namun sorotan utama pagi itu datang dari sebuah pernyataan sederhana namun menyentuh dari seorang Prodiakon aktif, Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S.
Dalam momen diskusi penuh canda dan refleksi, beliau dengan gaya khasnya yang humoris dan rendah hati menyatakan, “Saya duda.” Seketika tawa pecah di antara peserta. Namun kemudian beliau menambahkan, “Tapi bukan duda secara harafiah, melainkan singkatan dari Dalam Damaimu Aku Ada.”
Pernyataan itu mengundang keheningan sejenak. Sebuah kalimat yang tampaknya ringan, ternyata menyimpan kedalaman rohani yang sangat mendalam. Ungkapan tersebut bukan hanya menjadi permainan kata, tetapi mengandung pengakuan iman, kesadaran spiritual, dan pesan pastoral yang menyentuh hati banyak orang yang hadir.
Makna Tema: “Duda – Dalam Damaimu Aku Ada”
Bapak Ignasius kemudian menjelaskan secara reflektif makna dari akronim “duda” yang ia ciptakan. Dalam terang iman Katolik, kalimat itu merefleksikan keyakinan bahwa dalam damai Allah-lah manusia menemukan eksistensinya yang sejati. Ia menyebutkan bahwa damai bukan hanya kondisi tanpa konflik, melainkan keutuhan jiwa, keharmonisan relasi, dan kehadiran kasih Allah dalam hidup umat beriman.
“Dalam damai Tuhan, saya merasa ada. Dalam damai-Nya, saya merasa diterima, utuh, dan dicintai. Dan saya percaya, banyak dari kita yang merindukan damai seperti ini,” ungkap beliau dengan nada tenang yang menggugah.
Diskusi Bertema Iman, Kehidupan, dan Damai
Kegiatan coffee morning ini bukan hanya sarana silaturahmi, melainkan juga menjadi ruang berbagi pengalaman iman, menguatkan persaudaraan, serta mempererat kolaborasi dalam pelayanan pastoral. Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh umat dan pelayan pastoral, antara lain:
-
Bapak FX. Krisna Murti, Bendahara I Paroki
-
Bapak Willem Ranto Sihombing, Ketua Lingkungan St. Yosef
-
Bapak Sabinus Jumpo, Anggota Tim Kerja Budaya
-
Bapak Petrus Setyo Winarsih, Ketua Lingkungan St. Filipus dan Tim Kerja Pemeliharaan Gedung
-
Bapak Usman Nikolaus, S.E., Anggota Prodiakon
-
Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini, Tim Kerja Musik Liturgi, Koor dan Dirigen
-
Ibu Yohana Dani Oneng Wahyuni, Pelayan Umat
-
Bapak Petrus Sapriyun, Tim Kerja Komunikasi Sosial
Masing-masing peserta menanggapi tema “duda” dengan antusias. Beberapa mengaitkan dengan pengalaman pribadi mereka dalam pelayanan dan tantangan hidup. Mereka mengakui bahwa kedamaian Allah sering kali menjadi pelita saat badai kehidupan datang. Maka, ketika Bapak Ignasius menyuarakan tema itu dengan jenaka, sebenarnya beliau sedang membuka ruang bagi semua untuk merenungkan makna kedamaian ilahi secara lebih dalam.
Damai dalam Tradisi Gereja Katolik
Dalam diskusi tersebut juga ditegaskan bahwa dalam tradisi Katolik, damai (shalom) adalah buah dari Roh Kudus (Galatia 5:22), yang menghadirkan kesatuan antara manusia dengan Allah, dengan sesama, dengan ciptaan, dan dengan dirinya sendiri. Yesus Kristus sebagai Sang Raja Damai (bdk. Yesaya 9:5) datang untuk menghadirkan tatanan damai baru yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Melalui sakramen, doa, dan perayaan Ekaristi, umat dipanggil untuk masuk dalam keheningan batin, menyatu dengan kehendak Allah, dan membiarkan damai Kristus meresap dalam seluruh aspek kehidupan.
“Aku Ada” – Pengakuan Eksistensial dalam Damai Allah
Kalimat “Aku Ada” dari tema tersebut, menurut para peserta diskusi, adalah sebuah pernyataan iman. Eksistensi manusia tidaklah kebetulan, tetapi dikehendaki dan dikasihi oleh Allah. Di tengah arus kehidupan modern yang sering kali membuat orang merasa hampa dan kehilangan arah, “Aku Ada” dalam damai Allah menjadi kekuatan dan peneguhan yang menyembuhkan.
“Sebagai pelayan umat, kadang kita pun mengalami kelelahan dan kejenuhan. Tapi ketika kita duduk bersama, saling menguatkan, dan mengingat bahwa semua ini karena kasih Tuhan, kita kembali diteguhkan,” ujar Ibu Yohana Dani.
Undangan untuk Menjadi Pembawa Damai
Diskusi ditutup dengan undangan bersama untuk menjadi pembawa damai dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Kristus bersabda dalam Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu,” maka setiap umat Kristiani dipanggil untuk menyebarkan damai itu – di keluarga, tempat kerja, lingkungan sosial, dan pelayanan Gereja.
Bapak Petrus Sapriyun dari Tim Kerja Komunikasi Sosial menambahkan bahwa tema tersebut sangat cocok untuk disosialisasikan dalam kegiatan pastoral dan komunikasi umat. Menurutnya, “duda” adalah contoh nyata bahwa **evangelisasi dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, ringan, tetapi sangat mengena.”
Penutup
"Duda: Dalam Damaimu Aku Ada" bukan sekadar ungkapan jenaka atau permainan kata. Ia adalah kesaksian iman yang lahir dari relasi pribadi dengan Tuhan, yang dibagikan secara sederhana, namun berdampak kuat. Di tengah dunia yang terus bergulat dengan keresahan dan kekacauan, damai Allah adalah satu-satunya tempat di mana manusia bisa menemukan dirinya kembali.
Coffee morning ini mungkin hanya berlangsung satu pagi, tetapi semangat dan inspirasi yang dihadirkannya akan terus hidup dalam pelayanan dan kehidupan umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
“Karena dalam Damaimu, ya Tuhan... kami ada. Dan dalam Damai itu pula, kami ingin terus tinggal.”
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 25 Mei 2025

0 comments:
Posting Komentar