Iman yang Hidup dan Berdampak: Pesan RP. Vitalis Nggeal, CP dalam Homili Sabtu Biasa Pekan VI Paskah
Ketapang, 24 Mei 2025 .Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Ketapang merayakan Hari Sabtu Biasa Pekan VI Paskah dengan penuh khidmat pada Sabtu, 24 Mei 2025. Perayaan Ekaristi yang berlangsung dengan liturgi berwarna putih ini dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, yang dalam homilinya mengajak umat untuk merenungkan makna iman yang sejati dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan tema sentral “Jika Seseorang Menuruti Sabda-Ku Maka Ia Akan Mengikuti Perintah-Ku”, RP. Vitalis menegaskan bahwa iman bukanlah sekadar sesuatu yang imajinatif atau hanya disimpan dalam hati tanpa wujud nyata. “Iman bukan suatu hayalan. Bukan sekadar berkata ‘aku beriman’ dalam hati, tetapi sebuah aktivitas yang menggerakkan. Iman harus kelihatan dan berdampak,” tegasnya di hadapan umat yang hadir.
Dalam refleksinya, beliau mengingatkan bahwa iman sejati membentuk cara berpikir umat Katolik, yang seharusnya berpikiran luas dan positif, bahkan ketika menghadapi tantangan atau penderitaan. “Ketika ada sesuatu yang menimpa, orang yang beriman tidak mudah putus asa. Ia berpikir luas, melihat dari kacamata kasih dan keadilan,” tambahnya.
RP. Vitalis juga menekankan pentingnya relasi yang berdampak nyata: relasi dengan Tuhan, sesama, dan Gereja. “Iman dan tindakan bukan dua hal yang terpisah. Keduanya adalah satu kesatuan. Bukan setiap orang yang berseru ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk Kerajaan Surga, tetapi dia yang melakukan kehendak Bapa,” ungkapnya sambil mengutip sabda Yesus.
Ia menyoroti bahwa kasih kepada Tuhan harus disertai dengan perwujudan nyata dalam hidup sehari-hari. “Mengasihi Tuhan tidak cukup hanya di bibir atau sekadar tampak rohani di permukaan. Kasih harus mencerminkan keadilan, kebaikan, dan berdampak bagi Gereja, sesama, dan Tuhan sendiri,” ujarnya.
RP. Vitalis menutup homili dengan ajakan konkret: belajar dari Yesus, Sang Guru dan Allah yang hidup, yang mengajarkan kasih yang radikal mengasihi musuh, menjadi sahabat yang setia, pasangan yang mengampuni, serta berani menyatakan kebenaran walaupun sulit. “Kita tidak bisa berkata ‘aku mencintai Tuhan’ tetapi tidak punya waktu untuk Gereja, tidak peduli pada orang-orang yang memerlukan pertolongan,” katanya menegaskan.
Dalam suasana yang tenang dan penuh penghayatan, umat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar sabda, tetapi pelaku sabda menjadi pribadi yang menghidupi iman secara nyata dan berdampak dalam lingkungan sekitar.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang Katolik dipanggil untuk menghidupi iman yang dinamis: iman yang tidak hanya hidup dalam doa, tetapi juga nyata dalam tindakan kasih, keadilan, dan pelayanan di tengah dunia.
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 24 Mei 2025

0 comments:
Posting Komentar