Pesan Rohani Pagi dari Ketapang, 28 Mei 2025: Sebuah Sapaan Jiwa dalam Kebisuan
Ketapang, 28 Mei 2025.Pagi yang tenang di Kota Ketapang tiba-tiba dipenuhi dengan semilir keheningan rohani, saat sebuah pesan sederhana namun mendalam mengalir melalui media sosial, tepat pukul 07.09 WIB. Seorang Prodiakon yang juga dikenal sebagai figur pembawa damai dan penuntun iman umat, Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S., mengunggah sebuah status WhatsApp yang menembus batas kata dan menyapa jiwa siapa saja yang membaca.
Isi pesan itu berbunyi:
"Semakin aku menenggelamkan diri dalam kebisuan, maka semakin tebal Allah membungkus aku dalam misteri-Nya."
Meski hanya terdiri dari satu kalimat, makna dari pernyataan ini terasa seperti gelombang yang menyeberangi samudra batin banyak umat. Dalam keseharian yang sering dipenuhi hiruk-pikuk dan kebisingan dunia, pesan ini menjadi pengingat lembut bahwa dalam kebisuan yang bukan sekadar diam, tetapi keheningan penuh permenungan Allah hadir menyapa.
Bapak.Ignasius Rinso Tigor, S.S.,, yang selama ini dikenal melalui pelayanan kasihnya di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, tampaknya tidak hanya berbicara kepada mereka yang berada dalam lingkup paroki, melainkan juga kepada siapa pun yang tengah mencari keheningan di tengah badai kehidupan.
Menurut beberapa umat yang membaca pesan tersebut, ungkapan ini dirasakan sangat relevan dengan kehidupan saat ini. “Saya sedang dalam masa-masa sulit, dan tiba-tiba membaca status itu pagi tadi. Rasanya seperti Tuhan sendiri yang berbicara melalui beliau,” ujar Maria, seorang umat paroki yang mengaku terharu setelah membacanya.
Kebisuan yang disebutkan dalam pesan tersebut tidak dimaknai sebagai bentuk keterasingan, tetapi justru sebagai ruang suci perjumpaan antara manusia dengan Sang Ilahi. Dalam keheningan yang dalam, manusia berhenti berbicara dan mulai mendengar bukan hanya suara sekitar, tetapi suara Roh Kudus yang membisikkan cinta, penghiburan, dan harapan.
Banyak umat yang menjadikan pesan rohani pagi ini sebagai bahan renungan harian, bahkan dibagikan ulang ke berbagai platform sosial media lainnya. Beberapa guru agama di lingkungan sekolah Katolik di Ketapang juga menggunakannya sebagai pembuka pelajaran pendidikan agama hari ini, sebagai bentuk aktualisasi iman di tengah dunia modern.
Kesaksian Rohani di Balik Layar
Ketika dihubungi secara langsung oleh tim media paroki, Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S., dengan rendah hati mengatakan, “Itu hanya penggalan dari permenungan saya pribadi saat berdoa pagi. Saya tidak menyangka akan sampai menyentuh banyak hati. Tapi saya percaya, ketika kita membagikan yang berasal dari dalam keheningan batin, itu bukan lagi tentang kita, tetapi tentang Allah yang berkarya.”
Peristiwa pagi ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia digital yang sering kali digunakan untuk hal-hal profan, masih ada ruang untuk sakralitas. Sebuah status WhatsApp yang biasanya dianggap biasa, bisa menjadi ladang pewartaan kasih dan hikmat, bila diisi oleh hati yang terbakar oleh cinta Tuhan.
Penutup
Ketapang pagi ini disapa bukan oleh gemuruh atau gegap gempita, tetapi oleh kalimat rohani yang mengajak semua untuk diam sejenak menyimak, meresap, dan merenung. Bahwa Allah tidak selalu berbicara dalam badai besar, tetapi dalam suara lembut dalam hati yang bersedia diam.
Semoga pesan ini menjadi benih spiritual yang bertumbuh dalam batin kita, menuntun langkah dalam keheningan yang bukan sekadar hampa, tetapi penuh kehadiran Ilahi. Sebab, dalam kebisuan yang kudus, misteri Allah perlahan membuka tabirnya bagi mereka yang mau menyelam lebih dalam.
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 28 Mei 2025


0 comments:
Posting Komentar