Doa yang Tulus dari Kedalaman Hati: Pesan Renungan Batin Seorang Prodiakon.Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S. bagi Umat Katolik


Foto Bapak.Ignasius Rinso Tigor, S.S.

Doa yang Tulus dari Kedalaman Hati: Pesan Renungan Batin Seorang Prodiakon bagi Umat Katolik

Ketapang, 19 Juni 2025.Dalam kesunyian malam yang hening, tepat pukul 21.02 WIB pada tanggal 18 Juni 2025, hadir sebuah sapaan rohani sederhana namun sarat makna yang mengalir melalui status WhatsApp. Ungkapan singkat ini berasal dari Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S., seorang Prodiakon di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Dengan rendah hati dan keteduhan jiwa, beliau membagikan kutipan berikut:

"Doa adalah sesuatu yang secara spontan muncul dari kedalaman hati kita untuk menanggapi situasi-situasi real yang menghimpit hidup kita."(by: Rex A. Pai, SJ) 

status WhatsApp Bapak.Ignasius Rinso Tigor, S.S

Meskipun hanya beberapa baris, pesan ini menyentuh relung jiwa setiap pembaca yang merenungkannya secara Katolik. Dalam tradisi Gereja Katolik, doa bukan hanya sebatas rutinitas atau rangkaian kata-kata yang dihafal dan diulang. Doa adalah relasi, dialog cinta antara manusia dan Allah yang hidup. Seperti yang diungkapkan oleh St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, “Doa adalah ledakan hati, suatu pandangan sederhana yang diarahkan ke Surga, suatu seruan syukur dan cinta, di tengah pencobaan maupun sukacita.”

Pesan Rohani di Tengah Kehidupan Sehari-hari

Ungkapan Bapak Ignasius Rinso Tigor mengingatkan kita bahwa doa sejati bersumber dari kejujuran hati. Ketika hidup menekan, ketika tantangan datang bertubi-tubi, ketika kita kehilangan arah atau kehabisan kata, justru di sanalah doa lahir secara paling murni. Ia bukan konstruksi retoris, melainkan jeritan batin yang tak bisa dibungkam dan Tuhan mendengarnya.

Kutipan dari Romo Rex A. Pai, SJ yang dibagikan sang Prodiakon, secara tidak langsung mengajak kita untuk membumikan doa dalam pengalaman sehari-hari. Hidup bukan selalu tentang momen agung di altar, tetapi juga tentang pergumulan sunyi di balik pintu rumah. Di sanalah kita diundang untuk berdoa: saat mengantar anak ke sekolah, ketika mencuci piring, ketika menerima kabar buruk, atau saat menatap langit malam yang sepi.

Sebuah Undangan untuk Merenung dan Berdoa

Bagi umat Katolik di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dan sekitarnya, sapaan kecil ini menjadi oase yang menyegarkan batin. Ia mengingatkan kita untuk tidak menjadikan doa sebagai sekadar rutinitas atau formalitas. Doa adalah napas jiwa, kekuatan ilahi yang mengalir dalam kerapuhan manusia.

Sebagaimana Yesus sendiri sering mundur ke tempat sunyi untuk berdoa, kita pun diajak untuk tidak takut menyuarakan isi hati kepada Bapa Surgawi, dengan bahasa kita sendiri, dengan kejujuran tanpa topeng. Tuhan tidak mencari kata-kata indah, tetapi kejujuran dan kerinduan untuk dekat kepada-Nya.

Menutup Hari dengan Doa

Malam itu, 18 Juni 2025, Prodiakon Ignasius Rinso Tigor tidak hanya membagikan kutipan rohani. Ia menghadirkan momen kontemplasi bagi banyak umat yang mungkin sedang bergulat dalam keheningan. Ungkapan ini menjadi ajakan untuk menutup hari dengan doa, dan membuka hari esok dengan harapan baru.

Sebagai umat Katolik, mari kita terus memelihara keintiman dengan Allah melalui doa. Tidak harus panjang. Tidak harus sempurna. Yang penting: tulus, nyata, dan mengalir dari kedalaman hati.

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk berdoa bukan hanya dengan mulut, tetapi juga dengan hati yang mencintai dan percaya. Amin.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  19 Juni 2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar