Mendengarkan dalam Pelayanan: Refleksi Renungan Harian Bersama RP. Vitalis Nggeal, CP di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

 

Foto  RP. Vitalis Nggeal, CP

“Mendengarkan dalam Pelayanan: Refleksi Renungan Harian Bersama RP. Vitalis Nggeal, CP di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang”

Ketapang, 29 Juli 2025.Dalam suasana liturgi Hari Selasa Biasa Pekan XVII, bertepatan dengan Peringatan Wajib Santa Marta, Maria, dan Lazarus, umat Katolik diajak untuk kembali merenungkan makna terdalam dari pelayanan yang sejati. RP. Vitalis Nggeal, CP, dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, dalam renungan hariannya mengajak umat untuk merenungkan tema "Mendengarkan dalam Pelayanan", berdasarkan Injil Lukas 10:38-42.

Renungan ini bukan bagian dari homili misa, melainkan disampaikan secara khusus kepada umat sebagai bekal refleksi pribadi harian khususnya bagi para pelayan umat, relawan, penggerak komunitas, dan siapa saja yang terlibat dalam karya pelayanan kasih.

Dalam permenungannya, RP. Vitalis Nggeal, CP menyampaikan satu pertanyaan mendasar namun penting: “Apakah kita sudah sungguh-sungguh mendengarkan kebutuhan sesama yang kita layani?” Beliau menyoroti kecenderungan umum dalam berbagai bentuk pelayanan, di mana seseorang sering kali terlalu fokus pada apa yang bisa diberikan, tanpa terlebih dahulu memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang yang dilayani.

Mengangkat ilustrasi sederhana, RP. Vitalis menyinggung pelayanan sosial ke panti werdha (panti jompo). Banyak pihak merasa cukup ketika membawa bantuan materi seperti sembako atau perlengkapan kebutuhan harian. Namun, menurutnya, para lansia di sana sering kali lebih mendambakan kehadiran manusiawi yakni seseorang yang bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita hidup mereka, mengenang masa lalu, dan menyapa dengan tulus dari hati ke hati.

Dalam konteks Injil hari ini, Maria dan Marta menjadi cerminan dua pendekatan yang sering kali muncul dalam kehidupan pelayanan. Marta sibuk melayani, menyiapkan banyak hal untuk Yesus. Namun justru Maria yang duduk diam di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya dipuji oleh Sang Guru. Menurut RP. Vitalis, ini bukan semata-mata untuk membandingkan keduanya, tetapi sebagai ajakan untuk menyeimbangkan tindakan dan kehadiran hati. Pelayanan yang efektif bukanlah pelayanan yang ramai dengan aktivitas, melainkan pelayanan yang didasarkan pada relasi, pengertian, dan perhatian terhadap kebutuhan batin sesama.

“Pelayanan kita sering kali tidak berdampak karena kita tidak pernah sungguh-sungguh mendengar,” ungkap RP. Vitalis. Ia menambahkan bahwa dalam dunia yang begitu bising oleh rutinitas dan tuntutan, kemampuan untuk mendengarkan adalah karunia langka yang justru sangat dibutuhkan dalam pelayanan.

Renungan ini juga menjadi panggilan bagi setiap umat untuk melihat kembali praktik-praktik pelayanan mereka: Apakah pelayanan kita masih bersifat satu arah dan dangkal? Ataukah kita mau membiarkan hati kita disentuh oleh kisah hidup orang-orang yang kita temui dan layani?

RP. Vitalis menutup renungannya dengan sebuah doa singkat yang mendalam, memohon bimbingan Tuhan agar umat tidak hanya menjadi pelayan yang giat bekerja, tetapi juga menjadi pelayan yang hadir dengan hati yang peka dan telinga yang terbuka. Dalam doa itu, beliau juga mengajak umat untuk memohon doa perantaraan Bunda Maria agar dalam setiap pelayanan, umat Katolik dimampukan menjadi pendengar yang baik karena dari mendengarkan, tumbuhlah pemahaman, cinta, dan pelayanan yang sejati.

Peringatan wajib Santa Marta, Maria, dan Lazarus hari ini memperkuat pesan tersebut. Sebagai sahabat Yesus, keluarga ini menunjukkan tiga sisi spiritualitas Kristiani: Marta yang melayani, Maria yang mendengarkan, dan Lazarus yang dibangkitkan tiga wajah kehidupan umat yang seharusnya berjalan seiring: aktif, reflektif, dan diperbarui oleh kasih Tuhan.

Dalam dunia yang serba cepat, renungan hari ini menjadi oase yang menyegarkan, sekaligus kritik lembut bagi setiap pelayan gereja dan masyarakat. Pelayanan bukan sekadar kegiatan, tetapi sebuah tindakan kasih yang lahir dari kedalaman hati yang mau berhenti sejenak, mendengarkan, dan merangkul sesama dengan penuh cinta.

"Sebab hanya dalam mendengarkan, kita mampu mengasihi dengan sungguh-sungguh." RP. Vitalis Nggeal, CP.


📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   29 Juli 2025 

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar