MISA HARI MINGGU BIASA XVI DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: BELAJAR MENJADI MARIA DAN MARTA DALAM KEHIDUPAN
Ketapang Paya Kumang, 20 Juli 2025.Pada Sabtu sore (19/7), umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XVI yang dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Misa dilaksanakan di Gereja Santo Agustinus dengan warna liturgi hijau, mengenang Nabi Elia, Santa Margaretha dari Antiokia (perawan dan martir), serta Santo Vinsent Kaun (martir).
Bertugas dalam misa ini: Lektor Bapak Dedy Candra, Pemazmur Ibu Maria Elfrida, dengan koor Lingkungan Santo Rafael, dipimpin Dirigen Sr. Brigitta Wijaya, OSA, dan Organis Saudari Cintia. Umat hadir dengan khidmat dan penuh sukacita untuk menyambut Sabda Tuhan.
HOMILI RP. VITALIS NGGEAL, CP: MENGUTAMAKAN YANG TERPENTING DALAM HIDUP
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. mengawali dengan sapaan,
“Selamat sore Bapak, Ibu, saudara-saudari, dan adik-adik yang terkasih dalam Tuhan. Hari ini kita mendengar Injil tentang Maria dan Marta. Ketika Marta mengeluh kepada Yesus karena Maria hanya duduk mendengarkan-Nya, Tuhan berkata: ‘Maria telah memilih bagian yang terbaik dan tidak akan diambil darinya.’”
Beliau menguraikan makna bacaan Injil Lukas 10:38-42 dengan mendalam.
Pertama, lanjut beliau, Marta mencerminkan jiwa yang sibuk.
“Dia menyambut dan melayani Tuhan dengan tulus, menunjukkan keramahannya, namun menjadi terlalu sibuk hingga kehilangan kepekaan akan kehadiran Tuhan di hadapannya. Bisa jadi kita pun sama seperti Marta, terjebak dalam rutinitas, dalam kesibukan kita sendiri, sehingga kita tidak lagi memberi ruang bagi Tuhan berbicara dalam hati kita.”
RP. Vitalis menegaskan, Yesus tidak menegur aktivitas Marta, tetapi menekankan relasi dengan Tuhan yang harus selalu diutamakan.
“Aktivitas tanpa relasi dengan Tuhan hanya akan membuat kita lelah. Kita perlu duduk diam seperti Maria, membiarkan Tuhan yang berbicara kepada kita. Banyak dari kita mengalami ‘sakit telinga rohani’ – mendengar tetapi tidak menyimak, yang keluar hanya otoritas dan otonomi diri kita sendiri, bukan Tuhan. Jika bukan Tuhan yang menguasai hati kita, semuanya hanya sia-sia.”
Kedua, Maria memilih duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya.
“Maria bukan malas bekerja. Dia tahu apa yang utama. Dia mengasihi Tuhan sebelum melakukan pekerjaan bagi Tuhan. Banyak orang berpikir ‘saya bisa berbuat baik tanpa mendengarkan Tuhan’, itu humanisme murni. Namun bagi kita orang Katolik, perbuatan baik harus dilakukan di dalam Tuhan dan bersama Tuhan.”
RP. Vitalis mengingatkan, Maria menunjukkan sikap rendah hati dan penyerahan diri total.
“Kita bisa duduk di gereja, tetapi pikiran kita melayang entah kemana. Kita bisa membaca Kitab Suci, tetapi hati kita kosong. Maria membuka telinga hatinya untuk mendengar dan menyimpan Sabda Tuhan seperti Bunda Maria yang menyimpan segalanya dalam hati. Gereja membutuhkan Marta dan Maria – kita dipanggil untuk melayani, tetapi pelayanan harus lahir dari permenungan Sabda Tuhan.”
Beliau mengutip Santo Benediktus,
RP. Vitalis juga mengutip pernyataan bijak dari Santo Benediktus:
“Apabila kita bekerja tidak di dalam Tuhan, hasilnya hanya kelelahan,” adalah kutipan dari Santo Benediktus, seorang tokoh penting dalam tradisi monastik Kristen. Kutipan ini menekankan pentingnya ketergantungan pada Tuhan dalam setiap usaha, termasuk pekerjaan. Tanpa melibatkan Tuhan, pekerjaan apapun, betapapun kerasnya, pada akhirnya hanya akan mendatangkan kelelahan dan kekosongan.
Beliau menambahkan,
Luangkan waktu membaca Firman Tuhan.”
Jika ingin saya masukkan revisi ini langsung ke berita panjang yang sudah saya buat sebelumnya untuk pengarsipan Anda, beri tahu segera.
PENJELASAN KITAB SUCI: ABRAHAM DAN MAZMUR
RP. Vitalis juga menyinggung Bacaan Pertama tentang Abraham yang menerima kunjungan Tuhan melalui tiga tamu (Kejadian 18:1-10).
“Allah berbicara dengan banyak cara: kata-kata, mimpi, penglihatan, bahkan kunjungan malaikat. Abraham peka akan kunjungan Ilahi dan menunjukkan keramahan luar biasa. Karena kepekaannya itu, dia diteguhkan oleh Tuhan melalui sabda-Nya: ‘Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan?’”
Beliau menegaskan,
“Dalam hidup, kita kerap bertanya, sanggupkah Allah menolong kita keluar dari masalah? Mampukah Allah membebaskan kita dari dosa yang menjerat bertahun-tahun? Jangan biarkan keraguan menumbangkan iman. Peliharalah kepekaan seperti Abraham agar kita diteguhkan bahwa Allah peduli dan sanggup menolong sesuai kuasa-Nya.”
Dalam Mazmur 15, lanjut RP. Vitalis, kita diingatkan pertanyaan abadi,
“Siapakah yang boleh menumpang dalam kemah Tuhan dan diam di gunung-Nya yang kudus? Siapakah yang layak hidup dengan standar moral Allah? Jawabannya: tidak seorang pun, kecuali Yesus dan mereka yang dibenarkan di dalam Dia.”
Namun, beliau menekankan,
“Itu bukan berarti kita bebas hidup sesuka hati. Kita harus berusaha memiliki moral tak bercela, menegakkan keadilan, jujur dalam perkataan, dan membangun orang lain dengan lidah kita. Karena jika kita yakin memiliki persekutuan indah dengan Allah tetapi hidup bertentangan dengan kehendak-Nya, itu adalah kesia-siaan belaka.”
PENUTUP
RP. Vitalis menutup homili dengan ajakan,
“Marilah kita menjadi seperti Maria dan Marta. Melayani dengan sepenuh hati, tetapi juga duduk diam mendengarkan Tuhan. Semoga Sabda-Nya meneguhkan langkah kita dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan sehari-hari.”
Perayaan Ekaristi berakhir dengan penuh syukur. Umat kembali ke rumah masing-masing dengan pesan mendalam untuk senantiasa mengutamakan Tuhan dalam segala aktivitas, serta meneladani kerendahan hati Maria dan pelayanan tulus Marta.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 20 Juli 2025
0 comments:
Posting Komentar