IBADAT PENDALAMAN IMAN LINGKUNGAN SANTO YOSEF: MENGHAYATI MAKNA BERBAGI SEBAGAI WUJUD SOLIDARITAS KRISTIANI


Foto Bapak Markus Suriatno 

IBADAT PENDALAMAN IMAN LINGKUNGAN SANTO YOSEF: MENGHAYATI MAKNA BERBAGI SEBAGAI WUJUD SOLIDARITAS KRISTIANI

Ketapang, 12 Agustus 2025.Lingkungan Santo Yosef Paroki Santo Agustinus Paya Kumang kembali menggelar Ibadat Pendalaman Iman pada Selasa malam, 12 Agustus 2025, pukul 18.30 WIB, bertempat di kediaman Ketua Lingkungan, Bapak Willem Ranto Sihombing, S.E., M.E., di Jl. Karya Tani, Gang Solidaritas.




Kegiatan ini merupakan pertemuan kedua dari rangkaian Pendalaman Iman yang telah dijadwalkan, dengan tema “Memahami Arti Berbagi”. Pemimpin ibadat adalah Bapak Markus Suriatno, dengan dukungan penuh dari seluruh pengurus dan umat lingkungan.

Dalam pengantarnya, Bapak Markus Suriatno menyampaikan apresiasi atas semangat umat yang tetap setia hadir mengikuti pendalaman iman. “Kita diajak untuk meneladani kehidupan Jemaat Perdana yang hidup utuh, solid, dan harmonis, serta memahami pentingnya solider dan mau berbagi kepada sesama, khususnya melalui kolekte di gereja,” ungkapnya.

Renungan utama malam ini mengajak umat untuk kembali melihat teladan Jemaat Perdana sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci. Kehidupan mereka ditandai dengan kebersamaan, persatuan yang erat, kepedulian pada sesama, serta kemauan untuk berbagi harta benda demi kesejahteraan bersama. Semua ini merupakan wujud nyata dari kasih Kristus yang dihidupi dalam tindakan.

Pembahasan juga menyoroti makna kolekte dalam tradisi Gereja Katolik, yang bukan sekadar pengumpulan dana, tetapi merupakan ungkapan iman dan cinta kasih. Kolekte menjadi simbol pengungkapan Hukum Cinta Kasih (lih. Mat. 22:37–40) dan sarana pendidikan kristiani yang mengajarkan umat, termasuk anak-anak, untuk berbagi sejak dini.

Dalam pemaparannya, dijelaskan perbedaan antara stipendium (stips), iura stolae, dan kolekte, sebagaimana diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK 1983). Kolekte memiliki dimensi spiritual yang erat kaitannya dengan persatuan umat, doa, dan pengungkapan syukur kepada Tuhan.

Umat Lingkungan Santo Yosef diajak untuk tidak memandang kolekte sebagai sekadar kewajiban atau beban, melainkan sebagai bagian dari persembahan diri, baik lahir maupun batin, yang dipersembahkan kepada Tuhan. Dengan demikian, kolekte menjadi sarana konkret untuk membantu sesama yang berkekurangan, menopang pelayanan gereja, dan memelihara rumah Tuhan.

Ibadat berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan kekhusyukan. Lagu-lagu pujian dinyanyikan dengan semangat, doa-doa dinaikkan bersama, dan setiap umat diajak untuk merenungkan bagaimana panggilan untuk berbagi dapat dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ditutup dengan doa memohon pencurahan Roh Kudus agar setiap pribadi layak menjadi persembahan yang berharga bagi Tuhan. Umat pulang dengan semangat baru untuk menghidupi kasih dalam bentuk nyata, selaras dengan teladan Jemaat Perdana.

“Kolekte bukanlah sekadar uang yang dikumpulkan, melainkan ungkapan iman dan cinta kasih. Semoga kita semakin menghayatinya dalam hidup sehari-hari,” pungkas Bapak Markus Suriatno.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   12 Agustus  2025 

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar