Memahami Perbedaan Evangeliarium dan Lectionarium dalam Liturgi Gereja
Ketapang, 16 September 2025.Dalam perjalanan sejarah dan kehidupan liturgi Gereja Katolik, terdapat berbagai kitab liturgis yang menjadi sarana penting dalam merayakan iman umat. Di antara sekian banyak kitab liturgis yang digunakan, Evangeliarium dan Lectionarium memiliki peran yang sangat penting, meski kerap kali masih dianggap sama oleh sebagian umat. Padahal, kedua kitab ini memiliki fungsi, makna simbolis, serta kedudukan yang berbeda dalam perayaan Ekaristi Kudus.
Artikel ini akan membahas secara panjang lebar mengenai perbedaan Evangeliarium dan Lectionarium, sejarah penggunaannya, makna teologis yang terkandung, serta bagaimana keduanya membantu umat dalam menghayati Sabda Allah yang menjadi pusat kehidupan Gereja.
Latar Belakang Kitab Liturgis
Liturgi dalam Gereja Katolik selalu memiliki kekayaan simbolis dan sarana-sarana yang mendukung umat untuk berjumpa dengan Allah. Kitab-kitab liturgis bukan sekadar buku bacaan, melainkan sarana sakral yang menghubungkan umat dengan misteri iman.
Dalam Misa Kudus, pusat perayaan bukan hanya Ekaristi, melainkan juga Liturgi Sabda. Sabda Allah yang diwartakan melalui bacaan Kitab Suci mengantar umat untuk semakin dekat dengan Kristus. Di sinilah Lectionarium dan Evangeliarium memainkan perannya.
Lectionarium memuat seluruh bacaan liturgis yang telah ditentukan oleh kalender liturgi: mulai dari bacaan pertama yang biasanya diambil dari Perjanjian Lama, bacaan kedua dari Surat-surat para Rasul, Mazmur Tanggapan, hingga bacaan Injil. Sementara itu, Evangeliarium hanya berisi bacaan Injil semata dan diperlakukan dengan penghormatan yang lebih besar.
Apa Itu Lectionarium?
Lectionarium adalah sebuah kitab liturgis yang berisi seluruh bacaan Kitab Suci yang digunakan dalam perayaan Misa Kudus sepanjang tahun liturgi. Kitab ini menjadi pedoman resmi bagi Gereja untuk mengatur bacaan yang akan dibacakan pada hari tertentu, baik hari Minggu, hari raya, maupun hari-hari biasa.
Fungsi Utama Lectionarium:
-
Sumber Bacaan LiturgisLectionarium menyusun bacaan berdasarkan siklus liturgi: Tahun A, B, dan C untuk hari Minggu, serta dua tahun siklus untuk hari-hari biasa. Dengan pola ini, umat Gereja dapat mendengarkan hampir seluruh Kitab Suci dalam rentang beberapa tahun.
-
Menghadirkan KeteraturanLectionarium bukan sekadar buku kumpulan bacaan, melainkan penyusunan yang telah diatur sedemikian rupa oleh Gereja agar umat dapat mengalami perkembangan iman melalui sabda yang dibacakan.
-
Kekayaan TeologisMelalui Lectionarium, umat dapat menemukan keterkaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bacaan pertama biasanya mengarahkan kepada Injil, sementara bacaan kedua memperkaya pemahaman iman melalui ajaran para Rasul.
-
Liturgi SabdaLectionarium menjadi dasar untuk Liturgi Sabda, yakni saat umat mendengarkan Firman Allah sebelum perayaan Ekaristi. Dari sini umat diajak untuk merenungkan, mendalami, dan kemudian menghidupi sabda dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Evangeliarium?
Berbeda dengan Lectionarium, Evangeliarium adalah kitab liturgis yang hanya berisi teks Injil. Kitab ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena Injil adalah kabar gembira tentang kehidupan, ajaran, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.
Fungsi Utama Evangeliarium:
-
Hanya Memuat InjilEvangeliarium tidak berisi bacaan pertama, kedua, ataupun Mazmur, melainkan murni teks Injil.
-
Simbol Kehadiran KristusEvangeliarium dipandang bukan sekadar kitab bacaan, tetapi lambang kehadiran Kristus sendiri dalam liturgi. Saat Injil dibacakan, umat percaya bahwa Kristus sendirilah yang berbicara.
-
Digunakan dalam Perarakan LiturgiEvangeliarium biasanya diarak pada awal Misa Kudus dalam prosesi masuk, diangkat tinggi sebagai tanda kemuliaan, dan kemudian diletakkan di atas altar. Hal ini menegaskan bahwa altar dan sabda memiliki keterkaitan erat sebagai pusat iman Gereja.
-
Penghormatan KhususEvangeliarium sering kali dihias indah dengan sampul berornamen emas, perak, atau dihiasi permata. Hal ini menunjukkan bahwa Injil adalah harta rohani yang tak ternilai bagi umat beriman.
Perbedaan Utama Evangeliarium dan Lectionarium
Agar lebih jelas, berikut adalah perbedaan mendasar antara kedua kitab ini:
| Aspek | Evangeliarium | Lectionarium |
|---|---|---|
| Isi | Hanya bacaan Injil | Bacaan I, Bacaan II, Mazmur, dan Injil |
| Simbol | Kehadiran Kristus | Tata bacaan liturgis sepanjang tahun |
| Liturgi | Diarak dalam prosesi, diletakkan di altar, dibacakan dengan penghormatan | Dibacakan sebelum Injil, menjadi dasar Liturgi Sabda |
| Penampilan | Sering dihias mewah, penuh simbol kemuliaan | Lebih sederhana, meskipun tetap sakral |
| Fungsi | Menyatakan pusat pewartaan: Kristus sendiri | Memberikan keteraturan bacaan Sabda Allah |
Makna Teologis Evangeliarium
Penggunaan Evangeliarium tidak sekadar sebagai alat bacaan liturgis. Kehadirannya memiliki makna yang sangat dalam. Saat Injil diarak dan ditinggikan, umat melihat simbol kehadiran Kristus Sang Sabda yang menjadi manusia. Dengan demikian, penghormatan yang diberikan pada Evangeliarium sejatinya adalah penghormatan kepada Kristus sendiri.
Liturgi menempatkan Injil pada kedudukan tertinggi di antara bacaan Kitab Suci lain. Hal ini tidak berarti merendahkan Perjanjian Lama atau Surat-surat Rasul, tetapi menekankan bahwa seluruh Kitab Suci menemukan puncaknya dalam pribadi Yesus Kristus.
Makna Teologis Lectionarium
Lectionarium memiliki makna yang berbeda. Ia bukan hanya sekadar daftar bacaan, melainkan pola pedagogis Allah yang menuntun umat secara bertahap. Bacaan pertama dari Perjanjian Lama menegaskan sejarah keselamatan yang panjang. Bacaan kedua dari Surat Rasul meneguhkan iman Gereja mula-mula. Mazmur menjadi jawaban umat atas sabda Allah.
Dengan demikian, Lectionarium menunjukkan keterpaduan dan kesatuan seluruh Kitab Suci. Injil tetap menjadi puncak, tetapi bacaan lainnya adalah jalan menuju Injil tersebut.
Dimensi Pastoral
Dari sisi pastoral, pemahaman yang benar mengenai perbedaan Evangeliarium dan Lectionarium sangat penting. Masih banyak umat yang menganggap kedua kitab ini sama. Dengan memahami perbedaannya, umat dapat semakin menghargai kekayaan liturgi Gereja.
-
Menghargai LiturgiUmat diajak untuk tidak hanya mendengarkan bacaan, tetapi juga menyadari makna simbolis dari setiap tindakan liturgis, termasuk perarakan Evangeliarium.
-
Mendalami Sabda AllahLectionarium mengajak umat untuk memahami perjalanan iman secara menyeluruh. Injil memang puncaknya, tetapi bacaan lain menjadi jembatan yang mengantar umat sampai ke Injil.
-
Menghayati Kehadiran KristusEvangeliarium membantu umat untuk menyadari bahwa Injil adalah kehadiran Kristus yang hidup dan berbicara.
Sejarah Singkat
Secara historis, penggunaan kitab bacaan dalam liturgi berkembang seiring dengan kebutuhan Gereja. Pada awal Gereja, bacaan diambil langsung dari gulungan Kitab Suci. Seiring waktu, bacaan-bacaan itu dikumpulkan dan disusun dalam satu kitab khusus yang disebut Lectionarium.
Sementara itu, Injil memiliki kedudukan yang semakin khusus. Maka disusunlah Evangeliarium, yang dikhususkan hanya untuk bacaan Injil. Kitab ini kemudian diberi penghormatan besar, dihias indah, dan diarak dalam liturgi.
Relevansi di Masa Kini
Di era modern, perbedaan Evangeliarium dan Lectionarium tetap relevan untuk dipahami. Gereja ingin menegaskan bahwa bacaan Kitab Suci bukanlah sekadar teks, melainkan Sabda Allah yang hidup.
Lectionarium membantu umat untuk masuk ke dalam keseluruhan misteri iman.
Evangeliarium mengarahkan pandangan umat kepada Kristus sebagai pusat iman.
Pemahaman ini sangat penting, terutama di tengah dunia yang semakin digital. Meski teknologi menawarkan berbagai kemudahan, kitab-kitab liturgis tetap menjadi simbol fisik yang menghadirkan kesakralan.
Kesimpulan
Evangeliarium dan Lectionarium adalah dua kitab liturgis yang berbeda, namun keduanya saling melengkapi dalam memperkaya perayaan liturgi Gereja.
Lectionarium menghadirkan seluruh bacaan liturgis: Perjanjian Lama, Mazmur, Surat Rasul, hingga Injil. Ia menjadi pedoman agar umat dapat mendengarkan seluruh Kitab Suci dalam siklus liturgi.
Evangeliarium hanya berisi Injil, namun memiliki makna simbolis yang sangat dalam sebagai kehadiran Kristus dalam liturgi.
Dengan memahami perbedaan keduanya, umat diajak untuk semakin menghayati sabda Allah, menghormati liturgi, dan membuka hati untuk kehadiran Kristus yang hidup dalam sabda dan sakramen.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 16 September 2025

0 comments:
Posting Komentar