Pendalaman Iman Lingkungan Santa Lusia: Menghayati Pembaruan Relasi dengan Sesama dalam Terang Kitab Zakharia

 

                     Foto Suster Stella, OSA

Pendalaman Iman Lingkungan Santa Lusia: Menghayati Pembaruan Relasi dengan Sesama dalam Terang Kitab Zakharia

Ketapang, 16 September 2025.Umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, kembali mengadakan Ibadat Pendalaman Iman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 pada Selasa malam, 16 September 2025, pukul 18.30 WIB. Pertemuan kedua ini berlangsung khidmat di rumah keluarga Bapak Ivan Lendel dan Ibu Vera Vitnes, dengan Suster Stella, OSA bertindak sebagai pemimpin ibadat. Suasana malam yang penuh kekeluargaan semakin semarak dengan alunan lagu-lagu rohani yang dipimpin oleh Ibu Efriana.

Tema besar BKSN tahun ini, “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”, mengajak umat Katolik di seluruh Indonesia untuk memperdalam pemahaman iman melalui Kitab Zakharia dan Kitab Maleakhi, sejalan dengan semangat Yubileum 2025 yang menekankan pentingnya pembaruan relasi dengan Allah, sesama, dan diri sendiri.

Pada pertemuan kedua malam ini, umat secara khusus merenungkan pembaruan relasi dengan sesama berdasarkan bacaan dari Kitab Zakharia 7:1-14. Bacaan tersebut menyoroti makna ibadah yang sejati, bukan semata-mata ritual lahiriah, melainkan tindakan nyata yang diwarnai keadilan, kasih, dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada janda, yatim piatu, orang asing, dan kaum miskin.




















Makna Kitab Zakharia 7:1-14: Dari Ritual Menuju Kasih yang Konkret

Kitab Zakharia pasal 7 menyingkapkan kritik keras Tuhan terhadap umat Israel yang menjalankan ibadah secara rutin, namun kehilangan makna sejatinya. Tuhan mengingatkan bahwa puasa dan ibadah bukan sekadar formalitas, melainkan harus diwujudkan dalam kasih, keadilan, dan kepedulian nyata.

Ada beberapa poin penting dari bacaan ini yang didalami oleh umat Lingkungan Santa Lusia:

  1. Pertanyaan tentang puasa – Penduduk Betel menanyakan kepada para imam dan nabi apakah mereka perlu tetap berpuasa seperti kebiasaan tahunan.

  2. Firman Tuhan melalui Zakharia – Tuhan menjawab dengan menegaskan bahwa puasa tanpa ketulusan hati hanya menjadi rutinitas kosong.

  3. Perintah keadilan dan kasih – Tuhan menekankan hukum yang benar, kasih setia, serta kepedulian kepada kelompok yang lemah.

  4. Larangan menindas sesama – Janda, anak yatim, orang asing, dan orang miskin menjadi fokus perhatian dalam hukum kasih Tuhan.

  5. Penolakan umat – Bangsa Israel menutup telinga dan hati, membuatnya sekeras batu, menolak pesan kasih itu.

  6. Murka Tuhan – Karena ketegaran hati mereka, Tuhan menceraiberaikan bangsa Israel ke berbagai negeri asing.

  7. Akibat kehancuran – Tanah yang semula indah menjadi sunyi dan sepi karena mereka tidak mendengar firman Tuhan.

Melalui bacaan ini, umat diajak menyadari bahwa ibadah sejati bukan sekadar doa atau puasa, tetapi perwujudan kasih dalam kehidupan sehari-hari: menolong orang sakit, mengunjungi yang menderita, menghibur yang berduka, serta membangun relasi penuh keadilan dengan sesama.

Kesaksian Umat: Refleksi Pribadi tentang Ibadah dan Relasi dengan Tuhan

Sesi refleksi bersama menjadi bagian paling hidup dari pendalaman iman malam ini. Umat dengan penuh keterbukaan membagikan pengalaman rohani, menilai kualitas ibadah masing-masing, serta merencanakan langkah konkret untuk semakin dekat dengan kehendak Allah.

Bagaimana Anda Menilai Ibadah yang Selama Ini Dijalankan?

Bapak Stepanus Kauti:

“Ibadah saya biasa-biasa saja. Saya berusaha sebaik mungkin, meski kadang mendoakan orang sakit masih ada bolong-bolongnya. Saya juga berusaha melayat orang yang meninggal dan mengunjungi orang di penjara sebagai wujud relasi dengan Tuhan.”

Melanius Momang, S.IP:

“Saya jalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Kalau dulu saya hanya berdoa saat bepergian jauh, setelah ikut KEP dan Priskat saya semakin tekun dalam doa.”

Suster Stella, OSA:

“Sebagai biarawati, saya menghidupi spiritualitas ‘Bekerja dan Berdoa’. Saya merasa masih belum sempurna, terus berbenah diri dalam doa dan pelayanan.”

Apa yang Akan Anda Upayakan Agar Ibadah Semakin Sesuai dengan Kehendak Allah?

Ivan Lendel sempat bertanya mengenai makna puasa dalam Gereja Katolik. Menanggapi hal ini, Suster Stella, OSA menegaskan:

“Puasa bukan sekadar soal makan dan minum, tetapi juga perbuatan, perkataan, dan tindakan kita sehari-hari.”

Suster Paula, OSA:

“Saya masih terus berbenah dalam ibadah. Meditasi dan doa pribadi menjadi penting bagi saya, namun doa bersama juga memberi kekuatan. Ada rasa kerinduan mendalam akan Tuhan.”

Ibu Angelina Norma Sanger:

“Saya berusaha mengevaluasi diri. Di usia senja ini, saya baru semakin mengerti makna komunikasi dengan Tuhan. Puasa bukan hanya menahan diri, tapi juga menghayati ibadah dengan penuh kesadaran.”

Ibu Sutarti Rahayu:

“Saya memaksa diri untuk ikut sembayang atau misa pagi. Awalnya berat, tapi lama-lama menjadi kebiasaan. Kadang kalau ada kemauan baru saya sungguh-sungguh doa Novena Hati Kudus Yesus.”Bahkan Pernah Saya Mendoakannya selama tiga bulan berturut-turut setiap jam 12 malam.puji Tuhan Permohonan saya terkabul

Bapak Stepanus Kauti:

“Kalau ada teman yang sakit, saya mulai berpuasa sebelum menjenguknya. Saya persiapkan semuanya dengan doa dan jeda waktu. Puji Tuhan, semua berjalan lancar.”

Melanius Momang, S.IP:

“Bagi saya, menolong orang yang kesusahan, melayani di gereja, mengampuni yang bersalah, dan mendoakan orang sakit adalah ibadah. Banyak orang yang mengingatkan saya, sehingga saya semakin teguh beribadah.”

Suster Stella, OSA menambahkan:

“Ibadah yang dikehendaki Tuhan adalah yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Tuhan tidak meminta hal besar dari kita, cukup melakukan hal sederhana dengan penuh cinta.”

Ibu Efriana:

“Ibadah itu soal niat dan panggilan. Awalnya saya sering diminta Ibu Sutarti Rahayu untuk memimpin lagu, lama-lama saya terbiasa dan merasa ini bagian dari melayani Tuhan. Inilah aksi nyata iman saya.”

Hikmat Iman: Dari Sabda ke Aksi Nyata

Pertemuan kedua BKSN 2025 ini meneguhkan umat Lingkungan Santa Lusia untuk semakin serius menghidupi iman. Sabda Tuhan dalam Zakharia menantang setiap pribadi agar tidak berhenti pada ritual, melainkan membangun kasih dan relasi nyata dengan sesama.

Suster Stella, OSA menekankan bahwa pembaruan relasi dimulai dari hal sederhana: saling menolong, tidak menindas, mengampuni, dan melayani dengan hati tulus. Kesadaran bahwa ibadah sejati adalah menyatukan doa dengan aksi menjadi pesan utama malam ini.

Atmosfer Ibadat: Kekeluargaan yang Hangat

Ibadat berlangsung penuh khidmat namun hangat dalam suasana kekeluargaan. Rumah keluarga Ivan Lendel dan Vera Vitnes dipenuhi umat Lingkungan Santa Lusia yang duduk melingkar, menyanyikan lagu-lagu rohani dengan penuh semangat. Ibu Efriana memimpin umat dengan suara lantang namun lembut, mengajak semua untuk bernyanyi dan meresapi makna setiap bait lagu.

Doa-doa yang dipanjatkan terasa sangat pribadi sekaligus komunal, mencerminkan semangat BKSN sebagai sarana mendekatkan umat kepada Sabda Allah.

Kesimpulan: BKSN Sebagai Jalan Pembaruan Relasi

Pertemuan kedua BKSN Lingkungan Santa Lusia meneguhkan bahwa Allah adalah sumber pembaruan relasi dalam hidup. Bacaan dari Zakharia 7:1-14 menjadi pengingat agar umat tidak jatuh dalam rutinitas ibadah yang kosong, tetapi menghidupi iman melalui tindakan nyata yang berpihak pada mereka yang lemah.

Kesaksian umat menunjukkan adanya pergulatan, kerinduan, sekaligus langkah-langkah konkret menuju ibadah yang lebih tulus. Dari doa pribadi, keterlibatan dalam pelayanan, hingga sikap peduli terhadap sesama, semuanya menjadi jalan menuju relasi yang semakin erat dengan Allah.

Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2025 bukan hanya momen seremonial, melainkan panggilan untuk terus memperbarui diri, keluarga, dan komunitas. Seperti yang ditegaskan oleh umat Lingkungan Santa Lusia malam ini, ibadah sejati adalah kasih yang diwujudkan dalam tindakan.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   16  September  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar