Ketapang, Hari Minggu 28 September 2025: Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXVI, Peringatan Wajib Santo Wenseslaus, Santo Laurensius Ruiz, dan Santa Eustakia di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang
Ketapang, 28 September 2025.Hari Minggu XXVI dalam masa biasa tahun liturgi ini bertepatan dengan peringatan wajib tiga orang kudus Gereja Katolik: Santo Wenseslaus, Raja Bohemia dan Martir; Santo Laurensius Ruiz, Martir pertama dari Filipina bersama rekan-rekannya; serta Santa Eustakia, Perawan. Liturgi dirayakan dengan warna hijau, menandai sukacita dan pengharapan dalam kehidupan Gereja. Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menjadi salah satu pusat perayaan iman ini dengan perayaan Ekaristi Kudus yang penuh makna dan kekhidmatan.
Misa kudus hari Minggu tersebut dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Tugas pelayanan liturgi turut diisi oleh berbagai umat dan religius: Dirigen oleh Suster Paula, OSA; Organis oleh Saudari Elisabet Cintia; Lektor oleh Ibu Yohana Dani Oneng Wahyuni; Pemazmur oleh Ibu dr. Maria Fransisca A.S., M.A.R.S.; serta koor dibawakan secara penuh semangat oleh Lingkungan Santa Lusia. Seluruh rangkaian liturgi berlangsung dalam suasana doa, persaudaraan, dan kebersamaan umat beriman yang hadir.
Liturgi Sabda: Kisah Lazarus dan Orang Kaya
Bacaan Injil hari ini diambil dari Lukas 16:19-31 yang menyingkapkan kisah kontras antara seorang kaya dan seorang miskin bernama Lazarus. Orang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, berpakaian jubah ungu dan kain halus, sementara Lazarus hanya bisa terbaring di depan pintunya, menantikan remah makanan yang jatuh dari meja perjamuan. Setelah kematian, keadaan terbalik: Lazarus berada dalam pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya menderita dalam sengsara. Kisah ini menjadi dasar homili yang disampaikan oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.
Homili: Panggilan Hidup Berbelas Kasih
Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP menegaskan bahwa kisah Injil hari ini bukan sekadar cerita moral, melainkan sapaan Sabda Allah yang menyentuh langsung hati setiap orang beriman. Ia menjelaskan bagaimana kontras antara si kaya dan si miskin menjadi gambaran nyata tentang hati manusia dan cara pandang Allah terhadap keadilan.
Homili dibuka dengan penekanan bahwa si kaya dalam Injil tidak disebutkan namanya, sedangkan si miskin justru disebut dengan nama: Lazarus. “Nama Lazarus berarti Allah menolong, Allah berbelaskasih, dan Allah berkorban. Ada makna yang mendalam di balik pemberian nama itu,” ungkap beliau. Dalam kehidupan duniawi, si miskin seringkali tidak dihargai, dianggap sebelah mata, dan dilupakan. Namun dalam perspektif Allah, justru orang-orang sederhana dan miskin inilah yang mendapatkan tempat istimewa di sisi-Nya.
RP. FX. Oscar juga menekankan bahwa orang kaya tersebut tidak dihukum karena kekayaannya, melainkan karena hatinya yang tertutup, yang tidak pernah tergerak melihat Lazarus setiap hari di depan pintunya. Bahkan setetes air pun tidak pernah ia berikan. “Sapaan sabda ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk membuka hati hanya ada selama kita hidup di dunia. Setelah kita mati, pintu itu tertutup,” tegas beliau.
Ia melanjutkan bahwa Injil hari ini menjadi panggilan untuk kepekaan dan keadilan. Tidak perlu mujizat besar untuk berbagi. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang peka, hati yang rela berbagi remah kebaikan bagi orang yang membutuhkan. “Hari ini, kita diajak untuk sadar: ada begitu banyak Lazarus di sekitar kita, orang miskin, orang yang sakit, orang yang terpinggirkan. Kita dipanggil untuk tidak menutup mata, tetapi hadir bagi mereka,” tambahnya.
Pesan Pastoral: Kesempatan Hidup yang Singkat
Dalam renungan yang disampaikan, RP. FX. Oscar mengajak umat untuk merenungkan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Semua yang kita miliki hanyalah titipan. Setiap keputusan, sikap, dan perbuatan kita di dunia akan menentukan kehidupan kekal kita. Orang kaya itu, dalam Injil, bukan dihukum karena pesta dan pakaian indahnya, melainkan karena ia gagal untuk melihat Kristus dalam diri Lazarus.
“Tidak ada jalan pintas menuju keselamatan. Firman Tuhan, Sakramen, dan ajaran Gereja sudah cukup sebagai pedoman. Yang dibutuhkan adalah kesediaan kita untuk mendengarkan dan menghidupinya. Jangan menunda untuk bertobat dan berbuat kasih,” tutur RP. FX. Oscar.
Kekayaan yang Menyelamatkan
Homili ini juga menekankan bahwa harta benda bukanlah musuh iman. Justru harta dapat menjadi sarana keselamatan jika digunakan dengan bijaksana untuk menolong sesama. Namun jika harta menjadikan seseorang buta dan tuli terhadap jeritan orang miskin, maka harta itu menjadi penghalang menuju keselamatan.
Dalam dunia modern, banyak orang tergoda oleh gaya hidup mewah, sibuk mengejar kenyamanan pribadi, teknologi, dan karier. Semua itu tidak salah, selama tidak membuat hati tertutup. Namun bahaya terbesar adalah ketika manusia tidak lagi peka terhadap penderitaan orang lain. “Hari ini kita diingatkan: gunakanlah harta, waktu, dan talenta kita untuk kebaikan bersama, karena semuanya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah,” pesan beliau.
Pertanyaan Reflektif
Homili tersebut juga ditutup dengan ajakan refleksi pribadi:
Siapakah Lazarus dalam hidup kita masing-masing?
Apakah kita masih menutup mata terhadap penderitaan orang lain?
Sudahkah kita memakai harta, waktu, dan talenta kita untuk kebaikan bersama?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak umat untuk tidak hanya mendengar sabda, tetapi sungguh menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Liturgi yang Penuh Makna
Misa kudus berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat. Dirigen, organis, lektor, pemazmur, serta koor Lingkungan Santa Lusia membawakan peran mereka dengan penuh tanggung jawab, menjadikan perayaan semakin semarak. Kehadiran umat dalam jumlah besar menunjukkan kerinduan mereka untuk mendengarkan sabda Tuhan dan menerima santapan Ekaristi.
Makna Perayaan Santo Wenseslaus, Santo Laurensius Ruiz, dan Santa Eustakia
Perayaan hari Minggu ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang tiga sosok kudus Gereja:
-
Santo Wenseslaus, Raja Bohemia, Martir – Teladan iman dan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran di tengah kekuasaan.
-
Santo Laurensius Ruiz, Martir Filipina – Martir awam yang berani mempertahankan imannya hingga titik darah penghabisan.
-
Santa Eustakia, Perawan – Teladan kesucian dan ketekunan dalam doa serta kesetiaan pada Kristus.
Ketiganya menjadi inspirasi bagi umat untuk hidup dalam kesetiaan, keberanian, dan kesucian di tengah tantangan zaman.
Penutup
Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang pada Minggu 28 September 2025 ini menghadirkan pesan mendalam bagi umat. Melalui liturgi yang indah, sabda yang menegur, dan teladan para kudus, umat diajak untuk semakin peka, berbelas kasih, dan siap berbagi. Hidup hanyalah sementara, namun kasih yang kita tanamkan akan berbuah kekal. Injil tentang Lazarus dan orang kaya menjadi cermin bagi setiap orang untuk tidak menutup hati, melainkan menjadikannya pintu yang selalu terbuka bagi sesama.
Dengan demikian, pesan Ekaristi Minggu Biasa XXVI ini tidak hanya berhenti di altar, tetapi meluas ke kehidupan nyata: menggerakkan hati untuk peduli, menggerakkan tangan untuk menolong, dan menggerakkan seluruh hidup untuk menjadi saksi kasih Allah.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 28 September 2025
0 comments:
Posting Komentar