SEKAMI Live-In Perdana Keuskupan Ketapang:
Membina Iman Remaja dengan Semangat Misioner
Ketapang, 6 September 2025.Keuskupan Ketapang menggelar kegiatan perdana SEKAMI live-in, sebuah bentuk perkemahan rohani dan retret yang dirancang khusus bagi anak-anak dan remaja Katolik dalam wadah Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI). Kegiatan ini berlangsung pada 5–7 September 2025 di Catholic Center, Paya Kumang Ketapang, dengan melibatkan berbagai paroki, lingkungan, imam, biarawan-biarawati, serta para animator yang setia mendampingi perjalanan iman remaja.
SEKAMI live-in bukan sekadar kegiatan rohani, melainkan ruang pembinaan iman yang mendalam. Dalam suasana sederhana namun penuh makna, para peserta diajak untuk mengalami hidup doa, bersekutu bersama keluarga Katolik, serta berlatih menghayati misi Kristus di tengah masyarakat.
Apa Itu SEKAMI? Mengupas Lebih Dalam Tentang Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner
Dalam dinamika kehidupan Gereja Katolik, anak-anak dan remaja memiliki tempat yang sangat istimewa. Mereka bukan hanya generasi penerus Gereja, melainkan bagian dari umat Allah yang hidup saat ini dan berhak mengalami kasih Tuhan sejak dini. Salah satu wadah resmi yang dibentuk oleh Gereja untuk membina, mendampingi, serta menumbuhkan iman anak-anak adalah SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner).
Bagi umat Katolik di Keuskupan Ketapang, kehadiran SEKAMI menjadi sarana pembinaan iman yang berharga. Melalui berbagai program dan kegiatan, anak-anak dilatih untuk berdoa, peduli, berbagi, dan memberi kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, SEKAMI bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan pastoral misioner yang menanamkan nilai Injili dalam diri anak-anak sejak dini.
Sejarah dan Latar Belakang SEKAMI
SEKAMI merupakan bagian dari Serikat Kepausan Misi Sedunia (SPMS), yang berada langsung di bawah koordinasi Takhta Suci. Gerakan ini pertama kali lahir dari keprihatinan Gereja akan kebutuhan mendidik anak-anak dalam semangat misi, agar mereka tidak hanya menerima iman secara pasif, tetapi juga berperan aktif dalam mewartakan kasih Allah.
Awalnya, serikat ini dikenal dengan nama “Holy Childhood Association” atau Asosiasi Kanak-Kanak Kudus yang didirikan pada tahun 1843 oleh Uskup Charles de Forbin-Janson di Prancis. Uskup ini memiliki kerinduan besar agar anak-anak Katolik di Eropa, yang hidup relatif lebih sejahtera, dapat mendoakan dan membantu anak-anak lain di negara-negara misi yang mengalami kesulitan, khususnya di Asia dan Afrika.
Seiring berjalannya waktu, gagasan tersebut berkembang menjadi gerakan global yang diakui oleh Paus dan ditempatkan dalam struktur Serikat Kepausan. Di Indonesia, gerakan ini lebih dikenal dengan sebutan SEKAMI, dengan fokus utama pada pembinaan iman anak-anak melalui semangat misi universal.
Kehadiran SEKAMI di Keuskupan Ketapang
Di Keuskupan Ketapang, SEKAMI hadir sebagai jawaban pastoral atas kebutuhan mendampingi anak-anak dan remaja dalam proses pertumbuhan iman mereka. Realitas pastoral di Ketapang menunjukkan bahwa banyak anak-anak tumbuh dalam keluarga Katolik sederhana, sering kali jauh dari pusat kota, dan dengan keterbatasan fasilitas pendidikan iman.
Melalui SEKAMI, anak-anak dibawa ke dalam sebuah komunitas kecil di mana mereka dapat:
Belajar berdoa secara teratur
Membiasakan diri dengan hidup berbagi
Mengenal nilai pengorbanan
Belajar memberi kesaksian iman dalam lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat
Dengan demikian, SEKAMI menjadi wadah pembinaan yang kontekstual, yang sesuai dengan kebutuhan Gereja lokal.
Semboyan: Children Helping Children
Salah satu ciri khas SEKAMI adalah semboyannya yang sederhana namun penuh makna: “Children Helping Children” (Anak Membantu Anak).
Semboyan ini lahir dari semangat awal pendirian gerakan, yakni mengajak anak-anak untuk tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga menjadi pemberi. Dalam semangat iman Kristiani, setiap anak diajak untuk tidak egois, melainkan peduli kepada saudara-saudarinya di seluruh dunia.
Implementasi semboyan ini tampak nyata dalam kegiatan SEKAMI di Keuskupan Ketapang:
Anak-anak diajak untuk mendoakan teman-temannya di negara lain yang sedang menderita.
Mereka dilatih untuk menyisihkan sebagian kecil dari uang jajan sebagai bentuk derma misioner.
Mereka diberi kesempatan untuk melakukan aksi nyata, misalnya kunjungan ke panti asuhan, membantu anak yang kesulitan belajar, atau kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Dengan semboyan ini, anak-anak belajar bahwa menjadi Katolik berarti hidup dalam kebersamaan dan solidaritas universal.
Spirit 2D 2K: Doa, Derma, Kurban, Kesaksian
SEKAMI menanamkan nilai yang dikenal dengan 2D 2K, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian. Keempat nilai ini menjadi pilar pembinaan iman anak-anak dan remaja.
1. Doa
Doa menjadi dasar segala kegiatan SEKAMI. Anak-anak diajak untuk berdoa secara sederhana namun mendalam, baik doa pribadi maupun doa bersama. Mereka belajar doa tradisional Katolik seperti Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan, serta doa spontan yang muncul dari hati.
Doa juga melatih anak-anak untuk bersyukur, memohon, dan mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka.
2. Derma
Derma dalam SEKAMI tidak sekadar memberi uang, melainkan sikap hati yang rela berbagi. Anak-anak dilatih untuk berderma dengan sukarela, entah dalam bentuk uang, barang, maupun tenaga. Misalnya, mereka bisa menyumbangkan sebagian kecil uang jajan untuk karya misi Gereja.
Dengan cara ini, mereka belajar bahwa setiap pemberian, sekecil apa pun, berarti besar di mata Tuhan.
3. Kurban
Kurban mengajarkan anak-anak tentang arti pengorbanan. Mereka belajar menahan diri dari hal-hal kecil, misalnya tidak membeli jajanan tertentu agar bisa menyumbang, atau mengorbankan waktu bermain untuk berdoa bersama.
Kurban juga berarti belajar menghadapi kesulitan dengan sabar dan menyerahkan penderitaan kepada Tuhan. Nilai ini melatih daya juang dan membentuk karakter tangguh dalam diri anak-anak.
4. Kesaksian
Kesaksian merupakan puncak dari 2D 2K. Anak-anak diajak untuk berani menjadi saksi iman di rumah, sekolah, dan lingkungan. Kesaksian ini bisa sederhana, seperti berdoa sebelum makan, bersikap jujur, membantu teman, atau aktif dalam kegiatan Gereja.
Melalui kesaksian nyata, iman yang mereka hayati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi terwujud dalam tindakan sehari-hari.
Peran SEKAMI dalam Pembinaan Iman
SEKAMI di Keuskupan Ketapang tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, melainkan bagian integral dari pastoral anak dan remaja.
1. Wadah Komunitas Iman
Anak-anak belajar bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan iman. Mereka memiliki komunitas yang saling mendukung, berbagi pengalaman, dan bertumbuh bersama.
2. Pendidikan Karakter
Selain pembinaan iman, SEKAMI menanamkan nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, dan kepedulian. Nilai-nilai ini selaras dengan ajaran Kristiani sekaligus relevan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembinaan Misioner
Anak-anak disiapkan sejak dini untuk memiliki semangat misioner. Mereka diajak untuk berpikir tidak hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang Gereja yang universal.
4. Persiapan Generasi Muda Gereja
Lewat SEKAMI, anak-anak dipersiapkan menjadi pemimpin muda Gereja di masa depan, baik sebagai awam yang terlibat aktif, maupun sebagai calon imam, biarawan-biarawati, atau katekis.
SEKAMI dalam Konteks Sosial dan Budaya
Keuskupan Ketapang memiliki konteks sosial-budaya yang khas, dengan beragam etnis, bahasa, dan tradisi lokal. Kehadiran SEKAMI membantu anak-anak Katolik belajar untuk menghargai perbedaan, sekaligus meneguhkan identitas mereka sebagai bagian dari Gereja Katolik.
Dalam masyarakat yang plural, SEKAMI melatih anak-anak untuk hidup damai dengan sesama, menumbuhkan sikap toleransi, serta tetap teguh dalam iman.
Tantangan dan Harapan
Tentu saja, pembinaan melalui SEKAMI tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan pendamping, jarak geografis yang jauh antar stasi, serta keterbatasan sarana menjadi kendala yang sering dihadapi.
Namun, justru dalam keterbatasan itu, semangat misioner semakin nyata. Anak-anak belajar menghargai hal-hal sederhana dan tetap bersemangat dalam iman.
Ke depan, harapannya SEKAMI semakin berkembang di Keuskupan Ketapang, dengan dukungan dari para pastor, suster, bruder, animator, serta keluarga Katolik.
SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) adalah wahana pembinaan iman anak-anak Katolik yang memiliki makna mendalam bagi Gereja universal maupun lokal. Dengan semboyan “Children Helping Children” dan semangat 2D 2K (Doa, Derma, Kurban, Kesaksian), SEKAMI menanamkan nilai iman, kepedulian, dan misi dalam diri anak-anak sejak dini.
Di Keuskupan Ketapang, SEKAMI hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pastoral anak dan remaja, membimbing mereka untuk beriman teguh, berkarakter mulia, peduli sesama, serta siap menjadi saksi Kristus.
Lebih dari sekadar organisasi, SEKAMI adalah gerakan rohani dan misioner yang mempersiapkan generasi muda Katolik menjadi terang dan garam dunia.
Tujuan SEKAMI Live-In: Menumbuhkan Kepekaan Misioner Remaja Katolik
Kegiatan SEKAMI Live-In bukan sekadar perkemahan rohani atau pertemuan singkat antar-remaja Katolik, melainkan sebuah perjalanan batin yang mengajak mereka untuk masuk lebih dalam dalam pengalaman iman, hidup bersama, dan misi. Di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi, serta tantangan zaman yang begitu kompleks, Gereja Katolik melihat perlunya wadah pembinaan iman yang konkret, nyata, serta menyentuh hati anak dan remaja. Salah satu jawaban atas kebutuhan itu adalah kegiatan Live-In SEKAMI, di mana para peserta diajak merasakan kehidupan nyata umat beriman dalam keluarga Katolik, mengolah pengalaman tersebut, dan akhirnya dimampukan untuk menjadi pewarta kasih Kristus di lingkungannya.
Tujuan utama dari kegiatan ini dapat dirangkum dalam tiga aspek besar: pembinaan iman mendalam, pengembangan karakter, serta persiapan untuk misi. Ketiga hal ini tidak hanya menyentuh dimensi pribadi para remaja, tetapi juga memberikan dampak bagi Gereja lokal, keluarga, serta masyarakat luas.
1. Pembinaan Iman Mendalam
Iman adalah dasar hidup Kristiani. Tanpa iman yang kokoh, seseorang mudah goyah dalam menghadapi godaan dunia, tekanan lingkungan, atau tantangan hidup. Melalui kegiatan live-in, SEKAMI berusaha memberikan pengalaman iman yang lebih intensif dibandingkan rutinitas harian remaja.
a. Doa Sebagai Nafas Hidup
Dalam live-in, para peserta dibimbing untuk membangun kebiasaan doa yang teratur, baik doa pribadi, doa bersama keluarga, maupun doa komunitas. Kebiasaan ini menegaskan bahwa doa bukan hanya aktivitas formal, melainkan nafas kehidupan iman. Saat remaja terlibat dalam doa Rosario bersama keluarga tuan rumah atau berdoa malam sebelum tidur, mereka belajar bahwa doa adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan Allah.
b. Ekaristi: Puncak Kehidupan Iman
Perayaan Ekaristi selalu menjadi inti dari pembinaan iman dalam SEKAMI. Melalui Misa harian atau Misa penutup live-in, remaja diajak memahami bahwa Ekaristi adalah sumber kekuatan untuk menjalani hidup. Di sinilah mereka mengalami perjumpaan nyata dengan Kristus yang hadir dalam rupa roti dan anggur. Dari Ekaristi, remaja belajar arti syukur, pengorbanan, dan persatuan sebagai Tubuh Kristus.
c. Refleksi Bersama
Refleksi menjadi sarana penting agar remaja tidak hanya mengalami, tetapi juga mengolah pengalaman imannya. Dengan menulis jurnal harian atau berbagi dalam kelompok kecil, peserta belajar menafsirkan peristiwa sehari-hari dalam terang iman. Misalnya, ketika seorang remaja merasakan kehangatan keluarga tuan rumah yang sederhana, ia diajak melihat hal itu sebagai wujud nyata kasih Allah. Dari refleksi inilah iman semakin tumbuh bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai pengalaman hidup yang personal.
d. Iman yang Hidup dan Kontekstual
Iman yang dibina dalam live-in bukanlah iman yang statis, melainkan iman yang hidup dan kontekstual. Remaja belajar bahwa menjadi orang Katolik bukan sekadar datang ke gereja pada hari Minggu, melainkan menghadirkan kasih Kristus dalam pergaulan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun dunia digital. Dengan demikian, pembinaan iman mendalam dalam live-in membantu mereka memiliki fondasi spiritual yang kokoh di tengah tantangan zaman modern.
2. Pengembangan Karakter
Selain iman, live-in juga menekankan pembentukan karakter. Gereja menyadari bahwa iman yang kokoh harus disertai dengan kepribadian yang matang, peduli, dan bertanggung jawab. Dalam konteks SEKAMI, pengembangan karakter ini diwujudkan melalui pengalaman hidup bersama keluarga Katolik setempat.
a. Kepekaan Sosial
Dengan tinggal bersama keluarga yang mungkin sederhana, remaja diajak belajar merasakan bagaimana kehidupan umat sehari-hari. Mereka melihat perjuangan orang tua dalam mencari nafkah, kesederhanaan dalam hidup, serta kebersamaan dalam keluarga. Dari pengalaman ini, muncul kepekaan sosial: bahwa tidak semua orang hidup berkecukupan, dan bahwa berbagi adalah panggilan Kristiani.
Misalnya, seorang remaja yang biasanya hidup berkecukupan mungkin tersentuh ketika melihat anak-anak tuan rumah tetap bersemangat sekolah meskipun dengan fasilitas terbatas. Dari situ lahirlah rasa empati dan kepedulian.
b. Disiplin dan Tanggung Jawab
Dalam live-in, peserta dilatih untuk mengikuti jadwal kegiatan dengan tertib, mulai dari doa pagi, membantu pekerjaan rumah, hingga mengikuti refleksi malam. Hal ini menumbuhkan sikap disiplin dan rasa tanggung jawab. Mereka belajar bahwa ketaatan pada aturan bukanlah beban, tetapi jalan menuju keteraturan dan keharmonisan hidup bersama.
c. Hidup Bersama dan Kerjasama
Hidup bersama keluarga baru, apalagi dengan teman-teman yang berbeda latar belakang, tentu menuntut sikap saling menghargai dan bekerjasama. Pengalaman sederhana seperti membersihkan rumah, menyiapkan makanan, atau bermain bersama anak-anak kecil membantu remaja mengembangkan kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai ini akan sangat berguna ketika mereka kembali ke komunitas asal, sekolah, atau bahkan kehidupan bermasyarakat.
d. Karakter Kristiani: Kasih, Kerendahan Hati, dan Solidaritas
Pengembangan karakter dalam live-in tidak berhenti pada aspek sosial, tetapi diarahkan pada pembentukan pribadi Kristiani sejati. Para peserta diajak meneladani kasih Kristus yang penuh pengorbanan, kerendahan hati Maria, dan semangat solidaritas para rasul. Dengan demikian, mereka dipersiapkan menjadi pribadi yang tidak hanya baik, tetapi juga kudus dalam hidup sehari-hari.
3. Persiapan untuk Misi
Aspek terakhir yang sangat penting adalah persiapan untuk misi. SEKAMI sendiri memiliki semboyan Children Helping Children yang mengajak anak dan remaja untuk terlibat dalam karya misioner, baik di lingkup keluarga, sekolah, paroki, maupun masyarakat.
a. Menjadi Pembawa Damai
Di dunia yang penuh konflik, ujaran kebencian, dan perpecahan, remaja Katolik dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Melalui live-in, mereka belajar menghadirkan kedamaian dalam kehidupan nyata: berdamai dengan teman sebaya, menghargai perbedaan, dan menjadi teladan dalam sikap lemah lembut. Nilai ini diinternalisasi melalui kegiatan doa, refleksi, serta pengalaman hidup bersama.
b. Terlibat dalam Karya Gereja
Kegiatan misi tidak hanya berarti pergi jauh ke daerah lain, tetapi juga terlibat aktif dalam karya Gereja di paroki masing-masing. Setelah live-in, para remaja biasanya didorong untuk ikut serta dalam paduan suara, pelayanan altar, atau kegiatan sosial paroki. Dengan begitu, pengalaman live-in menjadi bekal nyata untuk keterlibatan misioner dalam komunitas iman mereka.
c. Membawa Kabar Gembira dalam Kehidupan Sehari-hari
Misi utama Gereja adalah mewartakan Kabar Gembira. Para remaja SEKAMI diperlengkapi untuk menjadi saksi Kristus di lingkungan sekolah dan pergaulan mereka. Misalnya, dengan menolong teman yang kesulitan, bersikap jujur dalam ujian, atau tidak terjerumus dalam pergaulan negatif. Hal-hal sederhana ini merupakan wujud nyata misi yang lahir dari pengalaman live-in.
d. Misi Digital: Kesaksian di Dunia Maya
Tantangan zaman modern adalah dunia digital. Anak dan remaja Katolik tidak bisa menghindar dari media sosial, internet, dan teknologi. Justru di sinilah misi baru Gereja hadir. Melalui live-in, mereka diajak memahami bahwa media digital bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga bisa menjadi alat evangelisasi. Remaja dilatih untuk menggunakan akun media sosialnya sebagai sarana menyebarkan hal-hal positif, bukan kebencian atau hoaks.
e. Semangat 2D 2K dalam Misi
Semboyan SEKAMI, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian, menjadi bekal dalam menjalankan misi. Setelah live-in, remaja diharapkan terus mendoakan misi Gereja, berbagi dari apa yang mereka miliki, rela berkorban demi sesama, dan menjadi saksi hidup Kristus. Nilai ini menjadikan mereka misionaris sejati, meskipun masih dalam usia muda.
Penutup: Live-In sebagai Gerbang Pembentukan Misionaris Muda
Tujuan SEKAMI Live-In jelas tidak hanya berhenti pada tiga hari kegiatan. Pengalaman ini dirancang untuk meninggalkan jejak mendalam yang membentuk iman, karakter, dan semangat misioner para remaja Katolik. Dengan pembinaan iman yang intensif, mereka tumbuh dalam relasi yang lebih dekat dengan Allah. Dengan pengembangan karakter, mereka menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan penuh kasih. Dengan persiapan misi, mereka dimampukan untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia modern.
Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang, melalui kegiatan ini, sedang mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara rohani dan siap mewartakan kasih Kristus. SEKAMI Live-In adalah bukti nyata bahwa Gereja serius dalam mendampingi anak dan remaja, agar mereka benar-benar menjadi “Anak dan Remaja Misioner” yang hidup, kontekstual, dan berakar dalam iman Katolik.
Dengan demikian, live-in bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi sebuah gerakan pembaharuan iman yang akan membawa perubahan besar bagi masa depan Gereja dan masyarakat.
Rangkaian Kegiatan SEKAMI Live-In
Kegiatan ini dipandu oleh RP. Rovinus Longa, CP, selaku koordinator. Panitia mengatur agar peserta dibagi dalam 7 kelompok yang ditempatkan di 7 lingkungan Paroki Santo Agustinus, Payakumang.
Daftar Lingkungan yang Terlibat
-
Lingkungan St. Lusia
-
Lingkungan St. Simon
-
Lingkungan St. Sesilia
-
Lingkungan KKY
-
Lingkungan SPM
-
Lingkungan VMS
-
Lingkungan St. Yosef
Peserta dan Pendamping
Berikut adalah daftar peserta dan para pendamping yang tersebar di tujuh lingkungan:
| Nama Peserta | Pendamping | Lingkungan |
|---|---|---|
| Sunny & Dion | Lusia Beta Sungai Daka | St. Lusia |
| Veronica Derli Alpa & Agustin Minarni C. | Sr. Astin, CP | St. Simon |
| Gracia Trinovena Rere & Revalina R. Moi | Monica (Air Upas) | St. Sesilia |
| Fiona T-SoM & Novriesta Melan Pamula | J. Jesi (Menyumbung) | KKY |
| Verona Juli Anti & Chelsy Olimpia (T-SoM) | Sr. Dympha, OSA | SPM |
| Reva Karlina & Mathilda Rosalind | Br. Is (Tayap) | VMS |
| Yuvita Wulan & Jillkia Priscilla | Desi (Sandai) | St. Yosef |
Hari Pertama: Jumat, 5 September 2025
-
16.00 – 17.00 WIB: Kedatangan & Registrasi (Catholic Center)
-
17.00 – 18.00 WIB: MCK
-
18.00 – 19.00 WIB: Misa Pembuka oleh Romo Sutadi (Kapel CC)
-
19.00 – 19.30 WIB: Makan malam bersama
-
19.30 – 20.00 WIB: Pembagian tempat live-in dan penjemputan oleh keluarga tuan rumah
Hari Kedua: Sabtu, 6 September 2025
-
05.00 – 21.00 WIB: Doa pagi, aktivitas bersama keluarga, studi kelompok, refleksi iman
-
21.00 – 22.00 WIB: Doa malam & menulis refleksi pengalaman
-
22.00 WIB: Istirahat malam
Hari Ketiga: Minggu, 7 September 2025
-
06.00 – 06.30 WIB: MCK, sarapan, dan pamit dari keluarga
-
07.00 – 10.00 WIB: Sharing pengalaman di Catholic Center
-
10.00 – 11.00 WIB: Misa Penutup (Kapel CC Catholic Center)
-
11.00 – 12.00 WIB: Sayonara dan ramah tamah
Semangat Misioner yang Ditumbuhkan
Live-in menjadi laboratorium iman yang memungkinkan anak-anak dan remaja:
Membiasakan doa bersama keluarga
Menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian
Menjadi saksi iman melalui kesederhanaan hidup
Mengasah kepekaan sosial dan kepedulianKegiatan ini sejalan dengan semangat misioner Gereja Katolik yang terus mendorong keterlibatan kaum muda dalam pewartaan Injil.
Tanggapan Pastor Paroki
Pastor Paroki Santo Agustinus Paya kumang RP.Vitalis Nggeal,CP.menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah penting dalam pembinaan iman remaja Katolik. Ia berharap agar pengalaman ini menjadi dasar bagi para peserta untuk terus bertekun dalam doa, derma, kurban, dan kesaksian.
Mereka yang ikut live-in perdana ini akan memiliki kenangan iman yang mendalam. Inilah yang kelak menjadi bekal mereka untuk aktif dalam Gereja dan masyarakat,” ujarnya.
Kesimpulan
SEKAMI live-in perdana Keuskupan Ketapang tahun 2025 menjadi bukti nyata bahwa pembinaan iman remaja tidak hanya berhenti di ruang kelas katekese, tetapi juga harus dihidupi dalam pengalaman nyata bersama keluarga dan komunitas.
Dengan semangat Children Helping Children, para remaja Katolik Ketapang diharapkan terus tumbuh menjadi pribadi yang beriman teguh, peduli sesama, serta siap menjalani misi Gereja di tengah dunia.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 6 September 2025









0 comments:
Posting Komentar