Anggur Baru dalam Kantong Kulit Baru: Makna Injil Lukas 5:33-39 bagi Umat di Zaman Digital

 

Foto  RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP

Ketapang, Jumat 5 September 2025 .Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, kembali melaksanakan Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Maha Kudus sebagai wujud penyembahan kepada Tuhan yang hadir dalam rupa Hosti yang telah dikonsekrasikan. Perayaan Ekaristi ini dimulai pukul 18.00 WIB di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Perayaan Misa dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, bertepatan dengan peringatan liturgi Santo Laurensius Guistiniani, Uskup dan Pengaku Iman, dengan warna liturgi hijau. Liturgi dimeriahkan dengan pelayanan para petugas liturgi: dirigen Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, lektor sekaligus pembawa Alleluya Saudari Lastri Anita Gultom, koor dari Lingkungan Santa Sisilia, serta organis Saudari Margareta Nina yang mengiringi nyanyian umat.










































































































Makna Injil Hari Ini: Anggur Baru dalam Kantong Kulit Baru

Dalam homili Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Maha Kudus di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, mengangkat bacaan Injil Lukas 5:33-39 sebagai dasar renungan. Injil ini menghadirkan dialog antara Yesus dan orang Farisi, yang mempertanyakan perilaku murid-murid-Nya. Mereka heran mengapa para murid Yesus tidak berpuasa seperti murid Yohanes Pembaptis dan kelompok Farisi. Pertanyaan ini memunculkan penjelasan Yesus yang sarat makna: ada saatnya untuk berpuasa, tetapi ada pula saatnya untuk bersukacita karena Sang Mempelai hadir di tengah umat-Nya.

Jawaban Yesus menyingkapkan kebenaran mendalam bahwa iman tidak bisa disempitkan hanya dalam hukum dan aturan semata. Kehadiran-Nya membawa sesuatu yang baru—suatu kehidupan yang lebih luas, penuh sukacita, dan dibangun atas dasar kasih. Yesus kemudian memperkuat penjelasan itu dengan perumpamaan tentang kain baru dan anggur baru.

Ia berkata:

“Tidak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua; sebab jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur.” (Luk 5:37)

Perumpamaan ini menegaskan bahwa karya keselamatan yang dibawa Kristus adalah sesuatu yang baru, segar, dan penuh daya hidup. Maka karya itu tidak bisa dipaksakan masuk ke dalam kerangka lama yang kaku, yang hanya terikat pada hukum dan kebiasaan tanpa roh kasih.

Makna Injil Lukas 5:33-39 dalam Konteks Asli

Untuk memahami lebih dalam, kita perlu melihat konteks pada zaman Yesus.

Orang Yahudi pada masa itu sangat menekankan hukum Taurat dan tradisi keagamaan. Puasa, doa, dan amal adalah tiga pilar kesalehan Yahudi. Bagi orang Farisi, puasa bukan hanya ritual, tetapi juga tanda kesalehan yang membedakan mereka dari orang lain. Maka ketika mereka melihat murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti kelompok mereka, timbullah pertanyaan yang bernada kritis: “Mengapa murid-Mu tidak berpuasa?”

Yesus tidak serta-merta menolak pentingnya puasa. Sebaliknya, Ia memberikan perspektif baru. Kehadiran-Nya sebagai Sang Mempelai adalah alasan untuk bersukacita. Sama seperti tamu perjamuan tidak berpuasa ketika bersama mempelai, demikian pula murid-murid Yesus tidak perlu berpuasa selama Ia hadir. Tetapi Yesus juga menubuatkan bahwa akan tiba saat-Nya diambil, dan pada waktu itu murid-murid akan berpuasa.

Di sinilah muncul perumpamaan tentang kain baru dan anggur baru. Yesus mengingatkan bahwa kehidupan baru yang Ia hadirkan tidak bisa dibatasi dalam kerangka lama. Seperti kain baru yang tidak bisa ditambalkan pada kain lama, atau anggur baru yang tidak bisa dituang ke kantong kulit tua, demikianlah karya keselamatan Kristus membutuhkan wadah baru: hati yang diperbarui.

Makna Teologis: Anggur Baru dan Kantong Kulit Baru

a. Anggur Baru sebagai Kasih Karunia Allah

Dalam Kitab Suci, anggur sering menjadi simbol sukacita, kelimpahan, dan berkat Allah. Anggur baru yang disebut Yesus melambangkan kasih karunia Allah yang hadir melalui diri-Nya:

Anggur baru adalah Injil yang hidup, kabar gembira tentang keselamatan.

Anggur baru adalah kehidupan Roh Kudus yang mengalir dalam hati umat.

Anggur baru adalah sukacita Injil, yang melampaui sekadar kewajiban hukum.

Yesus membawa anggur baru yang memulihkan, menyegarkan, dan memberi daya hidup baru kepada setiap orang yang percaya.

b. Kantong Kulit Baru sebagai Hati yang Diperbarui

Pada zaman itu, anggur disimpan dalam kantong kulit hewan. Kulit baru masih lentur dan bisa mengembang sesuai fermentasi anggur. Tetapi kantong tua sudah kaku, sehingga tidak bisa menampung anggur baru yang masih bergerak dan berkembang.

Secara teologis, kantong kulit baru melambangkan hati yang terbuka, lembut, dan siap diperbarui oleh Allah. Sedangkan kantong kulit lama melambangkan hati yang keras, terjebak pada kebiasaan lama, dan menolak perubahan.

Dengan kata lain, Yesus menegaskan bahwa kabar gembira keselamatan hanya bisa diterima oleh hati yang mau diperbarui oleh Roh Kudus.

Relevansi dalam Kehidupan Umat

Pesan Injil ini sangat relevan bagi kehidupan umat masa kini. RP. Oscar mengajak umat untuk merefleksikan: apakah kita masih hidup dalam pola iman lama yang kaku, ataukah kita sudah membuka diri terhadap iman baru yang segar dan penuh sukacita?

a. Iman Lama: Rutinitas Tanpa Hati

Iman lama adalah iman yang berhenti pada kewajiban, formalitas, dan rutinitas belaka.

Hadir di misa hanya karena takut dianggap tidak taat.

Berdoa hanya sebagai kewajiban harian tanpa makna.

Melayani dalam Gereja dengan hati yang dingin, tanpa kasih.

Iman seperti ini bagaikan kantong kulit tua kaku, tidak elastis, dan tidak bisa menampung kehidupan baru yang ditawarkan oleh Injil.

b. Iman Baru: Relasi Penuh Kasih dengan Kristus

Sebaliknya, iman baru adalah iman yang berakar pada relasi kasih dengan Kristus.

Hadir di misa karena rindu berjumpa dengan Yesus dalam Ekaristi.

Berdoa bukan sekadar kewajiban, tetapi sebagai perjumpaan hati dengan Allah.

Melayani dengan sukacita, karena menyadari bahwa setiap pelayanan adalah ungkapan cinta.

Iman baru ini membuat seseorang menjadi “kantong kulit baru” yang siap menampung anggur baru dari Allah.

c. Pertanyaan Reflektif untuk Kita

Injil hari ini mengajak setiap umat untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah aku masih hidup dengan iman lama yang kaku?

Apakah aku berani membuka hati untuk menjadi kantong kulit baru?

Apakah aku sungguh memberi ruang bagi kasih Allah untuk memperbarui hidupku?

Pertanyaan ini penting karena iman bukan sekadar soal ritual, tetapi tentang bagaimana kita sungguh-sungguh hidup dalam relasi kasih dengan Kristus.

Panggilan untuk Umat di Zaman Digital

Homili RP. Oscar menekankan bahwa umat Katolik perlu membuka hati bagi pembaruan Roh Kudus. Pembaruan ini tidak hanya menyentuh aspek pribadi, tetapi juga cara kita menghidupi iman di tengah perkembangan zaman.

a. Membuka Hati bagi Roh Kudus

Setiap hari, Roh Kudus bekerja memperbarui hati kita. Namun, kita harus bersedia melepaskan kekakuan lama. Artinya, tidak terjebak pada pola pikir yang menutup diri, melainkan berani bersikap rendah hati untuk dibentuk oleh Allah.

b. Hidup dengan Sukacita Injil

Hidup Kristiani sejati adalah hidup yang ditandai sukacita. Sukacita ini tidak bergantung pada keadaan duniawi, melainkan bersumber dari kehadiran Yesus. Maka, meski menghadapi tantangan, umat dipanggil untuk memancarkan sukacita Injil dalam keluarga, lingkungan, dan pekerjaan.

c. Menghidupi Iman secara Kreatif dan Relevan

Zaman digital menghadirkan peluang baru bagi pewartaan iman. Injil bukan hanya dibacakan di mimbar, tetapi juga bisa disebarkan melalui media sosial, aplikasi Kitab Suci, dan komunitas daring. Contoh konkret:

Membagikan renungan harian di WhatsApp atau Facebook.

Menggunakan aplikasi Alkitab untuk memperdalam Firman.

Membuat konten kreatif di TikTok atau YouTube tentang pesan moral dan iman.

Bergabung dengan kelompok doa daring yang saling mendukung pertumbuhan rohani.

Dengan cara ini, umat menjadi saksi Kristus yang hidup dan kreatif di tengah dunia modern.

 Contoh Konkret dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk memperjelas, mari kita lihat beberapa contoh nyata bagaimana Injil hari ini bisa diterapkan:

  1. Dalam keluarga:
    Seorang ayah yang biasanya hanya berdoa singkat karena rutinitas, mulai melibatkan anak-anak dalam doa malam, sehingga doa keluarga menjadi momen penuh sukacita.

  2. Dalam pelayanan:
    Seorang anggota koor yang semula bernyanyi hanya karena jadwal, mulai menyadari bahwa suaranya adalah persembahan bagi Tuhan. Ia bernyanyi dengan hati, bukan sekadar suara.

  3. Dalam pekerjaan:
    Seorang guru yang awalnya mengajar hanya karena kewajiban, mulai menyalakan semangat baru dengan melihat pekerjaannya sebagai panggilan untuk membentuk masa depan generasi muda.

  4. Dalam komunitas digital:
    Seorang OMK menggunakan Instagram untuk membagikan ayat Alkitab setiap pagi. Hal sederhana itu menjadi inspirasi bagi banyak orang yang membacanya.

Contoh-contoh kecil ini menunjukkan bagaimana iman baru dapat mengubah rutinitas menjadi kesempatan untuk bersukacita dalam Kristus.

Penutup: Menjadi Kantong Kulit Baru

Perayaan Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Maha Kudus di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang mengingatkan umat bahwa Yesus selalu menghadirkan hidup baru, sukacita baru, dan kasih yang memperbarui.

Kita semua dipanggil untuk menjadi “kantong kulit baru” yang siap menampung anggur baru, yaitu karya keselamatan Kristus. Itu berarti kita harus terus memperbarui hati, membuang kekakuan lama, dan membuka diri terhadap Roh Kudus.

Iman yang sejati bukanlah iman yang kaku dan penuh rutinitas, melainkan iman yang segar, kreatif, penuh kasih, dan relevan dengan kehidupan. Dengan demikian, setiap pribadi bisa menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, komunitas, dan dunia.

Kiranya Injil hari ini menjadi pengingat bahwa Allah senantiasa mengundang kita untuk masuk dalam kehidupan baru. Sebuah kehidupan yang dipenuhi oleh anggur baru sukacita Injilyang hanya dapat ditampung oleh hati yang diperbarui.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   5  September  2025


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar