Silaturahmi Kebangsaan: Merayakan 13 Tahun Tahbisan Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang, dalam Semangat Persaudaraan dan Kebhinekaan
Ketapang, 14 September 2025.Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan lintas agama, etnis, serta budaya terasa kental di Aula Keuskupan Ketapang, Jalan Jenderal A. Yani No. 74, Sabtu malam (13/9/2025). Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-13 Tahbisan Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, digelar sebuah acara istimewa bertajuk Silaturahmi Kebangsaan. Acara ini mempertemukan berbagai tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan, hingga aparat keamanan dalam satu meja persaudaraan demi merajut harmoni dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Profil Singkat Mgr. Pius Riana Prapdi
Sebagai tokoh sentral dalam acara Silaturahmi Kebangsaan ini, penting pula untuk mengenal lebih dekat perjalanan hidup dan karya pelayanan Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang.
-
Lahir Jaya Wijaya, 5 Mei 1967
-
Tahbisan Diakon Yogyakarta, 25 Januari 1995
-
Tahbisan Imam Yogyakarta, 8 Juli 1995
-
Tahbisan Uskup Ketapang, 9 September 2012
-
Tarekat/Ordo Sebelumnya Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang
-
Motto Tahbisan Uskup Serviens in Caritate (Pelayanan dalam Kasih)
-
Keluarga Putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Eusebius Krisdiharjo (+) dan Ibu Maria Kristina Dalminah.
-
Alamat Orang Tua Gemawang No. 36, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta
-
Riwayat Pendidikan
-
SD Karitas, Nandan (1974–1980)
-
SMP Negeri VI Yogyakarta (1980–1983)
-
Seminari Menengah Mertoyudan (1983–1987)
-
S1 Filsafat Teologi Wedabhakti (1988–1995)
-
Licensiat Teologi Wedabhakti (1995–1997)
-
Licensiat Teologi Moral Alfonsianum (2001–2003)
-
Tahun Orientasi Rohani Sanjaya, Jangli, Semarang (1988–1989)
-
Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan (1989–1995)
-
TK Indriasana (1973–1974)
-
Riwayat Pastoral
-
(1991–1992) TOP di Seminari Mertoyudan, Magelang
-
(1995) Masa Diakonat di Paroki St. Maria Regina Purbowardayan, Keuskupan Agung Semarang
-
(1997–1999) Pastor Vikaris Paroki St. Maria di Fatima, Sragen (KAS)
-
(1999–2001) Pastor Kepala Paroki St. Aloysius Gonzaga, Mlati (KAS)
-
(1999–2001) Direktur Dinamika Edukasi Dasar
-
(2003–2008) Pastor Vikaris Paroki St. Franciscus Xaverius, Kidul Loji (KAS)
-
(2006–2012) Pengurus Yayasan Panti Rapih Yogyakarta
-
(2008–2009) Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang
-
(2008–2012) Pengurus Yayasan Dinamika Edukasi Dasar
-
(2009–2011) Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang
-
(2011–2012) Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang
-
(2012–sekarang) Uskup Keuskupan Ketapang
Profil ini memperlihatkan perjalanan panjang penuh dedikasi seorang gembala yang kini sudah 13 tahun menahbiskan hidupnya bagi Gereja dan umat di Keuskupan Ketapang.
Nuansa Duka di Tengah Sukacita
Meski acara diselenggarakan dalam suasana perayaan, Mgr. Pius Riana Prapdi mengawali sambutannya dengan penuh keprihatinan dan rasa duka mendalam. Beliau menyampaikan kabar duka atas berpulangnya RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti, atau akrab disapa Romo Hari, imam yang selama ini dikenal dekat dengan umat. Romo Hari meninggal dunia siang hari setelah memimpin Misa di Selupuk.
“Antara kebahagiaan dan kesedihan bercampur di hati saya malam ini. Kami bersyukur atas 13 tahun perjalanan tahbisan yang boleh kami jalani bersama umat, namun di sisi lain kami berduka karena kehilangan seorang sahabat, rekan imam, dan gembala yang rendah hati, yang begitu dekat dengan masyarakat. Romo Hari selalu hadir dalam keseharian umat: ikut menugal, menggetam, bahkan menyusuri sungai-sungai dan riam di Kabupaten Ketapang,” ungkap Mgr. Pius dengan suara bergetar.
Beliau menekankan bahwa perjumpaan dengan masyarakat, termasuk lewat kegiatan sederhana dan tradisional, selalu menjadi inspirasi untuk pelayanan. “Imam tidak boleh terlepas dari kehidupan umat. Kami hadir bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga berjalan bersama,” tambahnya.
Inspirasi dari Dokumen Persaudaraan Universal
Dalam pidatonya, Uskup Ketapang juga menegaskan pentingnya dialog lintas agama dan peran tokoh masyarakat dalam merawat persaudaraan sejati. Ia mengutip inspirasi dari Dokumen Abu Dhabi tentang Persaudaraan Manusia yang ditandatangani Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayyib pada 2019, serta Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar.
“Pesan dari Paus Fransiskus jelas: kita semua bersaudara. Tidak ada alasan untuk membiarkan agama dijadikan alat provokasi, apalagi permusuhan. Sebaliknya, agama adalah jalan menuju perdamaian, kesejahteraan, dan penghormatan martabat manusia,” tegas Mgr. Pius.
Beliau juga mengutip tema Bulan Kitab Suci Nasional 2025 yang berbunyi ‘Allah Sumber Pembaruan, Relasi dalam Hidup’. Menurutnya, tema ini menjadi pengingat bahwa pembaruan iman harus diwujudkan dalam relasi yang sehat, baik antarumat beragama maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-Nilai Universal: Dari Abu Dhabi hingga Istiqlal
Mgr. Pius secara rinci menyampaikan isi pokok dari kedua dokumen bersejarah tersebut:
-
Peneguhan Kerukunan Umat Beragama – Perbedaan adalah rahmat yang harus menjadi sarana harmonisasi, bukan konflik.
-
Dialog Antaragama – Jalan efektif menyelesaikan konflik, terutama yang dipicu oleh penyalahgunaan agama.
-
Menolak Ekstremisme dan Kekerasan – Agama tidak boleh digunakan untuk perang, kebencian, atau terorisme.
-
Kebebasan Beragama – Hak dasar manusia yang tak bisa diganggu gugat.
-
Mengutamakan Kemanusiaan – Semua manusia sama dalam hak, kewajiban, dan martabat.
-
Lingkungan Hidup – Tanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan bagi generasi mendatang.
-
Pendidikan untuk Masa Depan – Generasi muda harus dididik dalam semangat toleransi, perdamaian, dan pembelaan hak sesama.
Peran Keuskupan Ketapang dalam Misi Gereja
Mgr. Pius mengaitkan pesan tersebut dengan Misi Keuskupan Ketapang, khususnya Misi ke-3 dan ke-4:
-
Misi 3: Pembinaan dan Pengembangan ImanFokus pada penguatan iman umat melalui katekese, pendalaman Kitab Suci, dan pembinaan kader iman.
-
Misi 4: Pelayanan Kasih dan Keadilan SosialMenghadirkan kasih Kristus dalam tindakan nyata: pemberdayaan sosial-ekonomi, advokasi keadilan bagi masyarakat adat, pelestarian lingkungan, serta memperjuangkan damai dan kesejahteraan bersama.
“Pelayanan gereja tidak berhenti di altar, tetapi juga harus menyentuh tanah, air, hutan, dan masyarakat adat yang hidup dari kearifan lokal. Kita hadir untuk memperjuangkan keadilan sekaligus menjaga bumi sebagai rumah bersama,” tandas Uskup.
Kehadiran Para Pastor, Bruder, Suster, dan Undangan
Selain tokoh lintas agama, aparat pemerintah, serta pemuka adat, acara Silaturahmi Kebangsaan ini juga dihadiri oleh para Pastor, Bruder, dan Suster dari berbagai tarekat dan paroki di wilayah Keuskupan Ketapang. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata dukungan dan persaudaraan dalam karya pastoral Gereja.
Para imam yang hadir ikut mendoakan Uskup agar tetap diberikan kesehatan dan kebijaksanaan dalam memimpin umat, sementara para bruder dan suster menegaskan komitmen untuk mendampingi masyarakat melalui pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, dan pastoral.
Acara ini juga diramaikan oleh para undangan, mulai dari perwakilan organisasi masyarakat, tokoh pemuda lintas agama, akademisi, hingga umat Katolik dari berbagai paroki. Kehadiran mereka menambah semarak suasana silaturahmi dan memperlihatkan bahwa perayaan 13 tahun tahbisan Uskup bukan hanya milik umat Katolik, melainkan juga milik seluruh masyarakat Ketapang.
Mgr. Pius secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para pastor, bruder, suster, dan seluruh undangan yang dengan penuh semangat meluangkan waktu untuk hadir. “Kehadiran Anda semua adalah kekuatan dan dukungan bagi saya pribadi, juga bagi Keuskupan Ketapang dalam menjalankan karya pelayanan,” ujarnya dengan penuh syukur.
Tokoh Pemerintah dan Aparat Menyuarakan Persatuan
Acara yang dipandu oleh Saudara Nong Moses ini juga dihadiri oleh pejabat pemerintah, aparat keamanan, serta tokoh masyarakat dari berbagai etnis.
Absalon, SE., M.Sos., Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, mewakili Bupati Ketapang, menegaskan pentingnya keberagaman. “Perbedaan agama dan etnis bukan pemisah, melainkan perekat. Mari bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Drs. Heryandi, M.Si., Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, mewakili Sekda, menyampaikan doa agar Uskup tetap sehat dalam pelayanan.
Remin Nuryadin, M.Pd.I, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang aktif di tingkat PCNU Kabupaten Ketapang. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan ucapan selamat ulang tahun tahbisan yang ke-13 untuk Mgr. Pius Riana Prapdi.
“Atas nama warga Nahdlatul Ulama di Kabupaten Ketapang, saya mengucapkan selamat ulang tahun tahbisan yang ke-13 untuk Bapak Uskup. Semoga selalu sehat, panjang umur, dan terus diberi semangat dalam menggembalakan umat. Ketapang ini sangat aman dan damai karena kita hidup bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkap Remin Nuryadin dengan penuh ketulusan.
Ucapan tersebut menambah suasana hangat dalam pertemuan, sekaligus memperlihatkan eratnya hubungan lintas iman di Ketapang. NU, bersama tokoh agama lain, meneguhkan komitmen untuk merawat kerukunan, persaudaraan, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
AKBP Muhammad Harris, S.H., S.I.K., M.I.K., CPHR, Kapolres Ketapang, menegaskan komitmen Polri menjaga kerukunan dan persatuan. “Kerukunan bukan pilihan, tapi kebutuhan. Tanpa kerukunan, tidak ada keamanan dan pembangunan,” katanya.
Perwakilan Dandim 1203/Ketapang menekankan bahwa Ketapang tetap aman dan damai selama bertugas berkat kerjasama seluruh elemen masyarakat.
Kapten Laut (PM) Joko Wiranto, Dandenpom, mewakili Danlanal, menambahkan pesan budaya: “Adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ jubata” sebagai pedoman hidup masyarakat Dayak yang menekankan keadilan, kebaikan, dan ketakwaan.
Dr. H. Ucup Supriatna, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kehadiran beliau menunjukkan perhatian pemerintah daerah, khususnya sektor pendidikan, dalam mendukung semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kerukunan lintas agama. Kehadiran ini juga menjadi simbol nyata bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai toleransi dan semangat kebhinekaan sejak dini kepada generasi muda.
Suara Lintas Agama dan Adat
Hadir pula perwakilan tokoh lintas agama dan adat:
H. Irvan Masyad, S.Pd, MH, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Ketapang, menegaskan bahwa Ketapang adalah kota aman berkat kebersamaan.
H. Mahud, MABM Ketapang, menyerukan agar masyarakat terus bahu-membahu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Ustadz Nanang menyampaikan doa dan harapan agar Uskup panjang umur dan sehat, serta mengingatkan bahwa kehidupan berbangsa adalah bagian dari rencana Tuhan.
Perwakilan umat Buddha dan Konghucu turut mendoakan kesehatan Uskup dalam Pelaksanaan Tugas Sebagai Pemimpin Umat Katolik di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Dari pihak Kementerian Agama, hadir Servasius Waja, SS, yang menyampaikan doa agar bangsa dan Kabupaten Ketapang senantiasa diberkati dengan kehidupan sosial dan ekonomi yang baik.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
Hadir juga Drs. Heronimus Tanam, M.E, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ketapang yang resmi dikukuhkan untuk periode 2022–2027. Dalam kesempatan tersebut, beliau menegaskan kembali komitmen FKUB untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama di Kabupaten Ketapang. Kehadirannya memperkuat makna acara ini sebagai momentum silaturahmi yang meneguhkan semangat persatuan, toleransi, dan persaudaraan lintas iman.
Simbol Persaudaraan: Doa dan Cendera Mata
Acara Silaturahmi Kebangsaan ini diakhiri dengan doa bersama lintas agama, dipimpin oleh Ustadz Nanang. Semua tokoh dan hadirin menyatukan hati memohon berkat bagi Kabupaten Ketapang dan bangsa Indonesia.
Sebagai tanda persaudaraan, Mgr. Pius memberikan cendera mata kepada para tokoh yang hadir. Beliau menutup dengan ucapan syukur dan permohonan maaf apabila ada kekurangan dalam penyelenggaraan.
“Semoga malam ini kita bisa mengambil satu kesimpulan: kita semua bersaudara. Mari teruskan silaturahmi ini demi persaudaraan, perdamaian, dan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.
Makna Silaturahmi Kebangsaan bagi Ketapang dan Indonesia
Acara ini bukan sekadar perayaan tahbisan, tetapi juga momentum penting untuk meneguhkan kembali persaudaraan lintas iman dan budaya di tengah tantangan global: krisis lingkungan, perpecahan sosial, hingga menguatnya ekstremisme.
Dengan semangat “Adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ jubata”, masyarakat Ketapang menegaskan komitmennya untuk hidup adil, berbudi luhur, dan taat kepada Tuhan. Sementara pesan dari Abu Dhabi dan Istiqlal mengingatkan dunia bahwa kerukunan umat beragama adalah warisan yang harus dijaga dan diwariskan bagi generasi muda.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 14 September 2025
0 comments:
Posting Komentar