Keuskupan Ketapang Berduka: RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti Berpulang dalam Usia 78 Tahun

 

Foto Almarhum RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti

Keuskupan Ketapang Berduka: RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti Berpulang dalam Usia 78 Tahun

Ketapang, 13 September 2025.Suasana duka menyelimuti umat Katolik Keuskupan Ketapang pada Sabtu, 13 September 2025. Seorang imam senior, RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti, atau yang akrab disapa Romo Hari, berpulang ke pangkuan Bapa di surga pada usia 78 tahun. Beliau dipanggil Tuhan pada pukul 12.20 WIB di Desa Selupuk, Kecamatan Nanga Tayap, akibat serangan jantung.

Jenazah sempat disemayamkan di Puskesmas Nanga Tayap, di mana RD. Mardianus Indra, Pastor Kepala Paroki Santo Petrus Rasul Nanga Tayap, memimpin doa sebelum jenazah diberangkatkan menuju Ketapang. Rencananya, jenazah akan dibawa ke RS Fatima Ketapang, sebuah rumah sakit karya Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian, untuk persiapan selanjutnya sebelum upacara penghormatan dan pemakaman yang akan ditentukan kemudian.

RD. Mardianus Indra.Mendoakan Almarhum RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti

Ucapan Duka dari Pastor Kepala dan Vikaris Paroki Paya Kumang

Duka mendalam dirasakan oleh Pastor Kepala ex officio RP. Vitalis Nggeal, CP, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, yang menyampaikan belasungkawa kepada keluarga besar almarhum:

“Semoga damai dan bahagia bersama Bapa di surga, dan untuk keluarga semuanya selalu diberikan kekuatan, ketabahan serta penghiburan. Tuhan memberi kebahagiaan kekal dalam persekutuan para kudus, dan keluarga diberi kekuatan serta penghiburan iman,” ungkap Pastor Vitalis.

Sementara itu, Pastor Vikaris ex officio RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP menambahkan:

“Beristirahatlah dengan tenang dalam kedamaian abadi di rumah Bapa.”

Ucapan senada datang dari Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, yang dipimpin oleh Ketua Jeno Leo, bersama jajaran inti DPP dan seluruh umat paroki. Mereka menyampaikan doa agar arwah almarhum diterima di sisi Tuhan serta keluarga yang ditinggalkan diberi penghiburan.

Sosok Imam Diosesan yang Setia

Romo Dremono Harimurti adalah seorang imam Diosesan Keuskupan Ketapang. Selama lebih dari empat dekade, beliau mengabdikan hidupnya bagi pelayanan pastoral di berbagai pelosok Kalimantan Barat. Dalam usia senjanya, beliau masih aktif mendampingi umat, menulis, dan memberikan inspirasi iman serta kebudayaan.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga masyarakat Dayak Kayong yang selama ini begitu dekat dengannya.

Kedekatan dengan Tradisi Dayak Kayong

Salah satu warisan penting Romo Hari adalah keterlibatannya yang mendalam dengan kebudayaan Dayak Kayong. Beliau tidak hanya menjadi gembala rohani, tetapi juga sahabat adat.

Dalam masyarakat Dayak Kayong, terdapat tradisi pemberian gelar atau golar tentimangan, sebuah bentuk penghormatan yang diberikan tidak hanya kepada bangsawan, tetapi juga kepada semua orang yang berjasa bagi komunitas. Gelar ini sering kali diberikan pada saat perkawinan adat, peresmian rumah baru, atau kegiatan kampung yang penting.

Romo Dremono Harimurti menjadi salah satu imam Katolik yang menerima gelar kehormatan Dayak Kayong. Di Kampung Tebuar, beliau diberi gelar “Orang Kaye Payung Desa”, yang bermakna pejabat agama yang memberikan perlindungan bagi masyarakat. Sementara di Kampung Selupuk, beliau menerima gelar “Orang Kaye Laut Bicara”, yang berarti tokoh gereja dengan pengetahuan luas dan kemampuan berbicara adat yang baik.

Penerimaan gelar adat ini mencerminkan keterbukaan masyarakat Dayak terhadap siapa pun yang berjuang bersama mereka. Sekaligus menunjukkan penghargaan atas dedikasi Romo Hari yang bukan hanya hadir sebagai pastor, tetapi juga sebagai sahabat budaya.

Warisan Pemikiran dan Karya Tulis

Selain pelayanan rohani, Romo Dremono Harimurti juga meninggalkan warisan intelektual yang berharga. Ia menulis beberapa buku yang merekam pengalaman pastoral dan refleksinya tentang kehidupan masyarakat Dayak.

Beberapa karyanya antara lain:

“Dayak Kayong: Merajut Kehidupan dalam Adat” (2015) karya Andika Pasti, di mana Romo Dremono banyak memberi catatan reflektif.

“Dayak Mencari Sebayan Tujuh Saruga Dalam” (2013), buku yang ia tulis sendiri, berisi pengalaman nyata dalam menyelami religi dan spiritualitas masyarakat Dayak.

“Dayak Mencari Sebayan Tujuh Saruga Dalam” (2011), edisi awal yang diterbitkan oleh Yayasan Warisan Ketapang dan Smart Born Yogyakarta.

Dalam buku-buku ini, Romo Hari menekankan pentingnya inkulturasi iman  bagaimana Injil hadir, hidup, dan berakar dalam kebudayaan lokal. Ia percaya bahwa nilai-nilai luhur Dayak dapat memperkaya kehidupan iman Katolik.

Pastor Inovatif dengan Semangat Kegembiraan

Dalam catatan reflektifnya, “Pastoral Inovatif: 45 Tahun Imamatku”, Romo Hari menuliskan bahwa pelayanan imamat di Keuskupan Ketapang bukanlah hal mudah. Ia menyebut para imam di keuskupan ini harus menjadi “petarung ulung” yang berhadapan dengan berbagai pergulatan hidup dan karya.

“Selama 25 tahun sudah aku berusaha menginovasi cara pastoralku, menginovasi kegendhengan pikiranku. Semoga ketika Anda membaca buku kenanganku ini, Anda bersolider ikut gendheng supaya aku tidak gendheng sendiri. Kegendhenganku lahir dari pertaruhanku bersama Yesus yang kuteladani dan Kristus yang kuimani,” tulisnya dengan gaya khas penuh humor sekaligus refleksi mendalam.

Ide-ide yang ia tawarkan meliputi partnership pastoral, pewartaan yang inkulturatif, keberpihakan kepada kaum miskin, dan pengolahan diri yang terus-menerus. Ia percaya bahwa menjadi imam bukan sekadar mengajar, tetapi juga berjuang bersama umat, mendengarkan, serta meneguhkan dalam suka dan duka.

Sosok Rendah Hati yang Dekat dengan Umat

Banyak umat mengenang Romo Hari sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan mudah didekati. Beliau tidak segan turun langsung ke masyarakat, menghadiri pesta adat, membantu keluarga berduka, atau sekadar bercengkerama dengan umat di desa-desa terpencil.

Dalam masyarakat Dayak, ia dikenal bukan hanya sebagai pastor, tetapi juga sebagai “saudara” yang ikut serta dalam kehidupan sehari-hari. Gelar adat yang ia terima adalah bukti nyata kedekatannya dengan masyarakat.

Doa dan Harapan Umat

Berbagai doa terus dipanjatkan untuk almarhum. Para pastor, biarawan-biarawati, dan umat Keuskupan Ketapang memohon agar arwah beliau diterima dalam kebahagiaan kekal bersama Bapa di surga.

“Mohon doa untuk keselamatan abadi Romo Hari Murti. Terima kasih,” demikian pesan yang beredar di antara para imam Keuskupan Ketapang.

Keluarga besar Keuskupan Ketapang berharap semangat pelayanan, pemikiran, dan teladan hidup almarhum dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus, terutama para imam muda yang sedang menapaki jalan imamat.

Penutup: Warisan Abadi Romo Hari

Kepergian RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti meninggalkan duka mendalam. Namun, di balik duka itu, tersimpan warisan berharga: iman yang kokoh, cinta kepada umat, keterbukaan terhadap budaya lokal, serta semangat inovasi pastoral yang segar.

Ia adalah contoh nyata seorang imam yang tidak hanya berkhotbah, tetapi juga hidup bersama umat, menanggung suka duka, dan memberi warna baru bagi Gereja Katolik di Kalimantan Barat.

Seperti gelar adat yang disematkan kepadanya, Romo Hari benar-benar menjadi “Orang Kaye Payung Desa” pelindung umat, sahabat adat, dan gembala yang setia. Kini, doa seluruh umat mengiringinya:

Requiescat in Pace, Romo Hari. Semoga engkau beristirahat dalam damai abadi di rumah Bapa, bersama para kudus, dan semoga teladan hidupmu terus dikenang oleh Gereja dan masyarakat yang kau cintai.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   13  September  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar