HARI MINGGU ADVEN I DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: MGR. PIUS RIANA PRAPDI MENGAJAK UMAT MEMASUKI TATA KEHIDUPAN BARU YANG PENUH DAMAI SEJAHTERA

 


Foto Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi,  didampingi oleh
RP. Vitalis Nggeal, CP dan RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa

HARI MINGGU ADVEN I DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: MGR. PIUS RIANA PRAPDI MENGAJAK UMAT MEMASUKI TATA KEHIDUPAN BARU YANG PENUH DAMAI SEJAHTERA

Ketapang, Minggu, 30 November 2025.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengawali Tahun Liturgi A dengan penuh khidmat melalui perayaan Hari Minggu Adven I, bertepatan dengan peringatan Santo Andreas Rasul. Misa Kudus yang menggunakan warna liturgi ungu ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, didampingi oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, dan RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.

Perayaan Ekaristi dimulai pukul 07.00 WIB dengan persiapan liturgis yang tersusun rapi. Ribuan umat yang memadati Gereja Santo Agustinus menandai antusiasme umat memasuki masa Adven, masa penantian penuh harapan akan kedatangan Tuhan.






























































































































Liturgi Dihidupi Dengan Penuh Pengabdian

Dalam perayaan ini, sejumlah petugas liturgi mengambil bagian:

  • Lektor: Ibu Yohana Dani Oneng Wahyuni

  • Pemazmur: Bapak Tony Wijaya

  • Dirigen: Ibu Dian Noviyanti

  • Organis 1: Ibu Martha Koleta Popyzesika

  • Organis 2: Sdri. Maria Parahita Leandra

Peran para pelayan liturgi ini menambah kedalaman suasana doa, mendukung umat untuk semakin masuk dalam makna Adven sebagai masa mempersiapkan hati menyambut kedatangan Kristus.

Homili Mgr. Pius: “Tata Kehidupan Baru Harus Dimulai Sekarang, Bukan Nanti”

Dalam homilinya yang berlangsung sekitar 20 menit, Mgr. Pius Riana Prapdi menyampaikan pesan mendalam mengenai Tata Kehidupan Baru yang menjadi kerinduan Allah bagi umat-Nya. Beliau menekankan bahwa doa yang setiap hari diucapkan umat“Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga” harus benar-benar dihidupi dalam tindakan nyata.

1. Kehendak Allah Dimulai dari Saat Ini

Mgr. Pius menegaskan bahwa kehendak Allah bukan hanya akan terjadi nanti ketika manusia tiba di surga, tetapi justru dimulai sekarang, dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Kapan waktunya? Yang tahu hanya Bapa. Tetapi kehendak Allah itu tidak menunggu nanti di surga. Harus dimulai sekarang, di bumi ini, melalui tindakan-tindakan kasih, keadilan, dan damai yang diwujudkan oleh setiap orang beriman,” tegas beliau.

2. Orang Muda sebagai Penggerak Perubahan

Dalam bagian homili lainnya, Uskup menyoroti peran orang muda. Menurutnya, dalam seluruh sejarah Gereja dan bangsa-bangsa, perubahan besar selalu dimulai dari generasi muda.

“Siapa yang mewujudkan Tata Kehidupan Baru itu? Orang muda. Mereka yang energinya besar dan pikirannya terbuka harus menjadi motor perubahan bagi Gereja dan masyarakat.”

3. Bacaan Pertama: Tuhan Menghentikan Perang

Mengutip bacaan pertama yang berbicara tentang Allah yang menjadi hakim bangsa-bangsa dan menghapuskan perang, Mgr. Pius menekankan bahwa Tata Kehidupan Baru adalah kehidupan yang berlandaskan damai sejahtera.

“Bangsa yang satu tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain. Damai itu harus mulai dari hati kita, keluarga kita, komunitas kita.”

Tantangan Dunia Digital: 7 Jam Sehari Menggunakan HP, Apa Dampaknya?

Sebagai refleksi kontekstual, Mgr. Pius menyebutkan data dari Harian Kompas yang menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia menggunakan HP hingga 7 jam per hari. Durasi ini dinilai jauh melebihi batas rekomendasi kesehatan.

Ia mengingatkan:

  • Anak usia 2–5 tahun seharusnya maksimal 1 jam per hari

  • Anak usia 6–12 tahun maksimal 2 jam per hari

Penggunaan gadget berlebihan dapat menyebabkan:

  • keterlambatan bicara,

  • masalah kesehatan mental,

  • gangguan tumbuh kembang,

  • berkurangnya kemampuan fokus,

  • bahkan memicu istilah baru seperti “remaja jompo digital” dan “digital dementia.”

Uskup menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari keluarga, terlebih dari generasi muda yang rentan terhadap arus media digital.

Manusia Modern dan Fenomena ‘Lupa Makna’

Mgr. Pius mengkritik fenomena masyarakat saat ini yang lebih suka mengikuti hal-hal viral daripada mencari kebenaran sejati.

“Semua yang viral dianggap benar. Padahal kita perlu merenung kembali, apakah hati kita masih jernih?”

Beliau menyampaikan sebuah kisah sederhana:

Kisah “Jendela Kotor”

Ada sepasang suami-istri yang baru pindah rumah. Setiap pagi mereka melihat cucian tetangganya dan berkata:

  • “Mengapa pakaian itu masih kotor?”

  • “Apakah mereka tidak punya sabun?”

  • “Mungkin tidak punya mesin cuci!”

Namun, pada akhirnya mereka menyadari bahwa yang kotor bukan pakaian tetangganya, melainkan jendela rumah mereka sendiri.

“Kita perlu membersihkan jendela hati kita. Barulah kita bisa melihat orang lain dengan jernih dan adil,” ujar Uskup.

Makna Lilin-lilin Adven

Mgr. Pius juga mengajak umat menghayati makna setiap lilin Adven:

  1. Lilin Pertama – Harapan

  2. Lilin Kedua – Betlehem

  3. Lilin Ketiga – Sukacita (Gaudete)

  4. Lilin Keempat – Damai

Menyongsong Natal berarti menerima damai dan membagikannya.

“Kita harus semakin adil dan penuh damai sejahtera. Itulah cara kita membangun tata kehidupan baru.” 

Bacaan Kedua: Mengenakan Kristus Sebagai Senjata

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengingatkan agar umat:

  • tidak hidup dalam pesta pora,

  • tidak dalam kemalasan atau ketidakpedulian,

  • tetapi mengenakan Kristus sebagai perlindungan dan pedoman hidup.

Mgr. Pius menegaskan bahwa mengenakan Kristus berarti:

  • berpikir dengan cara Kristus,

  • bertindak dengan kasih,

  • memilih kebenaran,

  • menjauhi kejahatan,

  • serta menjadi terang bagi sesama.                                                                                                                      Makna Tahun Liturgi A: Matius Sebagai Penuntun

Pergantian menuju Tahun Liturgi A menandai dimulainya kembali siklus rohani Gereja, yang berlangsung tiga tahun (A, B, C) dengan fokus Injil yang berbeda.

  • Tahun A: Injil Matius

  • Tahun B: Injil Markus

  • Tahun C: Injil Lukas

Tahun Liturgi selalu dimulai pada Minggu Adven I, bukan 1 Januari, karena Gereja mengikuti kalender rohani yang mengalir dari penantian (Adven) menuju puncaknya pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

Injil Matius menekankan kerahiman Allah dan Kerajaan Surga yang hadir dalam hidup sehari-hari, selaras dengan ajakan Mgr. Pius untuk memasuki Tata Kehidupan Baru yang penuh damai.

Injil Hari Ini: Hidup Siap Sedia di Tengah Rutinitas

Bacaan Injil dari Matius 24:37–44 menyoroti kedatangan Tuhan yang tidak terduga. Yesus mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam rutinitas seperti pada zaman Nuh: makan, minum, bekerja, menikah, dan menjalani hidup seperti biasa tanpa kepekaan rohani.

Yesus berkata:

“Hendaklah kamu siap sedia, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Makna “siap sedia” diuraikan sebagai sikap batin yang:

  • tidak hidup dalam ketakutan,

  • tetapi hidup dalam cinta dan kewaspadaan,

  • peka terhadap sapaan Tuhan dalam hal-hal sederhana.

Sebagaimana dikatakan Santo Yohanes Paulus II:

“Kita berjaga bukan karena takut akan masa depan, tetapi karena percaya bahwa Allah datang untuk menyelamatkan.”

 

Berjaga dalam Dunia Modern

Tuhan tidak selalu datang melalui mukjizat spektakuler. Ia bisa hadir melalui:

  • teman yang membutuhkan telinga,

  • orang miskin yang meminta belas kasih,

  • panggilan untuk memaafkan,

  • kesempatan berbuat baik,

  • suara hati yang mengetuk untuk berubah.

“Ketika kita hidup dalam kasih, kita sudah siap kapan pun Tuhan datang,”
ujar seorang katekis setelah misa, menanggapi pesan Injil minggu ini. 
Pesan Utama: Menyalakan Pelita Iman

Seperti lilin Adven yang dinyalakan minggu ini, umat diajak menyalakan pelita iman dalam kehidupan sehari-hari:

  • menjadi terang,

  • menjadi damai,

  • menjadi pembawa kasih,

  • menjadi saksi Kristus.

Adven bukan hanya menanti kedatangan Yesus di masa Natal, tetapi menanti kedatangan-Nya setiap hari dalam hati yang siap membuka diri.

Doa Penutup Umat

Perayaan ditutup dengan doa yang sederhana namun penuh makna:

“Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu berjaga dan siap menyambut-Mu dalam setiap hal kecil di hidup kami.

Jangan biarkan kami tertidur oleh kesibukan dunia, tetapi bangunkan kami dengan Roh-Mu agar hati kami senantiasa terbuka bagi kasih-Mu.

Amin.”

Kesimpulan: Adven Adalah Undangan untuk Memulai dari Diri Sendiri

Perayaan Minggu Adven I di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang bukan hanya membuka Tahun Liturgi baru, tetapi membuka kesempatan bagi umat untuk:

  • memperbarui hati,

  • memperdalam iman,

  • menata kembali hidup,

  • membangun budaya damai,

  • serta membersihkan “jendela hati” agar dapat melihat sesama dengan kasih.

Pesan Mgr. Pius pagi itu menggema kuat:
Perubahan dunia dimulai dari hati yang bersih, hidup yang berjaga, dan semangat orang muda yang mau membangun tata kehidupan baru.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   30 November  2025


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar