Minggu Gaudete: Sukacita di Tengah Penantian Allah yang Setia Mendekat kepada Manusia
Ketapang, Minggu, 14 Desember 2025.Minggu pagi yang hening dan penuh pengharapan menyelimuti Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07.00 WIB, umat berkumpul untuk merayakan Ekaristi Hari Minggu Adven III, yang dalam tradisi Gereja dikenal sebagai Minggu Gaudete. Perayaan ini berlangsung dalam suasana liturgi berwarna ungu, namun diwarnai secara khas oleh nuansa sukacita yang semakin kuat karena perayaan Natal kian mendekat.
Minggu Adven III menempati posisi penting dalam seluruh rangkaian Masa Adven. Ia berada tepat di titik tengah masa penantian empat minggu menuju Natal. Dalam tradisi Gereja, Minggu ini mengundang umat untuk berhenti sejenak dari nada pertobatan yang dominan, lalu mengarahkan hati pada sukacita rohani. Kata Gaudete sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “bersukacitalah.” Ajakan ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan sikap iman yang berakar pada keyakinan bahwa Allah yang dijanjikan sungguh-sungguh setia dan sedang mendekat kepada umat-Nya.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Tugas pelayanan liturgi diemban oleh Bapak Dedi Candra sebagai lektor, Ibu Maria Elfrida Deke sebagai pemazmur, Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini sebagai dirigen, dan Bapak Yulius Sudarisman sebagai organis. Nyanyian-nyanyian liturgi dibawakan oleh Koor Lingkungan Santo Rafael, yang turut membantu umat memasuki suasana doa dan permenungan yang mendalam.
Dalam kalender liturgi Gereja, hari itu juga bertepatan dengan peringatan beberapa santo, antara lain Santo Yohanes dari Salib, Santo Venantius Fortunatus Uskup dan Pengaku Iman serta Santo Spiridion, Uskup dan Pengaku Iman. Kehadiran peringatan para kudus ini semakin memperkaya makna perayaan, karena kehidupan mereka menjadi teladan konkret tentang iman, kesetiaan, dan pengharapan yang diwujudkan dalam perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.
Fokus utama perayaan Ekaristi Minggu Adven III ini terletak pada homili yang disampaikan oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Dalam pewartaannya, beliau menekankan makna mendalam dari Minggu Gaudete sebagai undangan untuk bersukacita di tengah penantian, bukan karena semua persoalan hidup telah selesai, melainkan karena Allah sendiri sedang berjalan menuju manusia.
Homili diawali dengan penegasan bahwa Minggu Gaudete adalah hari bersukacita. Sukacita ini tidak berdiri di atas dasar kenyamanan hidup, melainkan di atas iman akan Allah yang hadir. Allah tidak tinggal jauh di langit, tetapi berkenan turun ke dalam sejarah manusia. Dalam terang iman Kristiani, Natal bukan sekadar perayaan kelahiran seorang tokoh besar, melainkan perayaan Allah yang hadir, Allah yang masuk ke dalam kerapuhan manusia untuk menyelamatkan dan menebus.
Penjelasan kemudian diarahkan pada simbolisme lilin Adven yang dinyalakan setiap Minggu. Lilin-lilin ini bukan sekadar hiasan liturgi, tetapi sarana katekese yang mengajar umat tentang perjalanan iman selama Masa Adven. Lilin pertama berwarna ungu, yang dikenal sebagai Lilin Nabi atau Lilin Harapan. Lilin ini melambangkan harapan akan kedatangan Mesias yang telah lama dinubuatkan oleh para nabi. Ia mengingatkan umat bahwa sejak awal sejarah keselamatan, Allah telah menjanjikan keselamatan bagi umat manusia.
Lilin kedua, juga berwarna ungu, disebut sebagai Lilin Betlehem atau Lilin Perdamaian. Lilin ini mengarahkan perhatian umat pada kota Betlehem, tempat Sang Juruselamat dilahirkan. Betlehem menjadi simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, sekaligus tempat di mana damai sejahtera Allah dinyatakan kepada dunia.
Lilin ketiga, yang dinyalakan pada Minggu Gaudete, memiliki warna merah muda atau pink. Lilin ini dikenal sebagai Lilin Gembala atau Lilin Sukacita. Warna pink merupakan perpaduan antara ungu yang melambangkan pertobatan dan putih yang melambangkan sukacita. Melalui lilin ini, Gereja menyampaikan pesan bahwa sukacita sejati lahir dari pertobatan dan pengharapan yang teguh. Sukacita ini bukan sekadar kegembiraan lahiriah, melainkan sukacita rohani karena keselamatan Allah sudah semakin dekat.
Lilin keempat kembali berwarna ungu dan dikenal sebagai Lilin Malaikat atau Lilin Kasih. Lilin ini melambangkan kasih Allah yang diwartakan para malaikat, sekaligus mengingatkan umat akan kemuliaan Allah yang hadir melalui Yesus Kristus. Selain itu, terdapat pula Lilin Putih atau Lilin Kristus yang biasanya dinyalakan pada Malam Natal atau Hari Natal. Lilin ini melambangkan kemurnian Kristus sebagai Terang Dunia yang mengalahkan kegelapan dosa dan maut.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP., menegaskan bahwa terdapat dua alasan utama mengapa umat diajak untuk bersukacita pada Minggu Gaudete. Alasan pertama adalah karena Allah berjalan menuju manusia. Dalam iman Kristiani, Allah bukan Pribadi yang pasif atau jauh, melainkan Allah yang aktif, yang datang dan mendekat. Kedatangan Yesus bukanlah peristiwa abstrak, melainkan peristiwa nyata yang menyentuh kehidupan manusia. Allah hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan manusia dengan segala kerapuhan dan keterbatasannya.
Sukacita ini juga dikaitkan dengan simbol terang yang mengalahkan kegelapan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering berhadapan dengan berbagai bentuk kegelapan: penderitaan, ketidakadilan, kesedihan, dan keputusasaan. Namun, melalui perayaan Natal yang semakin dekat, umat diingatkan bahwa terang Kristus sanggup mengalahkan semua bentuk kegelapan tersebut. Inilah dasar pengharapan yang sejati.
Alasan kedua untuk bersukacita adalah karena Allah setia pada janji-Nya. Sejarah keselamatan mencatat bahwa bangsa Israel menantikan Mesias selama berabad-abad. Penantian panjang itu tidak sia-sia, karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Kesetiaan Allah inilah yang menjadi dasar iman Gereja hingga saat ini.
Dalam konteks ini, figur Yohanes Pembaptis mendapat perhatian khusus. Yohanes Pembaptis adalah nabi yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia menjadi suara yang berseru di padang gurun, menyerukan pertobatan dan kesiapsiagaan. Pertanyaan yang muncul pada zamannya“Engkaukah yang akan datang itu?”mendapat jawaban nyata melalui karya-karya Yesus: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan. Tanda-tanda ini menjadi dasar iman Gereja bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.
Homili tersebut juga menyoroti kenyataan bahwa sukacita umat belumlah sempurna. Hal ini disimbolkan oleh fakta bahwa dalam lingkaran Adven, masih ada satu lilin yang belum dinyalakan. Penantian belum selesai, perjalanan iman masih berlangsung. Namun, ketidaksempurnaan ini tidak menghilangkan sukacita, melainkan justru memperdalamnya. Sukacita Adven adalah sukacita yang penuh harap, bukan sukacita yang menutup mata terhadap kenyataan hidup.
Ajakan pertobatan dalam Masa Adven juga disampaikan dengan nada yang khas. Pertobatan tidak dipahami sebagai beban atau ancaman, melainkan sebagai jalan menuju sukacita. Bertobatlah dengan kegembiraan, demikian pesan yang ditekankan. Pertobatan yang sejati membawa kelegaan, karena manusia menyadari bahwa ia diterima dan dikasihi oleh Allah.
Lebih jauh, umat diajak untuk menjadi sumber sukacita bagi sesama, terutama bagi mereka yang patah hati dan terluka. Sukacita tidak selalu diwujudkan dalam hal-hal besar; terkadang, senyuman yang tulus, perhatian yang sederhana, dan kehadiran yang penuh empati sudah cukup untuk menghadirkan terang Kristus dalam kehidupan orang lain. Dengan demikian, penantian akan Natal menjadi penantian yang aktif, bukan pasif.
Penantian aktif berarti umat tidak hanya menunggu secara diam, tetapi terlibat dalam karya kasih dan kebaikan. Penantian seperti inilah yang membuat orang lain turut bersukacita. Dalam perspektif iman, setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, menjadi bagian dari persiapan menyambut kedatangan Tuhan.
Perayaan Ekaristi Minggu Adven III di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang ini menegaskan kembali bahwa Masa Adven bukan sekadar rangkaian ritual liturgi, melainkan perjalanan rohani yang mengajak umat untuk memperbarui iman dan harapan. Melalui simbol lilin Adven, warna liturgi, dan pewartaan Sabda, umat diajak untuk menyadari kehadiran Allah yang semakin dekat.
Minggu Gaudete menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang penuh tantangan, iman Kristiani menawarkan alasan yang kuat untuk bersukacita. Sukacita itu bersumber dari Allah yang setia, yang menepati janji-Nya, dan yang hadir untuk menyelamatkan manusia. Dengan semangat inilah umat melanjutkan perjalanan Adven, menantikan Natal sebagai perayaan terang yang mengalahkan kegelapan, dan sebagai peristiwa kasih Allah yang nyata dalam sejarah manusia.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 14 Desember 2025
0 comments:
Posting Komentar