Di Tengah Keraguan, Tuhan Tetap Bekerja: Pesan Homili Minggu Adven III di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang


Foto RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa

Minggu Adven III: Saat Ragu Menjadi Jalan Menuju Iman

Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang

Ketapang, Sabtu 13 Desember 2025.Perayaan Ekaristi Sabtu sore di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Sabtu, 13 Desember 2025, dimulai pukul 18.00 WIB, berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh permenungan. Misa ini merupakan perayaan Hari Minggu Adven III yang secara liturgis dirayakan dengan warna ungu, sekaligus memperingati Santo Yohanes dari Salib, Santo Venantius Fortunatus Uskup dan Pengaku Iman, serta Santo Spiridion Uskup dan Pengaku Iman. Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.

Dalam masa Adven, Gereja mengajak umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan kelelahan hidup, menata kembali hati, serta mempersiapkan diri menyambut kehadiran Tuhan dalam peristiwa Natal. Nuansa inilah yang terasa kuat dalam perayaan Ekaristi sore itu, terutama melalui homili yang disampaikan oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.

Perayaan Ekaristi dilayani dengan penuh kesungguhan. Bapak Yulius Sudarisman bertugas sebagai organis, mengiringi nyanyian liturgi yang dibawakan oleh Koor Lingkungan Santo Paulus dari Salib. Dirigen pertama adalah Ibu Lastri Anita Gultom, sedangkan dirigen kedua adalah Makisma Orin. Bacaan Kitab Suci dilantunkan oleh lektor Ibu Luliana Suan, dan mazmur dibawakan oleh Ibu dr. Maria Fransisca, AS., MARS. Seluruh unsur pelayanan liturgi berpadu menciptakan suasana doa yang mendalam, membantu umat memasuki misteri iman yang dirayakan.










































































































































































Adven: Berhenti Sejenak dan Membuka Hati

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., mengawali refleksi dengan mengingatkan umat bahwa Hari Minggu Adven III adalah undangan untuk berhenti sejenak dari kelelahan hidup. Kesibukan, tuntutan ekonomi, tekanan pekerjaan, dan berbagai pergumulan sering kali membuat manusia berjalan tanpa sempat menoleh ke dalam diri. Adven menjadi waktu rahmat untuk memperlambat langkah, diam, dan menyadari kembali kehadiran Tuhan yang bekerja dalam sejarah hidup manusia.

Kehadiran Tuhan, khususnya dalam peristiwa Natal, bukanlah peristiwa biasa. Inkarnasi Kristus sungguh mengubah hidup manusia. Allah yang Mahatinggi rela menjadi manusia, hadir dalam kesederhanaan, dan masuk ke dalam realitas kehidupan yang rapuh. Dari sinilah, homili berkembang mengajak umat untuk melihat kembali karya Allah sebagaimana digambarkan dalam bacaan-bacaan liturgi.

Padang Gurun yang Berubah Menjadi Taman

Mengacu pada bacaan pertama dari Kitab Yesaya, RP. Oscar menegaskan gambaran padang gurun yang tandus namun kemudian berubah menjadi hijau dan subur. Padang gurun yang kering, gersang, dan tanpa kehidupan dilukiskan Yesaya sebagai sesuatu yang akan bersorak-sorai ketika Tuhan datang. Gambaran ini tampak seperti mimpi, namun justru itulah janji Allah.

Padang gurun tersebut, menurut homili, bukan hanya realitas alam, tetapi juga gambaran kondisi batin manusia. Hati yang tawar, iman yang lesu, luka-luka kehidupan yang belum terselesaikan, kekecewaan, kegagalan, dan keletihan rohani sering membuat hidup terasa seperti gurun. Namun firman Tuhan menegaskan, Allah sanggup mengubah padang gurun itu menjadi taman yang indah, penuh kehidupan dan harapan.

Yesaya menyerukan, “Kuatkanlah tangan yang lemah dan teguhkanlah lutut yang goyah.” Seruan ini menjadi undangan bagi umat untuk tidak menyerah pada keputusasaan. Tuhan hadir bukan hanya untuk menghibur, tetapi untuk memulihkan dan memberi kehidupan baru.

Kesabaran yang Lahir dari Keyakinan

Homili kemudian mengaitkan bacaan tersebut dengan Surat Santo Yakobus. Di sana, umat diajak belajar dari seorang petani. Petani menabur benih di tanah dan dengan sabar menantikan hasilnya. Ada hujan, ada panas, ada waktu menunggu yang panjang, namun petani tetap percaya bahwa benih yang ditanam akan bertumbuh dan berbuah pada waktunya.

Kesabaran petani bukanlah kesabaran yang pasif, melainkan kesabaran yang lahir dari keyakinan. Demikian pula iman Kristiani. Menantikan Tuhan tidak selalu berarti melihat hasil secara instan. Ada proses, ada waktu, ada keheningan, dan kadang ada rasa tidak pasti. Namun di dalam proses itulah Tuhan tetap berkarya.

RP. Oscar menegaskan bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam karya-karya manusia. Dalam setiap usaha, kerja keras, dan pergumulan, Allah tidak pernah absen. Ia bekerja secara perlahan, sering kali tanpa disadari, tetapi pasti.

Yohanes Pembaptis dan Pertanyaan Keraguan

Puncak homili berfokus pada Injil yang mengisahkan Yohanes Pembaptis. Yohanes adalah nabi besar yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia yang berseru di padang gurun, ia yang membaptis Yesus di Sungai Yordan, dan ia yang dengan tegas menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah. Namun dalam Injil hari itu, Yohanes yang berada di dalam penjara justru bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Pertanyaan ini tampak mengejutkan. Bagaimana mungkin seorang nabi sebesar Yohanes bisa ragu? Namun RP. Oscar mengajak umat melihat sisi manusiawi Yohanes. Di dalam kesepian penjara, penderitaan, dan ketidakpastian masa depan, iman yang kuat sekalipun bisa diguncang oleh keraguan.

Jawaban Yesus: Bukti Kasih, Bukan Teori

Yesus tidak menegur Yohanes atas keraguannya. Ia juga tidak menjawab dengan argumen teologis yang rumit. Yesus hanya menunjuk pada karya-karya kasih Allah yang nyata: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang sakit disembuhkan, dan orang miskin menerima kabar baik.

Jawaban Yesus menegaskan bahwa Mesias hadir bukan melalui kekuasaan politik atau tanda spektakuler, melainkan melalui kasih yang menyembuhkan dan memulihkan martabat manusia. Yohanes diajak untuk percaya bukan karena janji-janji besar, tetapi karena bukti konkret dari karya Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Ragu sebagai Jalan Menuju Iman

Dalam homili ditegaskan bahwa ragu bukan berarti tidak beriman. Keraguan adalah bagian dari perjalanan iman manusia. Iman sejati bukanlah iman yang tidak pernah goyah, melainkan iman yang tetap mencari Tuhan di tengah kegoyahan.

Yohanes tidak menyimpan keraguannya sendirian. Ia membawanya kepada Yesus. Inilah sikap iman yang sejati: membawa kebimbangan kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya. Keraguan yang dibawa dalam doa justru dapat menjadi jalan menuju iman yang lebih dewasa dan mendalam.

Allah Bekerja dalam Hal-Hal Kecil

Yesus menunjukkan bahwa keselamatan Allah sering hadir dalam hal-hal sederhana. Manusia kerap menantikan mukjizat besar dan jawaban instan, namun Tuhan bekerja melalui peristiwa kecil yang sering terlewatkan: kekuatan saat hampir putus asa, penghiburan di tengah kesedihan, dan harapan yang muncul perlahan.

RP. Oscar mengajak umat untuk melihat kembali karya Tuhan yang telah memulihkan kehidupan mereka. Sering kali manusia tidak menyadari mukjizat-mukjizat kecil yang terjadi setiap hari. Tuhan berkata, “Aku ada,” melalui hal-hal sederhana yang meneguhkan iman.

Berbahagialah yang Tidak Kecewa Karena-Nya

Yesus memuji Yohanes sebagai yang terbesar di antara mereka yang lahir dari perempuan. Namun Yesus juga mengajak umat untuk tidak kecewa kepada-Nya. Kekecewaan sering muncul ketika harapan manusia tidak terpenuhi sesuai keinginannya. Iman menuntut kepercayaan bahwa cara Tuhan selalu yang terbaik, meskipun belum dimengerti saat ini.

Yesus mengajak umat untuk percaya bahwa karya-karya Allah tidak hanya hadir melalui nubuat, tetapi melalui pribadi Kristus yang hadir dalam keseharian. Tuhan mendekat, meskipun manusia belum selalu melihat hasilnya.

Menyiapkan Palungan Hati

Homili ditutup dengan ajakan untuk menyiapkan palungan hati bagi Yesus. Menyambut Natal bukan hanya soal perayaan lahiriah, tetapi tentang membuka ruang dalam hati agar Kristus sungguh tinggal dan bekerja dalam kehidupan manusia.

Dalam masa Adven ini, umat diajak untuk percaya bahwa Yesus sungguh bekerja dalam hidup mereka. Di tengah keraguan, kelelahan, dan ketidakpastian, iman tetap dipanggil untuk berkata: “Aku percaya, Tuhan mendekat, meskipun aku belum melihat.”

Perayaan Ekaristi sore itu berakhir dengan suasana hening dan reflektif. Sabda Tuhan yang diwartakan melalui homili menjadi undangan bagi umat untuk menjadikan keraguan sebagai jalan menuju iman yang lebih teguh, serta mempersiapkan hati menyambut kehadiran Kristus yang membawa harapan sejati.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   13  Desember  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar