Ibadat Tobat Lingkungan Santo Rafael: Pertobatan sebagai Jalan Memulihkan Komunikasi dengan Allah dalam Masa Adven
Ketapang, 17 Desember 2025.Dalam suasana hening dan penuh kekhusyukan, umat Lingkungan Santo Rafael, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berkumpul untuk mengikuti Ibadat Tobat sekaligus Ibadat Masa Adven Pertemuan ke-3 yang dilaksanakan pada Rabu malam, 17 Desember 2025, bertempat di rumah Bapak Jumadi Hutabarat. Ibadat yang dimulai pada pukul 18.00 WIB hingga selesai ini menjadi momentum rohani yang mendalam bagi umat dalam mempersiapkan hati menyambut Hari Raya Natal.
Ibadat Tobat dipimpin oleh Romo RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., dengan pendampingan Prodiakon Bapak Yohanes Bakri. Turut hadir Ketua Lingkungan Santo Rafael, Bapak Hironimus Iron, bersama seluruh warga lingkungan yang dengan penuh kerinduan iman datang membawa hati terbuka untuk diperbarui oleh kasih dan kerahiman Allah.
Sejak awal ibadat, suasana rumah yang menjadi tempat pertemuan malam itu terasa penuh penghayatan. Salib yang ditempatkan dengan penuh hormat, nyala lilin Adven, serta kesiapan umat menciptakan atmosfer doa yang menuntun setiap pribadi memasuki keheningan batin. Ibadat lingkungan ini menjadi bukti bahwa Gereja sungguh hidup dan bertumbuh melalui komunitas-komunitas kecil yang setia.
Masa Adven: Waktu Rahmat untuk Bertobat dan Bersiap
Dalam pengantar ibadat, ditegaskan bahwa masa Adven merupakan masa rahmat yang mengajak umat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Gereja mengingatkan bahwa penantian akan kelahiran Kristus tidak cukup diisi dengan kesibukan lahiriah semata, melainkan membutuhkan pembaruan hati melalui pertobatan sejati.
Ibadat Tobat menjadi sarana penting agar umat dapat menyambut Natal dengan hati yang bersih dan terbuka. Dalam konteks ini, Lingkungan Santo Rafael berupaya menghidupi semangat Adven dengan menghadirkan ruang refleksi, doa, dan rekonsiliasi, sehingga setiap umat dapat mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah.
Katekese: Pertobatan sebagai Jalan Membangun Kembali Komunikasi dengan Allah
Pusat perayaan malam itu adalah katekese yang disampaikan oleh Romo RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Dalam pengajarannya, Romo Oscar mengajak umat untuk memahami makna pertobatan sejati serta kedalaman Sakramen Tobat sebagai sarana rahmat Allah yang memulihkan relasi manusia dengan-Nya.
Romo Oscar menegaskan bahwa Sakramen Tobat bukan sekadar kewajiban Gereja, melainkan kesempatan berharga untuk mengalami kasih Allah secara nyata.
“Sakramen Tobat merupakan kesempatan bagi kita untuk memulihkan hubungan pribadi dengan Allah. Pertobatan lahir dari ketulusan hati yang merindukan Allah dan ingin hidup lebih baik,” ujarnya.
Beliau menekankan bahwa dalam Sakramen Tobat, pusat perhatian bukanlah dosa semata, melainkan kasih dan kerahiman Allah yang selalu lebih besar dari kelemahan manusia.
“Tobat berpuncak pada pengakuan dan pengampunan rekonsiliasi. Pengampunan itu datang dari Allah. Ketika kita menerima Sakramen Tobat, yang dilihat bukan manusianya, tetapi kerahiman dan kasih Allah,” tegasnya.
Melalui Sakramen Tobat, umat bukan hanya melepaskan beban dosa, tetapi juga membangun kembali komunikasi dengan Allah yang sempat terganggu. Masa Adven menjadi waktu yang sangat tepat untuk kembali kepada Tuhan dan memperbaiki arah hidup.
Renungan Kitab Suci: Menyambut Seruan Yohanes Pembaptis
Dalam pendalaman Kitab Suci, Romo Oscar mengajak umat merenungkan seruan Yohanes Pembaptis dari Injil Matius:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”
Yohanes Pembaptis, menurut Romo Oscar, adalah suara profetis yang berseru di padang gurun, menyerukan agar setiap orang menyiapkan jalan bagi Tuhan.
“Dengan dikumandangkannya bacaan ini, saudara-saudari semakin terarah pada pertobatan. Titik fokusnya adalah seruan pertobatan,” jelasnya.
Seruan ini tetap relevan bagi umat masa kini. Masa Adven adalah masa refleksi akan misteri inkarnasi: Allah yang hadir ke dunia karena kasih-Nya. Oleh sebab itu, umat diajak untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri sebagai persiapan menyambut kedatangan Kristus.
Menghayati Pertobatan dengan Kerendahan Hati
Romo Oscar menegaskan bahwa pertobatan sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Pertobatan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menghasilkan perubahan hidup.
Umat diajak untuk menyingkirkan:
egoisme,
kesombongan,
sikap tidak peduli,
serta kebiasaan buruk yang menjauhkan dari Tuhan.
“Pertobatan bukan hanya ucapan, tetapi kerendahan hati. Datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan membantu kita menata hati dan merapikan kekudusan,” ungkap Romo Oscar.
Melalui pertobatan, umat dipanggil untuk memperbarui hidup dan semakin meneladani nilai-nilai Injil: rendah hati, tulus, sabar, dan penuh kasih.
Nubuat Yesaya: Pemimpin yang Penuh Roh Kudus
Dalam pendalaman bacaan pertama, Romo Oscar mengangkat nubuat Kitab Yesaya tentang Mesias yang dipenuhi karunia Roh Kudus. Nubuat ini tidak hanya merujuk pada peristiwa Natal, tetapi juga pada kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman.
“Yesaya menggambarkan pemimpin yang adil, menolak perpecahan dan permusuhan. Inilah gambaran Kristus yang mengajak kita hidup dalam damai,” jelasnya.
Umat diajak untuk menjadi pribadi pembawa damai, keadilan, dan keharmonisan dalam keluarga, lingkungan, dan Gereja.
Kitab Suci sebagai Sumber Pengharapan
Menjelang penerimaan Sakramen Tobat, Romo Oscar menegaskan bahwa Kitab Suci adalah sumber pengharapan yang menuntun umat menuju hidup kudus.
“Kitab Suci membawa kita pada kedatangan Kristus. Satu hati, satu suara, hidup dalam keharmonisan itulah buah pertobatan sejati,” tuturnya.
Umat diajak menjadikan Sabda Tuhan sebagai pedoman hidup, khususnya dalam masa Adven sebagai masa persiapan batin.
Penerimaan Sakramen Tobat: Menyambut Kerahiman Allah
Setelah katekese, umat menerima kesempatan untuk mengikuti Sakramen Tobat secara pribadi. Suasana hening dan penuh kerendahan hati menyelimuti tempat ibadat. Umat datang satu per satu untuk mengakui dosa dan menerima absolusi.
Beberapa umat tampak menitikkan air mata, merasakan kelegaan dan sukacita setelah menerima pengampunan Allah. Bagi banyak umat, penerimaan Sakramen Tobat di lingkungan sendiri memberikan pengalaman rohani yang mendalam dan menguatkan iman.
Penutup Ibadat: Persaudaraan yang Menguatkan Iman
Setelah seluruh umat selesai menerima Sakramen Tobat, ibadat ditutup dengan doa penutup dan berkat dari Romo Oscar. Suasana damai terasa begitu kuat, seolah Tuhan sendiri hadir dan bersemayam di tengah umat yang datang dengan hati terbuka.
Ibadat kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. Dalam suasana kekeluargaan, umat saling menyapa, berbagi cerita, dan mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah serta semua pihak yang telah membantu terselenggaranya ibadat dengan baik. Kebersamaan ini semakin meneguhkan semangat umat Lingkungan Santo Rafael untuk terus setia dalam kehidupan menggereja.
Makna Ibadat Tobat bagi Umat
Ibadat Tobat ini menjadi momentum penting bagi umat Lingkungan Santo Rafael untuk:
mempererat persaudaraan,
memulihkan relasi dengan Tuhan dan sesama,
memperbarui perjalanan rohani,
serta meneguhkan semangat menyambut Natal.
Tradisi ini diharapkan terus dilestarikan sebagai bagian dari pembinaan iman umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Penutup: Menyongsong Natal dengan Hati yang Dibaharui
Ibadat Tobat yang berlangsung pada 17 Desember 2025 ini menjadi tanda kasih Allah yang hadir melalui komunitas kecil. Melalui doa, katekese, renungan, dan Sakramen Tobat, umat diajak menata hati dan menyambut Kristus dengan sukacita.
Dalam pesannya, Romo Oscar menegaskan:
“Kristus datang untuk menyelamatkan. Persiapkanlah hati, luruskan jalan hidup, dan biarkan Dia membentuk kita menjadi pribadi yang penuh kasih.”
Dengan hati yang diperbarui, umat pulang membawa damai, harapan, dan semangat baru untuk hidup dalam terang Kristus.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 17 Desember 2025






0 comments:
Posting Komentar