Dari Balik Tembok Lapas, Terbit Cahaya Natal: Perayaan Natal Bersama WBP Katolik dan Kristen Lapas Kelas IIB Ketapang Bersama Uskup Keuskupan Ketapang
Ketapang, Senin, 29 Desember 2025.Suasana penuh khidmat, haru, dan sukacita menyelimuti Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ketapang pada Sabtu, 27 Desember 2025. Bertepatan dengan Hari Sabtu dalam Oktaf Natal dan Pesta Santo Yohanes Rasul dan Pengarang Injil, dengan warna liturgi putih sebagai lambang kemurnian dan sukacita, Lapas Kelas IIB Ketapang menggelar Perayaan Natal Bersama bagi seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Katolik dan Kristen.
Perayaan Natal ini menjadi momen yang sangat istimewa dan bermakna, tidak hanya sebagai perayaan iman tahunan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan rohani yang menghadirkan pengharapan baru di balik tembok pemasyarakatan. Kehadiran langsung Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prabdi, yang memimpin Perayaan Ekaristi, menjadi sumber sukacita dan penguatan iman tersendiri bagi para WBP, petugas lapas, serta seluruh umat yang hadir.
Natal di Balik Jeruji: Iman yang Tetap Menyala
Perayaan Natal Tahun 2025 di Lapas Kelas IIB Ketapang diselenggarakan dalam suasana sederhana namun sarat makna. Aula lapas yang biasanya digunakan untuk kegiatan pembinaan, pada hari itu berubah menjadi ruang ibadat yang penuh nuansa Natal. Hiasan Natal yang tertata rapi, lagu-lagu pujian yang menggema, serta wajah-wajah penuh harap dari para WBP menjadi saksi bahwa iman dan kasih Tuhan tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu.
Natal, sebagai peristiwa kelahiran Sang Juru Selamat, dihayati secara mendalam oleh para WBP. Di tengah keterbatasan kebebasan fisik, Natal justru menghadirkan kebebasan batin: kebebasan untuk berharap, bertobat, dan memulai kembali hidup dengan semangat baru. Tema Natal yang dihidupi dalam perayaan ini menegaskan bahwa terang Kristus mampu menembus kegelapan apa pun, termasuk kegelapan masa lalu dan luka kehidupan.
Ekaristi Dipimpin Uskup Keuskupan Ketapang
Perayaan Ekaristi Natal dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prabdi, Uskup Keuskupan Ketapang. Dalam pelayanannya, beliau didampingi oleh para imam konselebran, yakni RP. Vitalis Nggeal, CP, serta RD. Lorensius Sutadi, yang juga merupakan Pastor Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Kehadiran para imam ini menjadi simbol nyata perhatian dan kepedulian Gereja terhadap WBP sebagai bagian tak terpisahkan dari umat Allah. Gereja hadir tidak hanya di tengah umat yang bebas, tetapi juga menjangkau mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Dalam liturgi yang berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan, para WBP mengikuti setiap bagian perayaan dengan sikap hormat dan partisipatif. Lagu-lagu Natal dinyanyikan dengan penuh penghayatan, doa-doa dipanjatkan dengan tulus, dan Sabda Tuhan diterima dengan hati yang terbuka.
Kehadiran Para Pejabat dan Tokoh Gereja
Perayaan Natal Bersama ini juga dihadiri oleh berbagai pihak yang menunjukkan sinergi antara lembaga negara dan institusi keagamaan dalam pembinaan mental dan spiritual WBP. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Ketapang, Bapak Jonson Manurung, A.Md.IP., S.H., M.Si., yang turut mengikuti seluruh rangkaian perayaan dengan penuh perhatian.
Selain itu, hadir pula Pelaksana Tugas (Plt.) Penyelenggara Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kabupaten Ketapang, Bapak Servasius Waja, S.S., serta Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Koordinator Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang. Kehadiran para penyuluh agama ini menegaskan komitmen berkelanjutan dalam pendampingan iman dan pembinaan rohani bagi WBP Katolik di Kabupaten Ketapang.
Homili Uskup: Sederhana, Membumi, dan Menyentuh Hati
Dalam homilinya, Mgr. Pius Riana Prabdi menyampaikan pesan Natal dengan gaya yang sederhana, komunikatif, namun sarat makna rohani. Bahasa yang digunakan mudah dipahami, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan relevan dengan realitas yang dihadapi para WBP.
Umat yang hadir merasakan kehangatan seorang gembala yang tidak menggurui, tetapi mengajak berjalan bersama. Homili tersebut tidak hanya menjadi penjelasan Kitab Suci, melainkan juga sebuah ajakan reflektif yang menyentuh hati dan menggugah kesadaran.
Di tengah homilinya, Bapa Uskup memperkenalkan sebuah akronim yang sederhana namun kuat maknanya: JOSSS — Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart.
JOSSS: Jalan Hidup Kristiani yang Membumi
Sekilas, kata “JOSSS” terdengar ringan dan akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kata ini sering digunakan untuk mengekspresikan rasa puas, senang, atau kagum. Namun di tangan Bapa Uskup, kata populer ini diolah menjadi pedoman hidup Kristiani yang mendalam dan relevan.
Jadi Orang Sukacita berarti hidup dalam kegembiraan sejati yang bersumber dari Tuhan, bukan dari situasi eksternal semata. Sukacita Natal tidak bergantung pada keadaan bebas atau terikat, melainkan pada kesadaran bahwa Tuhan hadir dan mengasihi tanpa syarat.
Jadi Orang Suci bukan berarti tanpa dosa, tetapi memiliki keberanian untuk terus bertobat, memperbaiki diri, dan berjalan di jalan Tuhan. Kesucian adalah proses, bukan hasil instan.
Jadi Orang Smart dimaknai sebagai kecerdasan iman dan kebijaksanaan hidup: mampu membedakan yang baik dan benar, belajar dari kesalahan, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab demi masa depan yang lebih baik.
Akronim JOSSS ini disambut dengan antusias oleh umat, khususnya para WBP, karena terasa dekat, mudah diingat, dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
“Melihat dan Percaya”: Teladan Iman Santo Yohanes
Mengacu pada Injil Yohanes (Yoh. 20:2–8), Bapa Uskup mengajak umat merenungkan pengalaman iman Santo Yohanes Rasul, murid yang dikasihi Yesus. Yohanes adalah sosok yang mampu melihat dan percaya, bahkan tanpa melihat Yesus yang bangkit secara fisik.
Cukup dengan melihat kain kafan yang terlipat rapi di dalam kubur, Yohanes percaya bahwa Tuhan sungguh bangkit. Iman Yohanes lahir dari kasih yang mendalam dan relasi yang dekat dengan Yesus.
Bapa Uskup menegaskan bahwa iman sejati tidak selalu membutuhkan tanda-tanda besar atau mukjizat spektakuler. Justru dalam kesederhanaan dan keheningan, Tuhan sering menyatakan kehadiran-Nya.
Kasih yang Membuat Iman Menjadi Peka
Salah satu poin penting dalam homili tersebut adalah bahwa kasih membuat iman menjadi peka. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan akan mampu mengenali kehadiran-Nya bahkan dalam tanda-tanda kecil kehidupan.
Yohanes mampu percaya karena ia mengasihi. Kasih membuka mata hati. Kasih memampukan seseorang untuk melihat harapan di tengah kekosongan, terang di tengah kegelapan, dan kehidupan di tengah kematian.
Pesan ini terasa sangat relevan bagi para WBP yang sering kali menghadapi pergulatan batin, rasa bersalah, dan ketidakpastian masa depan. Melalui kasih Tuhan, mereka diajak untuk memandang hidup dengan sudut pandang baru.
Kubur Kosong dan Pengharapan Baru
Bapa Uskup juga mengajak umat merenungkan makna kubur kosong sebagai simbol pengalaman hidup manusia. Dalam perjalanan hidup, setiap orang pernah masuk ke dalam “kubur” masing-masing: saat doa terasa kering, hati kosong, atau hidup kehilangan arah.
Namun justru di tempat yang tampak kosong itulah, kebangkitan terjadi. Tuhan berkarya secara diam-diam, sering kali tanpa disadari. Kebangkitan tidak selalu ditandai oleh peristiwa besar, tetapi oleh perubahan hati yang perlahan namun nyata.
Melihat dengan Mata Hati
Seperti Yohanes, umat diajak untuk tidak hanya melihat dengan mata fisik, tetapi dengan mata hati. Melihat kebaikan kecil sebagai tanda kasih Tuhan. Melihat pengampunan sebagai bukti kehadiran-Nya. Melihat setiap orang sebagai citra Allah, termasuk diri sendiri dan sesama WBP.
Iman, sebagaimana ditegaskan Bapa Uskup, sering kali bertumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan setia dan penuh kasih.
Natal sebagai Momentum Pertobatan dan Pembaruan
Perayaan Natal di Lapas Kelas IIB Ketapang ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi sungguh menjadi momentum pertobatan dan pembaruan hidup. Para WBP diajak untuk menjadikan Natal sebagai titik balik: meninggalkan masa lalu yang kelam dan melangkah menuju masa depan yang lebih terang bersama Kristus.
Kehadiran Gereja melalui Uskup, para imam, penyuluh agama, dan seluruh pihak yang terlibat menjadi tanda nyata bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan siapa pun. Setiap orang selalu diberi kesempatan untuk berubah dan bertumbuh.
Sinergi Pembinaan Rohani di Lapas
Kepala Lapas Kelas IIB Ketapang, Bapak Jonson Manurung, dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Perayaan Natal Bersama ini. Menurutnya, pembinaan rohani merupakan bagian penting dari proses pembinaan WBP secara menyeluruh.
Melalui kegiatan keagamaan, diharapkan para WBP tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mengalami perubahan sikap, pola pikir, dan karakter yang lebih baik. Sinergi antara Lapas, Kementerian Agama, dan Gereja Katolik menjadi kunci dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Penutup: Natal yang Mengubah Hati
Perayaan Natal Bersama WBP Katolik dan Kristen di Lapas Kelas IIB Ketapang Tahun 2025 menjadi peristiwa iman yang membekas dan bermakna. Dari balik tembok lapas, terbit cahaya Natal yang menerangi hati, menumbuhkan harapan, dan menguatkan langkah.
Pesan JOSSS — Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart yang disampaikan oleh Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prabdi menjadi warisan rohani yang akan terus dikenang dan dihidupi oleh para WBP dan seluruh umat.
Natal membuktikan bahwa kasih Allah tidak pernah terpenjara. Di mana pun manusia berada, Tuhan selalu hadir, menyapa, dan mengundang setiap orang untuk bangkit, melihat, dan percaya.
Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 29 Desember 2025



















0 comments:
Posting Komentar