Misa Pesta Keluarga Kudus Dan Penutupan Tahun Yubelium 2025

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP. Pimpin Misa

 Keluarga Kudus Nazaret, Teladan Kesetiaan dan Iman di Tengah Tantangan Zaman

Ketapang, Senin, 29 Desember 2025.Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, diselimuti suasana syukur dan kekhidmatan pada Minggu pagi, 28 Desember 2025. Sejak pagi hari, umat Katolik dari berbagai lingkungan paroki berdatangan untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Minggu yang dirayakan sebagai Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yosef. Perayaan ini juga bertepatan dengan Pesta Para Kanak-kanak Suci Betlehem Martir serta peringatan Santa Fabiola, Janda, dengan warna liturgi putih yang melambangkan kemurnian, sukacita, dan harapan.

Perayaan Ekaristi ini memiliki makna khusus karena sekaligus menjadi penutupan Tahun Yubelium 2025. Tahun Yubelium dimaknai sebagai masa rahmat, pembaruan iman, pertobatan, dan rekonsiliasi. Penutupan Tahun Yubelium dalam suasana Pesta Keluarga Kudus menegaskan kembali bahwa pembaruan Gereja bermula dari keluarga-keluarga Katolik yang hidup setia dalam iman, kasih, dan pengharapan kepada Tuhan.

Misa yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB ini dihadiri oleh umat lintas generasi, mulai dari anak-anak, remaja, kaum muda, pasangan suami istri, hingga para orang tua dan lansia. Kehadiran seluruh lapisan umat ini mencerminkan wajah Gereja sebagai satu keluarga besar Allah yang berjalan bersama dalam iman. Suasana gereja tampak tertib dan penuh kekhusyukan, sekaligus hangat oleh rasa kebersamaan yang terjalin di antara umat.

Perayaan Ekaristi dipersiapkan dengan baik oleh para petugas liturgi. Lektor Saudara Tapian Nauli membawakan bacaan Kitab Suci dengan jelas dan penuh penghayatan. Pemazmur Saudari Dianisia Patria Gita Astrie melantunkan mazmur tanggapan dengan suara merdu dan penuh penjiwaan, membantu umat merenungkan sabda Tuhan melalui doa bernyanyi. Iringan musik liturgi dipersembahkan oleh organis Atanasius Aquila Puruhita Raya, sementara paduan suara dipimpin oleh dirigen Ibu Dian Noviyanti dengan penuh ketekunan dan semangat pelayanan.

Perayaan ini semakin diperkaya dengan kehadiran koor dari Lingkungan Kanak-kanak Yesus. Koor tersebut mempersembahkan nyanyian-nyanyian liturgi dengan sederhana namun penuh sukacita dan iman. Kehadiran koor Lingkungan Kanak-kanak Yesus menjadi tanda nyata keterlibatan umat basis dalam kehidupan menggereja serta memperlihatkan bahwa setiap lingkungan memiliki peran penting dalam membangun persekutuan umat di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.








































































                                      



















































Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Dalam homilinya, Romo Vitalis menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam perjalanan hidup Gereja. Gereja tidak hanya dibangun oleh struktur dan program pastoral, melainkan terutama oleh keluarga-keluarga yang hidup dalam iman dan kesetiaan kepada Tuhan. Keluarga merupakan sel dasar Gereja, tempat iman pertama-tama diperkenalkan, dihidupi, dan diwariskan.

Romo Vitalis mengaitkan refleksi tersebut dengan ajaran Gereja Katolik, khususnya Hidup Keluarga Paus nomor 257. Ia menyampaikan kisah reflektif tentang seorang Paus yang ketika terpilih sebagai Uskup, terlebih dahulu menemui ibunya. Sang Uskup mengenakan cincin Uskup kepada ibunya sebagai tanda penghormatan. Namun sang ibu dengan penuh iman menunjukkan cincin pernikahannya, menegaskan bahwa kesetiaan dalam hidup berkeluarga merupakan dasar dari setiap panggilan hidup dalam Gereja.

Kisah tersebut menegaskan bahwa keluarga adalah sekolah iman pertama. Dalam keluargalah seseorang belajar berdoa, mengasihi, mengampuni, dan mempercayakan hidup kepada Tuhan. Tanpa fondasi keluarga yang kokoh, panggilan hidup apa pun akan kehilangan akar rohaninya.

Dalam homilinya, Romo Vitalis mengajak umat meneladani Keluarga Kudus Nazaret sebagai role model keluarga kristiani. Keluarga Yosef, Maria, dan Yesus bukanlah keluarga tanpa masalah. Injil mencatat bahwa sejak awal kehidupan Yesus, keluarga Kudus harus menghadapi ancaman, pengungsian ke Mesir, peristiwa Yesus hilang di Yerusalem, hingga penderitaan dan wafat Yesus di kayu salib. Namun mereka tidak pernah mengeluh atau menyesali jalan hidup yang dijalani.

Keistimewaan pertama Keluarga Nazaret adalah bahwa hidup mereka terpusat pada Yesus. Setiap keputusan dan langkah hidup selalu diarahkan demi kehendak Allah atas Yesus. Ketika malaikat Tuhan memerintahkan Yosef untuk membawa Anak dan ibu-Nya mengungsi ke Mesir, Yosef segera taat tanpa banyak pertanyaan.

Keistimewaan kedua adalah kepasrahan Maria. Maria harus menghadapi risiko besar, termasuk kemungkinan diceraikan oleh Yosef dan menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Namun ia memilih percaya sepenuhnya pada rencana Allah. Kepasrahan Maria menjadi teladan iman bagi setiap keluarga kristiani dalam menghadapi ketidakpastian hidup.

Keistimewaan ketiga adalah ketulusan hati Yosef. Yosef tampil sebagai pribadi yang adil, rendah hati, dan bertanggung jawab. Ia tetap menjadikan Maria sebagai wanita terhormat dalam hidupnya serta melindungi keluarganya dengan penuh kasih. Kekudusan Keluarga Nazaret, menurut Romo Vitalis, merupakan hasil kesetiaan manusiawi Yosef, Maria, dan Yesus dalam menjawab panggilan Allah.

Romo Vitalis menegaskan bahwa kekudusan keluarga tidak berarti hidup tanpa masalah, melainkan kesediaan untuk terus setia kepada Tuhan. Doa, pengampunan, dan kesetiaan menjadi pilar utama kehidupan keluarga kristiani. Keluarga yang mau saling mengampuni dan membuka diri terhadap rahmat Tuhan adalah keluarga yang sedang berjalan menuju kekudusan.

Dalam konteks kehidupan modern, Romo Vitalis menyoroti tantangan keluarga masa kini, khususnya keterbatasan waktu bersama akibat kesibukan dan penggunaan gawai yang berlebihan. Banyak keluarga kehilangan momen kebersamaan karena perhatian tersita oleh layar ponsel. Dalam situasi ini, umat diajak kembali bertanya apakah Yesus sungguh menjadi pusat keluarga, seperti dalam Keluarga Kudus Nazaret.

Romo Vitalis mengingatkan bahwa keluarga yang terhubung dengan Tuhan memiliki masa depan, baik di bumi maupun di surga. Ia mengajak pasangan suami istri untuk menjaga kesetiaan, saling percaya, dan tidak saling menghakimi. Tuhan Yesus harus menjadi satu-satunya yang berada di tengah relasi keluarga.

Pesan pastoral juga diarahkan kepada relasi orang tua dan anak. Orang tua diajak untuk memeluk dan mendampingi anak-anak sebagai ungkapan syukur atas anugerah Tuhan. Anak-anak diajak untuk menghormati dan menghargai orang tua, sebagaimana diajarkan dalam Kitab Suci.

Bacaan Kitab Sirakh menegaskan bahwa barangsiapa menghormati bapanya akan memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya akan memperoleh berkat. Ajaran ini menegaskan pentingnya penghormatan kepada orang tua sebagai bagian dari iman kristiani.

Injil Matius 2:13–15 dan 19–23 yang dibacakan pada hari itu mengisahkan perintah malaikat Tuhan kepada Yosef untuk membawa Anak dan ibu-Nya mengungsi ke Mesir. Allah berbicara kepada Yosef melalui mimpi yang sederhana, namun menuntut ketaatan penuh. Yosef menjadi teladan ketaatan yang lahir dari iman.

Pengungsian ke Mesir melambangkan perjalanan iman yang penuh ketidakpastian. Mesir adalah tanah asing, namun di sanalah Yesus kecil dilindungi oleh Allah. Refleksi ini mengajak umat untuk percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan melalui situasi yang tidak diinginkan.

Setelah Herodes mati, malaikat Tuhan kembali menuntun Yosef untuk pulang ke tanah Israel. Namun Yosef diarahkan ke Nazaret, sebuah kota kecil yang tidak diperhitungkan. Dari Nazaret, Yesus bertumbuh dan memulai karya keselamatan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa Allah sering berkarya melalui hal-hal kecil dan sederhana.

Penutupan Tahun Yubelium 2025 dalam perayaan ini menjadi momen refleksi bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang untuk memperbarui komitmen iman. Tahun Yubelium menjadi ajakan untuk menata kembali hidup, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan memperkuat kehidupan keluarga sebagai Gereja rumah tangga.

Perayaan Ekaristi diakhiri dengan doa pengutusan, mengajak umat untuk membawa semangat Keluarga Kudus Nazaret ke dalam kehidupan sehari-hari. Umat dipanggil untuk membangun keluarga yang taat pada suara Tuhan, setia dalam kasih, dan teguh dalam iman.

Melalui perayaan ini, umat diingatkan bahwa keluarga bukanlah tempat tanpa masalah, melainkan tempat di mana iman dimurnikan. Dengan meneladani Keluarga Kudus Nazaret, setiap keluarga diajak untuk terus berjalan bersama Tuhan, percaya bahwa di balik setiap tantangan selalu ada rencana kasih Allah yang menyertai. Dalam semangat inilah umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menutup Tahun Yubelium 2025 dengan penuh syukur, harapan, dan komitmen iman yang diperbarui.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   29  Desember  2025


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar