Keluarga Kudus sebagai Model Kehidupan Kristiani: Misa Pesta Keluarga Kudus
di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Ketapang, 27 Desember 2025.Suasana sore hari Sabtu itu terasa khidmat sekaligus penuh sukacita di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Umat berbondong-bondong menghadiri Perayaan Ekaristi dalam rangka Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf, yang sekaligus bertepatan dengan peringatan Pesta Para Kanak-kanak Suci Betlehem Martir serta Santa Fabiola, seorang janda kudus. Dengan warna liturgi putih yang melambangkan kemurnian, sukacita, dan harapan, perayaan iman ini menjadi momentum penting bagi umat untuk kembali merenungkan makna keluarga dalam terang Injil dan kehidupan Kristiani.
Misa Kudus dimulai tepat pukul 18.00 WIB dan dipimpin oleh Romo , RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Sejak awal perayaan, suasana gereja telah dipenuhi nuansa doa yang mendalam. Lantunan lagu-lagu liturgi yang dibawakan oleh Koor Lingkungan Santa Sesilia menambah kekhusyukan perayaan. Iringan organ yang dimainkan oleh Noberta Cahya Setiti mengalun lembut dan harmonis, membantu umat memasuki suasana batin yang siap menyambut Sabda Tuhan dan Sakramen Ekaristi.
Pelayanan liturgi dalam Misa sore itu ditopang oleh para petugas yang dengan penuh dedikasi menjalankan tugasnya. Venansius Hartono Ahak bertugas sebagai lektor, membawakan bacaan Kitab Suci dengan artikulasi yang jelas dan penuh penghayatan. Mazmur Tanggapan dilantunkan dengan indah oleh Ibu dr. Maria Fransisca, AS., MARS, yang membantu umat merenungkan Sabda Tuhan melalui doa mazmur. Sementara itu, peran dirigen dipercayakan kepada Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, yang dengan ketenangan dan ketegasan memimpin koor sehingga nyanyian umat mengalir selaras dengan seluruh rangkaian liturgi.
Perayaan Ekaristi ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah peristiwa iman yang mengajak seluruh umat untuk kembali menengok realitas hidup keluarga mereka masing-masing. Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., mengajak umat untuk menyadari kembali bahwa keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat, namun memiliki peran yang sangat besar dan menentukan. Dari keluargalah nilai-nilai kehidupan ditanamkan, iman diwariskan, dan karakter manusia dibentuk. Oleh karena itu, keluarga tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa dan remeh, melainkan sebagai tempat pertama dan utama di mana kasih Allah dihadirkan secara nyata.
Romo Oscar menegaskan bahwa keluarga Kristiani sejatinya memiliki satu model utama yang patut diteladani, yakni Keluarga Kudus Nazaret: Yusuf, Maria, dan Yesus. Keluarga ini bukan keluarga yang hidup dalam kemewahan atau kenyamanan luar biasa. Sebaliknya, Keluarga Kudus menjalani kehidupan yang sangat sederhana, penuh tantangan, dan sering kali berada dalam situasi yang tidak mudah. Namun justru dalam kesederhanaan dan keseharian itulah kekudusan mereka bertumbuh. Kekudusan bukan lahir dari hal-hal yang spektakuler, melainkan dari kesetiaan menjalani kehendak Allah dalam rutinitas hidup sehari-hari.
Yesus, menurut Romo Oscar, adalah titik pusat dari Keluarga Kudus Nazaret. Seluruh kehidupan keluarga tersebut berpusat pada kehadiran dan kehendak Allah yang hadir dalam diri Yesus. Yusuf dan Maria membangun keluarga mereka dengan landasan iman, ketaatan, dan saling menghormati. Seorang anak menghormati orang tua, dan orang tua menghadirkan wajah Allah bagi anak-anaknya. Dalam keluarga, orang tua menjadi sumber ajaran, penghidupan, dan pembinaan iman bagi anak-anak. Menghormati orang tua bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga merupakan perintah Allah yang membawa janji berkat, yakni panjang umur dan kehidupan yang diberkati.
Romo Oscar mengingatkan bahwa dalam perspektif iman Kristiani, orang tua adalah wajah Allah yang pertama kali dikenal oleh anak-anak. Melalui sikap, tutur kata, dan tindakan orang tua, anak-anak belajar mengenal siapa Allah itu: Allah yang mengasihi, mengampuni, sabar, dan setia. Oleh karena itu, panggilan menjadi orang tua bukanlah panggilan yang ringan, melainkan sebuah perutusan luhur untuk menghadirkan kasih Allah secara konkret di tengah keluarga.
Mengacu pada Injil Matius, Romo Oscar menyoroti iman Yusuf dan Maria yang begitu mendalam. Keduanya menjadi pelindung dan penjaga bagi Yesus, terutama dalam situasi-situasi yang mengancam keselamatan-Nya. Yusuf digambarkan sebagai pribadi yang taat dan peka terhadap kehendak Allah. Ketika Allah berbicara melalui mimpi, Yusuf tidak menunda-nunda, tidak banyak bertanya, dan tidak mencari pembenaran diri. Ia segera bangkit dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, demi melindungi Yesus dan Maria. Iman seperti inilah yang menjadi teladan bagi para kepala keluarga masa kini.
Lebih jauh, Romo Oscar menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam merawat pertumbuhan Yesus, atau dalam konteks iman, merawat Sabda Allah di tengah keluarga. Sabda Allah tidak boleh hanya berhenti di gereja atau dalam perayaan liturgi, tetapi harus dihidupi dan dirawat dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Doa bersama, membaca Kitab Suci, saling menguatkan, dan membangun komunikasi yang penuh kasih merupakan cara-cara konkret untuk merawat kehadiran Allah dalam keluarga.
Keluarga yang baik, lanjut Romo Oscar, akan membentuk masyarakat yang baik. Keluarga yang sehat secara rohani dan moral akan melahirkan pribadi-pribadi yang bertanggung jawab, jujur, dan peduli terhadap sesama. Bahkan lebih luas lagi, keluarga yang baik akan menjadi fondasi bagi negara yang baik. Dengan demikian, membangun keluarga Kristiani yang berlandaskan iman dan kasih bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga merupakan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama di tengah masyarakat dan bangsa.
Keluarga Kudus Nazaret diikat dan dibentuk oleh pilihan untuk menjadikan Sabda Allah sebagai fokus kehidupan keluarga Kristiani. Ketika Kristus dan Sabda-Nya dihadirkan dan dibiarkan tumbuh serta berkembang dalam keluarga, maka keluarga tersebut akan memiliki arah yang jelas dan kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Kehadiran Yesus adalah harta yang tidak ternilai, yang tidak dapat digantikan oleh kekayaan materi, jabatan, atau prestasi duniawi.
Romo Oscar juga menegaskan bahwa kehadiran Yesus dalam keluarga membawa inspirasi agar relasi antara suami, istri, dan anak-anak tetap utuh dan saling terhubung. Tidak ada anggota keluarga yang terpisah atau terabaikan. Setiap pribadi dihargai, didengarkan, dan dikasihi. Inilah kehidupan keluarga yang menjadi model pewartaan iman, di mana keluarga bukan hanya menjadi penerima Injil, tetapi juga pewarta Injil melalui cara hidup mereka.
Dalam terang ajaran Rasul Paulus, Romo Oscar mengajak setiap keluarga untuk memiliki kerendahan hati, kesabaran, dan sikap saling mengampuni. Kasih sejati tidak pernah lepas dari pengorbanan dan pengampunan. Suami dan istri dipanggil untuk saling setia, saling mendukung, dan tidak saling menyakiti, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Dalam Pesta Keluarga Kudus ini, umat diajak untuk memperbarui komitmen hidup berkeluarga dalam terang kasih Kristus, yang menyembuhkan dan mempersatukan.
Tema refleksi “Keluarga Kudus: Taati Suara Tuhan, Meski Jalan Tak Mudah” menjadi benang merah yang kuat dalam perayaan iman ini. Gereja mengajak umat untuk menyadari bahwa kehidupan keluarga Yesus tidak pernah bebas dari tantangan. Injil Matius 2:13–15,19–23 memperlihatkan bagaimana sejak awal kelahiran Yesus, keluarga-Nya sudah dihadapkan pada ancaman, kejaran, dan ketidakpastian. Namun justru dalam situasi itulah ketaatan dan kepercayaan mereka kepada Allah semakin nyata.
Allah berbicara kepada Yusuf melalui mimpi, cara yang sederhana dan sering kali dianggap sepele. Namun Yusuf adalah pribadi yang hatinya terlatih untuk mendengarkan suara Tuhan, bahkan dalam keheningan. Ketaatan Yusuf mengajarkan umat bahwa Tuhan sering kali berbicara melalui bisikan lembut dalam hati, bukan melalui tanda-tanda spektakuler. Kepekaan dan kerendahan hati menjadi kunci untuk mengenali kehendak Allah dalam hidup.
Perintah untuk melarikan diri ke Mesir bukanlah hal yang mudah. Mesir adalah tanah asing, penuh ketidakpastian, dan menuntut pengorbanan besar. Namun di sanalah Yesus kecil dilindungi. Pengalaman “Mesir” menjadi simbol dari situasi hidup yang tidak diinginkan, tidak nyaman, dan memaksa seseorang keluar dari zona aman. Meski demikian, justru di tempat-tempat seperti itulah Allah bekerja secara tersembunyi, membentuk iman dan keteguhan hati umat-Nya.
Ancaman Herodes tidak mampu mengalahkan kuasa Allah. Ketika Herodes mati, Allah kembali menuntun Yusuf dan keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menyertai dan memelihara. Setiap panggilan selalu disertai dengan rahmat dan kekuatan untuk menjalaninya.
Nazaret, tempat Yesus akhirnya dibesarkan, bukanlah kota besar atau penting. Namun dari tempat yang sederhana itulah karya keselamatan Allah dinyatakan kepada dunia. Pesan ini menjadi penghiburan bagi banyak keluarga yang hidup dalam kesederhanaan. Rumah biasa, pekerjaan sederhana, dan kehidupan yang tampak tidak istimewa dapat menjadi tempat Allah berkarya secara luar biasa.
Perayaan Misa Pesta Keluarga Kudus di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang ini menjadi ajakan reflektif bagi umat untuk menutup tahun dengan hati yang penuh syukur dan harapan. Di tengah berbagai tantangan hidup, umat diingatkan bahwa Allah hadir dan setia memelihara keluarga mereka. Ketaatan, kesetiaan, dan kasih yang dihidupi dalam keluarga akan selalu menghasilkan berkat.
Melalui perayaan ini, Gereja meneguhkan kembali bahwa keluarga adalah tempat pertama Yesus tinggal dan berkarya. Ketika keluarga membuka diri bagi kehadiran Kristus, maka keluarga tersebut akan menjadi sumber terang, damai, dan harapan, tidak hanya bagi anggotanya, tetapi juga bagi Gereja dan masyarakat luas. Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 27 Desember 2025
0 comments:
Posting Komentar